<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Scientiarum &#187; Satria Anandita</title>
	<atom:link href="http://scientiarum.com/author/satria/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://scientiarum.com</link>
	<description>Universitas Kristen Satya Wacana &#124; Salatiga</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Sep 2010 18:25:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Penangkal Dosa</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/07/30/penangkal-dosa/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/07/30/penangkal-dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 08:42:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2919</guid>
		<description><![CDATA[Andai waktu itu Hawa lakukan itu, mungkin dia tidak akan sampai termakan bujukan ular dan jatuh ke dalam dosa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebetulan itu ada. Dan ia hadir di kafe kampus kemarin, Rabu sore. Dengan kebetulan, Fredy mencetuskan ajakan untuk PA (pendalaman Alkitab) saat itu juga. Dan dengan kebetulan pula, ada satu Alkitab di tas saya.</p>
<p>“Mau bahas apa?” tanya saya.</p>
<p>“Apa saja. Dari Kejadian atau mana. Terserah,” jawab Fredy.</p>
<p>Nah, ini satu kebetulan lagi. Soalnya, dua hari yang lalu saya sempat baca satu renungan yang nyenggol-nyenggol kitab Kejadian. Saya pikir renungan itu layak saya bagi ke teman-teman. Maka bersukarelalah saya jadi pembicara dadakan.</p>
<p>Ajakan disebarkan. Setengah jam lagi ada PA di kantor Scientiarum. Dan teman-teman banyak yang tidak percaya. Risa, misalnya, tidak percaya kalau saya yang agnostik (dan agak ateis) bisa jadi pembicara untuk barang rohani macam PA. Ada juga yang tidak bisa ikut karena sedang kerjakan LPJ (laporan pertanggungjawaban) akhir Lembaga Kemahasiswaan. Saya bilang, oke, itu ibadah juga. Ibadahnya aktivis LK. Jangan sampai urusan rohani mengganggu urusan duniawi.</p>
<p>Akhirnya, yang hadir di kantor Scientiarum sore itu cuma saya, Fredy, Niel, dan Febri. Setelah memimpin doa, Fredy persilakan saya bicara.</p>
<p>Pertama-tama, biar tidak melanggar hak cipta, saya bilang dulu kalau renungan yang hendak saya bagi saya dapat dari <a href="http://berlinsianipar.wordpress.com/2010/07/27/late-night-writing-control-your-mind-or-someone-will/">blognya Berlin Sianipar</a>. Nasnya terambil dari Kejadian pasal 3: cerita kejatuhan manusia ke dalam dosa.</p>
<p>Saya yakin kita semua sudah hapal cerita ini. Ular membujuk Hawa untuk makan buah pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan jahat, tapi Hawa ngomong sama ular, “Tuhan bilang kalau kami makan atau sentuh buah pohon itu, kami akan mati.”</p>
<p>“Kamu tidak akan mati,” jawab si ular. “Kamu akan jadi seperti Tuhan, tahu mana yang baik dan jahat.” Hawa langsung percaya. Dia makan buah itu dan membaginya dengan Adam.</p>
<p>Jadi, kenapa Hawa percaya sama ular?</p>
<p>Mestinya kalau mau mikir sedikit, Hawa bisa tanya ke ular, “Kok kamu tahu aku nggak bakal mati? Kamu sendiri udah pernah makan? Mana buktinya?” Andai waktu itu Hawa lakukan itu, mungkin dia tidak akan sampai termakan bujukan ular dan jatuh ke dalam dosa.</p>
<p>Tapi Hawa tidak lakukan itu. Adam juga tidak. Mereka tidak terbiasa bersikap kritis dan bertanya. Waktu Tuhan bilang mereka akan mati kalau berani makan atau sentuh buah pohon itu, mestinya mereka tanya apa “mati” yang dimaksud sama Tuhan. Soalnya, kalau benar Adam dan Hawa itu manusia pertama dan belum pernah mati, harusnya kematian adalah barang asing buat mereka, dan mereka patut mempertanyakan kata-kata Tuhan. Apa itu mati? Kok makan buah aja bisa mati? Terus kenapa Tuhan bikin pohon yang buahnya mematikan? Tuhan pengen manusia mati? Kalau Tuhan nggak pengen manusia mati, kenapa Tuhan nggak tebang aja pohon itu?</p>
<p>Pesan moral cerita ini adalah: ketidakbiasaan bersikap kritis—bahkan kepada Tuhan—adalah awal mula kejatuhan manusia ke dalam dosa. Karena hanya dengan bersikap kritis itulah manusia bisa tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar. Bujukan ular jelas menyesatkan. Tapi itu bisa terjadi karena Tuhan tidak kasih <em>briefing</em> yang cukup sama manusia untuk menghadapi tipu muslihat ular, dan—celakanya—si manusia juga tidak kepikiran buat minta. Andai waktu itu si manusia tanya sama Tuhan soal semua seluk-beluk pohon pengetahuan itu, pasti dia punya amunisi yang cukup buat mendebat ular. Nggak asal percaya.</p>
<p>Jadi, kenapa Adam dan Hawa nggak kritis?</p>
<p>Febri membagi cerita soal Habibie dan cucunya. Suatu hari cucunya yang masih kecil tanya sama si kakek: kenapa pesawat bisa terbang? Si kakek yang insinyur lulusan Jerman bingung. Bukan karena tidak bisa menjelaskan, tapi karena tidak tahu bagaimana menjelaskan hal itu dalam bahasa sederhana yang dimengerti anak kecil.</p>
<p>Saya tidak tahu apakah akhirnya Habibie berhasil menjawab cucunya, tapi cerita ini adalah contoh yang umum sekali. Anak kecil adalah golongan manusia paling kritis. Mereka banyak tanya. Tapi apa yang selama ini orang dewasa biasa lakukan terhadap pertanyaan-pertanyaan anak kecil?</p>
<p>Kebanyakan cuek. Mereka anggap pertanyaan itu mengganggu dan tidak penting, seperti anak kecil itu sendiri. Padahal, orang dewasa sering terganggu dengan pertanyaan anak kecil justru bukan karena pertanyaan itu tidak penting, tapi karena mereka tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.</p>
<p>Padahal itu pertanyaan sederhana, yang cuma butuh jawaban sederhana. Kalau saya jadi Habibie, saya akan ambil layang-layang dan minta si cucu membawanya lari sampai bisa melayang. Dengan begitu, saya harap si cucu mengerti kalau dengan kecepatan dan sudut tertentu, udara bisa memberi daya dorong ke atas untuk benda apapun. Untuk pesawat, kecepatan itu diperbesar banyak kali dan sudutnya diperhitungkan secara rinci, sehingga daya dorong ke atas bisa cukup besar untuk mengangkat pesawat yang beratnya ton-tonan.</p>
<p>Anak kecil tidak butuh banyak teori. Orang dewasalah yang merasa butuh. Mereka paling jago kalau disuruh ngomong kapitalisme, sosialisme, feminisme, feodalisme, posmodernisme, poskolonialisme, dan semua orang kosong yang mbulet dan njelimet. Baik ilmuwan maupun orang-orang agama sukanya begitu. Mereka suka berpikir rumit, maka kehidupan hari ini jadi tambah rumit. Tambah semrawut dan tidak enak. Dan adakah yang mempertanyakan hal itu?</p>
<p>Anak kecil tidak malu bertanya, tapi orang dewasa suka malu bertanya karena kuatir dianggap tidak tahu apa-apa. Kuatir dianggap bodoh. Kuatir dianggap seperti anak kecil. Padahal Yesus justru bilang, belajarlah dari anak kecil. Kenapa? Karena anak kecil yang polos itu justru lebih kritis dari kita yang sudah merasa diri dewasa. Dan kalau kita bisa kritis seperti itu, kita tidak akan mengulang tragedi Adam dan Hawa!</p>
<p>Adam dan Hawa tidak kritis karena mereka diciptakan langsung dewasa. Orang dewasa biasanya suka merasa tahu dan karena itu jadi sok tahu. Kalau sudah sok tahu, jadi malas belajar. Kalau sudah malas belajar, jadi malas bertanya. Malas bersikap kritis. Pada saat itulah terbuka celah buat si ular.</p>
<p>Hari ini kita tidak boleh banyak bertanya. Kita tidak boleh mengkritik Alkitab dan tidak boleh mempertanyakan Tuhan. Agama tidak suka kita begitu, karena agama ingin agar kita meneruskan tragedi Adam dan Hawa untuk jatuh ke dalam dosa.</p>
<p>SATRIA ANANDITA<br />
<em>Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/07/30/penangkal-dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mazhab Pendidikan Kritis</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/07/25/mazhab-pendidikan-kritis/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/07/25/mazhab-pendidikan-kritis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 12:30:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2866</guid>
		<description><![CDATA[Dari halaman mukanya, kita bisa langsung tahu apa tujuan buku ini: menyingkap relasi pengetahuan, politik, dan kekuasaan. Di dalamnya akan ditunjukkan bahwa tidak ada pengetahuan yang netral dan bebas nilai. Semua berpihak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Judul: Mazhab Pendidikan Kritis<br />
Penulis: M. Agus Nuryatno<br />
Penerbit: Resist Book</p></blockquote>
<p>Yang pertama, judul buku ini sudah cukup kritis: <em>Mazhab Pendidikan Kritis</em>. Jadi, saya yakin bahwa penulisnya, Dr. M. Agus Nuryatno, pasti orang kritis. Dia dosen kependidikan Islam di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dan doktor pendidikan lulusan McGill University, Kanada.</p>
