<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Scientiarum &#187; Yosia Nugrahaningsih</title>
	<atom:link href="http://scientiarum.com/author/yosi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://scientiarum.com</link>
	<description>Universitas Kristen Satya Wacana &#124; Salatiga</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Mar 2010 20:17:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kembali ke Manual</title>
		<link>http://scientiarum.com/2009/03/31/kembali-ke-manual/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2009/03/31/kembali-ke-manual/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 08:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yosia Nugrahaningsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.scientiarum.com/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[Dari luar, Gedung Administrasi Pusat (GAP) UKSW terlihat ’biasa’, banyak mahasiswa dan pegawai yang terlihat sibuk. Namun, ada yang janggal ketika saya masuk, terjadi antrian panjang di depan loket bagian keuangan. Antrian panjang itu terjadi sejak hari pertama perkuliahan dimulai, 5 Januari 2009, sampai satu minggu lebih.
Penyebab antrian panjang itupun masih simpang siur. Bermacam-macam berita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari luar, Gedung Administrasi Pusat (GAP) UKSW terlihat ’biasa’, banyak mahasiswa dan pegawai yang terlihat sibuk. Namun, ada yang janggal ketika saya masuk, terjadi antrian panjang di depan loket bagian keuangan. Antrian panjang itu terjadi sejak hari pertama perkuliahan dimulai, 5 Januari 2009, sampai satu minggu lebih.</p>
<p>Penyebab antrian panjang itupun masih simpang siur. Bermacam-macam berita beredar di mahasiswa. Aneke, salah satu mahasiswi FE hanya tahu bahwa hal ini terjadi karena perubahan sistem dari dwimester ke semester. Berbeda dengan Amri, mahasiswa FSP yang hanya pasrah mengantri tanpa tahu penyebab pasti mengapa antrian itu terjadi.</p>
<p>Terjadinya antrian panjang itu dikarenakan adanya penerapan aplikasi pengembangan sistem informasi akademik Satya Wacana (SIASAT) dengan aplikasi baru yang tetap mengacu pada data lama, serta bertepatan dengan rusaknya mesin server yang dimiliki BTSI (Biro Teknologi dan Sistem Informasi). </p>
<p>Aplikasi baru ini pengembangan dari aplikasi yang lama,  karena semakin lama, mahasiswa semakin banyak dan semakin membutuhkan akses yang cepat dan data yang valid. Maka, kampus melalui BTSI berusaha mengoptimalkan layanan online. </p>
<p>Uji coba mesin pertama dilakukan oleh  Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) dan Fakultas Teknologi Informasi (FTI). Jika uji coba ini berhasil, berarti dapat dikatakan sistem ini mencukupi untuk semua mahasiswa. </p>
<p>Partono, selaku kabag sistem informasi menjelaskan, mesin server yang lama periode 1997-2000 mengalami kerusakan. Kendala aplikasi baru dengan mesin lama menyebabkan mesin lama kurang bisa menjalankan aplikasi yang baru, sehingga terjadi kerusakan. Padahal, aplikasi pembayaran dari kampus ke bank menggunakan  mesin yang rusak ini, sehingga jalan secara elektronik tidak dapat dilalui, dan terpaksa diambil kebijakan, pembayaran kembali ke cara manual. Pembayaran tetap di bank, dan meminta validasi di bagian keuangan.</p>
<p>Selain karena mesin yang digunakan adalah mesin lama, penyebab sering macetnya aplikasi ini adalah karena database untuk transaksi keuangan, registrasi mata kuliah, dan transaksi yang lain masih menjadi satu. Sehingga, ketika ada mahasiswa yang sedang melakukan transaksi keuangan dan ada mahasiswa lain yang melakukan registrasi mata kuliah, kadang terjadi log atau macet. Nantinya, berbagai transaksi tersebut akan dipisah, dan diperbaiki, sehingga tidak saling menganggu satu sama lain.</p>
