Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Mau Pulang ke Mana? Akhirnya Bertahan Hidup di Jalanan

Rubrik Fitur/Salatiga oleh

Jangan biarkan gedung-gedung layak huni terlantar sementara penggusuran, perampasan lahan dan tunawisma ada dimana-mana!—PSTO Bethlehem

Pusat Sosial dan Tunawisma Otonom (PSTO) Bethlehem  menyatakan sikapnya untuk tetap bertahan dengan seruan solidaritas atas proyek Squatting—Pendudukan di Salatiga, Jawa Tengah kepada jaringan anti-otoritarian dan solidaritas berbagai kota. Menjadikan gedung sebagai penyedia ruang hidup untuk berkarya dengan segala rencana akan pembangunan basis lokal oleh kaum miskin, mahasiswa, komunitas pemuda, dan pekerja di atas tanah dan bangunan legal milik UKSW, nyatanya belum berhasil terlaksana. Hal ini dikarenakan pemilik menyatakan keberatan atas penggunaan gedungnya tersebut.

Awalnya pada (10/3) lalu, pihak UKSW yang diwakili oleh Pembantu Rektor II mendatangi gedung pendudukan untuk melakukan pemberitahuan kepada PSTO Bethlehem, bahwa akan dilakukan pemanfaatan gedung kembali. UKSW memberi tenggat waktu pengosongan gedung selama dua minggu untuk persiapan. Baru selang tiga hari, perusahaan konstruksi PT. Ratu Pandu Sarana (RPS) mendatangi Bethlehem untuk meminta pengosongan gedung dalam penggarapan renovasi bangunan tersebut.

Yani Rahardja, Manajer Biro Manajemen Kampus (BMK) mengatakan bahwa pemanfaatan kembali gedung ini sudah direncakanan dan dibersihkan sebelum diduduki. “Perbaikan gedung dan tanah itu sudah dua sampai tiga bulan sebelumnya, kita bersihkan, dan tidak tahu ternyata ada orang,” ujarnya.

Peringatan ini disusul oleh Daniel, Kepala Keamanan dan Ketertiban Kampus (Kamtibpus), yang  melakukan kunjungan (19/3) untuk mengingatkan kembali. “Tapi yang pasti dari pihak UKSW sudah melakukan pemikiran kooperatif dari awal. Kamis kami datang kembali untuk memastikan mau pindah kemana, kan kalau mereka kooperatif tujuannya agar bisa mempersiapkan. Supaya kalau Senin atau Selasa mau pindah, bisa dipersiapkan. Malah kami ditantang, pada menyerukan lawan,” jelas Yani.

(Baca juga: Gedung UKSW Diduduki Tunawisma)

PSTO Bethlehem Bertahan dalam Pendudukan

Tidak  seorangpun yang ilegal di bumi mereka sendiri! —PSTO Bethlehem

RELAWAN PSTO BETHLEHEM BERKEBUN DI HALAMAN GEDUNG/FOTO: ARSIP PSTO BETHLEHEM
KOPERASI DISTRIBUSI BARANG LAYAK PAKAI GRATIS/FOTO: ARSIP PSTO BETHLEHEM

Menanggapi peringatan kampus, PSTO Bethlehem memilih tetap bertahan dengan mengabaikan status kepemilikan tanah. Upaya ini dilakukan PSTO Bethlehem dengan mempercepat aktivasi gedung dan pemanfaatannya. Beberapa diantaranya yaitu, penyediaan ruang hidup bagi tunawisma dan kaum miskin kota, dapur sosial, kebun, perpustakaan publik, sekretariat bagi serikat pekerja dan komunitas pemuda, serta ruang aman bagi perempuan dan orientasi gender lainnya.

PSTO Bethlehem melakukan pendudukan gedung layak huni sebagai penampungan tunawisma di Salatiga.  Dalam pelaksanaannya, asosiasi longgar ini telah memanfaatkan gedung sebagai tempat tinggal lima tunawisma. Beberapa dari mereka bekerja sebagai pemulung, tukang parkir, pembantu rumah tangga, bahkan tak memiliki pekerjaan. “Sebagai anarkis, pendudukan gedung itu adalah salah satu bentuk kritik kepada kepemilikan properti, yang mana orang-orang bisa memiliki lahan yang luas, bangunan yang besar, tetapi seringkali tidak memanfaatkannya. Jadi kami di sini tidak mempertimbangkan aspek hukum, aspek moral, atau apapun tentang kepemilikan, melainkan berlandaskan dengan nilai guna,” jelas Bima Satria, salah satu relawan PSTO Bethlehem.

Squatting atau aksi pendudukan ini sebenarnya bukan hal baru. Pendudukan gedung kosong dan terlantar sudah pernah dilakukan di berbagai belahan dunia. Ambil contoh aktivis squatting ANAL (Autonomous Nation of Anarchist Libertarians) yang sudah melakukan pendudukan gedung-gedung sekitar enam tahun di jantung kota London. Menurut laporan VICE pada Februari 2017 lalu, ANAL menduduki sebuah gedung besar yang kosong dan layak huni, lalu menyediakan ruang hidup tersebut bagi orang-orang jalanan. “Gedung ini bahkan bisa jadi tempat tinggal buat sekitar 100 orang,” kata salah seorang relawan ANAL. Selain ANAL, pendudukan dan pemanfaatan gedung kosong juga pernah dilakukan oleh masyarakat secara mandiri di kawasan Exarchia, Kota Athena, saat krisis ekonomi melanda Yunani lima tahun ke belakang. Kisah gotong royong sesama warga selama masa krisis ini difilmkan oleh Yannis Youluntas, sutradara asal Perancis.

