Penangkal Dosa
Andai waktu itu Hawa lakukan itu, mungkin dia tidak akan sampai termakan bujukan ular dan jatuh ke dalam dosa.
Andai waktu itu Hawa lakukan itu, mungkin dia tidak akan sampai termakan bujukan ular dan jatuh ke dalam dosa.
Dari halaman mukanya, kita bisa langsung tahu apa tujuan buku ini: menyingkap relasi pengetahuan, politik, dan kekuasaan. Di dalamnya akan ditunjukkan bahwa tidak ada pengetahuan yang netral dan bebas nilai. Semua berpihak.
Tentu berbeda dari mendidik kambing. Kambing bukan manusia dan manusia bukan kambing, dan sebangsanya.
Sebetulnya kalau dipikir-pikir, tanggungjawab manusia kreatif itu tidak ke mana-mana, kok. Tidak kepada Tuhan, dan tidak kepada orang lain. Tanggungjawab paling besar adalah kepada dirinya sendiri.
Hidup dalam ketakutan sama saja dengan tidak hidup. Apa gunanya punya gelar sarjana kalau dapatnya cuma gara-gara takut nggak bisa kerja?
Si bapak bukannya turun kaki, malah bilang sama mereka, “Gerbong belakang masih banyak tempat kosong, mbak.”
Buat apa repot-repot ngurus NKRI sampai mati, kalau cuma bikin orang nggak enak hati?
Sekarang kita cuma bisa bilang Doa Bapa Kami, “Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga.” Padahal, kalau kita mau berusaha sedikit, mungkin kita bisa ciptakan peradaban di bumi seperti di surga.
Karena semua tergantung orangnya, berarti tidak tergantung sekolahnya, atau kampusnya. Sekolah dan kampus, kan, cuma bikinan orang.
Tak ada yang menggantikan kerja keras. Kalau si penemu lampu bilang, jenius itu 1 persen inspirasi dan 99 persen kerja keras.