<p>Tidak hanya itu, penyebab sering macetnya aplikasi SIASAT juga merupakan akumulasi dari faktor-faktor kecil. Misalnya, keterlambatan dosen memasukkan nilai, sehingga semua terfokus pada menjelang hari H. Hal ini juga memicu terjadinya kemacetan sistem. Pada saat melakukan SIASAT, nilai mata kuliah baru keluar, sehingga sering mahasiswa mengubah jadwal yang telah disusun, akibat nilai yang baru keluar, entah karena bobot sks-nya ternyata tidak cukup atau bahkan lebih. Padahal, mahasiswa seharusnya hanya tinggal meng-click mata kuliah. Semua pihak seharusnya terlibat, dan menyadari, agar berdampak baik bagi semua pihak. </p>
<p>Sementara ini, perbaikan mesin telah diupayakan dan akan diusahakan secepatnya, sehingga layanan online dapat kembali dinikmati mahasiswa. Sambil memesan alat pengganti dengan harga yang disesuaikan .</p>
<p>Harijono (WR II UKSW) mengungkapkan ”jika mengubah sistem, sebenarnya harus salah satunya saja. Jika software yang diubah, hadrware-nya tetap. Tetapi yang terjadi kemarin, dua-duanya harus kita ubah karena keduanya sudah  tak layak pakai dan ada yang jebol juga.” tandasnya.</p>
<p>Pada bulan Desember, sebenarnya sudah pernah diuji cobakan pada FBS. Tetapi, yang terjadi malah setiap pagi sampai siang selalu bermasalah pada SIASAT, namun saat sore sampai malam mahasiswa dapat melakukan SIASAT dengan lancar. Mulai saat itu, setiap siang selalu ada evaluasi, ternyata software dan hardware-nya sama-sama bermasalah. </p>
<p>Masalah hardware ada pada line card yang kadang bisa tersambung, dan kadang tidak. Meski masalah sudah ditemukan dan diperbaiki, namun masih ada gangguan. </p>
<p>Ternyata, database keuangan jadi bermasalah. </p>
<p>Pada malam hari, bagian keuangan di Gedung Administrasi Pusat tutup, jadi tidak ada database keuangan yang meng-up date data. Sedangkan pada jam kerja, bagian keuangan aktif, padahal mahasiswa juga meng-input mata kuliah. </p>
<p>Seolah ada satu cd yang sedang menyalin dua data berbeda secara bersamaan.</p>
<p>Mengingat banyaknya mahasiswa yang belum dapat menyelesaikan proses pembayaran dan registrasi mata kuliah, maka diputuskan kebijakan untuk memundurkan waktu masuk perkuliahan selama satu minggu, untuk memberi kesempatan bagi mahasiwa menyelesaikan pembayaran dan registrasi mata kuliah.</p>
<p>”Memang saat ini ada masalah yang harus dihadapi, yaitu masalah pembayaran. Dan kesalahan ini memang ada pada kami, kami harus akui itu, dan minta maaf  kepada teman-teman mahasiswa. Antrian panjang ini juga ada faktor dari mahasiswa. Jika diamati, mahasiswa yang ngantri bayar itu kebanyakan mahasiswa yang bayarnya terlambat yang denda. Menurut data saya, hanya sekitar 30-40% saja yang membayar tepat waktu, sehingga  otomatis menimbulkan antrian panjang menjelang SIASAT. Ketidaknyamanan proses pembayaran ini yang menentukan banyak faktor. Namun kekacauan kemarin, faktor utamanya lebih banyak ke software dan hardware. Jadi, ini intinya bukan kesalahan mahasiswa, universitas yang harus bertanggung jawab dan kami sekali lagi meminta maaf. Seharusnya semester depan harus lebih bagus” tutup Harijono.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2009/03/31/kembali-ke-manual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pro Kontra Seputar Gay</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/04/10/fenomena-lesbian-gay-biseks-dan-transgender/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/04/10/fenomena-lesbian-gay-biseks-dan-transgender/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 20:44:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yosia Nugrahaningsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Salatiga]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/04/10/fenomena-lesbian-gay-biseks-dan-transgender/</guid>
		<description><![CDATA[Perjuangan Stevanus Theodurus, dalam memperjuangkan hak lesbian, gay, biseks, transgender dan transseksual (LGBT) menuai pro dan kontra. Terbukti, sejak pengakuan tentang jati dirinya di situs web Scientiarum, timbul komentar dari berbagai kalangan mengenai kaum LGBT. Tak jarang komentar pedas ia terima. Tapi ada pula sebagian yang memahami dan menerima dirinya.
