Uji Gagasan Kandidat Ketua LK: Mari Berdebat!

Rubrik Opini oleh

 

Berita terbitan Scientiarum dengan judul “Lanjutkan Sistem Daring, ‘Pilkada’ Kampus Via Online” (30/10) lalu, menarik perhatian saya untuk beropini. Mengapa tidak? Lembaga Kemahasiswaan atau LK, sebutan yang akrab di telinga sebagian besar mahasiswa UKSW tengah memasuki masa transisi pergantian kepengurusan dan pemilihan ketua LK yang baru. Wajah para kandidat terpampang jelas di poster-poster. Informasi seputar pemilihan juga mulai meramaikan kanal-kanal media sosial LK dan grup whatsapp angkatan. Sejumlah persiapan pun dilakukan oleh tim yang telah ditunjuk oleh wakil mahasiswa agar proses pemilihan turut berjalan lancar.

Sebelum pandemi covid-19, keterbatasan informasi dan akses untuk mengenal para kandidat wajar dialami oleh sebagian besar mahasiswa UKSW. Orasi dan tanya jawab biasanya dilakukan di ruangan tertutup sehingga tidak dapat menjangkau begitu banyak mahasiswa. Namun, dalam kondisi pandemi yang merajalela seperti saat ini, mahasiswa malah dapat dengan mudah mengakses profil dan gagasan para kandidat tanpa dibatasi oleh jarak, dan sewaktu-waktu informasi tersebut dapat diakses kembali.

Tidak seperti pemilihan ketua LK yang lalu-lalu, kini dialektika antara kandidat tidak dapat dilakukan. Ruang untuk saling mempertajam gagasan antar kandidat tidak diakomodir oleh forum. Kalaupun itu diakomodir, tidak jarang yang terjadi hanyalah proses tanya jawab. Kalau begini, ya tidak ada bedanya dengan tanya jawab ketika presentasi kelompok di kelas (pengalaman pribadi penulis). Tidak heran sebagian besar mahasiswa kurang minat untuk berpartisipasi. Untuk itu, dinamika dan euforia “pesta demokrasi” mahasiswa harus dibangun. Para kandidat perlu saling men-challenge satu sama lain, saling melempar, menanggapi, dan mempertahankan argumen sehingga menciptakan iklim baru dan gagasan-gagasan yang bermutu.

Dalam menciptakan gagasan yang bermutu, proses dialektika tidak terbatas pada orasi dan proses tanya jawab semata. Dalam tulisan Wattimena, Socrates, seorang filsuf Yunani menawarkan sebuah teknik argumentasi dialektis yang dikenal dengan elenchus atau socratic method. Elenchus artinya menguji (putting to test) atau pembuktian (refutation). Metode ini dapat kita jumpai dalam proses berdebat. Tujuan Socrates ialah membantu orang lain agar menggunakan cara pandang yang mendalam dan luas sehingga tidak memaksakan keyakinan buta yang pada akhirnya merugikan diri sendiri bahkan orang lain. Berangkat dari pengalaman sendiri, Socrates melakukan klarifikasi dan memperluas argumen yang diajukan oleh lawan debatnya. Dari langkah itu, Socrates mampu membuktikan inkonsistensi argumen lawan, bahkan argumen seorang ahli sekalipun.

Melalui debat, elenchus dapat diterapkan dan dijadikan salah satu cara untuk menciptakan dialektika yang sehat antar kandidat. Sesuai dengan Skenario Pola Pembinaan dan Pengembangan Mahasiswa (SPPM) 2012, para kandidat dituntut untuk kritis melihat kondisi yang ada dengan kajian-kajian yang dapat dipertanggungjawabkan, dapat mengimplementasikan ide kreatifnya, serta memiliki keberanian dan pendirian yang tetap rendah hati.

Dalam konteks demokrasi di Indonesia, debat dapat menggugah calon pemilih. Survei Indikator Politik Indonesia merujuk Pilpres 2014 menyatakan, bahwa sebelum dilakukan debat, ada sekitar 16,1 persen calon pemilih belum menentukan pilihan. Usai debat digelar, lebih dari separuh calon pemilih yang bimbang itu, sudah mantap dengan pilihannya.  Hal ini membuktikan bahwa debat antar kandidat dapat menciptakan iklim demokratis dan dinamika yang lebih hidup.

Dialektika adalah roh warga dari kampus yang menjunjung tinggi persekutuan ilmiah ini. Mahasiswa UKSW perlu membiasakan dan mengupayakan terciptanya ruang-ruang dialekstis yang menghasilkan gagasan-gagasan bermutu, kreatifitas yang sesuai kebutuhan jaman, dan sikap yang berani namun tetap rendah hati. Tentu ada kelebihan dan kelemahan dari masing-masing kandidat. Namun, sebagai orang nomor satu yang akan menduduki posisi strategis di lembaga elit mahasiswa, diperlukan kesungguhan, konsistensi, dan jiwa kepemimpinan yang sesuai dengan cita-cita luhur kampus yang takut akan Tuhan. Kepentingan belasan ribu mahasiswa dan nama baik lembaga dipertaruhkan di sini.

Untuk menguji sejauh mana konsistensi dan kesungguhan para kandidat ketua LK dengan menciptakan dinamika dan iklim demokrasi mahasiswa yang lebih hidup, maka dialektika antar kandidat perlu diberi ruang dengan mengadakan debat. Sebab proses pemilihan yang ada saat ini kurang menghidupkan suasana itu. Masing-masing kandidat perlu meyakinkan para mahasiswa sehingga tidak terkesan hanya mementingkan segelintir orang yang disebut wakil mahasiswa itu saja. Melalui debat, sikap kritis-prinsipil, kreatif-realistis, dan non-konformis di antara para kandidat semakin diasah konsistensi dan kesungguhannya, sehingga meyakinkan sebagian besar mahasiswa UKSW. Dengan begitu, gagasan para kandidat dapat memantapkan pilihan para utusan mahasiswa yang memiliki hak pilih untuk memilih kandidat yang tepat.

 

Tulisan oleh: Defri Natan, Mahasiswa Psikologi yang lagi suwung nungguin revisian skripsi dari dosbing, suka nulis dan kopi hitam

Ilustrasi gambar: Vinka Agusta, mahasiswa semester akhir yang belum bosan di redaksi SA

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*