<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Scientiarum &#187; Bambang Triyono</title>
	<atom:link href="http://scientiarum.com/author/bambang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://scientiarum.com</link>
	<description>Universitas Kristen Satya Wacana &#124; Salatiga</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Mar 2010 08:07:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Penggalangan Dana Gempa</title>
		<link>http://scientiarum.com/2009/09/04/504/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2009/09/04/504/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 21:20:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Triyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.scientiarum.com/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[2 September 2009 terjadi gempa 7,3 Skala Richter dengan pusat gempa di 142 km sebelah barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebagai bentuk kepedulian terhadap para korban gempa, Scientiarum mengadakan penggalangan dana di sekitar kampus UKSW, Salatiga.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>2 September 2009 terjadi gempa 7,3 Skala Richter dengan pusat gempa di 142 km sebelah barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebagai bentuk kepedulian terhadap para korban gempa, Scientiarum mengadakan penggalangan dana di sekitar kampus UKSW, Salatiga.</p>
<p style="text-align: center;">Bagi yang membutuhkan informasi, silahkan hubungi</p>
<p style="text-align: center;">BAMBANG TRIYONO <strong>(085640813309)</strong>.</p>
<p><span id="more-504"></span><!--more--2</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2009/09/04/504/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gampang-gampang Susah</title>
		<link>http://scientiarum.com/2009/04/06/gampang-gampang-susah/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2009/04/06/gampang-gampang-susah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 09:04:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Triyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.scientiarum.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[Di era informasi dan komunikasi kini, banyak perguruan tinggi menawarkan pendidikan jurnalisme. Ada wartawan yang pernah mengenyam pendidikan formal ini. Namun ada pula yang tak merasakannya sama sekali.
Jurnalisme dapat ditekuni oleh siapapun, tak melulu mereka yang mengenyam pendidikan formal. Toh juga tak ada ukuran baku untuk mengetahui tingkat keberhasilan seorang wartawan yang belajarnya secara otodidak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di era informasi dan komunikasi kini, banyak perguruan tinggi menawarkan pendidikan jurnalisme. Ada wartawan yang pernah mengenyam pendidikan formal ini. Namun ada pula yang tak merasakannya sama sekali.</p>
<p>Jurnalisme dapat ditekuni oleh siapapun, tak melulu mereka yang mengenyam pendidikan formal. Toh juga tak ada ukuran baku untuk mengetahui tingkat keberhasilan seorang wartawan yang belajarnya secara otodidak, jika dibandingkan dengan yang tak otodidak.</p>
<p>Sebagai pegiat lembaga pers mahasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana, saya termasuk orang yang belajar jurnalisme secara otodidak. Keterampilan ini saya peroleh dari kegemaran “mencuri” ilmu dari teman maupun dosen.</p>
<p>Awal Oktober 2005, saya memberanikan diri untuk menerbitkan kembali Scientiarum yang sempat “mati suri”. Scientiarum adalah sebuah media mahasiswa di UKSW. Ini bisa disebut sebagai implementasi hasil “mencuri” ilmu jurnalisme tadi. Seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai menerima saran dan kritik dari Izak Lattu dan Usadi Wiryatnaya (almarhum), untuk karya-karya saya di Scientiarum. Mereka bisa dibilang sebagai orang-orang yang berjasa terhadap kemajuan saya dalam menekuni jurnalisme.</p>
<p>Dulu, saya juga sering menerima ajakan Yunantyo Adi Setyawan, seorang mahasiswa Fakultas Teknik UKSW, untuk melakukan peliputan. Waktu itu tahun 2003, Adi masih menjabat Pemimpin Redaksi Salatiga Pos, sebuah harian umum yang pernah terbit di Salatiga.</p>
<p>Adi mengajak saya mewawancara pelatih klub Lokomotif Perusahaan Umum Kereta Api, Alwi Mugiyanto. Saya sedikit terlibat dalam bincang-bincang malam itu. Dari sana ada sesuatu yang saya petik, tanpa sepengetahuan mereka.</p>
<p>Ketika Adi baru saja bergabung dengan Suara Merdeka (harian terbesar di Jawa Tengah) pada pertengahan 2005, dia juga mengajak saya meliput kondisi Rawa Pening. Kami pergi mewawancara salah seorang penjaga di sana, namanya Kasihan. Saya kembali mendapat pengalaman jurnalisme yang berharga, meski waktu itu saya hanya sebagai pendengar.</p>
<p>Setelah empat tahunan belajar jurnalisme di Scientiarum, saya diminta menangani kelas jurnalisme yang dibuka di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. “Melalui kelas-kelas inilah saya dapat memperluas jejaring untuk kemudian meningkatkan kapasitas diri saya di bidang jurnalisme,” pikir saya sejak saat itu.</p>
<p>Kata Andreas Harsono, orang memang lebih banyak belajar jurnalisme secara otodidak.  “Kebanyakan mereka belajar dari pers mahasiswa,” katanya, saat dihubungi melalui telepon genggamnya.</p>
<p>Andreas adalah alumnus Fakultas Teknik UKSW. Ketika masih mahasiswa, dia pernah mengasuh Imbas, sebuah majalah mahasiswa di fakultasnya. Andreas juga pernah mendapat Nieman Fellowship on Journalism dari Harvard University.</p>
<p>Dia menambahkan, keberhasilan seorang wartawan tergantung pada wartawan itu sendiri, “Bila dia sudah belajar jurnalisme misalkan empat sampai tujuh tahun, maka hasilnya akan lebih bagus. Tergantung jam terbangnya,” katanya.</p>
<p>Andreas mengutip Thomas Hanitzsch dari Ilmenau University of Technology, Jerman. Intinya, Hanitzsch mengatakan bahwa kurikulum pendidikan jurnalisme kini tak memadai, bahkan sama sekali tak cukup untuk membuat lulusan sekolah bekerja sebagai wartawan. “Lengkapnya bisa lihat di blog saya,” pinta Andreas. Blognya dapat diakses melalui alamat web www.andreasharsono.blogspot.com.</p>
<p>Para praktisi pendidikan jurnalisme yang dimaksud Hanitzsch tak melatih kecakapan menulis mahasiswa (vital untuk industri media), maupun teknik-teknik baru dalam jurnalisme, seperti internet, news design, video, audio, film, dan sebagainya. “Dua puluh persen dosennya nggak bisa menulis,” ungkap Andreas.</p>
<p>Andreas bilang bahwa ada empat hal yang perlu dipelajari ketika belajar jurnalisme. Pertama, reporting, yang dibagi jadi dua bagian, yakni wawancara dan riset. Kedua, penulisan, dimana di sana dibahas mengenai penulisan straight news, narasi, monolog, dan sebagainya. Ketiga, soal etika jurnalisme. Keempat, soal dinamika ruang redaksi. Bagi pemula yang menekuni jurnalisme, Andreas menyarankan untuk belajar bagaimana membuat deskripsi yang baik, dialog, dan belajar mengenai kalimat tanya yang terbuka.</p>
<p>Sama dengan Adi dan Andreas, Pasti Liberti Mappapa dulu juga belajar jurnalisme di majalah Imbas. Kini Pasti bekerja sebagai reporter di harian Seputar Indonesia. “Belajar di lapangan semakin mengasah kemampuan,” katanya.</p>
<p>“Kenapa Anda menekuni profesi sebagai jurnalis, padahal Anda sendiri notabene orang teknik?” tanya saya.</p>
<p>“Dunia yang dinamis, mempelajari hal-hal baru, orang baru, dunia baru,” jawab Pasti.</p>
<p>“Mahasiswa elektro belajar jurnalistik bukanlah hal aneh di FTJE. Imbas sebagai pers mahasiswa konon sudah ada sejak akhir dekade 1970-an,” ungkap Yunantyo Adi Setyawan, via surat elektronik. FTJE adalah singkatan dari Fakultas Teknik Jurusan Elektro.</p>
<p>“Waktu itu Imbas lama sekali ‘mati suri’, sehingga pada 2003, saya bersama sejumlah rekan mahasiswa FTJE angkatan 1999, yakni Pasti Liberti, Pradono Anto, Joehanes, dan Patria, mulai menekuni Imbas,” terang Adi. Adi hanya setahun berkecimpung bersama di Imbas, yakni pada 2003 hingga 2004. Setelah itu, pada awal 2005, dia mulai bekerja di Suara Merdeka.</p>
<p>Adi bilang, dia belajar jurnalisme di Imbas secara asal saja, karena memang kurang mengerti. Dia dan kawan-kawannya mengambil jalan pintas, yakni meminta orang-orang menulis tentang sesuatu, lantas mereka terbitkan. “Atau melakukan wawancara,” kata Adi, “kami transkrip wawancara itu, kemudian diterbitkan.” Modal mereka waktu itu hanya semangat. Pengetahuan tentang jurnalisme sendiri amat terbatas. “Belajar jurnalistik beneran ya setelah di Suara Merdeka,” katanya.<br />
“Sejauh mana keberhasilan orang yang secara otodidak belajar jurnalistik dengan orang yang belajar resmi di ruang kuliah?” tanya saya.</p>
<p>“Ini tentu sangat relatif. Mungkin perlu penelitian khusus untuk menjawab pertanyaan Anda ini,” jawab Adi.</p>
<p>Adi menambahkan, “Anda lihat sendiri mereka para mahasiswa FTJE yang kemudian menekuni jurnalistik secara coba-coba, di kemudian hari mereka bekerja di industri-industri pers macam Kompas, seperti si Winda itu misalnya. Atau Pasti Liberti yang kini di Seputar Indonesia, atau saya di Suara Merdeka. Bahkan, ada yang kemudian melejit sampai jadi fellow di Universitas Harvard macam Andreas Harsono. Ya begitulah,” kata Yunantyo.</p>
<p>“Ada juga Yosep Adi Praseto alias Stanley yang kemudian jadi peneliti INFID (International NGO Forum on Indonesian Development). Stanley menulis buku soal Kedung Ombo,” imbuh Adi lagi.</p>
<p>Adi juga mengatakan bahwa banyak temannya seprofesi tidak lulus dari jurusan resmi jurnalisme, melainkan lulusan fakultas teknik, hukum, dan sebagainya. “Kawan saya, Johan Budi, yang sekarang jadi Kepala Humas Komisi Pemberantasan Korupsi, itu juga dulunya mahasiswa Fakultas Teknik Gas di Universitas Indonesia. Kemudian jadi wartawan Forum Keadilan, kemudian jadi wartawan Tempo.” </p>
<p>“Intinya,” kata Adi, “yang penting tekun sajalah.”<br />
Kalau hendak belajar sendiri atau otodidak, Adi punya resep. Pelajari teori dasar-dasar jurnalisme, lalu baca tulisan wartawan di koran yang menurut Anda menarik. Setelah itu, praktikkan (dengan menulis) teori tersebut dengan model tulisan seperti di koran. Tidak perlu panjang-panjang, cukup antara 2.000 sampai 3.000 huruf per tulisan. Intinya, rajin-rajinlah baca koran dan perhatikan penulisannya dan isi tulisannya, dan cobalah untuk mulai menulis.</p>
<p>“Setelah Anda menulis, tanyakan ke wartawan di kota Anda, untuk menilai tulisan Anda itu. Begitu seterusnya, saya yakin tidak lama Anda sudah akan bisa menulis straight dalam bentuk kaidah jurnalistik. Kalau sudah bisa straight, anda tinggal mengembangkan cara menulis feature dan sebagainya, akan terasa gampang. Setelah Anda mahir, ajari teman Anda sesama mahasiswa, begitu seterusnya,” kata Adi.</p>
<p>“Mengenai ketajaman mencari informasi, itu tergantung dari praktik di lapangan. Dulu ketika di Suara Merdeka, saya juga dilepas bebas tanpa petunjuk apa-apa. Mau cari berita apa saja terserah, pokoknya dibiarkan bingung sendiri, sampai secara alami kemudian Anda tidak bingung lagi, sampai akhirnya saya ‘nyasar’ di kejaksaan dan pengadilan sampai sekarang. Dengan cara inilah ketajaman mencari informasi itu dilatih,” kata Adi lagi.</p>
<p>Siapapun Anda, tentu bisa mencoba belajar jurnalisme. Mulailah menulis tentang hal-hal sederhana. Jika sudah tahu dasar-dasarnya, niscaya Anda akan mudah untuk menulis hal-hal yang lebih rumit.</p>
<p>“Profesi jurnalis agak unik, orang harus mencintai,” kata Vergilio Guteres, Presiden Asosiasi Jurnalis Timor Lorosae, ketika saya hubungi via telepon genggam. Dia mengatakan bahwa tujuan utama menggeluti profesi sebagai seorang wartawan semata-mata bukan untuk cari nafkah, tapi pengabdian. “Tidak boleh bercita-cita menjadi kaya, ulet, sabar, dan tidak mudah menyerah,” katanya, sebelum komunikasi kami terputus karena pulsa habis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2009/04/06/gampang-gampang-susah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirator Tiga Zaman</title>
		<link>http://scientiarum.com/2009/02/06/inspirator-tiga-zaman/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2009/02/06/inspirator-tiga-zaman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2009 07:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Triyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.scientiarum.com/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[Arief Budiman lahir di Jakarta, 3 Januari 1941. Sebelumnya, dia bernama Soe Hok Djin. Dia merupakan kakak kandung Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa 1960-an yang ikut mengatur demonstrasi anti-Soekarno. Hok Gie meninggal karena keracunan gas di Gunung Semeru tahun 1969.