<p>Dari halaman mukanya, kita bisa langsung tahu apa tujuan buku ini: menyingkap relasi pengetahuan, politik, dan kekuasaan. Di dalamnya akan ditunjukkan bahwa tidak ada pengetahuan yang netral dan bebas nilai. Semua berpihak, dan dalam masyarakat yang struktur sosialnya terdiri atas kelas-kelas, bentuk pengetahuan tertentu pasti akan memihak kelas tertentu. Masih ingat bagaimana sejarah PKI dan 30 September dipakai untuk melegitimasi heroisme Soeharto?</p>
<p>Pendidikan adalah barang politis. Kita tahu bahwa ini sama sekali bukan ide baru. Berabad-abad yang lalu, Francis Bacon sudah ngomong bahwa pengetahuan adalah kekuasaan. Tapi betapapun besar pengaruh Bacon terhadap dunia ilmu pengetahuan, hari ini kita masih bisa temukan orang-orang kampus yang ngeyel bahwa pendidikan itu netral adanya. Ia bukan barang politis dan tidak sepatutnya dilibatkan dalam politik. “Gerakan mahasiswa itu gerakan moral, bukan gerakan politik!” kata seseorang yang pernah saya temui dalam salah satu forum diskusi di kampus. Menurut orang itu, gerakan moral adalah gerakan yang memihak kepentingan rakyat, bukan kepentingan partai manapun. Padahal, dimanapun, kita tahu partai politik selalu mengklaim dirinya memihak kepentingan rakyat. Dan karena itu, gerakan moral yang disebut-sebut “memihak kepentingan rakyat” itu mestinya adalah gerakan politik juga.</p>
<p>Kalau gerakan moral mahasiswa itu bukan gerakan politik, lantas kenapa dulu rejim Orde Baru sampai merasa perlu bikin aturan untuk “menormalisasi” kehidupan kampus? Yang dimaksud dengan “normalisasi” adalah mahasiswa harus diam di kelas, tidak boleh lagi keluar untuk menyatakan kritiknya atas pembangunan yang sedang berlangsung. Kalau mahasiswa sampai keluar dan menyatakan kritik, itu dianggap tidak normal dan mengganggu stabilitas pembangunan nasional. Padahal, kritik mahasiswa bisa lahir justru karena mereka belajar, tidak hanya di kelas, tapi juga di luar, dengan mengamati realitas-realitas sosial.</p>
<p>Itu juga yang terjadi pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia dulu. Satu-satunya alasan kenapa para pemimpin politik Indonesia adalah orang-orang terpelajar adalah karena mereka terpelajar. Karena mereka terpelajar, mereka jadi sadar dan tahu tentang penjajahan, hingga mereka sanggup mengusahakan kekuatan untuk bangkit dan melawan. Karena pengetahuan adalah kuasa, seperti kata Bacon.</p>
<p>Jadi, betul bahwa pendidikan dekat dengan politik dan kekuasaan. Pendidikan tidak netral. Selalu berisi kepentingan. Dan itulah yang ingin ditunjukkan oleh buku ini. Jika tadi saya mengutip Francis Bacon dan beberapa remah sejarah Indonesia, maka bab satu dan dua buku ini mengutip tiga pendapat utama wacana pendidikan kritis sebagai landasan pikirnya. Yang pertama adalah teori kritis dari Mazhab Frankfurt, kedua adalah konsep hegemoni milik Antonio Gramsci, dan ketiga adalah pedagogi kritis Paulo Freire.</p>
<p>Usai bermain dengan teori dan konsep abstrak, maka di bab tiga Agus Nuryatno akan mulai mendaratkan kita pada isu-isu pendidikan kontemporer. Total ada enam isu yang didiskusikan Agus dalam bukunya.</p>
<p>Yang pertama adalah hubungan antara sekolah, kapitalisme, dan budaya positivisme. Agus mengungkapkan bahwa dominasi kapitalisme tidak hanya lagi berkutat di wilayah ekonomi, namun juga telah merambah wilayah lain seperti pendidikan. Hal ini, menurut Agus, terlihat dari orientasi pendidikan kita yang melulu melayani kepentingan dunia industri. Sekolah ibarat pabrik pekerja industri. Karena itu, apa yang diajarkan sekolah harus sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Jika tidak, maka sekolah itu salah.</p>
<p>Jika menyesuaikan diri terus menerus dengan kebutuhan dunia industri, maka menurut Agus akan muncul <em>mode of thought</em> yang namanya rasionalitas teknokratik. Rasionalitas teknokratik ini punya dua karakter utama: konformitas dan uniformitas. Konformitas maksudnya adalah sikap pasif dan adaptif terhadap teks (buku pelajaran) dan konteks (realitas kehidupan), sedangkan uniformitas artinya kira-kira sama dengan penyeragaman. Murid yang dibesarkan dalam <em>mode of thought</em> rasionalitas teknokratik, menurut Agus, kekritisannya sudah merosot.</p>
<p>Pendidikan adalah media mobilitas sosial. Pertanyaan utamanya: apakah pendidikan dapat menciptakan kelas sosial baru atau sekadar mereproduksi kelas sosial lama? Jika hanya mereproduksi kelas sosial yang sudah ada, maka pendidikan dianggap tidak berhasil mengangkat derajat kehidupan peserta didiknya. Yang kaya tetap (atau tambah) kaya, yang melarat tetap (atau tambah) melarat. Yang kaya, menurut Agus, bisa menggunakan sumberdaya keuangannya untuk membeli pendidikan yang bagus, sementara yang melarat hanya mendapat pendidikan pas-pasan—sehingga sampai kapanpun, yang miskin akan selalu kalah dari yang kaya.</p>
<p>Isu lainnya adalah kaitan antara globalisasi, neoliberalisme, dan politik pendidikan. Kalau dulu penjajahan dilakukan secara fisik, maka sekarang penjajahan banyak dipraktikkan lewat dunia pendidikan—melalui penjajahan teori dan metodologi. Orientasi kita soal mutu akademik selalu mengacu ke mereka yang disebut “negara-negara maju”, seolah-olah mereka punya otoritas lebih untuk menentukan salah dan benar dalam khazanah pengetahuan sejagat. Soal psikologi, kita selalu lari ke Barat. Padahal kita punya yang namanya Kawruh Jiwa. Soal filsafat, kita juga selalu menoleh ke Barat. Lupa bahwa nenek moyang kita punya filsafatnya sendiri yang lebih relevan dan kontekstual dengan kehidupan kita di sini. Dua puluh abad lampau Aristoteles bilang kebenaran adalah hasil penalaran deduktif. Kemudian muncul Francis Bacon yang bilang bahwa kebenaran harus bisa dibuktikan di laboratorium. Dan di awal abad lalu, filsuf Rusia bernama Ouspensky menyatakan bahwa kebenaran tidak mesti ditentukan dengan nalar dan kegiatan eksperimental, tapi bisa juga dengan intuisi. Rasa. Dan filsafat rasa semacam ini sudah ada puluhan abad yang lalu di Jawa, sehingga orang Jawa mestinya tahu ada perbedaan antara <em>krasa</em> (merasakan yang ada) dan <em>rumangsa</em> (merasakan yang mengada-ada).</p>
<p>Di bab empat, Agus Nuryatno mencoba “mencangkokkan” ide-ide mazhab pendidikan kritis ke dalam wacana pendidikan Islam. Pencangkokan itu dilakukan secara konseptual, tematik, dan pedagogis. Pada umumnya, Agus merasa bahwa wacana pendidikan Islam selama ini terlalu didominasi oleh hal-hal yang sifatnya teologis dan normatif, dengan mengabaikan aspek-aspek sosial, politis, dan historis. Jika tren ini dibiarkan, maka pendidikan Islam tidak akan mampu membawa transformasi positif dalam kehidupan publik.</p>
<p>Jadi, inilah yang coba dilakukan Agus: mengimbangi wacana-wacana normatif pendidikan Islam dengan ide-ide pendidikan kritis. Misalnya, pendidikan Islam bukan hanya bertugas melahirkan insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah, tapi juga harus berfungsi sebagai media kritik terhadap realitas sosial. Dari segi konsep, manusia tidak lagi hanya dipandang sebagai insan kamil, insan kaffah, dan khalifah Allah, tapi juga insan yang punya—dalam istilah Freire—“panggilan ontologis” untuk menjadi lebih sempurna dari waktu ke waktu. Agus mengatakan, titik temu pendidikan Islam dan pendidikan kritis ada pada kepercayaan keduanya bahwa manusia tidak sempurna, dan harus menyempurnakan diri terus menerus seumur hidupnya.</p>
<p>Saya menilai buku Agus Nuryatno sudah cukup baik sebagai pengantar orang berkenalan dengan pendidikan kritis. Usahanya menyelipkan semangat pendidikan kritis ke dalam wacana pendidikan Islam mungkin bisa jadi contoh bagaimana menyelipkan mazhab pendidikan kritis ke dalam model pendidikan-pendidikan lain. Selamat membaca!</p>
<p>SATRIA ANANDITA<br />
<em>Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/07/25/mazhab-pendidikan-kritis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendidik Manusia</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/07/19/mendidik-manusia/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/07/19/mendidik-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 19:59:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2825</guid>
		<description><![CDATA[Tentu berbeda dari mendidik kambing. Kambing bukan manusia dan manusia bukan kambing, dan sebangsanya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tentu berbeda dari mendidik kambing. Kambing bukan manusia dan manusia bukan kambing, dan sebangsanya. Meskipun di kitab-kitab yang dianggap suci ada tertulis bahwa manusia itu seperti babi, keledai, serigala, domba, serigala berbulu domba, dan sebagainya, manusia tetaplah manusia. Dan kalau mau dididik juga mestinya pakai cara-cara manusia, bukan kambing.</p>
<p>Bagaimana caranya?</p>
<p>Tentu perlu tahu dulu apa itu manusia. Dan untuk tahu apa itu manusia, kita tidak harus baca buku-buku antropologi, biologi, antropobiologi, psikologi, dan logi-logi. Kalau kita yakin bahwa diri kita masih manusia—bukan jelmaan hewan, robot, atau jin—maka yang perlu kita lakukan adalah melihat ke dalam diri kita dan memahaminya. Di sanalah akan kita temukan kemanusiaan kita (kalau masih manusia).</p>
<p>Di sana pula kita akan lihat bahwa ternyata manusia itu bisa ngantuk, bisa lapar, bisa bosan, bisa semangat, bisa sedih, dan macam-macam. Kalau sudah ngantuk, tidurlah—bukan belajarlah. Kalau lagi lapar, makanlah—bukan belajarlah. Kalau bosan, bercintalah—bukan belajarlah. Kalau sudah semangat, baru belajarlah. Soalnya ada tertulis bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya, untuk setiap hal di bawah langit ada saatnya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal. Ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk. Ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit. Ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. Dan segala sesuatu indah pada waktunya.</p>
<p>Begitu pula kita dan pendidikan. Ada waktu untuk bermain, ada waktu untuk belajar. Ada juga waktu untuk malas, dan setiap kali waktu itu tiba, kita berhak untuk ngomong terus terang bahwa kita sedang malas, tidak ingin ini-itu, tidak ingin begini-begitu. Kita selalu berhak malas dan akan terus berhak sampai malas itu pergi dengan sendirinya. Tidak usah pura-pura baik dengan mengusir kemalasan. Malas itu bagian dari hidup, dan kalau kita usir, kehidupan juga lambat laun akan mengusir kita. Kita bisa mati selagi masih hidup.</p>
<p>Apakah sesederhana itu?</p>
<p>Tentu saja sesederhana itu. Apakah Anda mau yang rumit?</p>
<p>Kalau Anda mau yang rumit, maka jalani saja pendidikan formal yang membosankan itu. Patuhi sistem beserta perangkat aturannya. Kuliah 144 SKS selama empat tahun (atau lebih). Senin masuk kelas filsafat dan kewarganegaraan, Selasa kelas makroekonomi dan ekonomi internasional, Rabu kelas bahasa Mandarin, Kamis kelas manajemen keuangan dan penganggaran, Jumat kelas perekonomian Indonesia, dan sederet aktivitas rutin lain.</p>
<p>Anda harus masuk kelas filsafat, meski Anda sedang tidak ingin berfilsafat. Anda harus masuk karena Anda harus. Harus saja, tanpa perlu dipertanyakan. Dan kalau Anda tidak mengikuti keharusan itu, Anda berdosa. Bukankah pendidikan kita hari ini tidak beda jauh dari agama? Ada terlalu banyak syariat dan dogma. Kalau tidak ini-itu, tidak bisa masuk surga. Kalau tidak begini-begitu, tidak bisa jadi sarjana. Sistem pendidikan kita sudah setali tiga uang dengan sistem kepercayaan.</p>
<p>Anda tidak perlu bermimpi bahwa roda pendidikan kita sedang berputar mendukung jalannya demokratisasi. Justru dunia pendidikan adalah dunia yang tidak ada demokratisnya sama sekali. Dunia Facebook malah jauh lebih demokratis. Kalau Anda mau belajar berdemokrasi, lebih baik Anda main Facebook daripada masuk kelas kewarganegaraan. Di kelas, Anda cuma akan dijejali dengan teori dan konsep demokrasi, tapi di Facebook Anda akan dapat kesempatan untuk langsung berdemokrasi.</p>
<p>Tanpa teori.</p>
<p>Dan kenyataannya memang kita tidak butuh banyak teori dan dalil untuk menjalani hidup sehari-hari. Bukankah dalil yang terutama itu cuma kasih? Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.</p>
<p>Mengasihi manusia kira-kira sama artinya dengan memperlakukan manusia selayaknya manusia. Jadi kalau si manusia sudah capek dan butuh istirahat, maka berilah waktu untuk istirahat. Bahkan mesin pun butuh istirahat. Kalau tidak, bisa rusak. Dan manusia bisa sakit plus stres. Sakit dan stres itu tidak enak. Kalau demi mematuhi sistem saja kita belajar sampai sakit dan stres, itu artinya kita belum mengasihi diri kita sendiri. Dan kalau kita belum mengasihi diri sendiri, bagaimana bisa mengasihi orang lain?</p>
<p>Kita sama-sama tahu bahwa sistem pendidikan kita tidak manusiawi. Kita berusaha menyangkalnya setiap hari, tapi setiap hari pula kita merasakan ketidakmanusiawiannya. Para guru dan orangtua memaksa anaknya belajar—dengan cara halus dan kasar. Si anak terpaksa belajar meski sudah capek dan bosan. Dan masyarakat tetap saja melihat bahwa kian hari anak sekolahan makin kurang ajar. Tidak bisa dinasihati pakai bahasa manusia. Bisanya dengan kekerasan. Padahal, murid-murid tidak bisa lagi dinasihati pakai bahasa manusia justru karena mereka sudah terbiasa dididik dengan cara-cara bukan manusia—apakah pemaksaan itu manusiawi?</p>
<p>Tapi kita juga sama-sama tahu bahwa sistem itu sudah tak terhindari. Jika kita keluar dari sistem, maka yang kita dapat adalah pengasingan. Cuma orang yang betul-betul radikal yang berhasil dapat pengakuan, dan tidak semua orang bisa radikal—entah karena bawaan lahir atau pengaruh lingkungan.</p>
<p>Akhirnya, kebanyakan orang memilih untuk tetap tinggal di dalam. Di antara mereka masih ada yang sok aktivis dan berseru, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan!” Tapi seruan itu tinggal jadi lirik klasik yang hanya asyik dilagukan tanpa dilakukan.</p>
<p>Mereka yang tinggal sebisa mungkin menyesuaikan diri dengan sistem yang tak manusiawi agar secepat mungkin meraih kebebasan. Namun saat mereka lulus beberapa tahun kemudian, mereka mendapati bahwa diri mereka telah “terinstitusionalisasi” sedemikian rupa. Perlu waktu dan usaha besar untuk mengembalikan kemanusiaan mereka, sementara perusahaan-perusahaan hanya mau mempekerjakan manusia—bukan robot atau lainnya. Itulah kenapa angka “pengangguran terdidik” kita sebegitu tingginya.</p>
<p>Ada yang keliru dalam sistem pendidikan kita, dan itu perlu diubah, meski tak seringan membalik telapak tangan. Bila berat, pelan-pelan saja.</p>
<p>SATRIA ANANDITA<br />
<em>Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/07/19/mendidik-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kreativitas Bertanggungjawab</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/06/14/kreativitas-bertanggungjawab/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/06/14/kreativitas-bertanggungjawab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jun 2010 19:57:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2823</guid>
		<description><![CDATA[Sebetulnya kalau dipikir-pikir, tanggungjawab manusia kreatif itu tidak ke mana-mana, kok. Tidak kepada Tuhan, dan tidak kepada orang lain. Tanggungjawab paling besar adalah kepada dirinya sendiri.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi ingat kemarin lusa nonton Metro TV. Ada tayangan dokumenter soal satwa liar di Alpen. Di akhir dokumenter itu ada pemandangan dari atas pegunungan sebagai <em>ending</em>. Bagus sekali. Tahu sendirilah Alpen. Langitnya cerah. Pegunungannya megah. Saljunya sejuk dipandang. Cuma rasanya, ada yang hilang dari pemandangan itu.</p>
<p>Manusia dan peradabannya.</p>
<p>Tidak ada manusia hidup dan tinggal di puncak-puncak pegunungan Alpen. Mungkin itu sebabnya pegunungan itu masih indah sampai sekarang. Saya tidak bisa bayangkan kalau sampai ada kota di atas sana. Saya yakin polusi bakal menciderai keindahan alamnya.</p>
<p>Manusia dan peradabannya. Adakah yang salah dengan mereka?</p>
<p>Tiga tahun yang lalu, saya dan James datang ke satu pantai di Jogja. Pantai itu sepi dan bersih. Tiga tahun berselang, pantai itu makin ramai dan kotor. Sempat muncul guyonan serius di kalangan kami. Makin banyak yang tahu lokasi pantai itu, makin terancam pula kecantikannya.</p>
<p>Jangan tinggalkan apapun selain jejak. Itu peringatan yang saya baca setiap kali naik gunung. Di salah satu sudut kota Denpasar, ada tulisan besar-besar di tembok: “Dilarang buang sampah di sini, kecuali anjing!”</p>
<p>Peringatan-peringatan itu dibikin khusus buat manusia. Tapi entah kenapa, justru binatang macam anjing malah lebih mudeng ketimbang orangnya. Orang-orang masih buang sampah di tempat tembok itu, sedangkan anjing-anjing tidak. Di gunung juga begitu. Yang tidak meninggalkan apapun selain jejak, ya, cuma binatang. Sedangkan manusianya, tetap saja buang sampah di mana-mana.</p>
<p>Kenapa begitu? Jawabnya, ya, karena manusia itu beradab. Karena manusia beradab, makanya ada peradaban. Dan peradaban modern kita hari ini isinya macam-macam. Salah satunya industri. Industri adalah tempat dimana limbah dan sampah berasal. Coba lihat pabrik mi instan. Selain menghasilkan limbah cairan kimia, pabrik ini juga menghasilkan sampah plastik dalam jumlah besar. Enggak ada orang makan mi sekalian sama bungkusnya, kan? Kalau peradaban modern tidak ada, tidak akan ada juga yang namanya bungkus plastik berserakan di gunung, atau pantai.</p>
<p>Terus kenapa peradaban modern bisa sampai ada? Jawabnya jelas, karena ada manusia yang mengadakan. Manusia mengadakan peradaban modern karena sudah tidak puas sama yang pramodern. Kalau dulu orang sudah cukup makan babi guling saja, sekarang orang pinginnya makan babi guling sama mi instan. Dari segi citarasa, mi instan memang kalah telak dari babi guling. Tapi dari segi yang lain, kepraktisan sama keawetan misalnya, tentu mi instan jauh mengungguli babi guling kita. Itu sebabnya pendaki gunung lebih pilih bekal mi instan ketimbang babi guling, kan?</p>
<p>Jadi, semuanya bermula dari keinginan manusia. Ketidakpuasan manusia. Dan manusia memang tidak pernah puas. Selalu ingin lebih. Kalau kebablasan, bisa jadi tamak alias serakah. Nanti kalau mi instan saja sudah tidak cukup buat bekal naik gunung, orang akan mulai cari barang pelengkap atau pengganti yang kira-kira lebih atau sama enaknya. Seperti bubur. Sekarang ada banyak pendaki gunung bawa mi instan sama bubur instan sekaligus. Jadi, di atas gunung sana, ada banyak bungkus plastik bekas mi sama bubur instan berserakan. Dan tidak menutup kemungkinan, setelah baca tulisan ini, orang akan mulai berpikir gimana caranya bikin babi guling instan yang bisa disantap di puncak gunung. Siapa tahu?</p>
<p>Manusia, kan, bisa (nyaris) segalanya. Hal-hal yang dulunya dibilang tidak mungkin sekarang bisa jadi mungkin. Jaman dulu orang pengen bisa terbang. Setelah berpikir dan kerja keras, akhirnya jadilah pesawat terbang. Sekarang ada ungkapan bahwa kalau kita bisa memikirkan sesuatu, suatu saat kita juga pasti bisa mewujudkannya. Einstein bilang, imajinasi kita adalah satu-satunya yang membatasi kemampuan kita, sementara imajinasi itu sendiri belum ditemukan batasnya. <em>Nothing is impossible.</em></p>
<p>Itu semua bisa terjadi karena manusia punya kreativitas. Tidak akan ada peradaban kalau tidak ada kreativitas. Manusia mencipta pesawat terbang dan babi guling dengan kreativitas. Mi sama bubur instan juga. Sampah-sampah di gunung dan pantai itu semuanya adalah hasil kreativitas manusia.</p>
<p>Nah, saya jadi ingat matakuliah Ilmu Kealaman Dasar semester lalu. Dosen pengampunya seorang doktor kimia lulusan Austria. Dia mendikte saya untuk berpikir bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan paling mulia karena diberi akal budi. Kreativitas. Itulah yang membedakan manusia dari hewan, meski secara taksonomis sama-sama digolongkan ke dalam <em>Animalia</em>.</p>
<p>Supaya tidak berdebat, saya diam saja. Tapi saya pikir enggak juga. Apanya yang mulia, kalau kreativitas manusia saja bikin kerusakan alam di mana-mana? Peradabannya yang bagus dan modern menghasilkan limbah dan sampah. Itu sebabnya McCandless menyebut peradaban itu beracun, sementara para ahli bilang racun itu cuma ekses pembangunan peradaban. Terus kenapa kalau ekses? Dibiarkan saja? Diterima sebagai harga yang harus dibayar untuk sebuah kemajuan? Dan kita tetap meneruskan pembangunan peradaban beracun ini?</p>
<p>Coba baca Kompas edisi Minggu kemarin. Halaman 14. Ada artikel judulnya “Kebohongan Itu Amat Nyata”. Di saat dunia sedang berhadapan dengan bahaya pemanasan global, beberapa negara maju malah kepingin main curang dalam upaya mengatasinya. Mereka mau bayar sejumlah uang untuk pelestarian hutan di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia), agar mereka boleh terus melepas emisi industrinya ke udara. Padahal setelah dihitung-hitung, pengaruh emisi terhadap pemanasan global itu justru lima kali lebih besar ketimbang efek kerusakan hutan.</p>
<p>“Ketimbang mengurangi emisi minimal 30-40 persen pada 2020, negara maju malah menaikkan emisi 8 persen. Hal ini dilakukan dengan melakukan trik kalkulasi pengurangan emisi,” tulis Kompas.</p>
<p>Emisi naik artinya kinerja industri meningkat. Roda perekonomian berputar makin cepat, dan uang mengalir lebih deras. Itulah yang diinginkan negara-negara maju. Tapi siapa tahu waktu keinginan itu tercapai ternyata dunia sudah hancur, karena pemanasan global sudah sedemikian hebat? Kalau dunia sudah hancur, apa artinya uang sedunia?</p>
<p>Inikah kreativitas manusia yang (katanya) ciptaan Tuhan paling mulia? Sangat tidak bertanggungjawab. Apa pentingnya dunia pendidikan jika dikaitkan dengan ini semua? Cukup penting sebenarnya. Itulah kenapa sudah sejak lama tokoh pendidikan macam Notohamidjojo banyak ngomong soal kreativitas yang bertanggungjawab. Pendidikan yang baik harus menghasilkan insan kreatif yang bertanggungjawab. Soalnya kalau tidak bertanggungjawab, itu bukan kreatif lagi namanya, tapi destruktif.</p>
<p>Kalau manusia destruktif terhadap alam, itu artinya manusia sudah destruktif terhadap dirinya sendiri. Soalnya si manusia jadi kehilangan tempat tinggal, kan? Terus mau hidup dimana?</p>
<p>Sebetulnya kalau dipikir-pikir, tanggungjawab manusia kreatif itu tidak ke mana-mana, kok. Tidak kepada Tuhan, dan tidak kepada orang lain. Tanggungjawab paling besar adalah kepada dirinya sendiri. Dan pendidikan kita, di negara-negara maju sekalipun, tidak pernah mengajarkan hal ini.</p>
<p>SATRIA ANANDITA<br />
<em>Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/06/14/kreativitas-bertanggungjawab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kurikulum Berbasis Ketakutan</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/06/12/kurikulum-berbasis-ketakutan/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/06/12/kurikulum-berbasis-ketakutan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 19:53:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2821</guid>
		<description><![CDATA[Hidup dalam ketakutan sama saja dengan tidak hidup. Apa gunanya punya gelar sarjana kalau dapatnya cuma gara-gara takut nggak bisa kerja?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah sumpeknya gerbong kereta api ekonomi, saya menguping sebuah pembicaraan. Ada dua perempuan paruh baya sedang ngobrol soal rute perjalanan. Salah satu dari mereka menyebut urutan stasiun dari Bangil hingga Jember dengan saksama. Yang satunya lagi takjub alias terheran-heran.</p>
<p>“Kok masih hapal gitu to, mbakyu?” tanya si takjub.</p>
<p>“Dulu guru saya galak banget. Kalo murid nggak hapal, bisa kena pukul. Guru saya keras kalo ngajar,” jawab si hapal.</p>
<p>“Pantes. Makanya masih hapal. Saya dulu juga gitu. Kalo ada murid nakal dan malas belajar, dipukul pakai penggaris sampai kapok. Berarti pendidikan jaman dulu itu malah lebih bagus, ya, ketimbang sekarang? Sekarang anak-anak sekolahan sudah pada kurang ajar!”</p>
<p>“Lho, iya! Jaman dulu gurunya keras-keras. Muridnya pada takut semua. Nggak ada yang berani ngelawan. Tapi justru gara-gara takut itu malah jadi rajin belajar. Makanya saya masih hapal sampai sekarang.” Sedetik kemudian mukanya si hapal agak kelihatan bangga.</p>
<p>Saya kepingin ngakak dengar obrolan itu. Tapi berhubung saya bukan anak sekolahan lagi, saya pantang berbuat kurang ajar. Saya diam saja. Diam seribu bahasa. Saya ambil botol air dan minum seteguk, lantas mengalihkan pandangan ke luar jendela.</p>
<p>Di sana saya mencoba berhitung. Kira-kira ada berapa banyak orang yang bernasib sama kayak kedua orang ini, belajar karena ketakutan?</p>
<p>Semilyar?</p>
<p>Dua milyar?</p>
<p>Mungkin milyaran?</p>
<p>Saya sendiri pernah mengalami rasanya belajar karena ketakutan. Takut dimarahi guru. Takut dimarahi orangtua. Takut tidak dibelikan mainan. Takut tidak boleh keluar rumah. Takut diejek teman. Dan saat beranjak kuliah ketakutan saya bertambah. Takut tidak lulus kuliah. Takut tidak dapat gelar sarjana. Takut tidak dapat pekerjaan. Takut bermasa depan suram. Takut tidak dapat ijab sah. Takut mati sendirian. Macam-macam. Rasanya nggak enak pokoknya.</p>
<p>Mungkin saya tidak sendirian. Mungkin Anda juga mengalami apa yang dulu saya rasakan. Mungkin seharian pun tidak akan cukup untuk selesaikan daftar panjang ketakutan-ketakutan dalam belajar. Hampir sepanjang masa belajar di sekolah, saya dikontrol oleh ketakutan.</p>