Theo, demikian ia biasa disapa, merupakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perjuangan Stevanus Theodurus, dalam memperjuangkan hak lesbian, gay, biseks, transgender dan transseksual (LGBT) menuai pro dan kontra. Terbukti, sejak pengakuan tentang jati dirinya di situs web Scientiarum, timbul komentar dari berbagai kalangan mengenai kaum LGBT. Tak jarang komentar pedas ia terima. Tapi ada pula sebagian yang memahami dan menerima dirinya.</p>
<p>Theo, demikian ia biasa disapa, merupakan Petugas Lapangan <a href="http://gessang.org">Yayasan Gessang</a> untuk Kota Salatiga. Gessang adalah yayasan yang bergerak di bidang sosial, advokasi, dan HAM untuk kaum gay. Theo juga tercatat sebagai mahasiswa aktif Program Studi Komunikasi FISIPOL UKSW angkatan 2006.</p>
<p>Theo memandang, <a href="http://scientiarum.com/2008/02/29/stevanus-theodurus-saya-yakin-gay-bukan-penyakit-dan-bukan-dosa/">LGBT bukanlah penyakit dan bukan dosa</a>. “Kalo gay adalah penyakit menular, saya cuma mau ngomong, ‘Tolong carikan obatnya dong.’ Kalau tidak ada obatnya, berarti ada dua penyakit yang belum bisa diobati di Indonesia, yaitu gay dan AIDS. Gay bukan penyakit, tapi itu hanyalah suatu perbedaan orientasi seksual,” kata Theo.</p>
<p>”Di Salatiga, yang saya ketahui, ada 200 gay dan 50 persen adalah anak UKSW. Namun mereka masih tertutup dan belum mau mengaku. Sebenarnya, orang-orang yang berjalan dengan maskulin tidak menjamin bahwa ia bukan gay,” papar Theo.</p>
<p>Apakah LGBT itu bukan dosa dan bukan penyakit? Pertanyaan inilah yang akan digali lebih dalam melalui perspektif teologi, sosiologi, psikologi, dan biologi.</p>
<p>Menurut Dien, Dosen Fakultas Teologi yang mengampu matakuliah Feminisme dan matakuliah Gender (Program Pascasarjana), LGBT masih diperdebatkan “kedosaannya,” karena ada pihak yang menentang dan menganggap LGBT sebagai dosa dan harus dikembalikan ke jalan yang benar. Namun ada juga yang mengatakan bahwa LGBT bukan dosa, karena mereka juga mahluk ciptaan Tuhan, dan Tuhan juga mempunyai kuasa yang sama besarnya untuk “mengubah” ciptaannya.</p>
<p>“LGBT tidak dapat dikatakan sebagai dosa. Sejauh bukan sebagai ‘tren,’ karena dewasa ini banyak yang ‘tiba-tiba’ menjadi gay (karena) sekadar tuntutan dunia hiburan,” kata Dien.</p>
<p>Jika seseorang tiba-tiba “menyimpang” dari jalan yang sudah digariskan oleh Tuhan, hanya demi tuntutan duniawi, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai “dosa.” Selain itu, Dien juga menegaskan, bahwa “kelainan” seksual ini dapat terjadi karena berbagai faktor, misalnya saja faktor lingkungan; karena memiliki banyak saudara perempuan, atau terbiasa diberi mainan atau pakaian yang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya.</p>
<p>Hal senada juga diamini Dosen Fakultas Biologi, Ferry Karwur. Menurut Ferry, ketertarikan seksual dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor genetik dan faktor lingkungan. Sistem ketertarikan seksual manusia berada di antara lalat buah dan reptil (buaya). Lalat buah, bagaimanapun kondisi lingkungan, tidak akan mengubah orientasi seksualnya. Genetik memegang peranan 100 persen. Sedangkan buaya terpengaruhi oleh suhu (lingkungan).</p>
<p>Manusia dapat mengalami kebocoran genetik. Hormon sebagai penentu organ seks sekunder (payudara, jakun, dan sebagainya) dalam perkembangannya menjadi perantara situasi lingkungan dan genetik. Lingkungan dapat mengendalikan kita untuk mengubah orientasi seksual.</p>
<p>Neural pada manusia sangat kompleks. Hal ini menyebabkan neural kita berkembang lebih terdiferensiasi, tidak terprogram seperti robot. Sistem manusia yang unik ini membuat perbedaan orientasi seksual bagi tiap-tiap individu.</p>
<p>Ilmu psikologi sudah menyatakan bahwa homoseksual bukanlah penyakit ataupun kelainan. Perlu dibiasakan untuk mengatakan dan meyakinkan diri sendiri bahwa “saya adalah normal.” Penting untuk menghilangkan sifat apatis dan menutup diri dengan perasaan bersalah. Masalahnya, banyak lesbian yang merasa berdosa, sehingga makin menjauhkan diri dari aktivitas ibadah. Kalau perasaan negatif terus menggeluti pikiran, hal itu justru bisa menimbulkan rasa lemah. Nomor satu yang paling penting adalah menerima diri sendiri terlebih dahulu.</p>
<p>Berbeda dengan tiga perspektif yang lain, sisi sosial lebih menekankan bagaimana hubungan interaksi antara kaum LGBT dan masyarakat. Maksudnya, bagaimana cara kaum LGBT dapat masuk dan bergaul dengan masyarakat.</p>
<p>“Untuk urusan dia gay atau nggak sih nggak masalah. Yang penting jangan mengganggu aja,” ujar Rido, mahasiswa UKSW. “Yang penting, kita yang normal ini nggak merasa keselamatan kita terancam. Saya punya teman gay dan dia seringnya ya bergaul cuma dengan teman-teman cewek. Mungkin teman-teman cowok termasuk saya agak jaga jarak aja ya … tanpa bermaksud mengucilkan.”</p>
<p><em>Laporan ini dikerjakan bersama <a href="http://scientiarum.com/author/aqiranas/">Aqirana A. Tarupay</a> dan <a href="http://scientiarum.com/author/yogi/">Muhammad Y. F. Nasution</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/04/10/fenomena-lesbian-gay-biseks-dan-transgender/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>79</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stevanus Theodurus: Saya Yakin Gay Bukan Penyakit dan Bukan Dosa</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/02/29/stevanus-theodurus-saya-yakin-gay-bukan-penyakit-dan-bukan-dosa/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/02/29/stevanus-theodurus-saya-yakin-gay-bukan-penyakit-dan-bukan-dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 15:56:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yosia Nugrahaningsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Salatiga]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/02/29/stevanus-theodurus-saya-yakin-gay-bukan-penyakit-dan-bukan-dosa/</guid>
		<description><![CDATA[Stevanus Theodurus Gary Natanael, Petugas Lapangan Yayasan Gesang (yayasan yang bergerak di bidang sosial, advokasi, dan HAM untuk kaum gay &#8212; Red) untuk Kota Salatiga, merasa dirinya sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang gay sejak lahir. Meski sejak SD sudah diikutkan pencak silat oleh keluarganya, namun hal itu tidak dapat memudarkan naluri kewanitaannya. Baginya, seorang gay [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Stevanus Theodurus Gary Natanael, Petugas Lapangan Yayasan Gesang (yayasan yang bergerak di bidang sosial, advokasi, dan HAM untuk kaum gay &#8212; Red) untuk Kota Salatiga, merasa dirinya sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang gay sejak lahir. Meski sejak SD sudah diikutkan pencak silat oleh keluarganya, namun hal itu tidak dapat memudarkan naluri kewanitaannya. Baginya, seorang gay tidak dapat disetir oleh siapapun, tapi berjalan apa adanya. Ia juga berpendapat bahwa hal ini bukan pilihan hidup, tapi jalan hidup yang sudah ditentukan.</p>