Ayahnya bernama Salam Sutrawan, seorang pengarang novel. Di kalangan orang-orang Tionghoa peranakan, dia dikenal sebagai seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Arief Budiman lahir di Jakarta, 3 Januari 1941. Sebelumnya, dia bernama Soe Hok Djin. Dia merupakan kakak kandung Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa 1960-an yang ikut mengatur demonstrasi anti-Soekarno. Hok Gie meninggal karena keracunan gas di Gunung Semeru tahun 1969.</p>
<p>Ayahnya bernama Salam Sutrawan, seorang pengarang novel. Di kalangan orang-orang Tionghoa peranakan, dia dikenal sebagai seorang tokoh sastra. “Dia dulu sebagai pengarang cerita-cerita roman yang menarik kalau dibaca,” ujar Arief.</p>
<p>“Ketika bersama ayah yang lagi ngetik-ngetik cerita, saya seringkali nongkrong sambil baca-baca cerita selembar-selembar,” kenang Arief ketika kami berbincang di bawah pohon, duduk di atas bangku kayu, di Kampoeng Percik, pertengahan Agustus 2008.</p>
<p>Ibunya bernama Maria Sugiri, seorang ibu rumah tangga biasa. “Saya itu ya Cina peranakan bener gitu ya, gak bisa ngomong Cina. Ibu saya gak bisa, bapak saya gak bisa. Musti tahu dikit-dikitlah,” katanya.</p>
<p>Semasa sekolah di SMP Kanisius, Jakarta, Arief menulis untuk majalah Pemancar Kanisius College. Saat itu dia baru sebatas menulis komentar. Lalu Arief mulai menulis cerpen. Cerpennya yang berjudul “Joki Anjingku” dimuat di majalah Mimbar, asuhan Hans Bague Jassin, seorang sastrawan Indonesia yang punya julukan “Paus Sastra Indonesia”.</p>
<p>“Saya menjadi penulis karena lihat model ayah, menulis sejak SMP. Bahkan setelah lulus dari SMA, saya rutin menulis di koran-koran, sehingga saya dikenal oleh banyak kalangan. Tapi karena saya lebih di bidang keilmuan, jadi lebih seneng nulis yang kritis,” ungkapnya.</p>
<p>Dari kegemarannya menulis itu, Arief Budiman mulai kenal sastrawan sepantarannya, macam Willibrordus Surendra Rendra dan Goenawan Mohamad. “Semua itu angkatan sama-sama. Rendra di Jogja. Kalau saat saya ke Jogja, saya nginep di rumahnya. Begitu pula dia sebaliknya. Kalau dia ke Jakarta, nginep di tempat saya. Jadi akrablah kita,” ujarnya.</p>
<p>“Kalau Goenawan Mohamad itu dulu sama-sama di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Cuman dia keluar. Dia lebih senang jadi seorang sastrawan. Goenawan Mohamad adalah pendiri majalah Tempo,” kata Arief.</p>
<p>Arief pernah terlibat konflik dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat, sebuah organisasi kebudayaan milik Partai Komunis Indonesia di era Presiden Soekarno.</p>
<p>Kata Arief, Soekarno saat itu sangat dipengaruhi oleh Lekra. “Prinsip Lekra, seni itu harus dibawa ke politik, harus mengabdi kepada kepentingan rakyat. Kalau seni yang cuman bercerita orang bercinta, dianggap seni iseng, gak ada gunanya,” kata Arief.</p>
<p>Pernyataan itu ternyata membuat gerah orang-orang liberal macam Rendra, Goenawan Mohamad, Wiratmo Sukito, dan Arief Budiman. Mereka lalu membalasnya dengan mengatakan, “Seni itu yang penting nilai sastranya. Boleh membela buruh atau gak membela buruh, kalau nilai sastranya bagus ya bagus.”</p>
<p>Namun pernyataan itu diserang lagi oleh Lekra. Mereka tak setuju dengan pendapat kelompok Arief. Kalau tidak pro rakyat, dianggap bukan kesenian. Maka tak terhindarkanlah polemik di antara dua kubu yang saling berseberangan ideologi ini.</p>
<p>Tahun 1962, Arief dan kawan-kawan mencetuskan istilah yang lebih dikenal dengan sebutan Manifesto Kebudayaan atau Manikebu, yang mengatakan bahwa “kesenian itu bebas”. “Mau pro rakyat atau gak pro rakyat, yang perlu adalah jujur dan indah,” kata Arief.</p>
<p>Soekarno lantas melarang Manikebu karena dianggap antirevolusi. Para penandatangannya, termasuk Arief Budiman, dilarang menulis.</p>
<p>Sebelum tahun 1965, Arief Budiman sangat anti-Soekarno. Katanya, “Presiden RI pertama itu diktaktor, kalau membuat syarat seenaknya.”</p>
<p>Baru tahun 1966, Soeharto muncul. Arief dan kawan-kawannya langsung mendukung, itu alternatif buat mereka. Mereka berharap, Soeharto, setelah mengambil alih pucuk pimpinan sebagai presiden, tak memakai lagi cara-cara militeristik. Pada masa itu, demokrasi berjalan dengan baik melawan konsep Demokrasi Terpimipin milik Soekarno.</p>
<p>Arief dan kawan-kawan tak percaya Demokrasi Terpimpim. Menurut mereka, demokrasi haruslah dipimpin rakyat. Jadi mereka mendukung Soeharto dengan asumsi Soeharto hanya sebagai peralihan. Ironisnya, presiden kedua itu ingin berkuasa selamanya. Lebih ironis lagi, orang-orang yang berani melawan mulai dilarang penguasa Orde Baru itu.</p>
<p>Sekitar tahun 1970, Arief Budiman mulai terlibat beberapa aksi demonstrasi, seperti yang dilakukannya bersama para mahasiswa. Mereka mengkritik Soeharto yang mulai berani korupsi. Mereka juga mempelopori Golongan Putih, mengajak rakyat memboikot pemilihan umum.</p>
<p>Tahun 1972, Arief ikut demo menolak pembangunan Taman Mini Indonesia Indah. Alasannya, pembebasan lahan tak dilakukan dengan baik, rakyat diusir demi kepentingan penguasa.</p>
<p>“Kita demo anti-Taman Mini, Soeharto marah rupanya. Yang diserang istrinya (Tien Soeharto) dalam pidato Pertamina itu. Dia bilang waktu tahun 1965 itu, semua gak ada jendral-jendral yang dekat saya, cuman istri saya yang mendampingi saya. Sekarang kamu mengkritik dia. Dia adalah penegak orang pertama mendukung Orde Baru,” beber Arief.</p>
<p>Setelah berpidato, Arief dan kawan-kawannya ditangkap dan dipenjarakan selama dua bulan. “Hanya memberi pelajaran saja buat kita. Dia segan juga, karena kita membela dia (Soeharto) sebelumnya,” klaim Arief.</p>
<p>Arief ditahan di Markas Polisi Air dan Udara Tanjung Priok. Selama ditahan, menurut Arief, dirinya diperlakukan dengan baik, karena polisi tahu kalau yang ditahan adalah Arief Budiman. Mereka simpati atas perjuangan Arief. “Saya seneng juga karena saya merasa perjuangan saya bergema juga di kalangan bukan hanya orang yang anti-Pemerintah, tapi orang Pemerintah pun berdebat di situ,” ujar Arief.</p>
<p>Tahun 1973 hingga 1979, Arief Budiman studi lanjut ke Harvard University, Cambridge. Dia mendapat beasiswa dari Seymour Martin Lipset, profesor sosiologi Harvard. Di kampus inilah, Arief memperoleh gelar doktor sosiologi.</p>
<p>Semasa di Amerika, Arief pernah mengajar bahasa Indonesia. Mula-mula di Cambridge, lalu pindah ke California. Di kota kedua inilah dia hidup serba pas-pasan. Tapi dia juga merasa senang. Upaya ini dilakukan Arief untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari, ketika beasiswanya distop.</p>
<p>Tahun 1980, Arief kembali ke Indonesia. Tapi dia tak tahu harus kerja dimana, dia merasa tak punya afiliasi. Beruntung dia bertemu teman lamanya, Aristides Katoppo, pemimpin redaksi harian Sinar Harapan.</p>
<p>“Ke Salatiga aja, ada Pak Tarno,” kata Arief, menirukan saran Katoppo. “Pak Tarno” yang dimaksud adalah Sutarno, rektor kedua Satya Wacana, yang menjabat dari tahun 1973 hingga 1983.</p>
<p>“Kebetulan saya sering baca hasil riset dari LPIS, di situ ada hasil risetnya Wondo. Saya memang kepingin tahu desa-desa di Indonsia, Salatiga memang pedesaan. Saya pikir, cobalah ngomong ke Pak Tarno,” kata Arief. “Wondo” yang dimaksud adalah Kutut Suwondo, dosen Pascasarjana hingga sekarang. Sedangkan LPIS adalah singkatan Lembaga Penelitian Ilmu Sosial. Dulu gedungnya menempati kantor Fakultas Theologi dan Fisipol sekarang.</p>
<p>Pertama kali datang ke Salatiga, Arief sangat terkesan melihat Satya Wacana yang masih “murni”. Waktu itu dia juga menganggap riset-riset bukan untuk proyek, tapi benar-benar sebuah riset apabila dilihat dari publikasinya.</p>
<p>“Saya kemari (Salatiga) tahun 1980-an. Sejak itu menyenangkan buat saya. Jadi bisa buat ilmu, juga bisa menulis lagi di koran-koran. Yang terkesan lagi, universitas ini (Satya Wacana) masih ‘murni’, kayak anak kecil yang masih bersih dan masih perawan dari segi keilmuan,” kenang Arief.</p>
<p>Bersama beberapa mahasiswa, Arief ikut terlibat dalam Yayasan Geni &#8212; singkatan dari Gemi Nastiti). Salah dua pelopornya adalah Andreas Harsono dan Yosep “Stanley” Adi Prasetyo. Keduanya mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Elektro, angkatan 80-an. Nama Arief dipakai agar gampang menembus media.</p>
<p>“Dulu Geni jadi alternatiflah. Bikin kursus-kursus. Anak-anak Elektro melatih pemuda-pemuda yang putus sekolah, supaya mereka bisa membenahi televisi dan radio, supaya mereka ada kerjaan. Cukup menarik waktu itu. Idealisme masih kental sekali,” kenang Arief lagi.</p>
<p>Dulu juga ada istilah “SAB” (Sahabat Arief Budiman). Ini berawal ketika dokar dan becak tak boleh memasuki area jalan protokol di Jalan Jenderal Sudirman, karena dianggap sebagai biang kemacetan. Arief dan mahasiswa-mahasiswanya menentang karena kasihan, pendapatan para sais dokar dan tukang becak menurun.“Tahun 1994 saya dipecat (dengan tidak hormat) dari Satya Wacana,” katanya.</p>
<p>Saat itu sedang berlangsung pemilihan rektor di Satya Wacana. Para calon dipilih oleh wakil-wakil unit di Senat Universitas. Dua nama yang dapat suara terbanyak lantas diajukan kepada Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana untuk dipilih lagi.</p>
<p>Statuta Universitas Kristen Satya Wacana memang mengatakan bahwa Yayasan punya wewenang penuh untuk menentukan siapapun pengisi jabatan rektor. Tapi dalam tradisi di Satya Wacana, Yayasan selalu mengangkat calon yang mendapat suara terbanyak di Senat Universitas.</p>
<p>Dari pemungutan suara di Senat, yang mendapat suara terbanyak adalah Liek Wilardjo (dosen Fakultas Teknik Jurusan Elektro). Sedangkan John Ihalauw (dosen Fakultas Ekonomi) mendapat suara terbanyak kedua. Kalau mengikuti tradisi, seharusnya Wilardjo yang terpilih. Tapi Yayasan malah memilih Ihalauw.</p>
<p>Melihat fenomena itu, Arief berkomentar, “Kalau Liek Wilardjo itu, orangnya terlalu jujur, gak bisa korupsi. Jadi, kalau dia jadi rektor, bakalan orang Yayasan nggak dapat uang saku tiap kali rapat,” ujarnya. “Sedangkan John Ihalauw, memang dia ekonom. Dia lincah sekali, dia bisa kasih uang cukup.”</p>
