Jingga Lapuk

Rubrik Puisi/Sastra oleh

 

Raguku masih bergeming pada cermin—meratapi kesunyiannya. *kring *kring *kring—bunyi bel pak pos. Aku bergegas, dan meninggalkan keraguanku pada cermin. Ia memberitahu bahwa ada yang tertinggal di saku jaketku.

Aku menyekap pikiranku, “apa yang dia katakan?”. Kuraba kedua saku jaketku dengan hati-hati. Benar saja, ada kalimat yang tertinggal.

Aku ingin melewati musim semi
bersama daun-daun gugur
Aku ingin menari bersama hujan, di atas tanah yang semerbak itu
Maukah kau membuatkanku teh?
Aku ingin berbincang denganmu,
pada musim-musim itu

Begitu kalimatmu.

Aku baru saja ingin membalasnya,

Kala itu kau sungguh lucu
betapa aku tidak bisa menari
Kau begitu manis
padahal kau tahu aku tidak suka teh
Kau begitu naif
tentu saja aku akan menemanimu
Tapi, bukankah coklat panas lebih nikmat?

Aku melewati bagian akhirnya,
lupa masih meninggalkan raguku pada cermin.
Ketika kembali
aku melihat tepi bernama sepi
Wujudnya sangat porak poranda
Disana berserakan sunyi
Ruangan-ruangannya kosong
Permukaan tanah berhias daun-daun basah
berwarna jingga tua
Seluruh lampunya redup

Sesaat melihat, aku lalai
Aku ingin berlari
sekencang-kencangnya angin berlalu
Aku ingin berlayar
sekencang-kencangnya angin membawa perahu
Aku ingin menari
bersamamu, bersama keinginanmu

Luput,

dan aku tersadar. Mustahil berbincang denganmu pada musim-musim itu. Aku menyalahi keinginanku, juga keinginanmu. Persis sepenggal yang kau katakan, aku telah menjadi musim semi—yang menari bersama hujan diantara daun gugur. Sekarang, kekasihku, bagaimana supaya aku bisa menemuimu?

Kandas.

 

Tulisan oleh: Putu Sarasmahasiswa tingkat akhir Scientiarum

Ilustrasi gambar: Ella Surya, mahasiswa tingkat akhir Scientiarum

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*