<p>&#8220;Mungkin saya gay memang sejak lahir,&#8221; ucap lelaki kelahiran Solo, 25 Desember 1987, yang memiliki tindik di hidung ini. &#8220;Saat lahir saya biasa-biasa saja dan benar-benar jadi seorang gay dari SD. SMP udah masuk ke dunia malam dan udah jadi &#8216;kucing&#8217; (gigolo &#8212; Red). Selama dua tahun saya menjalani kehidupan yang demikian dan akhirnya saya mulai merasa resah dan berpikir, &#8216;Buat apa sih saya mencari uang dengan cara begitu?&#8217; Meski waktu itu &#8216;harga&#8217; saya lagi tinggi, tapi saya memutuskan untuk meninggalkan dunia tersebut. SMP kelas tiga saya sudah memutuskan untuk tidak menjadi &#8216;kucing&#8217; lagi dan inilah untuk pertama kalinya saya jalan dengan cowok, meski pada waktu itu saya masih punya cewek.&#8221;</p>
<p>Menginjak bangku SMA, keberanian untuk masuk ke dalam komunitas gay secara besar-besaran baru muncul. Namun masyarakat dan orangtua belum tahu mengenai hal itu, karena Theo masih harus menjaga <em>image</em>-nya. Apalagi, saat itu ia terlibat aktif dalam sie kerohanian di SMA-nya. Akhir SMA kelas tiga ia baru mengatakan hal yang sebenarnya kepada keluarga.</p>
<p>&#8220;Dari dulu saya sudah nyaman dengan keadaan sebagai seorang gay, tapi belum berani bereksplorasi. Ketika masuk kuliah saya baru berani tampil dan menyatakan kepada masyarakat bahwa saya gay. Tapi bukan karena semata-mata Salatiga adalah daerah baru bagi saya, lalu saya berani. Di manapun saya berada saya harus berani. Yang mendorong saya untuk berani adalah banyak orang mengatakan, &#8216;<em>This is your life</em>. Ini kehidupanmu dan kamu harus bisa menjalani.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bagi tokoh gay Salatiga ini, gay dan lesbian bukanlah penyakit. “Kalo gay adalah penyakit menular, saya cuma mau ngomong, &#8216;Tolong carikan obatnya dong.&#8217; Kalau tidak ada obatnya, berarti ada dua penyakit yang belum bisa diobati di Indonesia, yaitu gay dan AIDS. Gay bukan penyakit, tapi itu hanyalah suatu perbedaan orientasi seksual,” jelas mahasiswa UKSW tersebut. ”Di Salatiga, yang saya ketahui, ada 200 gay dan 50 persen adalah anak UKSW. Namun mereka masih tertutup dan belum mau mengaku. Sebenarnya, orang-orang yang berjalan dengan maskulin tidak menjamin bahwa ia bukan gay.”</p>
<p>Saat ini Theo masih berjuang bagi kaumnya. Cita-citanya adalah ingin membuat seminar dan membuka cakrawala mahasiswa UKSW bahwa inilah kehidupan gay dan lesbian. Sampai saat ini dia tidak memperjuangkan haknya sebagai seorang gay, namun memperjuangkan hak sebagai warga negara Indonesia. Baginya, jangan sampai hak warga negara Indonesia dibagi lagi menjadi hak WNI yang gay dan WNI yang tidak gay.</p>
<p>Keberanian dalam pengungkapan jati dirinya ke masyarakat tentunya menimbulkan pro kontra. ”Saya menghargai mereka semua. Yang penting kita saling menghargai dan tidak mengejek. Penerimaan mungkin masih sulit, tapi itu bukan masalah. Di fakultas saya sendiri saya tidak mendapat tekanan atau penolakan dari pihak fakultas. Dan seandainya saya jalan sama cowok, itu bukan berarti cowok yang saya ajak jalan juga gay. Saya juga kasihan sama teman-teman cowok. Takutnya kalo jalan dengan temen cowok, nanti temen cowok itu juga dikira gay. Itulah sebabnya saya sudah mengantisipasi hal tersebut. Jadi, kalau jalan sama teman cowok, saya pasti nanya, &#8216;Kamu nyaman nggak jalan sama aku? Kalau nggak nyaman, ya sudah nggak usah.&#8217; Mungkin itu sebabnya saya lebih cenderung banyak bergaul dengan teman wanita.”</p>
<p>”Saya tidak menyesal telah menjadi seorang gay. Saya yakin semua sudah digariskan sama Tuhan. Dan saya yakin gay bukan dosa dan bukan kesalahan, hanya dogma dan keduniawian orang-orang lah yang mengatakan gay sebagai dosa. Saya sudah yakin untuk menjadi seorang gay,” tegas Theo.</p>