<p>“Kalau Liek bilang, pengurus yayasan itu jabatan kehormatan, jadi ngapain pakai uang. Liek terlalu takwa, terlalu kaku, dan juga dia jarang ke gereja. Sedangkan John lebih aktif,” ujarnya.</p>
<p>Arief pun protes, “Ini nggak sesuai dengan prosedur. Meskipun secara haknya benar, tapi secara tradisi demokrasi nggak cocok.”</p>
<p>Waktu itu, Satya Wacana merupakan salah satu universitas yang dianggap penting secara nasional. Maka wartawan Kompas, Tempo, Sinar Harapan, dan sebagainya datang mewawancarai Arief. Karena Arief “orang media”, maka dia kerap diwawancara sendirian.</p>
<p>“Jadi, saya dianggap pemimpin pemogokan,” kata Arief.</p>
<p>“Waktu makin panas legitimasi dari John Ihalauw, jadi tahu secara nasional. Terus JOI (Ihalauw) mengambil tindakan yang drastis. Saya dipecat dengan tidak hormat, karena dianggap, masalah intern dibawa keluar. Padahal, saya nggak berusaha narik pers. Pers sendiri yang datang. Ya nggak keberatan kalau pers datang,” tambah Arief.</p>
<p>Begitu Arief dipecat, pemberitaan di koran-koran makin besar, dan ada orang-orang yang memberi tuduhan. “Arief itu apa? Hati-hati! Dia mau meng-Islam-kan Satya Wacana. Padahal, Islam saya Islam pas-pasan, karena kawin dengan Leila aja. Tapi itu terlalu bener orang curiga,” kata Arief.</p>
<p>Polemik ini direspon teman-teman Arief yang setuju tradisi demokrasi. Yang dia wacanakan pada waktu itu adalah mogok mengajar, dan mogok kuliah. “John Ihalauw orangnya tegas. Kalau ada yang mogok kuliah atau kalau nggak ngajar hari ini, minggu ini juga diultimatum, dipecat,” kata Arief.</p>
<p>Meski mendapat ultimatum, teman-teman Arief tetap tak mengajar. Kelompok ini terdiri dari orang-orang macam Pradjarta Dirdjosanjoto, I Made Samiana, dan kawan-kawan, yang lantas mendirikan Yayasan Percik di daerah Turusan.</p>
<p>“Jadi sekarang nggak bisa dibilang masalah Islam lagi, karena banyak yang mogok dan dinonaktifkan adalah orang-orang Kristen. Prinsipnya ya demokrasi,” tukas Arief.</p>
<p>Karena Satya Wacana tak mau mempekerjakannya kembali, Arief pun mencari pekerjaan ke beberapa kota. Yang pertama mau menerima dia adalah Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Waktu itu rektornya adalah Romo Sastro Pratedjo. Arief pun sempat menjalani tes wawancara.</p>
<p>Mulanya, orang-orang Sanata Dharma mengaku senang ketika Arief akan bergabung dengan mereka. Tapi, tanpa terduga, mereka lalu menolak Arief. Menurut Arief, waktu itu mereka mengatakan bahwa Sanata Dharma sedang dalam proses disamakan dengan universitas negeri. Jadi mereka tak mungkin menerima Arief Budiman, yang selama ini terkenal kritis terhadap Pemerintah.</p>
<p>“Mereka membatalkan karena alasan pragmatis. Saya bilang nggak masalah. Saya tahu keadaan politik kacau, jadi hal ini bukan salah Sadhr. Jadi nggak ada sakit hati,” kata Arief. “Tahu saya, cari-cari dalam negeri nggak ada yang mau terima. UGM nggak mau, UI nggak mau. Jaman Soeharto kan?”</p>
<p>Tak ada pilihan lagi di Indonesia. Arief harus berpetualang ke luar negeri.</p>
<p>Dia melamar ke Malaysia, Jepang, dan Amerika Serikat. Namun, di ketiga negara tersebut, nasib baik tak kunjung tiba. “Di Malaysia dan Jepang lebih diprioritaskan penduduk asli,” katanya.</p>
<p>Arief juga melamar ke Australia. Di sana ada dua universitas yang mau menampungnya, yakni Monash University dan The University of Melbourne. Namun Arief lebih memilih Melbourne. Di sinilah dia diwawancara, untuk kemudian diminta menunggu keputusan. Kronologi perjalanan ini dia terbitkan di harian Kompas, dan belakangan dimuat di buku Kebebasan, Negara, Pembangunan yang diterbitkan Pustaka Alvabet.</p>
<p>Sambil menunggu keputusan dari Melbourne, Arief pulang ke Indonesia. Sampai di Indonesia, dia justru ditawari untuk mengajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta, saat rektornya masih Malik Fajar.</p>
<p>“Tapi saya sudah melamar ke Melbourne. Nggak enak saya. Waduh, sebelum ke Melbourne, saya mau ke sini (UMS),” kata Arief. Arief memang lebih ingin bekerja di dalam negeri.</p>
<p>Pertengahan tahun 1997, Arief kembali lagi ke Australia. Di Melbourne, dia langsung diangkat jadi guru besar. Dialah orang Indonesia pertama yang diangkat jadi guru besar tetap di Australia. “Waktu itu diwawancarai dua kali, dilihat background-nya. Kalau ijasah, mereka sudah senang dari Harvard University. Harvard, untung sekali kalau tamat dari sana, langsung mau ke mana, meskipun dalamnya sama aja,” kata Arief.</p>
<p>Tapi, Melbourne juga sempat keberatan karena Arief seorang kritikus Pemerintah. Mereka takut nanti dimusuhi Pemerintah Indonesia. Hal itu sempat jadi isu besar, ada pro-kontra, tapi Rektor Melbourne memutuskan untuk menerima Arief.</p>
<p>“Kita nggak boleh memasukkan pertimbangan politik, tapi pertimbangannya akademis. Kalau pertimbangannya politik, nanti orang yang pandai sekali akademisnya, hanya karena pemerintah mereka nggak setuju. Kayak dari Cina, ahli Cina yang mau datang kemari terus Pemerintah Cina nggak setuju, kita nolak itu nggak bener, kita bukan universitas lagi,” ujar Arief, menirukan Rektor Melbourne.</p>
<p>Lalu pernyataan itu dimuat di koran-koran Australia. “Jadi waktu saya datang ke sana udah terkenal dulu, karena sudah jadi pro-kontra di koran-koran. Saya masuk sana sampai pensiun Januari 2008 lalu,” katanya.</p>
<p>“Karya-karya saya yang banyak digemari adalah buku-buku saya tentang teori ilmu sosial dan negara. Saya memperkenalkan Marxisme, itu dulu. Kalau sekarang, sudah banyak penulis-penulis yang lebih hebat. Apalagi dulu, waktu jaman Soeharto, ketika Marxisme dilarang, saya nggak nulis tentang Marxisme, tapi ide-ide Marxis, teori-teori Marxis dengan teori yang lain, jadi seimbanglah,” kata Arief.</p>
<p>Karya-karya itu Arief anggap sebagai kontribusinya terhadap bangsanya. Karena banyak mahasiswa-mahasiswa ilmu politik pada senang, dia sampai diundang ceramah dari kota ke kota. Di Bandung, dia bertemu Ferry Ahmadi, yang gemar membaca teori-teori Marxis. </p>
<p>Ferry adalah tokoh mahasiswa yang berdemo tahun 1978, menentang kebijakan Soeharto. Dia sempat ditangkap lalu dipenjara. Kini Ferry berafiliasi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.</p>
<p>Arief Budiman bilang, demokrasi itu penting sekali. “Sekarang sudah menarik karena demokrasi sudah muncul. Tapi yang belum muncul yaitu kita harus hadapi bahwa masyarakat Indonesia itu masih bodoh. </p>
<p>Politik bukan berdasarkan kesadaran berpolitik atau program, tapi berdasarkan ikatan tradisional kebudayaan. Orang Islam milih partai Islam. Orang Soekarnois, orang Jawa pokoknya ya pilih PDI,” kata Arief, memberi contoh.</p>
<p>Menurut Arief, meski kini ada demokrasi, tapi suara itu tak mencerminkan kepentingan umum, melainkan kepentingan terbesar dari masyarakat primordial. “Jadi, sekarang yang berperan Islam, dua kelompok: PDIP sama Islam. Ada kelompok yang modern, Golkar. Tapi saya kira itu lebih banyak bukan ke masyarakat, tapi lebih berdasarkan penguasaan lembaga-lembaga negara,” katanya.</p>
<p>Melihat kondisi Indonesia sekarang, Arief punya anggapan bahwa kita “beruntung” mendapat presiden seperti Susilo Bambang Yudhoyono. “Gus Dur kan kacau kan dulu? Sampai militer mengadu domba di Maluku, karena Gus Dur terlalu drastis, semua militer disingkirkan. Kita harus akui, meski nggak seneng militer, tapi militer masih merupakan kekuasaan, meski sudah jauh berkurang.”</p>
<p>“Dengan adanya SBY, yang orang militer, maka militer jadi lebih tenang. Jadi merasa nggak terganggu. Untungnya, SBY militer tapi cara berpikirnya sipil. Kelemahannya, dia nggak berani ambil keputusan, lamban sekali. Yah &#8230; cara sipil berpikirlah,” kata Arief.</p>
<p>Arief menganggap, apa yang sedang dijalani Indonesia kini adalah sebuah transisi yang bagus. “Militer dapat dijinakkan, dan SBY itu bukan berafiliasi dengan kandang-kandang budaya yang lama. Dia Islam tapi nggak fanatik Islam. Dia sekuler, Jawa, tapi juga nggak fanatik Jawa. Dengan adanya Jusuf Kalla yang dari luar Jawa, orang luar pulau Jawa merasa terwakili. Jusuf Kalla juga hati-hati, nggak terlalu menonjolkan ke-Bugis-annya.”</p>
<p>“Pada intinya, ini transisi bagus. Cuma, kalau kita nggak sabar, ya &#8230; memang lamban sekali. Kita lihat 2009 nanti. Mungkin masyarakat sudah tahu tentang demokrasi, mungkin perlu dituntut supaya SBY berbuat lebih banyak lagi. Kalau sekarang sampai 2009, kita anggap fase ‘magister’, nggak terlalu tajam tapi juga nggak terlalu lamban.”</p>
<p>“Cita-cita apa yang belum tercapai?” tanya saya.</p>
<p>“Saya cukup puas dengan hidup saya sekarang. Kalau yang belum tercapai, banyak aja ya. Saya kepingin jadi ilmuwan yang punya pengaruh di dunia. Punya teori baru atau ‘teori Arief Budiman’. Tapi saya kira itu tidak akan tercapai. Alasannya, ya udah sampai sekarang umur saya hampir 70 tahun. Kalau masih 40 atau 50-an tahun, saya masih berambisi,” jawabnya.</p>
<p>Kini, hidup Arief Budiman telah menjelang batas lorong dunia. Akankah kisah dan liku hidupnya sepanjang Era Revolusi, Orde baru, hingga Reformasi mampu menginspirasi generasi muda? Atau justru sebaliknya, menjadi tokoh yang terlupakan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2009/02/06/inspirator-tiga-zaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Simfoni Pelangi</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/10/18/simfoni-pelangi/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/10/18/simfoni-pelangi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Oct 2008 14:44:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Triyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Salatiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Awan hitam menggantung. Kurang lebih jarum jam menunjuk pukul delapan malam. Aku bersama seorang perempuan, Pelangi namanya. Kami pergi ke sebuah kafe di pinggir kota kecil di kaki gunung Merbabu. Di tempat inilah aku mengutarakan isi hatiku yang telah sekian lama terpendam.
Usia Pelangi saat ini 21 tahun, lebih muda delapan tahun dariku. Meski muda, Pelangi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awan hitam menggantung. Kurang lebih jarum jam menunjuk pukul delapan malam. Aku bersama seorang perempuan, Pelangi namanya. Kami pergi ke sebuah kafe di pinggir kota kecil di kaki gunung Merbabu. Di tempat inilah aku mengutarakan isi hatiku yang telah sekian lama terpendam.</p>
<p>Usia Pelangi saat ini 21 tahun, lebih muda delapan tahun dariku. Meski muda, Pelangi memiliki kedewasaan yang cukup matang. Dia dapat berteman dengan siapa saja. Selain itu, dia juga termasuk tipe perempuan yang tegar.</p>
<p>Kami sudah berteman tiga bulanan. Tapi di awal-awal perjalanan, kita jarang bertemu. Waktu itu Pelangi indekos di Semarang selama sebulan. Dia bekerja pada sebuah bank sebagai <em>assessor</em>.</p>
<p>Baru akhir-akhir ini kami sering bertemu di kafe kampus. Itu pun ketika Pelangi sedang sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi tahap akhir. Melihat dia sendiri waktu itu begitu pontang-panting mengerjakan skripsinya, maka aku merasa terpanggil untuk sekadar membantunya.</p>
<p>Pada suatu hari, Pelangi minta aku untuk mencarikan seorang teman yang bisa membantu mengerjakan skripsinya. Demi permintaannya itu lantas aku mengenalkan Pelangi kepada Opha. Namun bantuan Opha tidak berlangsung lama, waktu itu aku tidak mengetahui alasan sebenarnya, mengapa tiba-tiba saja Pelangi berpaling?!</p>
<p>Sebagai gantinya, bantuan datang dari Babe. Aku juga tidak terlalu paham, mengapa Pelangi memilih Babe?!</p>
<p>Setiap kali Pelangi mengerjakan skripsi dengan Babe, dia selalu minta agar aku mau menemaninya. Dan aku pun senantiasa menuruti permintaannya. Selain itu, aku juga beberapa kali makan bersama dan mengantarnya pulang apabila hari telah larut malam.</p>
<p>Hari demi hari terus kami lalui bersama, hingga kisah dan liku ini kian mengukir di lubuk sanubari. Aku merasa tak kuasa menjaga perasaan sekadar sebagai seorang teman. Rasanya ingin sekali memiliki Pelangi seutuhnya. Bayangan Pelangi seolah tak pernah lekang oleh waktu.</p>
<p>Aku telah jatuh cinta.</p>
<p>Di sore itu, hujan lebat dan awan begitu hitam. Aku, Pelangi, dan Babe duduk di kafe kampus sambil menikmati kopi dan camilan. Tak kusangka, Pelangi membuatku jengkel. Dia dan Babe sengaja memanas-manasi aku, mereka saling memberikan perhatian berlebih. Padahal, sebelum-sebelumnya tidak demikian.</p>
<p>Barangkali mereka telah mengetahui kalau aku telah jatuh cinta, dari gelagatku atau sikap-sikapku selama ini terhadap Pelangi. Aku begitu sensitif hingga wajahku kian memerah setiap kali Pelangi menawari Babe camilan. Tak ada yang dapat aku lakukan selain mencoba mendamaikan diriku.</p>
<p>Lagi-lagi, yang membuat aku kian jengkel adalah ketika mereka berdua pergi begitu saja dengan mobil sedan warna hitam, milik Babe. Tanpa pamit.</p>
<p>Karena aku telah jatuh hati kepada Pelangi, maka yang ada dalam benakku hanyalah kekhawatiran, kalau-kalau terjadi sesuatu pada Pelangi.</p>
<p>Menjelang malam aku merasa bingung, tak tahu harus berbuat apa. Yang ada dalam otakku hanyalah Pelangi &#8230; Pelangi &#8230; dan &#8230; Pelangi.</p>
<p>Hujan mulai reda. Aku sudah merasa putus asa. Tiba-tiba aku teringat seorang teman, namanya Slamet. Sedikit banyak dia mengetahui kisahku dengan Pelangi. Keberuntungan datang, aku bertemu Slamet di pelataran kampus. Dia salah satu teman yang dapat dipercaya. Kita sudah berteman bertahun-tahun lamanya.</p>
<p>Aku minta dia untuk memberikan tanggapan dan masukan. </p>
<p>Aku mengutarakan apa yang barusan terjadi. Waktu itu dia memberikan tanggapan, “Kalau Pelangi melakukan hal demikian, itu hanya mau mengetes saja.” Aku cukup mengerti apa yang dia maksudkan.</p>
<p>Slamet juga memintaku untuk lebih tenang. Kemudian dia menyarankanku untuk mengirim pesan singkat kepada Pelangi.</p>
<p>“kmana..?”</p>
<p>Namun pesan singkat itu tak kunjung terkirim, masih <em>pending</em>. Setelah sekian lama tidak terkirim-kirim, maka aku pamit pulang ke kos.</p>
<p>Sesampainya di kos, aku lihat adik kandungku, Jack, sudah menungguku di kamar teman. Dia baru saja datang dari Boyolali. Saat itu aku hanya menyapanya sebentar lalu menuju kamarku di lantai dua.</p>
<p>Sesampainya di kamar, aku hanya memelototi langit-langit yang terbuat dari triplek yang sebagian telah lapuk. Tak ada gambaran jelas malam itu. Yang terselip di ingatan hanyalah menunggu kabar dari Pelangi.</p>
<p>Usai kumandang adzan Maghrib telepon genggamku bergetar. Aku membukanya, dan melihat laporan pesan singkat buat Pelangi telah terkirim. Tak lama kemudian, telepon genggamku bergetar lagi, dan kabar yang aku tunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Pelangi membalasnya, “Aq dah smpai rumah. Piye?”</p>
<p>Aku tidak segera membalasnya, berpikir sejenak &#8230;. Berhubung aku ingin sekali mengetahui keadaannya, maka pikirku berbuah untuk mengajak Pelangi keluar jalan-jalan, dan aku mengirim pesan singkat.</p>
<p>“Jalan-jalan n sekalian <em>dinner</em>, yuk?”</p>
<p>“Ehm blh d, jam 8 ya…Aq tak isti bentar bis aq cpk bgt. Tak tgu y thx,”</p>
<p>Setelah itu hatiku sedikit lega. Mengingat waktu masih cukup lama, aku manfaatkan saja untuk ngobrol dengan Jack. Saat itu dia mengisahkan pertemuannya dengan kekasihnya tadi siang, saat makan bareng.</p>
<p>Namun saat Jack  sedang asyik bercerita, sebenarnya aku hanya memikirkan bagaimana untuk mendapatkan uang buat makan malam bersama Pelangi. Saat itu aku tidak memiliki uang sepeserpun.</p>
<p>Dalam pengap dan gelap, amarahku memuncak dalam benakku &#8230;.</p>
<p>Pergolakan batin itu berujung pada kenekatan untuk berterus terang kepada Jack.</p>
<p>“Jack, punya uang gak?”</p>
<p>“Ada &#8230; emang kenapa Mas?”</p>
<p>”Aku pinjam uangmu dulu &#8230; tak pakai buat makan ma cewek.”</p>
<p>Dia langsung merogoh dompetnya dari saku celana jins warna hitam. Rencananya, aku hanya ingin pinjam lima puluh ribu saja, tapi dia malah kasih seratus ribu. Sambil mengulurkan uang dia bergumam, “Susahnya ya seperti itu kalau tidak punya uang.”</p>
<p>Barangkali dia teringat masa lalunya yang serba kekurangan. Sekarang Jack telah mendapatkan penghasilan sendiri. Dia bekerja di Jakarta, sebagai musisi.</p>
<p>Waktu seolah-olah berputar begitu cepat. Pukul 19.30, aku kembali berpetualang untuk mencari pinjaman motor. Ada dua teman yang aku hubungi melalui pesan singkat, Fajar dan Aan.</p>
<p>Aku jadi cemas ketika pesan singkat itu tidak segera mendapatkan balasan dari keduanya. Berhubung tidak ada kepastian, aku pun beranjak pergi menuju kampus, untuk menemui Slamet, dengan harapan motornya bisa aku pinjam.</p>
<p>Baru sampai di depan pintu gerbang kampus, telepon genggamku di saku celana jins bergetar. Fajar rupanya membalas pesan singkatku. Dia berkata, “Jam delapan aku baru ke kos.”</p>
<p>Balasan itu aku cuekkan. Aku tetap mencari Slamet.</p>
<p>Sesampainya di pelataran kampus, aku bertemu Dobleh. Aku pun bertanya ke dia tentang keberadaan Slamet. Dia memberitahukan kalau Slamet sudah pulang dari tadi sore.</p>
<p>Saking buru-burunya, aku lalu mengeluarkan telepon genggam untuk menelepon Slamet. Tapi ketika terhubung tidak terdengar suaranya, cuma terdengar kresek-kresek.</p>
<p>Tak lama kemudian Slamet mengirim pesan singkat. “Ak d kdai rio. Td km tlp ak ga dngr, ak trima tp suaramu ga msuk.”</p>
<p>“Ya dah aq k situ….” balasku.</p>
<p>Karena terus dikejar waktu, aku pun minta tolong Dobleh untuk segera mengantarku ke kedai Rio. Kami pun meluncur dengan mobil sedan warna <em>silver</em>.</p>
<p>Setibanya di kedai Rio, aku melihat Slamet sedang ngobrol asyik sambil menikmati secangkir susu putih dan roti bakar bersama dua temannya.</p>
<p>Aku lekas menghampirinya.</p>
<p>“Met, motormu mana?”</p>
<p>“Itu ….” Tangan kanannya menunjuk ke arah motornya yang saat itu sedang diparkir di bawah pohon.</p>
<p>“Aku pinjam dulu ya …?”</p>
<p>“Bawa aja, bawa STNK sekalian gak …?”</p>
<p>“Ya ….”</p>
<p>Dia pun segera mengambil STNK dari dompetnya, untuk kemudian diberikan padaku.</p>
<p>Aku melihat jam di telepon genggam menunjukkan pukul 19.45. Aku pun langsung pamit. Motor Kawasaki warna hitam itu aku geber menuju rumah Pelangi.</p>