<p>Saya katakan hampir karena memang tidak selamanya saya belajar karena ketakutan. Saya masih bisa ingat saat kelas 4 SD saya dan beberapa teman janjian untuk bawa buku atlas setiap hari. Pas jam istirahat datang, kami main tebak-tebakan. Kalau saya menyebut nama satu tempat di kawasan tertentu, maka tugas teman saya adalah menemukan tempat itu. Kadang pencarian sebuah tempat begitu sulit, karena butuh ketelitian dan memakan habis waktu istirahat, namun kami semua selalu merasa tertantang. Tidak ada menang dan kalah dalam permainan itu. Pernah beberapa kali kami coba mencatat siapa yang paling sering menyebut tempat yang tak bisa ditemukan. Namun akhirnya kami lupa mencatat karena keasikan memindai peta.</p>
<p>Tidak terasa, pengetahuan kami soal peta meningkat. Memang tidak berdampak apa-apa pada nilai kami, karena pelajaran peta buta sudah lewat. Tapi siapa peduli? Yang penting kami merasa senang. Dalam pikiran kecil saya sebagai anak SD, jauh lebih penting merasa senang daripada mendapat nilai bagus. Nilai bagus tidak selalu membuat saya senang. Kadang malah membosankan.</p>
<p>Saya tidak tahu pasti kenapa dulu kami senang main tebak-tebakan peta. Kalau buat saya sendiri, itu seperti jalan-jalan. Dari perbedaan warna, saya membayangkan kontur suatu daratan. Dengan bantuan legenda, saya membayangkan berbagai infrastruktur. Sisanya, ya, saya karang-karang sendiri. Orang-orangnya, pohon-pohonnya, binatangnya. Karena ada banyak peta dalam atlas, saya bisa pindah-pindah negara semudah membalik telapak tangan. Saya memulai perjalanan keliling dunia cuma sama bayangan. Imajinasi. Kebebasan.</p>
<p>Dan tidak ada ketakutan di situ. Mungkin itu sebabnya lambat laun, setelah saya kuliah, saya kembali berpikir seperti anak SD. Saya belajar apa yang memang saya senang. Yang tidak senang, ya, saya buang. Persetan amat sama kurikulum. Apa gunanya kurikulum kalau ternyata cuma mengerangkeng orang dalam ketakutan? Takut tidak lulus. Takut tidak dapat nilai bagus. Takut tidak sesuai standar (inter)nasional.</p>
<p>Hidup dalam ketakutan sama saja dengan tidak hidup. Apa gunanya punya gelar sarjana kalau dapatnya cuma gara-gara takut nggak bisa kerja? Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tapi kehilangan nyawanya?</p>
<p>SATRIA ANANDITA<br />
<em>Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/06/12/kurikulum-berbasis-ketakutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbagi Tempat</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/06/12/berbagi-tempat/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/06/12/berbagi-tempat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 19:49:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2819</guid>
		<description><![CDATA[Si bapak bukannya turun kaki, malah bilang sama mereka, “Gerbong belakang masih banyak tempat kosong, mbak.”]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam perjalanan kereta api Solo-Banyuwangi beberapa hari yang lalu, saya duduk satu kabin dengan seorang bapak dan seorang ibu. Si bapak naik dari Klaten dan hendak menuju Jombang, sedang si ibu sudah naik dari Jogja dan bakal turun di Ngawi. Kereta api ekonomi ini sendiri berangkat dari stasiun Solojebres sekitar jam sembilan pagi. Saya pilih kereta ini soalnya murah meriah. Cuma Rp 35 ribu sudah bisa sampai Banyuwangi.</p>
<p>Di Ngawi, si ibu tadi turun. Tinggallah saya berdua sama si bapak di kabin itu. Si bapak langsung angkat kaki ke kursi untuk selonjoran. Tak berapa lama kemudian, datang dua cewek manis hendak duduk bareng kami. Si bapak bukannya turun kaki, malah bilang sama mereka, “Gerbong belakang masih banyak tempat kosong, mbak.”</p>
<p>Dua cewek itu percaya saja. Mereka tidak jadi duduk lalu pindah gerbong. Saat kereta akan berangkat dan gerbong kami sudah agak penuh, ada dua ibu-ibu berjilbab mendatangi kabin kami. Kali ini si bapak tidak bisa mengilah. Dia langsung turun kaki, memberi tempat buat mereka.</p>
<p>Dalam hati saya bilang goblok banget si bapak. Kalau tahu begini, kan, mestinya si bapak kasih aja tempat buat dua cewek tadi. Pakai acara selonjoran lagi. Sudah tahu naiknya kelas ekonomi. Bayar murah kok pengennya enak. Ujung-ujungnya malah dapet pemandangan nggak enak. Tapi, ya, gimana lagi? Saya juga bayarnya murah. Kok pengennya dapet pemandangan enak? Entahlah.</p>
<p>Ketika saya bilang kereta ini “murah meriah”, itu memang betul-betul murah dan meriah dalam arti sebenarnya. Sudah tiketnya murah, isi gerbong juga meriah.</p>
<p>Pertama, jumlah penumpang lebih banyak dari kabin yang tersedia. Jadi, ada banyak yang nggak kebagian tempat dan terpaksa berdiri. Kedua, banyak pedagang asongan seliweran. Dagangannya macam-macam, mulai dari cemilan, mainan, sampai obeng. Kenapa nggak jual dongkrak sekalian?</p>
<p>Suasana gerbong ekonomi sudah biasa sumpek. Dalam suasana nggak enak seperti ini, biasanya orang akan cari yang enak-enak, sampai kadang jadi seenaknya sendiri.</p>
<p>Di Surabaya, kereta singgah agak lama untuk isi bahan bakar. Gerbong kami makin sesak orang. Belum lagi panasnya siang Surabaya. Saya merasa ingin turun dari kereta dan pulang ke rumah.</p>
<p>Dengan gaya cuek, seorang bapak yang baru duduk di kabin sebelah menyalakan rokok. Asapnya mengepul tebal di tengah kesumpekan. Dua ibu berjilbab yang satu kabin sama saya merasa terganggu. Mereka menyindir terang-terangan, sambil mengibas-ngibaskan koran. Seorang penumpang yang satu kabin dengan bapak perokok sampai merasa perlu berdiri dan agak menyingkir untuk menyatakan ketergangguan.</p>
<p>Suasana yang sudah sumpek jadi tambah tegang, dan bapak perokok kita memperbanyak kepulan. Dua ibu berjilbab makin terganggu dan nyinyir, suasana makin tegang. Kepulan rokok si bapak makin kencang. Begitu seterusnya.</p>
<p>Saya diam saja. Saya cuma berpikir, kelakuan orang-orang tua ini bisa jadi bahan tulisan.</p>
<p>SATRIA ANANDITA<br />
<em>Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/06/12/berbagi-tempat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Harga Mati</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/06/09/bukan-harga-mati/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/06/09/bukan-harga-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2010 19:46:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2817</guid>
		<description><![CDATA[Buat apa repot-repot ngurus NKRI sampai mati, kalau cuma bikin orang nggak enak hati?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru-baru ini saya mendapat kehormatan untuk mengedit beberapa makalah yang menang lomba karya tulis ilmiah di kampus, dan akan diterbitkan. Saya sebut kehormatan soalnya saya sendiri belum pernah bikin makalah ilmiah, apalagi ikut lomba, apalagi sampai menang. Dengar kata &#8220;ilmiah&#8221; saja sudah grogi.</p>
<p>Biasanya, orang kalau mau jadi editor (di organisasi berita), pasti disuruh bikin liputan dulu alias jadi reporter. Kalau sudah becus liputan, baru boleh edit hasil liputan. Kalau si editor belum punya pengalaman liputan, takutnya hasil editannya jadi ngawur.</p>
<p>Tapi ada juga yang bilang kalau nggak harus begitu. Meliput dan mengedit dianggap sebagai dua hal yang berbeda dan nggak ada kaitannya. Orang yang bisa meliput, belum tentu bisa mengedit. Yang ngeditnya bagus, belum tentu liputannya bagus.</p>
<p>Saya sendiri tidak tahu apa pertimbangan panitia lomba itu meminta saya jadi editor. Saya juga tidak tanya. Enggak penting soalnya. Yang penting saya bisa belajar banyak dari makalah-makalah yang saya edit.</p>
<p>Ada semangat &#8220;nasionalisme&#8221; yang kental dari beberapa makalah itu. Salah satu makalah soal pendidikan multikultural, misalnya. Di situ dibilang kalau multikulturalisme itu penting untuk menjaga keutuhan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terus ada juga makalah soal pendidikan bahasa, yang bilang kalau penggunaan bahasa Indonesia &#8220;yang baik dan benar&#8221; sangat penting untuk menjaga identitas bangsa, dan memperkuat kesatuan NKRI. Semua ujung-ujungnya mesti dibawa ke NKRI.</p>
<p>Saya tidak ingin pusing soal logika bagaimana pendidikan multikultural, atau pendidikan bahasa Indonesia yang baik dan benar, bisa bermanfaat buat keutuhan NKRI. Saya lebih tertarik untuk bertanya, &#8220;Kenapa keutuhan NKRI masih harus dijaga? Apa pentingnya?&#8221;</p>