<p>”Harapan yang saat ini masih ingin saya wujudkan untuk kaum gay dan waria, ayo kita berjuang bersama untuk punya satu suara! Jangan sampai satu organisasi punya seribu suara. Kita harus punya satu suara untuk memperjuangkan hak kita sebagai WNI. Buat kalian yang di luar komunitas gay, stop diskriminasi dan stop kemunafikan!” pungkasnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/02/29/stevanus-theodurus-saya-yakin-gay-bukan-penyakit-dan-bukan-dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>258</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mike Mohede Meriahkan Malam Penggalangan Dana UKSW</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/02/19/mike-mohede-meriahkan-malam-penggalangan-dana-uksw/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/02/19/mike-mohede-meriahkan-malam-penggalangan-dana-uksw/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Feb 2008 04:45:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yosia Nugrahaningsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/02/19/berita-kampus/mike-mohede-meriahkan-malam-penggalangan-dana-uksw/</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu (16/2), Campus Ministry UKSW mengadakan malam penggalangan dana bagi korban bencana alam. Malam itu lapangan sepak bola UKSW nampak tak seperti biasanya. Di sebelah timur telah didirikan panggung besar, dan mendekati pukul 18.00 WIB banyak sivitas akademika yang mulai memasuki area lapangan kampus.
Malam penggalangan dana dengan tema “Kasih yang Memenuhi Satya Wacana” ini mendatangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1933" class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img src="http://scientiarum.com/wp-content/uploads/2008/02/mike-mohede-uksw.jpg" alt="Penampilan Mike Mohede di hadapan sivitas akademika UKSW. {Foto oleh Yosia Nugrahaningsih}" title="mike-mohede-uksw" width="400" height="533" class="size-full wp-image-1933" /><p class="wp-caption-text">Penampilan Mike Mohede di hadapan sivitas akademika UKSW.<br />
{Foto oleh Yosia Nugrahaningsih}</p></div>
<p>Sabtu (16/2), Campus Ministry UKSW mengadakan malam penggalangan dana bagi korban bencana alam. Malam itu lapangan sepak bola UKSW nampak tak seperti biasanya. Di sebelah timur telah didirikan panggung besar, dan mendekati pukul 18.00 WIB banyak sivitas akademika yang mulai memasuki area lapangan kampus.</p>
<p>Malam penggalangan dana dengan tema “Kasih yang Memenuhi Satya Wacana” ini mendatangkan bintang tamu Mike Mohede. Acara ini dibuka secara resmi dengan pemotongan balon dan pelepasan burung merpati. Acara berlangsung hikmat dan penuh semangat dengan dinyanyikannya lagu-lagu penyembahan dan dilanjutkan dengan doa serta kesaksian.</p>
<p>Tidak hanya mahasiswa UKSW, namun acara malam itu juga menyedot perhatian masyarakat di luar UKSW. Hampir sebagian lapangan sepak bola UKSW dipenuhi oleh penonton yang sangat antusias mengikuti acara. Ketika Mike memasuki panggung, suasana menjadi semakin riuh dengan jeritan histeris dari penggemar Mike. Kemudian, kotak amal pun mulai diedarkan. Rencananya, dana yang terkumpul nantinya akan langsung disumbangkan bagi korban bencana banjir.</p>
<p>Hujan yang mulai mengguyur pada pertengahan acara malam itu tidak menyurutkan antusias mahasiswa yang mau saja berbasah-basah demi melihat sang idola. Mike pun tampak tak canggung untuk ikut berbasah-basah pada malam itu. Bahkan, ia sempat mengatakan bahwa hujan yang turun malam itu adalah hujan berkat yang tercurah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/02/19/mike-mohede-meriahkan-malam-penggalangan-dana-uksw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