<p>Kurang lebih sepuluh menit kemudian aku sudah sampai di depan rumah Pelangi. Aku lihat Pelangi sudah menunggu di beranda depan rumahnya. Dia duduk di kursi busa warna coklat sambil pencet-pencet telepon genggamnya. Pelangi saat itu mengenakan jaket berkerudung warna merah dan celana pendek kotak-kotak dominasi warna coklat bergaris-garis hitam.</p>
<p>Melihatku datang, Pelangi pun bergegas menemuiku di luar pagar yang terbuat dari besi. Tiba-tiba dia langsung mengajakku jalan, tanpa menyuruh mampir barang sejenak.</p>
<p>Aku pun hanya bisa menuruti permintaannya. Setelah Pelangi duduk di jok motor, kami berbalik arah, menyusuri Jalan Pattimura.</p>
<p>Di tengah perjalanan, kami asyik ngobrol sambil menikmati keindahan perbukitan dan kerlap-kerlip cahaya nun jauh di perbukitan. Memasuki jantung kota, Pelangi bertanya, ”Mau makan di mana Mas …?”</p>
<p>“Ke Frufru yuk ….”</p>
<p>Pelangi langsung menyetujuinya. Kami pun menuju kafe Frufru yang letaknya di pinggiran kota Salatiga. Sesampainya di Frufru, kami berjalan menuju meja resepsionis, yang saat itu dijaga seorang perempuan. Dengan senyum mungilnya, resepsionis tersebut menyambut kedatangan kami, dan tanpa bercakap banyak perempuan itu menawari ruang, “Mau di bawah apa di atas?”</p>
<p>“Di atas aja …,” jawab Pelangi.</p>
<p>Kami berdua menuju ke ruangan atas dengan menaiki anak tangga yang terbuat dari besi. Sampai di ruang lantai dua itu, kami berhenti sejenak untuk kemudian memilih tempat duduk. Pelangi memilih meja yang letaknya di lobi kafe.</p>
<p>Baru sebentar duduk, seorang pelayan menghampiri sambil menyodorkan daftar menu.</p>
<p>Aku lihat Pelangi memesan ayam goreng <em>kremes</em> dan <em>lime squash</em>. Sedangkan aku pesan Paket D, yang di dalamnya ada ayam goreng, nasi yang dibungkus dengan daun pisang dan sedikit lalapan, dan minumannya teh stroberi. Sambil menunggu pesanan datang, kami ngobrol-ngobrol lagi tentang apa saja yang terlintas.</p>
<p>Malam itu, Pelangi lebih banyak mengisahkan kehidupannya. Mulai dari masalah keluarganya, sampai menyinggung penyakit yang dideritanya selama ini.</p>
<p>Selama kenal Pelangi, baru malam itu dia mengatakan kalau dia menderita penyakit tumor di kepalanya. Usai mengetahui keluhan Pelangi, hampir seluruh badanku melemas, terlebih ketika Pelangi berkata &#8230;</p>
<p>“Ya kalau mati ya mati …”</p>
<p>“Ya kalau mati ya mati …”</p>
<p>Kata-kata itu terlontar berulang kali. Dia begitu pasrah dengan kondisinya. Apabila tiga bulan ke depan tidak segera sembuh, tidak tahu apa yang akan terjadi pada Pelangi. Dan itu membuatku hanya bisa menghela nafas dalam-dalam, sampai air mataku sedikit tercecer.</p>
<p>Desau angin malam itu tak mampu membasuh derita Pelangi.</p>
<p>Meski kondisi Pelangi demikian, dalam lubuk hati terdalam aku tidak akan surut untuk senantiasa mencintainya. Justru aku ingin sekali lalui hari-hari bersama Pelangi, entah sampai kapanpun.</p>
<p>Hatiku terlanjur ingin sekali melonjak menggapai pelangi di matanya.</p>
<p>Percakapan itu terputus dengan kedatangan pelayan yang mengantar makanan. Setelah menaruh semua makanan di atas meja, pelayan itu pergi sambil berkata, “Silahkan menikmati. Kalau ada apa-apa, silahkan menemui kami.”</p>
<p>Semua hidangan telah tersaji. Aku dan Pelangi pun segera menyantapnya. Dengan menikmati makanan itu, kami kembali ngobrol dengan sesekali diselingi canda tawa.</p>
<p>Percakapan demi percakapan terus mengalir, hingga tak terasa makanan pun habis.</p>
<p>Sejenak kemudian kami berdua sedikit meluangkan waktu untuk menatap jauh ke belantara angan. Aku, sambil menikmati sebatang rokok, menatap hitamnya langit dan bunga-bunga di pot yang mulai lesu. Sedangkan Pelangi aku lihat lebih banyak diam dan sesekali menundukkan kepalanya.</p>
<p>Agar suasana lebih rileks, aku coba menawari Pelangi kentang goreng. Pelangi tidak menolaknya. Lalu aku segera beranjak dari tempat duduk, pergi menuju meja pelayan di sudut ruangan untuk memesan kentang goreng.</p>
<p>Tak lama kemudian, aku kembali lagi duduk di samping Pelangi. Belum ada sepuluh menitan duduk, suasana terasa mencekam ketika angin kencang menghampiri. Beberapa tisu pun terhempas jatuh ke lantai.</p>
<p>Seketika itu pula Pelangi mengenakan jaketnya kembali untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya malam. Pelangi mengajakku pindah ke dalam ruangan.</p>
<p>Di dalam ruangan itu kami duduk di kursi busa warna hijau, yang letaknya di sudut paling depan. Setelah kami duduk, pelayan datang lagi dengan membawakan kentang goreng.</p>
<p>Aku minta Pelangi untuk memakannya terlebih dahulu, mumpung masih hangat. Baru setelah itu aku. Satu persatu kentang goreng pun hampir habis kita makan.</p>
<p>Malam pun kian larut, berhubung malam ini tujuanku tak lain adalah untuk mengutarakan isi hatiku ke Pelangi, aku pun mencoba memberanikan diri untuk berkata terus terang.</p>
<p>“Sebelumnya aku minta maaf, aku ingin sekali mengutarakan sesuatu ke kamu &#8230; boleh gak?”</p>
<p>“Emang ada apa to Mas?”</p>
<p>“Eng &#8230; gak &#8230;. Kamu mau gak kalau kita jadian?”</p>
<p>Seketika itu pula Pelangi hanya senyum-senyum saja, sambil matanya melirik sisi kanan atas.</p>
<p>“Ehm, gimana ya Mas &#8230;. Sebenarnya aku lebih menikmati hidup sendiri.”</p>
<p>“Bisa kemana-mana &#8230;. Terus terang Mas, setelah aku sering nongkrong di kafe, aku banyak mendapatkan sesuatu yang sebelumnya belum pernah aku peroleh.”</p>
<p>“Aku gak bisa Mas &#8230;. Gak apa-apa kan Mas &#8230;?”</p>
<p>Aku hanya bisa menghela nafas. Dalam dadaku pengap dan hampir semua persendianku seperti mau copot.</p>
<p>“Ya &#8230; kalau itu emang sudah menjadi kemauanmu, tidak apa-apa.”</p>
<p>“Bener Mas gak apa-apa?”</p>
<p>“Enggak &#8230;.”</p>
<p>Meski sebenarnya aku kecewa, tapi aku tetap menerima realitas ini dengan lapang dada. Toh aku telah mencobanya &#8230;.</p>
<p>”Emang Mas suka aku karena apa? Kalau boleh tahu &#8230;.”</p>
<p>”Setiap kali aku melihat matamu, ada pelangi.”</p>
<p>Dalam benakku, aku lebih menyukai perempuan seperti Pelangi yang memiliki banyak warna. Pergolakan dalam dirinya itulah sebuah simfoni yang senantiasa memanjakan aku untuk selalu menjaga dan melindunginya.</p>
<p>Pertemuan malam itu pun berakhir ketika pelayan memberitahukan kalau kafe sebentar lagi tutup. Kami pun beranjak pergi dari lantai dua menuju lantai satu untuk membayar makanan kami.</p>
<p>Setelah itu aku mengantar Pelangi pulang. Di sepanjang jalan kami berbincang-bincang lagi. Dan anehnya, perbincangan tidak membahas apa yang baru saja terjadi. Kami lebih banyak bicara soal kehidupan keluarga.</p>
<p>Jarum jam hampir menunjuk pukul sepuluh ketika kami sampai di depan rumah Pelangi. Dia langsung turun dari motor. Tanpa memberi salam, dia berlalu begitu saja. Aku pun hanya mampu berkata lirih, “Mengapa Pelangi bersikap demikian?”</p>
<p>Melihat kejanggalan itu, aku pun langsung memutar motor untuk pulang. Dalam perjalanan, aku hanya bisa menelusup ke ruang hampa tak bercahaya. Dan aku hanya berusaha melerai diriku sendiri.</p>
<p>Semoga saja akan datang hikmah di balik ini semua.</p>
<p>Setidaknya aku telah berbuat yang terbaik, dan tentunya nama Pelangi akan tersimpan di lubuk hatiku terdalam. Meski tanpa harus memiliki, aku masih berharap Pelangi menjadi teman selagi Sang Surya masih bersinar.</p>
<p>Keterpukauanku terhadap simfoni dalam dirinya itulah kelak yang akan menjadikan kehidupan Pelangi seperti harmoni, dan indah pada akhirnya &#8230;.</p>
<p>BAMBANG TRIYONO<br />
Salatiga, 17 Oktober 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/10/18/simfoni-pelangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Songsong Hari Tani Nasional dengan Demonstrasi</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/09/23/songsong-hari-tani-nasional-dengan-demonstrasi/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/09/23/songsong-hari-tani-nasional-dengan-demonstrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 13:55:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Triyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Salatiga]]></category>
		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[
SCIENTIARUM/GATOT DWIYANTO
Kemarin, lebih dari 60 mahasiswa Fakultas Pertanian dan Bisnis berunjuk rasa di area gerbang masuk Universitas Kristen Satya Wacana. Mereka berunjuk rasa dalam rangka menyambut Hari Tani Nasional yang jatuh besok.
Para pengunjuk rasa membagi-bagikan selebaran yang memuat pernyataan aksi berjudul &#8220;Reformasi Agraria Sebagai Jalan Meneguhkan Kuasa Rakyat&#8221; kepada masyarakat yang melintasi jalan Diponegoro, depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://scientiarum.com/img/glry/demo-hari-tani-2008.jpg" alt="Demo Hari Tani Nasional 2008" /><br />
<small>SCIENTIARUM/GATOT DWIYANTO</small></p>
<p>Kemarin, lebih dari 60 mahasiswa Fakultas Pertanian dan Bisnis berunjuk rasa di area gerbang masuk <a href="http://uksw.edu">Universitas Kristen Satya Wacana</a>. Mereka berunjuk rasa dalam rangka menyambut Hari Tani Nasional yang jatuh besok.</p>
<p>Para pengunjuk rasa membagi-bagikan selebaran yang memuat pernyataan aksi berjudul &#8220;<em>Reformasi Agraria Sebagai Jalan Meneguhkan Kuasa Rakyat</em>&#8221; kepada masyarakat yang melintasi jalan Diponegoro, depan kampus UKSW. Mereka menyatakan keprihatinan mereka terhadap nasib kaum petani yang tak kunjung membaik kesejahteraannya.</p>
<p>Mereka juga menyuguhkan aksi teatrikal yang mengisahkan penindasan penguasa terhadap kaum petani. Mulyanto Allo Karaeng, salah satu demonstran, mengenakan kaus hitam, celana doreng, dan sepatu bot ala tentara. <a href="http://www.flickr.com/photos/satriaanandita/2882095634/">Dia &#8220;menginjak-injak&#8221; demonstran lain</a> yang berkostum kaus putih dan celana pendek.</p>
<p>Menurut Daniel Pakuwali, mahasiswa Fapertabis angkatan 2008 yang menjadi koordinator lapangan, unjuk rasa ini bertujuan mendesak pemerintah untuk mencari jalan, bagaimana melindungi hak-hak petani dalam regulasi pangan. Mereka minta pemerintah kendalikan peredaran beras-beras impor. &#8220;Kasihan petani lokalnya,&#8221; kata Daniel.</p>
<p>Bagaimana pendapat Daniel soal kegagalan panen padi galur Super Toy, yang terjadi di beberapa daerah?</p>
<p>&#8220;Petani dijadikan kelinci percobaan,&#8221; jawab Daniel. &#8220;Petani yang sudah bodoh, dibodohi.&#8221;</p>
<p>Daniel berpendapat, seharusnya penelitian Super Toy dilakukan berulang-ulang, hingga benar-benar menghasilkan bibit yang baik. &#8220;Sedangkan uji cobanya jangan berhektar-hektar sawah, untuk mengurangi resiko kegagalan.&#8221;</p>
<p><em><strong><u>RALAT</u></strong><br />
Ada kesalahan pada artikel ini. Nama Mulianto Allo Karaeng ditulis &#8220;Mulyanto&#8221;. Daniel Pekuwali ditulis &#8220;Pakuwali&#8221;. Atas kesalahan ini, kami mohon maaf.</p>
<p>Satria A. Nonoputra<br />
Redaktur</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/09/23/songsong-hari-tani-nasional-dengan-demonstrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wakil Rektor IV: Hashim Djojohadikusumo &#8220;Curhat&#8221; ke UKSW</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/07/20/wakil-rektor-iv-hashim-djojohadikusumo-curhat-ke-uksw/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/07/20/wakil-rektor-iv-hashim-djojohadikusumo-curhat-ke-uksw/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 14:44:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Triyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Kazakhstan]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Salatiga]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[UKSW]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Hashim Djojohadikusumo datang ke kampus Universitas Kristen Satya Wacana pada 15 Juli 2008. Kedatangan tersebut disambut rektor dan para wakil rektor, serta mantan rektor, John Andreas Titaley. Menurut Wakil Rektor IV, Agna Sulis Krave, Hashim datang untuk bersilaturahmi karena kebetulan sedang di Salatiga.
Hashim Djojohadikusumo adalah pengusaha nasional. Dia adik Prabowo Subianto, mantan Panglima Komando Cadangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hashim Djojohadikusumo datang ke kampus Universitas Kristen Satya Wacana pada 15 Juli 2008. Kedatangan tersebut disambut rektor dan para wakil rektor, serta mantan rektor, John Andreas Titaley. Menurut Wakil Rektor IV, Agna Sulis Krave, Hashim datang untuk bersilaturahmi karena kebetulan sedang di Salatiga.</p>
<p>Hashim Djojohadikusumo adalah pengusaha nasional. Dia adik Prabowo Subianto, mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, sekaligus anak almarhum Sumitro Djojohadikusumo, ekonom Indonesia yang pernah lima kali menjabat sebagai menteri di masa Orde Lama dan Orde Baru.</p>
<p>Pada Oktober 2006 Hashim pernah mengagetkan dunia bisnis internasional dengan melego Nations Energy, perusahaan minyaknya di Kazakhstan, senilai USD 1,91 miliar &#8212; aset perusahaan itu sendiri nilainya USD 2,3 miliar. Hashim mencuat lagi pada November 2007 karena keterlibatannya sebagai saksi pencurian arca milik Radya Pustaka, satu museum di Solo.</p>
<p>&#8220;Hashim &#8216;curhat&#8217; tentang bangsa Indonesia,&#8221; cerita Agna.</p>
<p>&#8220;Menurut dia itu Indonesia sekarang memiliki disintegrasi yang tinggi. Dia juga menangkap kalau generasi muda tidak terlalu paham identitas bangsanya. Dari membaca maupun hasil <em>polling</em>, dia mengatakan bahwa Pancasila tidak relevan lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia juga bicara tentang kemerosotan ekonomi bangsa. Reformasi yang sudah berjalan kurang lebih sepuluh tahun tidak lebih baik daripada masa Orde Baru.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia bilang, kapan lagi (UKSW) terjun ke politik? Beberapa hari ini (Hashim) melihat pentingnya terjun ke politik. Di Indonesia dibutuhkan pemimpin (yang) tidak hanya cerdas tetapi (juga) tegas.&#8221;</p>
<p>Agna menangkap, yang diharapkan Hashim dari UKSW adalah kerjasama di bidang pangan dan pendidikan. Khusus di bidang pendidikan itu menyangkut penyediaan tenaga-tenaga terampil dan peningkatan kualitas pendidikan.</p>
<p>Lantas, bagaimana respon UKSW sendiri?</p>
<p>&#8220;Intinya, dari adanya tawaran kerjasama kami merespon, bahkan proaktif, selain tidak ada maksud politis,&#8221; jawab Agna.</p>
<p><strong>Peran alumni</strong><br />
Kedatangan Hashim Djojohadikusumo tidak lepas dari peran Nicholay Aprilindo, alumni Fakultas Hukum tahun 1986. Nicho saat ini bekerja sebagai <em>legal advisor</em> perusahaan-perusahaan di lingkungan keluarga Hashim Djojohadikusumo dan Prabowo Subianto.</p>
<p>Saat ditemui Scientiarum di lobi hotel Quality pada 16 Juli 2008, Nicho mengaku sedih melihat UKSW sekarang.</p>
<p>&#8220;Padahal dulu terkenal macan Asia Tenggara. Sekarang, tikus aja gak dihitung. Dan kualitas mundur ke belakang. Yang dikejar kuantitas (mahasiswa),&#8221; tutur Nicho.</p>
<p>Sebagai alumni, Nicho ingin agar UKSW kembali pada visi-misi yang telah dibangun dahulu. Dia ingin UKSW jadi mercusuar pendidikan regional, nasional, bahkan internasional. Tentunya, dengan peningkatan mutu dan sumber daya manusia di lingkungan UKSW sendiri.</p>
<p>&#8220;Sehubungan dengan itu, saya membuka satu peluang (dengan) mengajak konglomerat Hashim Djojohadikusumo, putra begawan ekonomi Profesor Sumitro Djojohadikusumo, agar beliau dapat membantu memberikan kontribusi dan bantuan dana untuk perbaikan kualitas pendidikan dan kualitas SDM (sumber daya manusia &#8212; Red) di UKSW,&#8221; terangnya.</p>
<p>Peluang yang dimaksud Nicho adalah peluang pengembangan fakultas-fakultas yang diharapkan bisa mencetak para ahli dalam bidang-bidang yang menciptakan lapangan pekerjaan. Ada pula peluang studi lanjut bagi para dosen UKSW yang hendak menempuh jenjang S2 dan S3.</p>
<p>&#8220;Nah, peluang-peluang inilah yang seharusnya bisa ditangkap pihak YPTKSW (Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana &#8212; Red) maupun pihak rektorat UKSW. Dan, perlu diketahui, peluang ini bukan peluang <em>profit oriented</em>, tapi murni pengembangan pendidikan,&#8221; tegas Nicho.</p>
<p>Menurut Nicho, Hashim &#8212; lewat Yayasan Keluarga Hashim Djojohadikusomo &#8212; hingga kini telah memberi bantuan kepada Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Kristen Duta Wacana, dan satu SMA di Ungaran.</p>
<p>Ada dua alasan yang diutarakan Nicho mengenai kedatangannya dengan Hashim ke UKSW: (1) Nicho melihat UKSW sudah kehilangan jati diri dengan mengejar kuantitas; (2) perpecahan-perpecahan yang terjadi dalam tubuh UKSW sendiri membuat kualitas pendidikan UKSW terpuruk.</p>
<p>&#8220;Ini harus segera dibenahi dengan cara bergandengan tangan lagi, bersatu dan bekerjasama untuk membangun UKSW ke depan yang lebih solid. Dihargai dan disegani oleh berbagai kalangan intelektual.&#8221;</p>
<p>&#8220;Namun, yang terpenting daripada itu (adalah) bagaimana UKSW dapat menciptakan seorang intelektual yang <em>creative minority</em>.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan satu lagi saya tekankan, bagi pejabat-pejabat di lingkungan UKSW hendaknya jangan melihat perbedaan pendapat sebagai separatisme yang menyebabkan perpecahan dan kehancuran. Tetapi perbedaan pendapat sebagai suatu khazanah argumentasi intelektual yang dapat memacu kepada kemandirian dan kemajuan UKSW sendiri.&#8221;</p>
<p><em>Laporan ini dikerjakan bersama <a href="http://scientiarum.com/author/satria/">Satria A. Nonoputra</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/07/20/wakil-rektor-iv-hashim-djojohadikusumo-curhat-ke-uksw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persatuan Sais Dokar Tetap Eksis</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/04/10/persatuan-sais-dokar-tetap-eksis/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/04/10/persatuan-sais-dokar-tetap-eksis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 17:35:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Triyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Salatiga & Sekitarnya]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Salatiga]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/04/09/persatuan-sais-dokar-tetap-eksis/</guid>
		<description><![CDATA[
SCIENTIARUM/BAMBANG TRIYONO
Juman dan Sukardi bergambar di depan Sekretariat PSD, Salatiga.
Organisasi ini berawal dari keresahaan para sais dokar, kala keberadaannya terusik kebijakan Pemerintah Kota Salatiga. Beberapa orang yang peduli pun omong punya omong agar dokar diorganisir. Tak heran, dengan segala kisah dan likunya, para sais dokar berhasil membuat organisasi yang diberi nama Persatuan Sais Dokar (PSD).
Menurut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://scientiarum.com/img/sukardi-psd-salatiga.gif" alt="Sukardi dan Juman" /><br />
<small>SCIENTIARUM/<a href="http://scientiarum.com/author/bambang/">BAMBANG TRIYONO</a><br />
Juman dan Sukardi bergambar di depan Sekretariat PSD, Salatiga.</small></p>
<p>Organisasi ini berawal dari keresahaan para sais dokar, kala keberadaannya terusik kebijakan Pemerintah Kota Salatiga. Beberapa orang yang peduli pun omong punya omong agar dokar diorganisir. Tak heran, dengan segala kisah dan likunya, para sais dokar berhasil membuat organisasi yang diberi nama Persatuan Sais Dokar (PSD).</p>
<p>Menurut Sukardi, ketika ditemui di Terminal Dokar Pereng Asri (depan RSUD Salatiga), Senin, 7 April 2008, PSD resmi terbentuk pada 1990. Itu pun harus melalui lobi ke berbagai instansi terkait, seperti Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ), Polres, sampai legislatif (Komisi Bidang Perhubungan). &#8220;Pak Kardi&#8221; adalah salah satu pendiri PSD.</p>
<p>“Kala itu perjuangan kami tidak terlepas dari adanya dukungan pihak lain, yang menamakan dirinya &#8216;Kelompok 15.&#8217;”</p>
<p>Kelompok 15, menurut Sukardi, adalah kumpulan intelektual muda kampus Satya Wacana, seperti <a href="http://andreasharsono.blogspot.com">Andreas Harsono</a> (saat ini menjadi jurnalis di <a href="http://www.pantau.or.id">Pantau</a> &#8212; Red) beserta kawan-kawannya. Mereka memperjuangkan agar dokar tetap eksis di Kota Hatti Beriman (Salatiga). </p>
<p>“Usai terbentuknya PSD, kemudian kami mengusulkan agar dibuatkan terminal dokar,” lanjut Sukardi.</p>
<p>Supaya para anggota dewan paham betul bahwa PSD memiliki misi, yang salah satunya adalah melestarikan alat transportasi tradisional, mereka sampai meluangkan waktu untuk mempelajari Peraturan Daerah Tahun 1957 tentang Terminal Dokar. Dengan cara tersebut, mereka berharap agar legislatif segera merealisasikan pembuatan terminal dokar. Setelah ada pemahaman bersama antara PSD dengan pemerintah kota, baru pada 1996 terminal dokar berdiri dan mulai beroperasi.</p>
<p>“Saat diresmikan, kami mengundang pejabat dan semua datang. Cukup kami sediakan makanan alakadarnya, seperti nasi jagung dan kacang. Buahnya pun hanya rambutan dan langsep. Maklum, karena kami petani,” kenangnya.</p>
<p>Dalam rangka memperkuat organisasi, mereka mengirimkan kliping soal transportasi kepada Menteri Perhubungan dan Dirjen Perhubungan. Dan itu membuat PSD Salatiga dikenal banyak kalangan, karena dianggap memberikan kontribusi dalam pembuatan undang-undang di bidang transportasi nasional.</p>
<p>Lebih lanjut, Sukardi menceritakan kalau PSD berkembang lebih cepat dibandingkan organisasi lain saat itu. Sebagai contoh, mengenai fasilitas, mereka menunjukkan kepada pemerintah bahwa mereka dapat membuat kantor kesekretariatan, meski reot. Sukardi menyinggung, kepedulian Satya Wacana terhadap persoalan masyarakat sangat tinggi waktu itu.</p>
<p>“Itu pada eranya Willi Toisuta (Rektor UKSW ketiga &#8212; Red). Waktu itu kami sering diundang dalam forum-forum tertentu,” kenang Sukardi.</p>
<p>Menurut Sukardi, kepedulian UKSW terhadap persoalan masyarakat mulai terkikis pasca-Willi. Sukardi juga menambahkan bahwa figur-figur seperti Arief Budiman (mantan dosen Program Pascasarjana UKSW &#8212; Red) lah yang pemikirannya dibutuhkan untuk membangun Salatiga saat ini.</p>
<p>“Dulu itu lho, waktu kemelut 94, saya sampai diminta menghadap Kodim. Saya dianggap SAB (Sahabat Arief Budiman),&#8221; tukasnya.</p>
<p>Juman, yang saat ini mengetuai PSD, mengeluh bahwa anggotanya tidak bisa meluangkan waktu untuk mengurus organisasi, meski masih ada beberapa yang menaati karena ada rasa tanggungjawab. Sebagai ketua, Juma menyadari bahwa para anggotanya kurang memiliki kesadaran berorganisasi.</p>
<p>“Sebelum narik, mereka bertahan untuk mencari tarikan. Tapi kalau menurut saya, anggota yang berpikir dewasa harus menyadari,” kata Juman.</p>
<p>Struktur organisasi PSD saat ini meliputi Ketua Umum (Juman), Sekretaris (Sukardi), Ketua I Bidang Ketertiban dan Perlengkapan Dokar (Kuad), Ketua II Bidang Keanggotaan (Suwarno), dan Ketua III Bidang Pendidikan dan Lingkungan (Suratman).</p>
<p>Sedikitnya ada 125 dokar yang masih terdaftar di PSD. Apabila dibandingkan dengan yang dulu, jumlah ini jauh lebih sedikit.</p>
<p>PSD saat ini memiliki empat cabang, yang meliputi Kecamatan Sidomukti, Argomulyo, Tingkir, dan Tuntang. Setiap cabang memiliki pengurus sendiri, dan pengurus pusat memberi otonomi penuh bagi tiap cabang. Artinya, mereka dapat berbuat apa saja, seperti arisan dan menabung. Pertemuan pengurus, baik dari cabang maupun pusat, dilakukan setiap triwulan sekali.</p>
<p>Inilah potret organisasi dokar di Salatiga, yang telah mengalami pasang surut.</p>
<p>Haruskah mereka terkikis oleh jaman?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/04/10/persatuan-sais-dokar-tetap-eksis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Penegakan Hukum Jadi Komoditas</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/03/28/ketika-penegakan-hukum-jadi-komoditas/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/03/28/ketika-penegakan-hukum-jadi-komoditas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Mar 2008 16:55:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Triyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/03/28/ketika-penegakan-hukum-jadi-komoditas/</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah penanganan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) terlihat timbul tenggelam seiring dengan pergantian kekuasaan. Ungkapan tersebut dilontarkan Yudi Kristiadi saat mengisi diskusi di Fakultas Hukum UKSW. Yudi Kristiadi adalah Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Ia doktor lulusan Universitas Diponegoro, Semarang.
Diskusi yang diadakan Kamis, 27 Maret 2008, di ruang F309 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejarah penanganan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) terlihat timbul tenggelam seiring dengan pergantian kekuasaan. Ungkapan tersebut dilontarkan Yudi Kristiadi saat mengisi diskusi di Fakultas Hukum UKSW. Yudi Kristiadi adalah Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Ia doktor lulusan Universitas Diponegoro, Semarang.</p>
<p>Diskusi yang diadakan Kamis, 27 Maret 2008, di ruang F309 itu bertema “<em>Pemetaan Kasus BLBI dan Kinerja Penegak Hukum</em>.” Selain Yudi Kristiadi, narasumber lainnya adalah <a href="http://scientiarum.com/2007/12/10/yunantyo-adi-setiawan-saya-orang-paling-beruntung/">Yunantyo Adi Setyawan</a> (Wartawan Suara Merdeka), dan Arie Siswanto (Wakil Dekan FH UKSW).</p>
<p>Yudi Kristiadi mengatakan aparat penegak hukum tidak lagi punya kepekaan sosial. Kebijakan penegakan hukum terjebak budaya yang korup. Ia menganjurkan kasus korupsi BLBI yang melibatkan Jaksa Urip Tri Gunawan dibuka kembali. Kerugian negara yang triliunan rupiah seperti kasus BLBI, bila nominalnya dicairkan pakai pecahan seribuan, maka jumlah lembaran uangnya bisa dipakai menutup separuh luas wilayah Indonesia. Dalam kasus tersebut, Urip Tri Gunawan menerima suap Rp 6 miliar. Yudi Kristiadi mengatakan bahwa ini bisa dijadikan momen perbaikan kejaksaan.</p>
<p>Arie Siswanto lebih menyoroti kasus BLBI dari kacamata akademisi. Peristiwa tersebut dipandangnya menampilkan puncak gunung es dari sebuah fenomena korupsi di bidang peradilan (<em>justice sector corruption</em>). Ia bermaksud melihat peristiwa <em>UTG-gate</em> dalam bingkai yang lebih luas &#8212; UTG adalah inisial Urip Tri Gunawan.</p>
<p>Secara umum, korupsi peradilan dipahami sebagai perbuatan-perbuatan koruptif yang dilakukan oleh atau melibatkan pihak-pihak yang menjadi bagian dari sistem peradilan. Lebih lanjut, korupsi peradilan tidak hanya menyangkut lembaga pengadilan dan hakim, namun juga terkait dengan lembaga kepolisian, kejaksaan, serta advokat. Di Indonesia, fenomena seperti ini secara populer dikenal dengan istilah “mafia peradilan.” Survei yang diselenggarakan oleh Transparency International pada 2006 menyatakan bahwa 50 persen responden menganggap sistem hukum di Indonesia korup.</p>
<p>Mary Noel Pepys, pengacara spesialis korupsi peradilan dari Amerika Serikat, mengidentifikasi bahwa korupsi peradilan disebabkan oleh berbagai faktor. Dan faktor yang relevan dengan <em>UTG-gate</em> adalah intervensi eksternal dan toleransi sosial terhadap korupsi.</p>
<p>Melalui intervensi, pihak luar langsung menyerang sendi-sendi penegakan hukum. Ini berkaitan dengan prinsip independensi lembaga peradilan.</p>
<p>Dalam kasus BLBI, intervensi yang dilakukan oleh pihak di luar lembaga penegak hukum memperoleh legitimasi formal, yakni Inpres Nomor 8 Tahun 2002 tentang Pemberian Jaminan Kepastian Hukum kepada Debitur yang Telah Menyelesaikan Kewajibannya atau Tindakan Hukum kepada Debitur yang Tidak Menyelesaikan Kewajibannya Berdasarkan PKPS. Inpres ini dikenal pula dengan nama “Inpres Release &#038; Discharge (R&#038;D).”</p>
<p>Arie Siswanto menegaskan bahwa inpres ini bersifat interventif terhadap penegakan hukum dalam kasus BLBI, karena memberikan perlindungan tidak wajar terhadap obligor BLBI. Berdasarkan Inpres R&#038;D, obligor BLBI akan dibebaskan dari semua tuntutan hukum. Ironisnya, mereka hanya diminta membayar sebagian dari kewajibannya, yakni 30 persen secara tunai, dan kemudian memperoleh Surat Keterangan Lunas (SKL). Bagi para obligor yang perkaranya telah disidangkan, SKL akan dijadikan bukti baru (<em>novum</em>), yang bermuara pada pembebasan mereka.</p>
<p>Bentuk intervensi lain diduga terjadi dalam bentuk “pembicaraan di kabinet.” Kejaksaan Agung akhirnya mengeluarkan perintah penghentian pengusutan perkara BLBI. Arie Siswanto menyimpulkan intervensi-intervensi semacam ini menempatkan lembaga penegak hukum pada posisi yang sulit.</p>
<p>Faktor toleransi sosial terhadap korupsi sesungguhnya menempatkan masyarakat sebagai aktor penting dalam upaya mencegah dan memberantas korupsi. Masyarakat akan mendorong praktek-praktek koruptif ketika mereka abai terhadap korupsi. Atau yang lebih buruk lagi, justru terlibat dalam perilaku yang melestarikan korupsi peradilan.</p>
<p>Bagaimana dengan peran pers? Yunantyo Adi Setyawan mengatakan bahwa pers memiliki peran besar dalam pemberantasan korupsi, kendati sesungguhnya ada banyak kendala-kendala yang sulit dihindarkan. Oleh karena sebab-sebab tertentu, dari internal maupun eksternal, pers tidak bisa sempurna mengungkap masalah-masalah korupsi.</p>
<p>Yunantyo Adi Setyawan mengatakan bahwa dalam situasi ekonomi yang serba kapitalis, “virus UTG” juga merambah ke dunia pers. Tak dapat dipungkiri, tidak semua institusi media bekerja secara maksimal dalam gerakan pemberantasan korupsi. Wartawan maupun pemilik perusahaan media tidak selamanya bisa imun terhadap suap. Ia mengetahui hanya segelintir media yang melarang wartawannya menerima “amplop” dan memberikan sanksi tegas bagi yang melakukannya.</p>
<p>Bagaimanapun, dalam kadar tertentu, “amplop” itu bisa berfungsi sebagai suap, karena bisa melemahkan daya kritis wartawan dalam peliputan. Jadi, sebenarnya persoalan ini lebih pada komitmen pers untuk menjaga kehormatan profesi jurnalistik dan dunia jurnalisme.</p>
<p>Yang lebih serius dari suap adalah pemerasan. Di kalangan sendiri dan pihak-pihak yang berrelasi dengan para pekerja media itu, ada olok-olok bagi individu dan kelompok wartawan yang secara vulgar memanfaatkan status kewartawanannya untuk melakukan ancaman dan pemerasaan pada narasumber, yakni “wartawan bodrex.” Biasanya, mereka mendatangi orang-orang yang mereka nilai punya masalah dan mengancam akan memunculkan masalah itu ke permukaan lewat pemberitaan media. Para “wartawan” ini menawarkan jasa untuk tidak memuat masalah itu, asal diberi imbalan uang.</p>
<p>Yunantyo Adi Setyawan mengaku tidak tahu persis kapan istilah “wartawan bodrex” lahir. Tapi dari cerita yang beredar di kalangan wartawan, istilah itu terinspirasi iklan obat sakit kepala yang muncul di awal tahun 80-an. Pada iklan itu ada kalimat “pasukan bodrex datang” dan “pasukan bodrex menyerang.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/03/28/ketika-penegakan-hukum-jadi-komoditas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ferry Roen Menguatkan Lembaga Pers Mahasiswa di UKSW</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/02/27/ferry-roen-menguatkan-lembaga-pers-mahasiswa-di-uksw/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/02/27/ferry-roen-menguatkan-lembaga-pers-mahasiswa-di-uksw/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 13:25:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Triyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/02/27/ferry-roen-menguatkan-lembaga-pers-mahasiswa-di-uksw/</guid>
		<description><![CDATA[Untuk mengelola kedinamisan suatu lembaga pers mahasiswa (LPM), terutama di era sekarang, tidaklah mudah. Tidak hanya Scientiarum (SA) yang mengalami jatuh bangun, tapi nasib serupa juga pernah dialami LPM-LPM lain, seperti Imbas, dan sebagainya.
Sebagai upaya menjaga eksistensi dan kesinambungan LPM di lingkungan UKSW, maka tak ada salahnya bila SA mencari tahu para pendahulunya. Kebetulan Ferry [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk mengelola kedinamisan suatu lembaga pers mahasiswa (LPM), terutama di era sekarang, tidaklah mudah. Tidak hanya Scientiarum (SA) yang mengalami jatuh bangun, tapi nasib serupa juga pernah dialami LPM-LPM lain, seperti Imbas, dan sebagainya.</p>
<p>Sebagai upaya menjaga eksistensi dan kesinambungan LPM di lingkungan UKSW, maka tak ada salahnya bila SA mencari tahu para pendahulunya. Kebetulan Ferry Roen, seorang mantan redaksi SA yang saat ini menjabat sebagai anggota DPRD Kupang, sedang menyambangi kampus di kaki gunung Merbabu ini. Dari pertemuan dengan mantan redaksi tersebut, SA berupaya menggali sejarah awal mula berdirinya LPM Scientiarum, yang boleh dikatakan selalu mengalami pasang surut.</p>
<p>Saat ditemui di kafe depan, Selasa (26/2), Ferry menceritakan bagaimana Scientiarum itu terbentuk hingga akhirnya terbit. Tidak hanya niat saja yang mereka tumbuhkan, tapi juga ditopang komitmen dan rasa kecintaannya terhadap Satya Wacana. “Pada tahun 1998, kami berlima mulai merencanakan kegiatan membuat media mahasiswa. Hal ini secara praktis atas dasar pemikiran matinya Gita Kampus (LPM sebelumnya &#8212; Red), internet sedikit, dan belum adanya media di Salatiga,” tuturnya.</p>
<p>“Dulu itu di senat (Senat Mahasiswa Universitas &#8212; Red) ada namanya, tetapi lembaganya tidak ada. Sedangkan secara idealisme, merunut visi misi Satya Wacana, yang mau dikembangkan adalah aspek kognitifnya. Dengan begitu para kadernya digodok di SA. Pada tahun itu pula kami merumuskan nama Scientiarum (persekutuan ilmiah), yang diambil dari salah satu visi misi UKSW. Dan saya rasa nama ini <em>popular</em> sekali di kampus sampai saat ini,” imbuhnya.</p>
<p>Baru menginjak tahun 1999, tepatnya bulan November, Scientiarum terbit perdana. Ferry bersama anggota redaksi SA lainnya merasa bangga sekali dengan hasil yang mereka peroleh. “Kala itu terbit aja sudah syukur, dan kelihatannya PR (sekarang WR &#8212; Red) III juga begitu senang,” kenangnya.</p>
<p>“Eksistensi Scientiarum kala itu, dari sepengetahuan saya, hanya tiga kali terbit saja. Habis itu mati karena periodesasi. Melihat Scientiarum saat ini di luar dugaan kami. Ke depan SA lebih dikuatkan lagi. Kalau perlu mulai mengupayakan independensinya, agar tidak ada intervensi baik dari dalam maupun luar kampus.”</p>
<p>Ditanya bagaimana sikap sivitas akademika ketika pertama kali SA terbit, ia menjawab bahwa respon mahasiswa dingin. “Respon mahasiswa dingin ketika ada SA. Namun bagi kalangan tertentu senang, karena otak tersalurkan,” pungkasnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/02/27/ferry-roen-menguatkan-lembaga-pers-mahasiswa-di-uksw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Sayang Buang Uang buat Sekadar Formalitas Seperti Wisuda!&#8221;</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/02/16/sayang-buang-uang-buat-sekadar-formalitas-seperti-wisuda/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/02/16/sayang-buang-uang-buat-sekadar-formalitas-seperti-wisuda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 14:41:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Triyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/02/16/berita/%e2%80%9csayang-buang-uang-buat-sekadar-formalitas-seperti-wisuda%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Baru saja UKSW selesai menggelar prosesi wisuda. Acara ini berlangsung hari ini, Sabtu (16/2), dari pukul 09.00-13.00 WIB. Selama empat jam itu, ritual pemindahan tali topi toga dilakukan Prof. Kris H. Timotius, Rektor UKSW, terhadap 648 orang winisuda. Para dekan pun secara bergantian mendampingi rektor sesuai dengan nomor urut fakultasnya.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, wisuda kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1936" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img src="http://scientiarum.com/wp-content/uploads/2008/02/kampus-uksw-wisuda-feb-2008.jpg" alt="Suasana kampus UKSW seusai acara wisuda. {Foto oleh Satria A. Nonoputra}" title="kampus-uksw-wisuda-feb-2008" width="500" class="size-full wp-image-1936" /><p class="wp-caption-text">Suasana kampus UKSW seusai acara wisuda. {Foto oleh Satria A. Nonoputra}</p></div>
<p>Baru saja UKSW selesai menggelar prosesi wisuda. Acara ini berlangsung hari ini, Sabtu (16/2), dari pukul 09.00-13.00 WIB. Selama empat jam itu, ritual pemindahan tali topi toga dilakukan Prof. Kris H. Timotius, Rektor UKSW, terhadap 648 orang winisuda. Para dekan pun secara bergantian mendampingi rektor sesuai dengan nomor urut fakultasnya.</p>
<p>Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, wisuda kali ini diselenggarakan di lapangan basket kampus. Lapangan basket yang terbuka itu pun disulap menjadi ruang tertutup yang “elegan”. Tempat yang biasa digunakan, yakni Balairung Universitas (BU), masih menjalani pemugaran untuk sementara waktu.</p>
<p>Ketika acara wisuda selesai, dan para peserta acara keluar teratur dari lapangan basket, SA hanya memberikan dua pertanyaan kepada para winisuda, yakni “Bahagia?” dan “Kenapa?” Berikut komentar para winisuda yang saat itu dapat ditemui SA.</p>
<p>“Bahagia, karena setelah ini saya akan menempuh hidup baru,” ujar Henry, salah satu lulusan Fakultas Psikologi.</p>
<p>“Sengsara, tapi membawa nikmat. Sengsara karena di dalam sana (tempat wisuda &#8212; Red) sangat panas. Nikmat, karena sekarang sudah tidak kepanasan,” celetuk Winarto, lulusan dari Fakultas Ekonomi.</p>
<p>“Biasa aja sih. Tapi memang rasanya lega sekali setelah semuanya beres. Bayangkan, tujuh tahun!” aku Boy, winisuda dari Fakultas Bahasa dan Sastra. “Selain itu, aku rasa wisuda kali ini gak ada <em>gregete</em>. Gak tahu kenapa,” imbuhnya.</p>
<p>Setiap winisuda memang punya persepsi berbeda soal ritual ini. Begitu pula para pejabat kampus yang mewisuda mereka.</p>
<p>“Saya sendiri tidak menyarankan mahasiswa saya untuk wisuda,” aku Mas Kelik, Dekan Fakultas Seni dan Pertunjukan, sembari menjelaskan bahwa separuh dari lulusan FSP tidak mengikuti wisuda. Menurutnya, uang yang digunakan untuk mendaftar wisuda tersebut akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk keperluan lain, seperti mencari pekerjaan. “Sayang kalau uang itu digunakan untuk hal-hal yang sebatas formalitas seperti ini saja,” imbuhnya.</p>
<p>“Saya kan sudah berulang kali mengikuti ini (wisuda &#8212; Red), jadi biasa aja,” celetuk Wakil Rektor III UKSW, Umbu Rauta, saat ditemui SA di depan lobi Gedung Administrasi Pusat (GAP).</p>
<p><em>Laporan ini dikerjakan bersama <a href="http://scientiarum.com/author/satria/">Satria A. Nonoputra</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/02/16/sayang-buang-uang-buat-sekadar-formalitas-seperti-wisuda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