<p>Di salah satu tembok pinggir jalan di Salatiga, ada mural yang gambarnya berisi seruan &#8220;NKRI Harga Mati&#8221;. Saya agak lupa dimana. Kalau nggak salah, letaknya di perempatan Sukowati yang tembus ke Pemotongan. Ada gambar mukanya Megawati sama sosoknya Soekarno juga.</p>
<p>Seruan &#8220;NKRI Harga Mati&#8221; memang populer banget. Dari jaman Soekarno sampai sekarang, seruan itu ada di mana-mana. Yang getol ngomong begitu, biasanya, kalau bukan tentara, ya, partai politik.</p>
<p>Saya tidak tahu persis kenapa NKRI sampai dibilang &#8220;harga mati&#8221;, yang nggak bisa ditawar-tawar lagi. Apa memang bentuk negara kesatuan itu yang paling baik buat Indonesia? Baik menurut siapa? Apa bentuk negara yang lain, federasi misalnya, pasti jelek buat Indonesia? Jelek menurut siapa?</p>
<p>Kalau di buku sejarah sekolahan dulu, pernah adanya yang namanya RIS alias Republik Indonesia Serikat. Perserikatan ini adalah hasil kesepakatan Indonesia dan Belanda di Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Dalam perserikatan itu, Indonesia dibagi-bagi jadi beberapa negara bagian. Ada Negara Pasundan, Negara Madura, Negara Indonesia Timur, Negara Sumatra Selatan, dan sebagainya. Tiap negara bagian punya derajat otonomi tinggi untuk memerintah wilayahnya masing-masing.</p>
<p>Tapi RIS tidak bertahan lama. Republik ini dianggap sebagai akal-akalan Belanda untuk memecah belah kekuatan Indonesia. Pada tahun 1950, RIS dibubarkan, diganti dengan NKRI yang berpusat di Jakarta. Negara-negara bagian tadi dipecah-pecah jadi provinsi, dan otonominya dilucuti.</p>
<p>Dalam perjalanan sesudahnya, Indonesia harus menghadapi gerakan-gerakan separatis di berbagai daerah. Mulai dari GAM di Aceh, RMS di Maluku, sampai OPM di Papua. Daerah-daerah ingin lepas dari Indonesia dan merdeka sendiri.</p>
<p>Biasanya, gerakan-gerakan separatis semacam itu dibasmi pakai kekuatan militer sama Indonesia. Aceh sudah lama sekali ditetapkan sebagai DOM alias daerah operasi militer. Gerakan Darul Islam-nya Kahar Muzakar dibabat habis sama ABRI. Perang gerilya di mana-mana.</p>
<p>Ada gerakan yang berhasil, ada yang gagal. Kahar Muzakar dengan DI-nya adalah contoh yang gagal. Sedangkan contoh yang berhasil adalah Timor Leste, yang sudah merdeka dari Indonesia sekitar sepuluh tahun yang lalu.</p>
<p>GAM itu, menurut saya, juga contoh yang berhasil. Setelah MOU Helsinki tahun 2005, mereka gencatan senjata sama Indonesia, tapi lantas nama Aceh berubah jadi Nanggroe Aceh Darussalam. Kata <em>nanggroe</em> dalam bahasa Melayu artinya kurang lebih sama dengan &#8220;negeri&#8221;. Di sana juga berlaku &#8220;sistem pemerintahan lokal Aceh&#8221; dengan <em>gampong</em>, <em>mukim</em>, dan lain-lainnya. Jadi, resminya, Aceh memang sebuah provinsi, tapi, esensinya, Aceh sudah negeri sendiri. Karena itu, tetap semangat buat teman-teman OPM. Semoga keberhasilan GAM dapat menjadi inspirasi di Papua.</p>
<p>Kembali ke soal otonomi dan harga mati. Apa hubungannya otonomi, RIS, NKRI, sama gerakan separatis?</p>
<p>Mungkin begini. Pembangunan daerah itu, kan, tujuannya untuk kesejahteraan masyarakat daerah. Waktu otonomi daerah derajatnya tinggi sekali, seperti masa RIS, setiap daerah punya kebebasan untuk mengatur wilayahnya sendiri, dan membangun kesejahteraan masyarakatnya masing-masing. Ketika akhirnya RIS bubar dan digantikan NKRI yang pusatnya di Jakarta, kebebasan itu tidak ada lagi. Yang ada cuma intervensi Jakarta terhadap pembangunan daerah. Di situ, seringkali sumberdaya daerah tidak dimanfaatkan untuk pembangunan daerah itu sendiri, tapi dipakai untuk membangun Jakarta dan sekitarnya (baca: Jawa). Gas alam Aceh sampai emasnya Papua, semua duitnya lari ke Jawa. Akibatnya, pembangunan tidak merata. Daerah-daerah jadi terbelakang sekali kalau dibandingkan sama Jawa. Timbullah gerakan-gerakan separatis. Daerah-daerah ingin memerdekakan diri dari &#8220;penjajahan&#8221; Indonesia.</p>
<p>Negara itu, kan, sebetulnya cuma alat, sarana, untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Coba lihat janji-janji kemerdekaan Indonesia. Mencerdaskan kehidupan bangsa, menciptakan masyarakat adil dan makmur, dan sebagainya. Artinya, ada yang lebih esensial dari sekedar eksistensi NKRI. Kalau dibilang NKRI adalah harga mati, saya cenderung bilang kalau kesejahteraan masyarakat itulah harga mati. Sama dengan iklan, apapun negaranya, minumnya teh botol Sosro. Enak, kan?</p>
<p>Buat apa repot-repot ngurus NKRI sampai mati, kalau cuma bikin orang nggak enak hati? NKRI itu cuma alat, yang katanya bisa bikin masyarakat adil dan makmur. Kalau nyatanya NKRI malah bikin ketidakadilan di mana-mana, termasuk di daerah, terus buat apa dipakai lagi? Buang saja, ganti yang lain.</p>
<p>SATRIA ANANDITA<br />
<em>Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/06/09/bukan-harga-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Bumi Seperti di Surga</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/06/04/di-bumi-seperti-di-surga/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/06/04/di-bumi-seperti-di-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 16:01:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2625</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang kita cuma bisa bilang Doa Bapa Kami, “Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga.” Padahal, kalau kita mau berusaha sedikit, mungkin kita bisa ciptakan peradaban di bumi seperti di surga.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konon, dulu sekali ada benua bernama Atlantis. Luasnya kira-kira lebih besar dari Asia Kecil dan Libia digabung jadi satu. Pada Zaman Es puluhan ribu tahun lalu, benua ini adalah surga tropis dengan banyak gunung berapi. Daratannya subur dan makmur.</p>
<p>Karena kondisi alamnya mendukung, Atlantis jadi pusat peradaban dunia waktu itu. Budaya bercocok tanam, metalurgi, dan kota-kota pertama di dunia, katanya, muncul pertama kali di Atlantis.</p>
<p>Tapi masa keemasan itu tidak berlangsung selamanya. Gara-gara kemerosotan moral penduduknya, para dewa menghukum Atlantis dengan letusan-letusan gunung berapi dan air bah mahadahsyat. Benua itu tenggelam, dan cuma sedikit penduduknya yang berhasil selamat.</p>
<p>Kira-kira begitu kisah Atlantis menurut Plato dalam <em>Timaeus</em> dan <em>Critias</em>. Selama berabad-abad, surga Atlantis tetap misterius dan mendorong orang-orang untuk pergi mencari. Ada yang mencarinya di samudra Atlantik, laut Mediterania, sampai tempat-tempat aneh seperti Antartika. Hasil pencarian-pencarian itu masih nihil sampai hari ini, sehingga banyak orang bilang kalau kisah Atlantis cuma dongeng moral karangan Plato.</p>
<p>Nah, Arysio Santos tidak termasuk yang “banyak orang” tadi. Dia termasuk yang percaya bahwa Atlantis memang pernah ada. “Tetapi, temuan-temuan semacam ini hanya akan diperoleh jika kita mulai mencari di titik yang benar, bukan mencari di titik yang salah,” kata Santos. Kata-kata itu dia tulis di bukunya yang berjudul <em>Atlantis: The Lost Continent Finally Found</em>.</p>
<p>Lalu dimana “titik yang benar” menurut Santos? Ternyata di Indonesia. Kesimpulan ini ditarik Santos setelah melakukan penelitian selama kurang lebih 30 tahun. Dangkalan Sunda yang sekarang terendam laut Jawa, selat Malaka, sama laut Cina Selatan itu dulunya membentuk daratan yang luasnya kira-kira sama dengan deskripsi Plato. Tempat itu juga satu-satunya tempat tropis ketika seluruh dunia mengalami Zaman Es. Barisan gunung berapi sepanjang Sumatra dan Jawa adalah penyebab kesuburan daratan Atlantis waktu itu. Saat Krakatau meletus hebat sekitar 11.600 tahun lalu, terjadilah bencana global. Zaman Es berakhir dan permukaan air laut naik sekitar 150 meter, menenggelamkan hampir seluruh wilayah Atlantis. Yang tersisa dari benua itu tinggal wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Asia Tenggara.</p>
<p>Warga Atlantis yang berhasil selamat kemudian menyebar ke belahan bumi lain dan membangun peradaban-peradaban baru. Kenangan tentang surga Atlantis mereka simpan dalam tradisi suci masing-masing berupa legenda kiasan tentang surga yang berubah jadi neraka, tentang penyucian diri menggunakan air dan api, dan sebagainya. Di bukunya, Santos membedah tradisi-tradisi itu, mulai dari tradisi Hindu, Yunani, Yahudi-Kristen, Celtic, sampai Aztec, dan menunjukkan kesamaan-kesamaan yang mengarah pada surga Atlantis di Timur Jauh.</p>
<p>Penjelasan lengkapnya tentu bisa Anda baca sendiri lewat buku <em>Atlantis</em>, yang sudah didedah forum DeBuk minggu lalu. Slamet Haryono dan Evan Adiananta mau berbaik hati mengantar kami menyelami buku Santos yang tebalnya ngalahin Alkitab itu. Slamet cenderung setuju sama Santos, sementara Evan masih skeptis. Siapapun boleh skeptis, kata Evan &#8212; termasuk skeptis terhadap skeptisisme itu sendiri.</p>
<p>Sekarang, terlepas dari tepat tidaknya kesimpulan Santos, <em>so what</em> kalau memang situs Atlantis terletak di Indonesia?</p>
<p>Kalau <a href="http://scientiarum.com/2010/06/04/atlantis/">menurut Slamet</a>, hal ini bisa jadi semacam peringatan buat orang-orang Indonesia, bagaimana sebuah peradaban besar bisa runtuh karena kesombongan, ketamakan, dan kemerosotan moral manusia.</p>
<p>Yang kedua &#8212; dan ini menurut saya paling menarik &#8212; fakta bahwa surga Atlantis berlokasi di Indonesia itu pada dasarnya bisa menantang konsepsi agama-agama yang bilang kalau surga adanya di “atas sana”. Saya ingat beberapa bulan lalu Slamet pernah menulis status Facebook, “Daripada manusia baku bunuh (dengan restu agama) agar naik ke surga, bagaimana kalau kita turunkan surga ke bumi?”</p>
<p>Maksudnya, barangkali, mari kita ciptakan damai surga di bumi. Sesama manusia nggak perlu gontok-gontokan apalagi sampai perang dan baku bunuh cuma gara-gara perbedaan. Bahwa konflik dan polemik bisa jadi dinamika masyarakat yang sehat, itu betul sepanjang emosi tiap orang bisa terkontrol dengan baik.</p>
<p>Tapi, ya, memang agak susah. Kalau Anda baca bukunya Fritjof Capra yang judulnya <em>The Turning Point</em> &#8212; terjemahan Indonesia-nya berjudul <em>Titik Balik Peradaban</em> &#8212; di situ ada gambaran cukup ringkas soal tren peradaban kita hari ini. “Kita telah menimbun puluhan ribu senjata nuklir, yang cukup untuk menghancurkan seluruh dunia beberapa kali, dan perlombaan senjata itu pun berlanjut dengan kecepatan yang melaju,” tulis Capra.</p>
<p>Paragraf berikutnya, “Biaya kegilaan nuklir kolektif ini pun mengejutkan. Pada tahun 1978, sebelum terjadinya peningkatan biaya terbaru, pengeluaran militer dunia kira-kira 425 miliar dolar miliar dolar &#8212; lebih dari satu miliar dolar setiap harinya. Lebih dari seratus negara, sebagian besar di antaranya berada di Dunia Ketiga, berada dalam bisnis pembelian senjata; penjualan perlengkapan militer baik untuk perang nuklir maupun konvensional lebih besar daripada pendapatan nasional dari semua negara kecuali sepuluh negara di seluruh dunia.”</p>
<p>“Sementara itu lebih dari lima belas juta orang &#8212; sebagian besar di antaranya anak-anak &#8212; meninggal karena kelaparan setiap tahun; lima ratus juta lainnya kekurangan gizi dengan serius. Hampir empat puluh persen dari penduduk dunia tidak mempunyai peluang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan profesional; namun negara-negara berkembang menghabiskan biaya tiga kali lebih besar untuk persenjataan daripada untuk kesehatan. Tiga puluh lima persen dari seluruh umat manusia kekurangan air minum yang bersih, sementara separuh dari keseluruhan ilmuwan yang ada terlibat dalam teknologi pembuatan senjata.”</p>
<p>Apakah peradaban modern kita juga akan hancur dan jadi neraka, seperti Atlantis dulu? Kalau dulu Atlantis hancur karena gunung berapi dan air bah, bisa saja peradaban modern nanti rusaknya gara-gara ledakan nuklir bikinan manusia. Dan, bisa jadi juga, ledakan itu pemicunya bukan manusia sendiri, tapi bencana alam yang di luar kendali manusia. Gempa, misalnya.</p>
<p>Pembangunan PLTN di Jepara, kan, ditolak salah satunya gara-gara risiko gempa. Pulau Jawa yang punya banyak gunung berapi rawan banget kena gempa vulkanis. Kalau gempa itu sampai bikin reaktor si PLTN bocor dan meledak, siapa yang mau tanggung?</p>
<p>Masalahnya, orang-orang Indonesia susah dibilangin. Mereka merasa yakin tidak akan terjadi apa-apa. Mereka merasa bisa. Ini, kan, mencerminkan sikap sombong yang dulu bikin Atlantis punah? Orang Indonesia ngurus bencana sampah saja belum becus, kok mau ngurus bencana nuklir?</p>
<p>Pemerintah sendiri juga plin-plan. April 2009, SBY bilang nggak setuju sama pembangunan PLTN di Jepara. Tapi Desember 2009, Menristek bilang pembangunan itu tetap lanjut dan PLTN dijadwalkan mulai beroperasi tahun 2016.</p>
<p>Dulu mahasiswa UKSW punya Gerakan Tolak Nuklir yang dimotori sama teman-teman Fakultas Teknik Elektro. Tapi sekarang gerakan itu mati. Sekarang kita cuma bisa bilang Doa Bapa Kami, “Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga.” Padahal, kalau kita mau berusaha sedikit, mungkin kita bisa ciptakan peradaban di bumi seperti di surga.</p>
<p>SATRIA ANANDITA<br />
<em>Moderator DeBuk</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/06/04/di-bumi-seperti-di-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semua Tergantung Orangnya</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/05/28/semua-tergantung-orangnya/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/05/28/semua-tergantung-orangnya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 08:44:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2604</guid>
		<description><![CDATA[Karena semua tergantung orangnya, berarti tidak tergantung sekolahnya, atau kampusnya. Sekolah dan kampus, kan, cuma bikinan orang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kejadian ini sudah agak lama. Habis nonton filem <em>Avatar</em> di bioskop, teman-teman pada bilang kalau Stallon baru saja lulus sarjana. Wah, bagaimana rasanya? Enak? Enak, kata Stallon.</p>
<p>“Apanya yang enak?” tanya saya.</p>
<p>“Enak gak bayar uang kuliah lagi,” jawabnya.</p>
<p>Oh, saya pikir apaan. Ternyata cuma perkara uang. Tapi betul juga omongan Stallon. Berhenti bayar kuliah itu enak. Uangnya bisa dipakai buat keperluan lain yang lebih bermanfaat.</p>
<p>Bukan berarti kuliah tidak bermanfaat. Kuliah memang bermanfaat, tapi masih ada hal lain yang lebih bermanfaat. Waktu cukai rokok naik, mana ada mahasiswa demo Pemerintah? Tapi coba kalau uang SKS yang naik, Rp 10 ribu saja, pasti sudah pada demo di depan rektorat. Mahasiswa tidak keberatan bayar lebih buat rokok, tapi kalau buat kuliah, nanti dulu.</p>
<p>Mahasiswa tidak bodoh soalnya. Mereka bisa berhitung <em>cost and benefit</em>. Mereka tahu kalau uang yang mereka keluarkan untuk rokok sepadan dengan manfaat yang mereka dapat. Kalau hati susah dan stres gara-gara kuliah, merokoklah. Sedangkan kuliah? Sudah bikin stres, kebanyakan aturan, masih minta-minta duit mahasiswa pula. Sangat tidak manusiawi. Masih lebih mending pabrik rokok yang dicap kapitalis. Buruhnya disuruh-suruh, diatur-atur, tapi dibayar.</p>
<p>Janjinya, kan, kuliah bermanfaat buat masa depan. Tapi nyatanya, setelah lulus pun, masa depan belum tentu cerah. Yang sudah tentu itu cuma fakta bahwa cari kerja itu susah. Dan selembar ijasah tidak membantu banyak. Pernah dengar istilah “inflasi ijasah”?</p>
<p>Inflasi ijasah terjadi karena apa yang tertera di atas kertas ijasah tidak selalu mencerminkan yang sebenarnya. Ijasah memang bisa bikin kita tampak pintar, tapi ijasah tidak bisa bikin kita pintar. Kita bisa pintar kalau kita belajar. Dan selama kuliah, apakah kita belajar?</p>
<p>Kalau kita betul belajar, tidak mungkin ada yang namanya inflasi ijasah. Tapi nyatanya, kita tidak belajar. Waktu kuliah kita cuma diajari menghapal buku, mengejar nilai, menjilat dosen, dan mematuhi sistem. Dan itu semua bikin jenuh, kan? Kalau orang sudah jenuh, pelariannya bisa macam-macam. Bisa rokok, alkohol, pacaran, naik gunung. Tergantung orangnya.</p>
<p>Sama dengan pintar. Itu juga tergantung orangnya. Mau belajar apa tidak? Kalau memang punya semangat dan kemauan, belajar bisa dimanapun dan kapan saja. Kita tidak harus sekolah atau kuliah di tempat yang mahal-mahal. Lagipula, apa sih hubungannya mahal sama belajar? Pernah dengar ceritanya George Saa dari Papua? Ketika diwawancara Kompas karena habis menang kompetisi fisika di Polandia, dia bilang, “Uang sebenarnya bukan segala-galanya untuk maju. Selalu ada jalan untuk menimba ilmu.”</p>
<p>George sering bolos sekolah karena tidak punya uang Rp 3 ribu untuk naik angkot tiap hari. Makalahnya yang menang di Polandia ditulis cuma dengan bantuan internet. Coba kalau dia punya uang dan masuk sekolah tiap hari, apa dia masih bisa menang di Polandia?</p>
<p>Karena semua tergantung orangnya, berarti tidak tergantung sekolahnya, atau kampusnya. Sekolah dan kampus, kan, cuma bikinan orang. Kenapa sekarang malah orang jadi tergantung sama sekolah? Kalau nggak sekolah, berarti nggak belajar. Bukan begitu mestinya.</p>
<p>Ada atau tanpa sekolah, orang tetap bisa belajar. Dan sering justru orang tidak bisa belajar kalau di sekolah. Biasalah, sistem yang mekanistik mana cocok sama manusia yang organik? Akan selalu ada ketidakcocokan, dan itu menimbulkan ketidaknyamanan. Kalau sudah tidak nyaman, mana mungkin belajar? Dan, kalau sudah tidak belajar, mana mungkin pintar? Kalau sekadar dapat nilai bagus, masih mungkin, karena ada banyak siasat. Ahli siasat biasanya tumbuh subur di sekolah-sekolah.</p>
<p>Sekolah adalah penjara pikiran tersistematis. Karena itu saya bersyukur jika pendidikan bisa makin hari makin mahal. Kalau sekolah sudah terlalu mahal dan tak terjangkau masyarakat, maka orang-orang bisa bebas dari penjara pikiran.</p>
<p>SATRIA ANANDITA<br />
<em>Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/05/28/semua-tergantung-orangnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengganti Kerja Keras</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/05/26/pengganti-kerja-keras/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/05/26/pengganti-kerja-keras/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 16:53:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2581</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada yang menggantikan kerja keras. Kalau si penemu lampu bilang, jenius itu 1 persen inspirasi dan 99 persen kerja keras.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada seorang penulis yang memulai novelnya dengan sebuah akhir. <em>All endings are also beginnings. We just don’t know it at the time.</em></p>
<p>Saya ada pada posisi semacam itu <a href="http://scientiarum.com/2010/05/26/seminar-nasional-perkembangan-pendidikan-perguruan-tinggi-di-indonesia/">kemarin lusa</a>, ketika Willi mengakhiri ceramahnya, dan pergi dari kampus yang senja. Saya bingung. Tidak tahu apa yang mau ditulis dari ceramah seorang Willi Toisuta.</p>
<p>Saya bukan tidak mengerti isi ceramah Willi. Dia bicara soal perkembangan perguruan tinggi di Indonesia. Dia paparkan tinjauan sejarahnya sampai identifikasi peluang dan tantangan di masa depan. Untuk hadapi itu semua, katanya, hanya ada satu cara: mengutamakan kualitas.</p>
<p>Kualitas akademik bisa dicapai dengan dorongan otonomi akademik. Tapi sebagai jaminan agar otonomi itu tidak menyimpang, harus ada akuntabilitas. Itu sebabnya kenapa perguruan tinggi diminta terbuka terhadap lembaga akreditasi. Itu juga latar belakang kenapa sampai ada Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.</p>
<p>Terus ada lagi konsep segitiga akademik (yang sekarang kita kenal sebagai Tridarma Perguruan Tinggi) serta bagaimana menyinergikannya. Pengajaran mendorong riset; riset memperkaya pengajaran; pengetahuan yang didapat dari pengajaran dan riset itu diterapkan sekaligus diuji relevansinya lewat program pengabdian masyarakat.</p>
<p>“Ini bukan hal yang susah,” kata Willi.</p>
<p>Ya, memang. Bicara konsep memang gampang. Tinggal baca buku atau tanya Google, selesai. Kalau masih kurang jelas, bisa dipikir sendiri, atau kalau perlu, bikin konsep sendiri. Yang susah, kan, prakteknya. Dan saya tahu Willi seorang praktisi. Dia pencetus sekaligus mantan sekretaris BAN-PT, juga rektor UKSW dulu sekali. Jadi, ketimbang ceramah konsep berjam-jam, kenapa nggak bagi-bagi pengalaman saja?</p>
<p>Maka saat tiba kesempatan bertanya, saya tanyakanlah semua pengalaman dia yang menurut saya menarik. Cuma sayang, ada terlalu banyak pertanyaan dan terlalu sedikit waktu, dan lebih banyak lagi pertanyaan yang bukan pertanyaan! Akhirnya tak satupun pertanyaan saya terjawab. Jadi memang tidak ada hal menarik yang bisa saya catat.</p>
<p>Apa-apa yang diceramahkan Willi hari itu betul-betul biasa saja. Teman saya juga bilang begitu. Tidak ada istimewanya. Semuanya logis dan sederhana. Masak orang sekaliber Willi ceramahnya begitu? Kalau Anda sempat baca buku <em>70 Tahun Sang Visioner</em> yang terbit dua tahun lalu, di situ disebut bahwa saking visionernya Willi, kadang orang jadi sulit mengikuti pemikirannya. Selain menggagas BAN-PT, Willi juga aktor intelektual sistem SKS yang kini dipakai se-Indonesia, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Kemarin malam, sambil mikir, saya ketemu Anthony di depan kampus. Obrolan saya cuma satu kalau sama orang ini: fotografi. Anthony kasih tunjuk saya beberapa foto aliran “Speakfotoisme” dia yang paling baru dan belum dipajang di Facebook. Ada satu foto belalang lagi hinggap. Anthony ambil fotonya dari belakang punggung si belalang persis. Saya tanya apa artinya.</p>
<p>“Kita nggak bisa jalan bener kalo cuma punya satu kaki,” jawabnya.</p>
<p>Setelah saya perhatikan, ternyata tubuh belalang itu asimetris. Kaki kanannya yang paling belakang nggak ada. Ada lagi foto rambu lalu lintas: tanda dilarang putar balik terus di bawahnya persis ada plang iklan obat kuat. Saya kontan ketawa.</p>
<p>Foto Anthony yang paling saya suka malam itu adalah foto sangkar besi (<em>iron cage</em>) karatan yang diambil menyamping. Karena menyamping, tidak semua area <em>cage</em> terlihat jelas. Area yang letaknya sebelum dan sesudah titik fokus kamera jadi tampak <em>blur</em>. Awalnya saya nggak ngeh apa makna foto itu. Terus Anthony bilang bahwa kadang kita terlalu fokus sama masa lalu dan masa depan yang nggak jelas, lupa sama masa kini yang sebetulnya sudah jelas.</p>
<p>Pemikiran Anthony simpel, tapi bermakna. Beda sama saya yang lebih sering ruwet, tapi ketika ditanya apa artinya malah tidak tahu. Makanya, menginterpretasi foto saja saya susah. Pikiran cenderung lari ke mana-mana. Jadinya malah nggak jelas.</p>
<p>Tidak semua fotografer bisa seperti Anthony. Buktinya, dia termasuk jenis fotografer langka di kampus. Kalau kebanyakan sukanya memfoto model yang cantik-cantik, yang jadi model foto Anthony justru orang-orang di jalan, pasar, panti jompo, SLB, dimanapun. Orang sampai belalang buntung dijadikan model!</p>
<p>Kalau modelnya cewek cantik sih enak karena posenya bisa disuruh-suruh. Momen juga bisa diatur. Kalau belalang buntung? Jelas butuh ekstra sabar, karena Anthony tidak merekayasa pembuntungan itu demi pemotretan. Lagipula, kalau modelnya cewek cakep, wajar kalau fotonya jadi menarik. Apalagi kalau cewek cakepnya telanjang. Itu banyak. Pasaran. Jelas lebih susah bikin <em>iron cage</em> karatan yang sering dicuekin orang jadi sebuah foto menarik yang punya makna, bukan?</p>
<p>Malam itu saya serasa menemukan jawaban. Pemikiran yang simpel, kalau dibarengi dengan konsistensi dan kerja keras, pasti bakal menghasilkan sesuatu yang besar. Seperti Willi, mungkin idenya memang biasa, tapi lebih mungkin lagi jika kerjanya luar biasa. Kalau tidak salah, saya pernah baca tulisan salah satu bekas mahasiswanya tentang dia. Di situ disebutkan kalau Willi punya energi besar untuk memotivasi siapapun. Dan kelihatannya memang, itulah pekerjaan Willi yang sebenarnya: memimpin orang, mengarahkan mereka untuk mengerjakan ide-idenya dengan hati riang. Kalau Anda pernah baca bukunya Dale Carnegie (atau yang sejenis dengan itu), pasti paham maksud saya.</p>
<p>Jadi, kayaknya betul juga kata orang. Tak ada yang menggantikan kerja keras. Kalau si penemu lampu bilang, jenius itu 1 persen inspirasi dan 99 persen kerja keras. Akan jadi tidak jenius ketika komposisinya dibalik. Kebanyakan inspirasi tapi hampir nggak pernah kerja. Jadinya mandul. Tidak produktif. Dan banyak orang seperti itu. Malas kerja keras.</p>
<p>Supaya tidak malas, Anda butuh semangat. Semangat itu baru muncul kalau Anda berurusan dengan sesuatu yang memang Anda sukai, cintai. Makanya, biar nggak malas bekerja (atau belajar), pilih bidang yang betul-betul Anda suka. Steve Jobs juga pernah bilang begitu sama para mahasiswa Stanford yang baru lulus. <em>You’ve got to find what you love!</em></p>
<p>Sudah nonton filem India yang judulnya <em>3 Idiots</em>, belum? Saya baru nonton tadi. Di situ dibilang bahwa setiap orang harus dibiarkan memilih kuliah dan pekerjaan yang betul-betul disenanginya. Jadi, kalau si anak maunya jadi fotografer, mestinya orangtua nggak boleh memaksa untuk kuliah insinyur &#8212; apalagi teologi, meski dengan alasan bahwa si anak adalah anak nazar dari Tuhan!</p>
<p>SATRIA ANANDITA<br />
<em>Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/05/26/pengganti-kerja-keras/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