(Tonton juga: Film Dokumenter “Cinta dan Revolusi”)

 

Bethlehem Akhirnya Pindah

Selasa (24/3) lalu, di depan gedung pendudukan nampak barikade seng dan kayu sudah siap terpasang. Para solidaritas dan penghuni juga turut serta bersiap untuk bertahan. Di sisi lain, para aparat kepolisian yang terlihat di sekitaran gedung ikut mengawal UKSW. Sekitar pukul 09.00 pihak UKSW bersama keamanan kampus mendatangi gedung pendudukan. Daniel mengungkapkan, ada keresahan yang sempat dirasakan warga sebelumnya. “Meresahkan warga. Itu pernah membuat kegiatan acara dengan musik. Ternyata, itu juga membuat warga tidak nyaman. Sebenarnya warga sama RW-nya itu membiarkan dulu, kalau sudah tidak bisa diberi pengertian, baru warga turun. Begitu kalau dari Pak RW,” tutur Daniel. Pada saat penggusuran berlangsung, Yani mengklaim, warga setempat juga ingin ikut menggusur, namun hal ini ditolak pihaknya karena masih dalam ranah internal UKSW.

AKSI DORONG-MENDORONG PIHAK UKSW DENGAN PSTO BETHLEHEM/ FOTO: ALEXANDER HERDIYAN

UKSW mengawali proses penggusuran ini lewat dialog dengan PSTO Bethlehem, tapi tidak ada kesepakatan dari kedua belah pihak. Kondisi kian sengkarut, gagalnya negosiasi membuat rombongan keamanan kampus maju menerobos barikade. Terjadi aksi dorong mendorong dalam pertahanan, ditambah salah satu penghuni gedung yang pingsan harus dilarikan ke rumah sakit. Menjelang siang, barang-barang dievakuasi ke luar. Seluruh sudut ruang disisir dan dikosongkan.

Seusai penggusuran, UKSW dan PSTO Bethlehem merembuk penggeseran barang-barang tersebut. Salah satu mahasiswa relawan menjadikan rumahnya sebagai tempat penampungan sementara barang-barang Bethlehem. Setelah sepakat, proses berakhir dengan relokasi barang oleh para solidaritas yang diantar beberapa keamanan kampus dengan pickup pihak UKSW. “Aku hanya menganggap itu sebagai tantangan biasa yang harus dilalui untuk mencapai tujuan yang lebih besar lagi. Memang sudah siap, dan sudah mengerti akan ada risiko sepeti itu,” tutur Bima.

Dalam kasus ini Dinas Sosial (Dinsos) Salatiga belum memberi tanggapan apapun. “Niatnya bagus, caranya yang salah. Mereka sudah tutup mata telinga kok dengan dinas sosial,” ujar Yani. “Dinsos pun kalau tidak diberi laporan juga tidak tahu,” tambah Daniel. Padahal menurut Bima, sebagai anarkis mereka memang tidak mau bekerjasama dengan pemerintah. Selain itu, menurut Bima, Bethlehem melakukan hal demikian juga karena pemerintah lalai terhadap persoalan sosial masyarakat kelas bawah.

 

Para Tunawisma Kembali ke Jalan di tengah Pandemi Covid-19

Kami hendak menangani sendiri masalah sosial di tangan rakyat—PSTO Bthlehem

BEBERAPA TUNAWISMA YANG KEMBALI KE JALANAN/FOTO: ARSIP PSTO BETHLEHEM

Pasca penggusuran, para tunawisma yang sempat meghuni gedung kini kembali terlantar di jalanan. Selain itu, pandemi Covid-19 menjadi ancaman baru bagi mereka yang tidak memiliki ruang aman dan layak huni. Di tengah kondisi seperti ini, semakin sulit bagi tunawisma mendapatkan tempat untuk bernaung. Mereka mengandalkan pasar dan ruang-ruang publik lain untuk ditempati. Pemerintah Pusat pun telah memberikan himbauan perihal pandemi ini, salah satunya dengan physical distancing untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. “Tapi kami yang tidak punya rumah mau seperti apa, harus di jalan dan bertahan dengan kondisi yang ada. Mau pulang juga kemana, akhirnya berjuang bertahan hidup di jalanan,” jelas Ari Yoseph (50), salah satu tunawisma yang tergabung di Bethlehem.

Dalam masa pandemi seperti ini, gedung dan rumah yang tak terpakai menjadi sangat mungkin difungsikan sebagai tempat perlindungan bagi yang membutuhkan. PSTO Bethlehem hingga kini masih mencari ruang-ruang untuk diduduki kembali. Sembari mencari gedung baru, berbagai upaya seperti kegiatan susur jalan dan dapur sosial untuk makan gratis bersama-sama tetap berjalan. Hal ini merupakan bentuk solidaritas bagi mereka yang tidak memiliki rumah.

KEGIATAN SUSUR JALAN SAMBIL MEMBAGIKAN NASI GRATIS/ FOTO: ARSIP PSTO BETHLEHEM

Tak ada tempat untuknya bernaung membuat Ari bertekad mencari gedung-gedung terlantar bakal huni. Baginya, memang penting untuk memerhatikan aspek-aspek legalitas. “Kami mencoba meminta izin pada pemilik. Dalam situasi ini memang sulit, pemilik sudah mengizinkan tetapi pemerintah setempat tidak. Perlu mufakat warga setempat juga. Akhirnya berhenti lagi di RT/RW,” jelas Ari. Namun, situasi yang mendesak atas kebutuhan bernaung membuatnya setuju untuk melakukan pendudukan. Ari mengatakan, bahwa upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengumpulkan tunawisma dan relawan dengan mengandalkan solidaritas, yang pada akhirnya mereka kembali memanfaatkan gedung-gedung terlantar itu.

 

 

 

Tulisan oleh: Vinka Luki Agusta

Redaktur: Evolvita Perak

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas