<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Scientiarum</title>
	<atom:link href="http://scientiarum.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://scientiarum.com</link>
	<description>Universitas Kristen Satya Wacana &#124; Salatiga</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Feb 2010 10:46:30 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mengapresiasi Seni dan Konservasi Alam Lewat Merti Desa</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/02/04/mengapresiasi-seni-dan-konservasi-alam-lewat-merti-desa/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/02/04/mengapresiasi-seni-dan-konservasi-alam-lewat-merti-desa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 01:08:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Subiharto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Apresiasi Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Grintingan]]></category>
		<category><![CDATA[Konservasi Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Merti Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Sawung Gunung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2047</guid>
		<description><![CDATA[Ekspresi seni yang ditampilkan menyimpan nilai-nilai kearifan lokal sebagai wujud kepedulian masyarakat terhadap usaha konservasi alam.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suara gamelan memecah keheningan Dusun Grintingan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Dusun yang terletak di lereng Gunung Merbabu ini tengah mengadakan upacara selamatan merti desa (bersih desa atau sedekah bumi) dan ritual Kirab Sesaji Sendhang. Acara tersebut merupakan peringatan hari besar 15 Sapar (kalender Jawa) yang bertepatan pada hari Senin dan Selasa, 1-2 Februari 2010.</p>
<p>Pada Senin, 1 Februari 2010, prosesi diawali pukul 10.00 dengan <em>kenduri sesaji gunungan sego golong</em> yang diikuti oleh seluruh penduduk setempat. </p>
<p>Siang hari berikutnya, dengan berpakaian adat Jawa lengkap, para tokoh, tetua dan masyarakat dusun mengiring kirab berkeliling desa dengan iringan gamelan. </p>
<p>Acara dilanjutkan dengan upacara ritual di Tuk (mata air atau Sendhang) Salam dan Tuk Tulangan dan penanaman pohon keramat di Tuk tersebut. Pohon yang dikeramatkan tersebut ialah pohon trembesi.</p>
<p><strong>Mahasiswa ikut berperan</strong></p>
<p>Beragam kesenian dipentaskan usai upacara selamatan bersih desa dan ritual Kirab Sesaji Sendhang. Paguyuban Seni Sawung Gunung yang terbentuk tahun 2007, turut memeriahkan acara ini. Empat jenis kesenian yang mereka ciptakan bersama mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, menjadikan Dusun Grintingan memiliki kesenian khas tersendiri. Empat kesenian tersebut itu ialah Tanen, Buto Grasak, Jaran Gunung (Janung) dan Pring Gunung Kawedhar.</p>
<p>Pring Gunung Kawedhar adalah seni tari yang tergolong baru.  Tarian ini dibuat Paguyuban Seni Sawung Gunung pada 31 Januari 2010 dan dipentaskan perdana pada acara ini. </p>
<div id="attachment_2048" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img src="http://scientiarum.com/wp-content/uploads/2010/02/Pring-Gunung-Kawedhar-1024x640.jpg" alt="Tarian Pring Gunung Kawedhar berkostum terbuat dari pring (bambu). {Foto oleh Subiharto}." title="Pring Gunung Kawedhar" width="500" class="size-large wp-image-2048" /><p class="wp-caption-text">Tarian Pring Gunung Kawedhar berkostum terbuat dari pring (bambu).<br />
{Foto oleh Subiharto}.</p></div>
<p>Mahasiswa ISI Surakarta, Purnawan Andra menjelaskan, tari ini merupakan cermin dari pengawasan, kewaspadaan, penjagaan dan pemeliharaan terhadap alam. </p>
<p>”Pring Gunung Kawedhar diilhami dari kearifan lokal pring (bambu) sebagai tumbuhan dan merevitalisasi kentongan sebagai alat komunikasi komunitas sekaligus nilai-nilai komunalisme. Bambu telah menjadi khas bagi dusun ini dan pernah juga digunakan untuk membantu pascagempa di Bantul (DI Yogyakarta),” ujar Purnawan, mahasiswa yang ikut berperan atas terbentuknya wadah kesenian dan terciptanya karya seni di dusun ini.</p>
<p>Acara ini juga dimeriahkan oleh mahasiswa dari ISI Surakarta, ISI Yogyakarta serta beberapa komunitas kesenian. Menurut Andra, pertunjukan ini adalah atas inisiatif warga. ”Kami hanya menginformasikan—pada rekan-rekan mahasiswa dan komunitas kesenian—bahwa ada pentas di sini (Dusun Grintingan),” imbuhnya.</p>
<p><strong>Apresiasi seni</strong><strong></strong></p>
<p>Kiprah Ratu Sewu merupakan tarian bercorak Jawa dibawakan oleh Sekti Wibowo, Oleg (Bali) oleh Rani Iswinindar, Srenggot (Banyumas) oleh Widya Ayu dan Ardana, Marungan (Banyumas) oleh Widiyanti. Seluruhnya adalah mahasiswa ISI Surakarta.</p>
<p>Rampak Kendang Pakanjarak ialah salah satu seni menabuh kendang yang dimainkan oleh Totok (Salatiga) dan Josh (Makassar), mahasiswa ISI Yogyakarta berkolaborasi dengan Seruling Bali yang dimainkan oleh Galuh, salah satu pengurus Sanggar Djamboe Kampoeng Pancuran, Kota Salatiga, Jateng. </p>
<div id="attachment_2053" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img src="http://scientiarum.com/wp-content/uploads/2010/02/Rampak-Kendang-Pakanjarak-1024x768.jpg" alt="Kerumunan penonton menyaksikan pentas kolaborasi Rampak Kendang Pakanjarak dengan seruling Bali. {Foto oleh Subiharto}." title="Rampak Kendang Pakanjarak" width="500" class="size-large wp-image-2053" /><p class="wp-caption-text">Kerumunan penonton menyaksikan pentas kolaborasi Rampak Kendang Pakanjarak dengan seruling Bali. {Foto oleh Subiharto}.</p></div>
<p>Sebuah karya wayang kontemporer dengan nama Wayang Bhineka yang dibawakan oleh dalang Syeh Jumjum (Jumari) dari Kabupaten Sragen, Jateng menjadi puncak acara. Lakon Hantu Hutan dibawakan dengan bahasa campuran antara Bahasa Jawa dengan bahasa nasional, mencairkan suasana. Lakon tersebut mengkritik para pencuri kayu di hutan. Pesan dalam pentas wayang ini adalah menyampaikan pentingnya memelihara hutan, sehingga tidak menimbulkan bencana.</p>
<p><strong>Peduli terhadap alam</strong></p>
<p>Dalam kegiatan ini, juga dilaksakan penanaman pohon sebagai wujud konservasi alam. Subagiyo Hari Utomo, salah satu tokoh masyarakat mengatakan, ”Setiap orang diwajibkan membawa minimal lima pohon. Penanaman tersebut dilakukan di Tuk Salam dan Tuk Tulangan, Merbabu. Ini juga merupakan rangkaian acara Merti Desa, tetapi waktunya berselang agak lama.”</p>
<p>”Prosesi upacara selamatan Merti Desa, ritual Kirab Sesaji Sendhang dan ekspresi seni yang ditampilkan menyimpan nilai-nilai kearifan lokal dan sebagai wujud kepedulian masyarakat terhadap usaha konservasi alam,” ujar Subagiyo, yang juga pimpinan Paguyuban Seni Sawung Gunung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/02/04/mengapresiasi-seni-dan-konservasi-alam-lewat-merti-desa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peduli Cagar Budaya</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/01/25/peduli-cagar-budaya/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/01/25/peduli-cagar-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 06:02:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yodie Hardiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2044</guid>
		<description><![CDATA[Pada 22 Januari 2010, Forum Peduli Benda Cagar Budaya Salatiga yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat menggelar aksi protes menentang pembongkaran bangunan eks Markas Kodim 0714 Salatiga. Aksi ini berakhir di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Salatiga.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada 22 Januari 2010, Forum Peduli Benda Cagar Budaya Salatiga yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat menggelar aksi protes menentang pembongkaran bangunan eks Markas Kodim 0714 Salatiga. Aksi ini berakhir di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Salatiga.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/01/25/peduli-cagar-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tolong, Masa Laluku</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/01/16/tolong-masa-laluku/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/01/16/tolong-masa-laluku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 18:14:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yodie Hardiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2015</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah Anda menemui seorang remaja pemilik masa lalu sangat kelam sampai-sampai identitasnya seperti nama perlu diganti?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://scientiarum.com/wp-content/uploads/2010/01/boy-a.jpg" alt="Boy A" title="Boy A" width="250" height="371" class="alignleft size-full wp-image-2016" />Pernahkah Anda menemui seorang remaja pemilik masa lalu sangat kelam sampai-sampai identitasnya seperti nama perlu diganti? Kalau belum pernah, Anda akan menemukannya di filem <em>Boy A</em>.</p>
<p>Filem ini mengisahkan remaja 24 tahun yang datang ke suatu kota dengan kehidupan, tampang dan nama baru yakni Jack Burried (diperankan Andrew Garfield). Jack dibantu seorang pria, Terry (Peter Mullan), untuk melupakan masa lalu yakni masa sekolah menengahnya dimana ia terlibat kasus pembunuhan. Sekecil itu!</p>
<p>Saat sekolah menengah, Jack bernama Eric Wilson (Alfie Owen). Ia bukan anak pintar bergaul. Kaku, suka gugup. Hidupnya amat sepi. Eric tidak intim dengan orang tua (ibunya pesakitan kanker payudara, ayahnya peminum) apalagi rekan-rekan sekolahan.</p>
<p>Barangkali karena situasi hidup rumit, ia menjadi sesosok pendiam akut. Eric kerap berkelahi (atau lebih tepatnya dihajar, diganggu) oleh anak yang lebih besar serta lebih tua. “Hei, cacat,” ejek para penghajar Eric.</p>
<p>Namun, suatu ketika, ia bertemu seorang anak sebaya yang kemudian jadi sahabat, Philip Craig (Taylor Doherty). Mereka kerap habiskan waktu berduaan. Bersantai di taman atau mencuri makanan di supermarket. Philip mengaku pernah diperkosa (disodomi?) oleh kakaknya. Philip menghajar para penghajar Eric.</p>
<p>Pada suatu hari mereka memancing ikan di pinggir sungai yang lengang. Dapat ikan dan tidak digoreng. Menggunakan kayu berpaku, Philip membantai makhluk air itu di atas tanah lalu dicemplungkan lagi ke sungai. Sutradara filem ini agaknya berhasil membentuk karakter Philip sebagai sesosok anak yang dingin dan klop dengan Eric!</p>
<p>Ke-“dingin”-an itu bukan cuma buat binatang, manusia juga. Philip dicela seorang cewek waktu sedang merusak papan kayu menggunakan cutter di pinggir sungai. “Itu perusakan,” kata si cewek berseragam sekolah yang kebetulan melintas tersebut. “Apa kau tak punya kerjaan lain?”</p>
<p>“Bagaimana dengan yang kau lakukan tadi?” tanya Philip, yang sebelumnya bersama Eric melihat pencelanya berciuman. “Dasar kalian tukang tukang intip!” umpat si cewek lalu mengejek Philip sampah.</p>
<p>Philip tidak suka. Tangan si cewek digores pakai <em>cutter</em> hingga berdarah-darah. Saat si cewek mau lari, Philip menariknya ke bawah jembatan. Eric memegang <em>cutter</em> dan menyusul ke bawah jembatan.</p>
<p>Dalam beberapa bagian, filem yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Jonathan Trigell ini sukses “menceritakan” kejadian tanpa harus memperlihatkan kejadian. Misal, adegan pembunuhan tidak diberi lihat, namun penonton, mau tidak mau, sanggup menyimpulkan bahwa si cewek dibunuh karena sebelumnya sudah ada adegan persidangan terhadap Eric dan Philip, yang diidentifikasi di pengadilan sebagai “Boy A” dan “Boy B”.</p>
<p>Penyajian filem ini mengingatkan, sedikitnya, mirip <em>Slumdog Millionaire</em> (2008) atau <em>The Prestige</em> (2006) melalui potongan-potongan kisah masa lalu yang dikenang dan terkenang. Anda tidak akan menemui jalan cerita runtut sejak masa kecil hingga remaja, namun “waktu” saling berselang-seling menimpali.</p>
<p>Di kehidupan baru atau “kesempatan kedua” dalam kehidupannya, Jack kerja di sebuah perusahaan dan mendapat teman-teman baru yang tidak punya informasi gamblang tentang rekam jejak Jack. Chris (Shaun Evans), salah satunya. Awalnya semua berjalan normal tidak ada masalah. Jack-Chris akrab. Mirip hubungan Eric-Philip, meski Chris bukan sesosok manusia seperti Philip.</p>
<p>Mereka <em>hang out</em> bareng di diskotek, <em>having fun</em> bergoyang dan minum. Jack juga bantu menghajar pemukul Chris di suatu malam karena perkara cewek.</p>
<p>Hidup baru Jack indah karena masa lalunya yang suram tidak diketahui. Jack dan Chris bahkan terlibat penyelamatan seorang gadis kecil dalam suatu kecelakaan lalu lintas. Jack masuk koran dan dielu-elukan sebagai pahlawan.</p>
<p>Eric memang pernah membunuh, tapi sudah bertanggungjawab dengan dipenjara!</p>
<p>Namun ada yang tak suka. Jack sempat diberi tahu Terry ada pengumuman mengenai pencarian keberadaannya di Internet dan berhadiah 20 ribu dolar oleh mereka, para pembenci perbuatan Jack (eh, Eric!).</p>
<p>Jack sempat berpacaran dengan Michelle (Katie Lyons), rekan kerja satu kantor. Mereka tampak bahagia. Michelle yang perhatian adalah pacar pertama dalam hidup Jack. Hingga akhirnya Michelle menghilang! Jack dituduh terlibat hilangnya Michelle, karena informasi tentang masa lalu Jack sebagai pembunuh tersebar! Karenanya, Chris enggan bantu dan malah menyudutkan. Jack dipecat dari pekerjaan. Padahal Jack tak tahu apa-apa!</p>
<p>Remaja itu lari. Menyingkir. Akibat masa lalu, hari-harinya kemudian patah. “Kesempatan kedua” seperti tidak ada arti lagi. Akhir filem ini mendorong penonton menebak: Jack memilih mati atau hidup?</p>
<p>Suatu perjalanan di lorong kehidupan baru: cinta, kehangatan, jalinan kasih yang sudah ditemukan sewaktu-waktu dapat terusik karena masa lalu diributkan. Filem ini membuka ruang perenungan tentang sebab-akibat masa lalu, identitas dan kekalutan makhluk sosial dalam masyarakat.</p>
<p>Bagi Anda pemilik beban berat masa lalu, barangkali setelah menonton filem ini akan bersandar di kursi, tembok atau dipan sambil menghela nafas panjang. Sekaligus bertanya: perlukah masa lalu kelam dijawab dengan mengakhiri hidup hari ini?</p>
<blockquote><p>Judul: Boy A<br />
Sutradara: John Crowley<br />
Pemain: Andrew Garfield, Peter Mullan, Shaun Evans, Katie Lyons, Alfie Owen<br />
Durasi: 100 menit<br />
Rilis: 26 November 2007, Inggris</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/01/16/tolong-masa-laluku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perusakan Bangunan Cagar Budaya</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/01/15/perusakan-bangunan-cagar-budaya/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/01/15/perusakan-bangunan-cagar-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 13:15:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yodie Hardiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2010</guid>
		<description><![CDATA[Kondisi bangunan eks Markas Kodim 0714 di Jalan Diponegoro, Salatiga, pada 15 Januari 2010. Rencananya di lokasi ini akan dibangun pusat perbelanjaan. Menurut Eddy Supangkat, penulis buku <em>Salatiga: Sketsa Kota Lama</em>, bangunan ini adalah sebuah hotel bernama Blommestein pada tahun 1910.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kondisi bangunan eks Markas Kodim 0714 di Jalan Diponegoro, Salatiga, pada 15 Januari 2010. Rencananya di lokasi ini akan dibangun pusat perbelanjaan. Menurut Eddy Supangkat, penulis buku <em>Salatiga: Sketsa Kota Lama</em>, bangunan ini adalah sebuah hotel bernama Blommestein pada tahun 1910.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/01/15/perusakan-bangunan-cagar-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kindam</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/01/15/kindam/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/01/15/kindam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 11:41:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2004</guid>
		<description><![CDATA[Tak lama setelah menyandang status mahasiswa baru di Fakultas Ekonomi UKSW, saya terlibat sebuah rerasan sore dengan beberapa mbakyu angkatan. Mereka semua setahun lebih tua dari saya, dan begitu gayeng membahas gosip-gosip seputar perkuliahan. Saya, karena belum punya banyak pengalaman kuliah, lebih banyak diam mendengar, atau bertanya.
Entah bagaimana (dan kenapa) topik obrolan sempat menyinggung matakuliah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak lama setelah menyandang status mahasiswa baru di Fakultas Ekonomi UKSW, saya terlibat sebuah rerasan sore dengan beberapa mbakyu angkatan. Mereka semua setahun lebih tua dari saya, dan begitu gayeng membahas gosip-gosip seputar perkuliahan. Saya, karena belum punya banyak pengalaman kuliah, lebih banyak diam mendengar, atau bertanya.</p>
<p>Entah bagaimana (dan kenapa) topik obrolan sempat menyinggung matakuliah Makroekonomi ampuan Konta Intan Damanik. Rasanya waktu itu salah satu dari mereka memang sedang mengambil matakuliah tersebut. Saya sudah lupa cerita tentang matakuliah itu, tapi saya masih ingat apa kata mereka soal dosen pengampunya: <i>super duper killer</i>. Menurut mereka, diajar oleh Konta adalah pengalaman yang harus dimiliki setiap mahasiswa FE. “Buat ngelatih mental,” kata salah seorang dari mereka. Dan yang lain mengiyakan. Itu bulan September 2006.</p>
<p>Ketika semester dua datang, saya tahu bahwa matakuliah Makroekonomi ampuan Konta dibuka. Tanpa pikir panjang, saya mendaftarkan diri sebagai peserta matakuliah tersebut. “Siap-siap aja, Sat,” kata salah satu mbakyu sambil cengengesan, tatkala tahu saya mendaftar di kelas Konta.</p>
<p>Ah, siapa takut?</p>
<p>Konta lebih suka dipanggil dengan inisial KID ketimbang “Bu Konta”. Ia selalu masuk kelas tepat waktu, dan hampir tak pernah menoleransi keterlambatan. Dia akan mengusir mahasiswa yang datang setelah doa pembukaan mulai ia panjatkan. Dia juga akan mendepak keluar mahasiswa yang ketahuan mengenakan sandal. Saya agak lupa, tapi rasanya salah satu peserta kelas itu pun pernah dikeluarkan karena tak sanggup menjawab pertanyaan.</p>
<p>Mungkin karena memang sudah tua, dan merasa diri sebagai salah satu tokoh paling senior di FE, KID sering menuturi mahasiswanya dengan wejangan-wejangan. Mulai dari soal pertanggungjawaban mahasiswa terhadap orangtua yang membayari uang kuliah, soal seberapa layak kami menggaji pembantu di rumah &#8230; hingga soal kemampuan berbahasa Inggris.</p>
<p>Memang, seluruh bahan kuliah Makroekonomi kami ditulis dalam bahasa Inggris. Bagi KID, kemampuan berbahasa Inggris adalah wajib bagi para mahasiswa dahulu, sekarang, dan sampai selamanya. Pernah suatu kali ia bercerita. Tatkala baru saja bergabung dengan Satya Wacana pada akhir dekade 70-an, ia langsung diutus Sutarno, rektor waktu itu, untuk mewakili UKSW menghadiri sebuah upacara di salah satu negara di Eropa &#8212; saya lupa negara mana. Padahal waktu itu, kenang KID, kartu identitas pegawai UKSW untuknya belum selesai dibuat. Itu semua karena saya bisa berbahasa Inggris, katanya. Dari kabin pesawat, KID melihat keindahan pegunungan Alpen menjelang senja.</p>
<p>“Sejak saat itu, saya sudah berkeliling ke lebih dari empat puluh negara atas nama Satya Wacana.”</p>
<p>Kadang standar KID terasa begitu tinggi, sehingga kami hampir mustahil menjangkaunya. KID menuntut kami agar membaca koran Kompas setiap hari. Tetapi dasar malas, <i>handout</i> saja belum tentu kami baca. Apalagi buku teks. Apalagi koran. Ujung-ujungnya, kami akan kesulitan mengikuti kuliah, dan membuat KID murka. Kalau sudah begitu, dia akan memaki-maki kami sambil mengulang-ulang sejumlah kisah masa lalu; bahwa dulu mahasiswa FE UKSW begini dan begitu, bisa ini bisa itu, rajin baca buku, dan sebagainya.</p>
<p>Ya, saya tahu KID pernah mengecup wajah akademik UKSW masa lalu yang mengkilat. Akan tetapi, bukankah masa kini bukan masa lalu? Bisakah kita memperbaiki masa kini dengan memakinya atas nama masa lalu?</p>
<p>Di sisi lain, saya jatuh iba setiap kali menyaksikan kemarahan KID. Bukan apa-apa, saya memang selalu kuatir jika melihat seorang lansia meledak-ledak membuang tenaga. Apalagi KID berkata bahwa pengabdian pascapensiunnya di FE bukanlah semata-mata atas dasar keinginannya. KID tidak butuh FE, tapi FE yang butuh KID. Begitu kira-kira tuturnya. Dia berkoar tentang gaji dolar, yang didapatnya dari menjual jasa konsultasi kepada lembaga-lembaga keuangan internasional ternama. Dia adalah dosen berpendidikan strata satu yang mendapat penghargaan keprofesoran dari salah satu universitas tertua di Asia. Itulah sebagian kisah heroisme intelektual yang pernah dipaparkannya. Maka pada saat itu juga, persenyawaan aneh antara rasa iba dan kagum mendorong saya untuk sebaik mungkin mengikuti kuliahnya, hingga akhirnya ia menorehkan nilai C di transkrip nilai saya.</p>
<p>Rasanya perlu diakui sekali lagi di sini, bahwa Konta Intan Damanik pernah menjadi sosok perempuan inspiratif dalam kehidupan akademik saya. Saya memahlawankan dia. Karena itulah, tatkala hidup saya sempat terlunta-lunta di Salatiga, saya pergi menemuinya. Saya mendengar bahwa KID biasanya terlibat dalam proyek-proyek penelitian. Maka hari itu saya memohon untuk diberi pekerjaan agar bisa mendapat sedikit uang. Setelah menyodorkan segelas air untuk saya, dia meminta maaf, lalu dengan sopan mengatakan bahwa ia tak bisa membantu apa-apa. Tak ada proyek apapun, katanya.</p>
<p>Saya agak kecewa. Tapi pengalaman tersebut menyempatkan saya untuk melihat karakter lain dari dosen <i>super duper killer</i> ini. Ada kemampuan interpersonal yang hangat pada dirinya.</p>
<p>Ketika sudah punya uang untuk membeli matakuliah lagi, saya mendaftar di kelas KID yang lain: Ekonomi Internasional. Beberapa kakak angkatan mengatakan, kelas-kelas kuliah KID di tingkat lanjut sudah tidak sehoror di tingkat dasar. Tetapi sial, semester itu kami kuliah bersama beberapa mahasiswa dari Jerman. KID pun mengeras. Lebih keras daripada Makroekonomi semester sebelumnya. Standar-standarnya meninggi, meninggalkan jangkauan kami di bawah. Dan sewaktu kami tak memenuhi ekspektasinya, dia memarahi kami habis-habisan, di depan orang-orang Jerman itu.</p>
<p>Performa buruk kami di kelas mungkin memang terlihat memalukan di hadapan para tamu Jerman, tetapi kemarahan KID saya lihat tak pernah membawa perubahan signifikan. Ia tak pernah menaikkan harga diri kami dengan apresiasi positif. Ia bahkan tak pernah membantu memperbaiki rancahan argumen-argumen kami. Hampir semuanya dibanting dengan sempurna. KID, tampaknya, sudah begitu yakin dengan caranya mengajar. Dengan bangga, ia bercerita tentang bagaimana seorang bekas mahasiswanya pada tahun 80-an datang ke kantornya suatu hari. Orang ini baru saja menamatkan studi doktoral di luar negeri dan mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya pada KID karena telah mengajarnya dengan keras.</p>
<p>“Kalau bukan karena Ibu, saya tidak akan jadi seperti sekarang,” kata KID menirukan orang tersebut.</p>
<p>Pada akhirnya, saya tak pernah menuntaskan matakuliah Ekonomi Internasional itu. Saya keluar kuliah pada pertengahan semester dan memutuskan untuk mendidik diri dengan cara saya sendiri. Perjumpaan kami yang terakhir terjadi sekitar setahun yang lalu di Yogyakarta. Sore itu saya melihat KID sedang memilih batik di Malioboro. Kami hanya bertukar sapa sebentar, kemudian saling berlalu pergi. Di sana KID berjalan sendiri, sama seperti ketika ia dikebumikan hari ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/01/15/kindam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Rektor Berujung Gugatan</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/01/02/surat-rektor-berujung-gugatan/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/01/02/surat-rektor-berujung-gugatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 00:39:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yodie Hardiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Rektor]]></category>
		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=1985</guid>
		<description><![CDATA[Pak Aloy, sapaan akrab Aloysius L. Soesilo, 53 tahun. Berkacamata dan ramah. Ia mengajar mata kuliah Psikologi Konseling, Konseling &#38; Psikoterapi dan Terapi Kelompok. Pada semester pengayaan tahun akademik 2008/2009 dan semester ganjil 2009/2010 nama Aloy sekaligus nama matakuliah, jumlah SKS, jumlah kelas dan jumlah mahasiswa yang jadi tanggung jawabnya tidak tercantum di surat keputusan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Aloy, sapaan akrab Aloysius L. Soesilo, 53 tahun. Berkacamata dan ramah. Ia mengajar mata kuliah Psikologi Konseling, Konseling &amp; Psikoterapi dan Terapi Kelompok. Pada semester pengayaan tahun akademik 2008/2009 dan semester ganjil 2009/2010 nama Aloy sekaligus nama matakuliah, jumlah SKS, jumlah kelas dan jumlah mahasiswa yang jadi tanggung jawabnya tidak tercantum di surat keputusan rektor (SK) tentang tugas mengampu mata kuliah.</p>
<p>“Nama saya di<em>delete</em> semuanya,” kata Aloy. “Rektor mengeluarkan SK yang tidak mengakui mata kuliah-mata kuliah yang saya ajar.” Dosen kelahiran 29 Oktober 1956 di Kediri ini memaksud Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga yang saat itu dijabat Prof Kris Herawan Timotius.</p>
<p>Dekan Fakultas Psikologi (FPsi) Bertha Esti AP lantas menyurat Wakil Rektor (WR) I Prof Daniel Kameo. Memohon untuk diterbitkan SK susulan untuk mengampu mata kuliah bagi Aloy. Padahal semester sebelumnya, genap 2008/2009 ada nama Aloy sebagai dosen tetap di SK sejenis.</p>
<p>Sepulang dari Amerika Serikat untuk kembali mengajar di Satya Wacana, Aloy ditemui sebongkah rintangan. Hingga akhirnya Aloy menggugat Rektor UKSW di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang. Lantaran status kepegawaian. Dosen tetap kok diubah jadi dosen kontrak.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Desember 2008. Aloy masih di Amerika Serikat. Di negeri Om Sam ia studi di California Institute of Integral Studies, San Fransisco. Ia memberitahu Kepala Program Studi Magister Sains Psikologi UKSW Dr Sutarto Wijono kalau akan kembali ke kampus. Sutarto beritahu rektor Kris.</p>
<p>“Rektor memberi tahu kepada Pak Tarto supaya saya membuat surat permohonan penempatan kembali di Fakultas Psikologi,” kata Aloy.</p>
<p>Aloy tiba di Salatiga awal Januari 2009. Cepat, surat permintaan Kris dibikin 12 Januari. Diserahkan ke Kris sekaligus Dekan FPsi. Empat hari kemudian, Aloy bersama Sutarto bertemu Kris lagi. Ditanyakan, apakah surat pengusulan penempatan kembali Aloy di FPsi sudah ditulis? “Itu suratnya ada pada mbak Mia,” kata Kris ketika dihadap. Mia sekretaris rektor.</p>
<p>Surat yang katanya “ada pada mbak Mia” tak kunjung lahirkan kabar. Aloy dan Sutarto bersua Kris lagi 18 Januari. Sekalian tanya-tanya surat. Diperoleh jawaban beda: surat ada di WR I. Hari itu Aloy cari. Yang bersangkutan tidak di tempat.</p>
<p>Empat bulan berselang. 26 Mei Aloy menerima sepucuk surat rektor beracuan 158/Rek./5/2009. Ibarat menyiram jerami terbakar dengan bensin. Karena isinya: menerima Aloy sebagai dosen kontrak per 1 Februari 2009. Dosen kontrak?</p>
<p>”Padahal saya bukan pelamar baru,” kata Aloy.</p>
<p>Berdasarkan SK 280/UP/T.Ed./II/1988 yang ditandatangani rektor Willi Toisuta Ph.D, Aloy sudah diangkat menjadi pegawai edukatif tetap sejak 1988. Pun, Maret 2009 rektor menerbitkan SK tentang Tugas Mengampu Mata Kuliah Fakultas Psikologi nomor 015/Pengam.MK/Rek./1/III/2009. Di situ nama Aloy tercantum sebagai dosen tetap pada semester genap 2008/2009.</p>
<p>Surat 158/Rek./5/2009 bertindasan seluruh WR, Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana dan dekan Fakultas Psikologi dikirim ke rumah, bukan ke kantor fakultas. Gedung rektorat dan Fakultas Psikologi berjarak kira-kira dua kali lemparan batu. Lho?</p>
<p>”Menurut saya itu teknis,” kata kuasa hukum Rektor UKSW dari Unit Pelayanan Bantuan Hukum (UPBH) Fakultas Hukum UKSW Tyas Tri Arsoyo SH, ”tapi saya justru bisa memahami ini. Karena kan statusnya dia nggak jelas. Dia bukan dosen tetap di sini. Betul alamat rumah, dia kan ada di luar UKSW.”</p>
<p>Kris mengaku tidak pernah mengirim atau memerintah pengiriman surat itu ke rumah Aloy. ”Menurut saya kok ndak perlu dipermasalahkan,” ujar Kris.</p>
<p>Api terlanjur besar. Masalah ini lantas Aloy bawa ke PTUN Agustus 2009. Aloy menggugat Rektor UKSW dengan obyek gugatan surat rektor 158/Rek.5/2009. Jarang warga kampus tahu kasus ini, katakanlah, ketimbang isu makro ”Cicak versus Buaya”. Aloy memang tidak woro-woro karena ingin menjaga nama baik UKSW. Seiring waktu melangkah, ia didorong dan dapat dukungan rekan-rekannya untuk bersedia beberkan pelik ini ke media.</p>
<p>Tyas mengatasnamakan tim kuasa hukum rektor (yaitu Kustadi, M. Haryanto, Arie Siswanto semua dari UPBH) mengatakan obyek gugatan Aloy tidak memenuhi syarat obyek gugatan. ”Surat 158 itu merupakan surat biasa. Baik secara format, bentuk formatnya, maupun secara substansi,” ucapnya.</p>
<p>Format surat rektor tersebut memang berbeda dengan format SK. Substansinya, tambah Tyas, sebenarnya merupakan tanggapan dari surat Aloy 12 Januari. ”Surat seperti ini tidak bisa memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam pasal 53 ayat 1 Undang-undang nomor 09 tahun 2004 juncto. pasal 1 angka 3 Undang-Undang nomor 5 tahun 1986.”</p>
<p>Itu terserah anggapan kuasa hukum, kata Aloy.</p>
<p>Menurut Tyas, surat (yang berbunyi ”&#8230; memutuskan menerima Saudara sebagai Dosen Kontrak&#8230;”) meminta agar Aloy menanggapi: setuju atau tidak jadi dosen kontrak. Kalau setuju, akan diteruskan ke Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana. ”Karena yang punya kewenangan untuk mengangkat pegawai itu YPTKSW,” kata Tyas. ”Sehingga rektor ndak punya kewenangan. Itu dasarnya kenapa kemudian itu surat biasa.”</p>
<p>Dalam sidang PTUN, kata Aloy, ia mempertanyakan apakah yayasan bisa membuat keputusan tanpa surat rektor? Tidak bisa, timpal Aloy, surat rektor itu satu mata rantai dari keputusan yang akhirnya dibuat.</p>
<p>”Surat biasa pun bisa menjadi problem hukum,” kata Aloy.</p>
<p>Aloy melalui kuasa hukum Yafet Y.W. Rissy sudah menanggapi surat tersebut. Tapi bukan setuju tidak dosen kontrak. Isi surat tanggapan bernomor 03/TGP/A/VI/2009 mempertanyakan atas dasar apa keputusan (pengangkatan dosen kontrak) ini dibuat? Mengacu ketentuan atau peraturan apa? Atas dasar ketentuan apa diterima per 1 Februari 2009 sedangkan Aloy mengajar mulai 19 Januari 2009? Rektorat tidak menanggapi balik.</p>
<p>Lalu, kenapa surat rektor tersebut baru dikirim 26 Mei? ”Kalau saya tidak melihat itu persoalan, karena apapun surat tanggapan, ini kapanpun bisa diterbitkan. Tetapi sebenarnya lebih cepat lebih baik,” kata Tyas.</p>
<p>Tyas mengakui bahwa tanggapan buat surat permohonan penempatan kembali 12 Januari yang dibikin Aloy baru ”dibalas” 26 Mei memang waktu cukup lama. Kalau bisa ditetapkan dalam rentang waktu Januari menurut Tyas lebih baik. ”Tetapi mungkin juga bagi pihak Satya Wacana belum cukup waktu (Januari) itu. Karena perlu mengadakan rapat-rapat.”</p>
<p>Keterangan Kris setali tiga uang. Ujarnya, selang waktu yang lama tersebut karena sulitnya membuat keputusan. ”Tidak mudah bagi lembaga untuk memutuskan. Karena mau diterima dasar hukumnya tidak kuat, ditolak juga dasar hukumnya tidak kuat,” kata Kris. Apalagi, kata Kris, kasus macam ini baru pertama kali terjadi di Satya Wacana. Seorang dosen tetap yang bertahun-tahun di luar negeri tiba-tiba kembali ke kampus.</p>
<p>Bagi Aloy, lamanya keluar surat ini merupakan masalah. Ia mengajar namun tidak digaji.</p>
<p>Rentang 12 Januari-26 Mei, berlangsung diskusi alot. Rektorat menawarkan Aloy dosen kontrak. Kata Kris, dua hal perlu diperhatikan. ”Yang pertama, bagaimana kami bisa mendapatkan bukti-bukti itu. Yang bisa dipakai sebagai landasan,” terang Kris, bukti tertulis maupun tidak tertulis (mengenai studi Aloy di luar negeri). ”Yang kedua memang kami mencoba negoisasi, kalau bisa kontrak dulu.”</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Harian <em>Suara Merdeka</em> memberitakan kasus ini 2 Desember 2009. Judulnya ”Dosen Psikologi Gugat Mantan Rektor UKSW”. Menurut Tyas ada kekeliruan dari pemberitaan tersebut, meski <em>debateable</em>.</p>
<p>”Karena masih ada dua versi. Versinya Pak Aloy, dia menganggap dosen psikologi, tapi versi kami itu dia mantan dosen. Lalu yang kedua, mantan rektor. Karena sebenarnya yang digugat itu jabatan dan pejabat, sehingga tidak ada kata mantan. (Tapi) Rektor UKSW. Mengenai apakah kemudian Pak Kris Timotius diganti Pak John Titaley itu individunya, personnya. Tapi yang tetap digugat Rektor UKSW.”</p>
<p>Aloy mantan dosen?</p>
<p>”Yang harus menjadi catatan, pada tahun 1995 itu masa studi habis. Selebihnya, tidak ada tugas belajar apapun. Di sini terjadi distorsi komunikasi, menurut saya,” tambah Tyas yang mengganggap Aloy, berdasarkan ketentuan studi lanjut, mengundurkan diri dari UKSW.</p>
<p>Silam, tahun 1991. Aloy studi lanjut untuk meraih gelar Doctor of Philosophy di Fuller Theological Seminary dengan beasiswa dari UKSW. Aloy mengaku, masa studi di Fuller adalah enam tahun. Bukan tiga tahun seperti yang tertulis dalam SK No.098/Kep./Rek/1991. ”Bisa diperpanjang,” kata Willi rektor saat itu, ditirukan Aloy.</p>
<p>Setahun sebelum masa studi habis, Aloy bersurat kepada rektor baru John Ihalauw dan Pembantu Rektor I Suwandi untuk mengingatkan masa studi. “Saya mengirim dokumen resmi dari Fuller, dari Amerika, bahwa kurikulumnya itu enam tahun,” kata Aloy, mengenang 1994.</p>
<p>Tahun 1995 badai besar melanda Satya Wacana. Gara-gara pemilihan rektor yang dinilai tidak demokratis. Dosen kenamaan Arief Budiman dipecat. Kampus geger. Dampaknya, keuangan kampus jelek. Beasiswa Aloy diputus. Gaji di<em>stop</em>.</p>
<p>Dalam buku <em>Kemelut UKSW</em> karangan Budi Kurniawan yang belum sempat terbit cetak, karena konflik ini tercatat ada pihak luar negeri yang prihatin dengan keadaan UKSW dan pemberi bantuan menghentikan bantuannya (lihat Bab 18, hal.15).</p>
<p>Menilik hal itu, berdasarkan keterangan Aloy, terjadi tawar menawar dengan rektorat: bagaimana kelanjutan pembiayaan studi? Ternyata, rektorat tak mampu membiayai. Keputusan final, Aloy membiayai sendiri studi sambil bekerja.</p>
<p>Tahun 1996 Aloy merencanakan pindah tempat studi. Kata Tyas, Aloy bersurat ke Pembantu Rektor I saat itu Suwandi dan dibalas. ”Yang pada prinsipnya isi surat itu memberikan kesempatan pilihan kepada Pak Aloysius. Mau tetap di Fuller atau di San Fransisco. Tapi tetap mempertimbangkan kepentingan fakultas dan universitas. Kemudian juga memberi kewajiban bagi Pak Aloysius untuk memberi tahu ke pihak rektorat pindah atau tidak.”</p>
<p>Lanjut Tyas, setelah itu tidak ada laporan secara tertulis dari Aloy ke rektorat, tapi malah ke fakultas. Aloy dianggap mengundurkan diri. Aloy sendiri mengaku melapor secara lisan ke pimpinan universitas maupun pimpinan unit (fakultas). ”Jadi substansi melapor selalu dipenuhi,” tulis Aloy, di suatu keterangan. Akunya, ia tetap melapor meski studi dengan dana pribadi dan UKSW sedang tidak menggajinya.</p>
<p>Aloy pindah studi ke San Fransisco tahun 1998 karena kesulitan dana. Dan baru tahun 2009 mengajar di Satya Wacana lagi.</p>
<p>Kok lama banget?</p>
<p>Kata Aloy, ia sebenarnya mematok waktu rampung tahun 2004. Namun, tahun 2002 ia ganti topik disertasi. Sebabnya terbentur persoalan pengumpulan data di daerah yang pernah “panas” seperti Ambon, Sambas, Probolinggo, Poso. ”Saya sempat frustasi,” ujarnya. Disertasi hendak diselesaikan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.</p>
<p>Selama studi lanjut dan berada di luar negeri hubungannya dengan UKSW tidak terputus. Nama Aloy tercantum sebagai tenaga pengajar saat pendirian FPsi UKSW tahun 1999. ”Dia memenuhi syarat sebagai tenaga tetap,” kata Sutarto ketika ditanya mengapa mencantumkan. Sutarto satuan tugas pendirian FPsi tahun 1999 dan tidak pernah tahu apa ada surat pemutusan hubungan kerja atau pencabutan SK buat Aloy. Yang memang belum pernah ada!</p>
<p>Situs web asuhan rektorat (www.uksw.edu) 7 Mei 2007 sempat memberitakan Aloy saat menjadi pembicara seminar nasional garapan Program Pascasarjana Magister Sains Psikologi bertajuk ”Posttraumatic Stress Discorder” di Ruang Probowinoto UKSW 4 Mei 2007.</p>
<p>Pada 12 Juni 2009, keluar surat rektor dengan acuan 188/Rek./6/2009 yang berisi persetujuan membayar Aloy bukan sebagai dosen tetap, bukan pula dosen kontrak. Tapi dosen tamu! Aloy yang sudah mengajar sejak Januari, baru ”ditawari” gaji pada Juni.</p>
<p>”Saya tidak mau mengambil. Oleh karena kalau saya mengambil itu nanti mereka pakai sebagai alasan persetujuan saya atas status dosen tamu,” tandasnya.</p>
<p>Sebelum ke PTUN, Aloy bawa masalah ini ke Dinas Sosial Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Salatiga. ”Karena ini persoalan perburuhan,” kata Aloy. Setelah berproses, terbitlah tiga poin anjuran Disnakertrans 9 September 2009 yang ditujukan buat Ketua YPTKSW dan Aloy.</p>
<p>Poin pertama dan kedua anjuran buat pimpinan UKSW: menerima kembali Aloy sebagai tenaga tetap di UKSW dengan jabatan dosen tetap dan segera membayar hak-hak Aloy yang belum dibayarkan. Poin ketiga, kedua belah pihak memberikan jawaban atas anjuran ini selambat-lambatnya 10 hari setelah menerima anjuran.<br />
”Menerima,” jawabnya, tersenyum.</p>
<p>”Prinsipnya menawarkan ke Aloy sebagai dosen kontrak karena tidak memenuhi syarat lagi,” pesan singkat Tyas, mengenai jawaban pihak pengusaha (YPTKSW).</p>
<p>Bagi Aloy, gaji bukan persoalan utama. Tapi kejelasan status yang tidak rektor selesaikan. Kenapa status dosen tetap disulap jadi dosen kontrak?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kamis, 11 Desember 2009. Semarang memang kota panas. Suasana PTUN Semarang Jalan Abdul Rahman Saleh dipenuhi suara bervolume besar dari ruang sidang. Sedikit orang duduk di kursi kayu panjang di luar ruang. Aloy keluar ruang sidang. Senyum sejuk mengembang. Aloy menang.</p>
<p>“Keseluruhan gugatan diterima,” kata Aloy sumringah. ”Eksepsi ditolak.”</p>
<p>Ujarnya, tergugat (Rektor UKSW) harus merehabilitasi status Aloy kembali ke dosen tetap. Surat rektor 158 harus dicabut. Gaji bulan Januari-Desember 2009 harus dibayarkan.</p>
<p>”Kami belum bisa menentukan menerima atau tidak, kami pikir-pikir,” kata Tyas yang sedang duduk di kursi panjang luar ruang sidang. ”Kami masih punya tenggang waktu empat belas hari untuk itu, mau menyatakan banding atau tidak.”</p>
<p>Tim kuasa hukum Rektor UKSW akan berdiskusi dulu dengan rektor yang sekarang dijabat Prof John Titaley.</p>
<p>Ya, Rektor UKSW memang ganti November 2009. Yang digugat memang jabatan, bukan orangnya. Tapi rektor dijabat orang. Dan perkara ini lahir dari surat bikinan Kris. ”Ndak usah lah diperpanjang. Kalau bisa diselesaikan secara baik-baik, kita selesaikan baik-baik,” kata Kris menanggapi hasil sidang PTUN.</p>
<p>Apa pun itu, Aloy kini mungkin tenang. Ia bisa mengabdi secara nyaman kepada Satya Wacana setelah rintangan ini terlewati. Bahkan ketika lampu-lampu lantai dua gedung Psikologi sudah mati, lampu ruangannya masih hidup untuk melayani konseling&#8230;.</p>
<p>”Saya belajar apa sesungguhnya manusia rohani dan manusia intelektual,” pesan Aloy, buat Kris.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/01/02/surat-rektor-berujung-gugatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramah Tamah PR III</title>
		<link>http://scientiarum.com/2009/12/14/ramah-tamah-pr-iii/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2009/12/14/ramah-tamah-pr-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 05:05:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Filipus Septian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Lem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=1963</guid>
		<description><![CDATA[Ramah tamah Pembantu Rekor III baru Yafet Yosafat Wilben Rissy, SH. MSi, LLM kepada Lembaga Kemahasiswaan tingkat universitas maupun fakultas di Gedung E123, Jumat (11/12). Yafet memaparkan misi, strategi dan target PR III 2009-2014, acara ini dibuka dengan sambutan Rektor Prof. Dr. John A. Titaley.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ramah tamah Pembantu Rekor III baru Yafet Yosafat Wilben Rissy, SH. MSi, LLM kepada Lembaga Kemahasiswaan tingkat universitas maupun fakultas di Gedung E123, Jumat (11/12). Yafet memaparkan misi, strategi dan target PR III 2009-2014, acara ini dibuka dengan sambutan Rektor Prof. Dr. John A. Titaley.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2009/12/14/ramah-tamah-pr-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aksi Gerak Salatiga Turun ke Jalan</title>
		<link>http://scientiarum.com/2009/12/13/aksi-gerak-salatiga-turun-ke-jalan/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2009/12/13/aksi-gerak-salatiga-turun-ke-jalan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 23:33:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dhimas Bayu Wicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Salatiga & Sekitarnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=1949</guid>
		<description><![CDATA[Bertepatan dengan hari Anti Korupsi Sedunia, Gerakan Anti Korupsi (Gerak) Salatiga melakukan aksi turun ke jalan menuntut kasus Bank Century pada Rabu, 9 Desember 2009. Aksi yang dimulai pukul 11.00 dan diikuti massa sekitar 50 orang tersebut melakukan orasi di Bundaran Taman Sari Salatiga menuju kantor DPRD Kota Salatiga dengan kawalan polisi.
Selain itu dalam pers [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1955" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img src="http://scientiarum.com/wp-content/uploads/2009/12/Demo-Gerak-1-1024x768.jpg" alt="Gerak di depan pintu gerbang kantor DPRD Salatiga. {Foto oleh Dhimas Bayu Wicaksono}" title="Demo Gerak 1" width="500" class="size-large wp-image-1955" /><p class="wp-caption-text">Gerak di depan pintu gerbang kantor DPRD Salatiga. {Foto oleh Dhimas Bayu Wicaksono}</p></div>
<p>Bertepatan dengan hari Anti Korupsi Sedunia, Gerakan Anti Korupsi (Gerak) Salatiga melakukan aksi turun ke jalan menuntut kasus Bank Century pada Rabu, 9 Desember 2009. Aksi yang dimulai pukul 11.00 dan diikuti massa sekitar 50 orang tersebut melakukan orasi di Bundaran Taman Sari Salatiga menuju kantor DPRD Kota Salatiga dengan kawalan polisi.</p>
<p>Selain itu dalam pers release disebutkan bahwa Gerak Salatiga juga menuntut adanya pengusutan kasus buku ajar Balai Pustaka dan kasus korupsi lainnya di Salatiga, serta bersihkan Salatiga dari pungli (pungutan liar).</p>
<p>Gerak Salatiga merupakan gabungan enam kelompok masyarakat yang terdiri atas Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Badan Perwakilan Mahasiswa (BPMU) UKSW, Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT), Kesatuan Mahasiswa Muslim Indonesia (KMMI), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), dan Kesaktian Peduli Generasi (KPG).</p>
<p>Syaloom Pesaul selaku koordinator lapangan aksi ini menyerukan, “Menuntut pemerintah supaya mengusut tuntas segera kasus bank Century, yang melibatkan pejabat tinggi negara Wapres Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.”</p>
<p>Syaloom menambahkan, “Harapanku, teman-teman UKSW itu lebih tanggap untuk menyikapi kasus-kasus seperti ini, bahwa mahasiswa juga harus turun ke jalan, jangan cuma berani di depan buku saja untuk menyuarakan kepentingan bersama.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau aksi ini tetap jalan, aksi ini kita gulirkan seperti peristiwa 98,&#8221; jelasnya. Ia juga berharap mahasiswa berada di depan untuk memimpin gerakan ini. Supaya rakyat yang hari ini tidak lagi percaya kepada mahasiswa bisa kembali percaya kepada kita lagi, bahwa kita lah garda terdepan dalam perubahan.</p>
<p>Andi Nata Ginting, mahasiswa Program Pasca Sarjana Progdi Manajemen Pendidikan UKSW yang juga ikut dalam aksi ini turut mengatakan, &#8220;Berharap supaya dengan momen ini, kita mengingatkan kembali kepada seluruh elemen bangsa untuk bisa mengubah pandangan dunia yang seperti sekarang ini terjadi, dengan memangkas generasi yang sudah membudaya dengan korupsi. Tapi kita sebagai generasi muda harus ditanamkan dengan pendidikan-pendidikan yang memang tidak larut di dalam korupsi.&#8221;</p>
<p>Ia juga mengharapkan agar aksi ini ditanggapi oleh pemerintah, meskipun hanya beberapa. Dan juga, meminta pemerintah untuk berupaya menambahkan pendidikan anti korupsi dalam pendidikan formal melalui muatan lokal atau pendidikan non-formal.</p>
<div id="attachment_1957" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img src="http://scientiarum.com/wp-content/uploads/2009/12/Demo-Gerak-2-1024x768.jpg" alt="Gerak meminta untuk diperkenankan masuk halaman kantor DPRD Salatiga. {Foto oleh Dhimas Bayu Wicaksono}" title="Demo Gerak 2" width="500" class="size-large wp-image-1957" /><p class="wp-caption-text">Gerak meminta untuk diperkenankan masuk halaman kantor DPRD Salatiga. {Foto oleh Dhimas Bayu Wicaksono}</p></div>
<p>Massa sempat tidak diperbolehkan masuk ke halaman depan kantor DPRD Kota Salatiga dikarenakan adanya rapat anggota DPRD yang sedang berlangsung. Namun setelah bernegosiasi, akhirnya massa diperbolehkan masuk dengan syarat tidak membuat kegaduhan yang dapat mengganggu jalannya rapat tersebut.</p>
<p>Aksi Gerak Salatiga tersebut berakhir sekitar pukul 13.00 setelah diskusi dengan Ketua DPRD Kota Salatiga di halaman depan kantor.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2009/12/13/aksi-gerak-salatiga-turun-ke-jalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memperingati Hari Anti Korupsi dengan Uang Receh</title>
		<link>http://scientiarum.com/2009/12/10/memperingati-hari-anti-korupsi-dengan-uang-recehan/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2009/12/10/memperingati-hari-anti-korupsi-dengan-uang-recehan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 01:52:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yodie Hardiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[CICAK]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Anti Korupsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=1861</guid>
		<description><![CDATA[Cinta Indonesia Cinta Anti Korupsi (Cicak) Salatiga menggelar aksi penggalangan uang recehan koin untuk Prita Mulyasari (32), Rabu, 9 Desember 2009. Aksi dimulai pukul 11.00 dan bertempat di depan kampus Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah. Menurut koordinator aksi Teddy Delano, aksi ini untuk memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia  yang jatuh pada 9 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1874" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://scientiarum.com/wp-content/uploads/2009/12/IMG_0489.jpg"/><img src="http://scientiarum.com/wp-content/uploads/2009/12/IMG_0489.jpg" alt="Bentuk solidaritas kepada Prita. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}" title="Koin untuk Prita" width="500" class="size-full wp-image-1874" /></a><p class="wp-caption-text">Bentuk solidaritas kepada Prita. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}</p></div>
<p>Cinta Indonesia Cinta Anti Korupsi (Cicak) Salatiga menggelar aksi penggalangan uang recehan koin untuk Prita Mulyasari (32), Rabu, 9 Desember 2009. Aksi dimulai pukul 11.00 dan bertempat di depan kampus Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah. Menurut koordinator aksi Teddy Delano, aksi ini untuk memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia  yang jatuh pada 9 Desember. </p>
<p>“Kasus Prita dapat dikaitkan dengan korupsi kesehatan dan korupsi hukum,” kata Teddy. “Tapi gerakan kita dominan untuk kasusnya Prita.”</p>
<p>Beberapa warga yang melintas di depan kampus ikut memasukkan recehan koin ke wadah kardus yang disediakan penyelenggara aksi. “Iseng saja,” kata Ivana (24) mahasiswa fakultas ekonomi UKSW yang ikut memberikan uang receh. Pesannya buat Prita, lain kali hati-hati. </p>
<p>Kasus Prita bermula dari surat elektronik berisi keluh kesah seputar Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutra Tangerang Selatan yang beredar di <em>mailing-list</em>. RS Omni mempermasalahkan surat elektronik tersebut dan menggugat Prita.</p>
<p>Pengadilan Tinggi Banten kemudian mengukuhkan hukuman denda sebesar Rp 204 juta terhadap Prita. Ibu dua anak itu dianggap mencemarkan nama baik dan dokter rumah sakit tersebut. Hukuman Rp 204 juta ini agaknya memecut solidaritas warga dalam bentuk pengumpulan recehan koin di beberapa kota seperti Jakarta, Banten, Solo (<em>Kompas</em>, 8/12).</p>
<p>Gerakan pengumpulan di Jawa ini bermula dari diskusi di <em>mailing-list</em> Sehat Group, Kamis (3/12). “Kenapa koin recehan, karena itu simbol protes, sindiran dan keprihatinan publik. Selain sekaligus membantu Ibu Prita,” ujar Elona Melo Tomeala Arief (34) anggota milis yang menggagas ide tersebut (<em>Kompas</em>, 5/12). </p>
<div id="attachment_1875" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img src="http://scientiarum.com/wp-content/uploads/2009/12/IMG_0506.jpg" alt="Seorang bapak ikut memberi sejumlah uang koin dalam aksi mendukung Prita. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}" title="Koin untuk Prita" width="500" class="size-full wp-image-1875" /><p class="wp-caption-text">Seorang bapak ikut memberi sejumlah uang koin dalam aksi mendukung Prita.<br />
{Foto oleh James Anthony L. Filemon}</p></div>
<p>“Kasus Prita dapat menimpa siapa saja,” ujar Eko Setiawan (38) yang mengaku sebagai seorang pegawai bank serta blogger dan ikut menuangkan recehan koinnya di kardus. “Selamat berjuang!”</p>
<p>Sekitar pukul 12.30 kardus dipindah ke depan gedung Lembaga Kemahasiswaan Universitas. Peserta aksi juga meletakkan wadah pengumpulan di depan kafetaria UKSW. Menurut koordinator lainnya Subiharto (23), hasil pengumpulan tersebut akan dihitung pada Jumat, 11 Desember 2009 dan dikirim ke Jakarta pada Sabtu, 12 Desember 2009. </p>
<p>“Kemungkinan ada yang sekalian yang ke Jakarta,” katanya, perihal pengiriman hasil pengumpulan. </p>
<p>Dalam pers rilis Cicak Salatiga, diutarakan bahwa kasus Prita Mulyasari menjadi salah satu dari sekian banyak ketidakadilan hukum di Indonesia. Ketidakadilan terjadi karena adanya korupsi yang dilakukan oleh oknum (aparat) penegak hukum. Cicak Salatiga mendesak pemerintah Indonesia untuk melakukan pemberantasan korupsi di bidang hukum.</p>
<div id="attachment_1873" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img src="http://scientiarum.com/wp-content/uploads/2009/12/IMG_0427.jpg" alt="Dukungan kepada Prita dari seorang anak SD. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}" title="Koin untuk Prita" width="500" class="size-full wp-image-1873" /><p class="wp-caption-text">Dukungan kepada Prita dari seorang anak SD. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}</p></div>
<p>Selain menggelar spanduk hitam bertuliskan “Koin Kita Untuk Prita”, Cicak Salatiga juga mengadakan mimbar bebas untuk orasi mengeluarkan unek-unek seputar korupsi. Beberapa mahasiswa dan staf pengajar UKSW berorasi dan mengajak warga untuk bersolidaritas terhadap Prita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2009/12/10/memperingati-hari-anti-korupsi-dengan-uang-recehan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Christmas Carol For Christ</title>
		<link>http://scientiarum.com/2009/12/10/christmas-carol-for-christ/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2009/12/10/christmas-carol-for-christ/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 23:05:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ninon Melatyugra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=1852</guid>
		<description><![CDATA[English Department (ED) Voice (salah satu Kelompok Bakat dan Minat Fakultas Bahasa dan Sastra—red) menyelenggarakan kegiatan amal tahunan bertema “Christmas Carol For Christ”. Kegiatan berlangsung mulai Senin, 7 Desember 2009 hingga Selasa, 8 Desember 2009 dengan nuansa panggung Natal di pintu masuk UKSW.
Beberapa cara amal yang difasilitasi ED Voice adalah sumbangan dana, sembako, makanan, pakaian, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>English Department (ED) Voice (salah satu Kelompok Bakat dan Minat Fakultas Bahasa dan Sastra—<em>red</em>) menyelenggarakan kegiatan amal tahunan bertema “Christmas Carol For Christ”. Kegiatan berlangsung mulai Senin, 7 Desember 2009 hingga Selasa, 8 Desember 2009 dengan nuansa panggung Natal di pintu masuk UKSW.</p>
<div id="attachment_1866" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img src="http://scientiarum.com/wp-content/uploads/2009/12/foto-fbs-upload-1024x683.jpg" alt="Kotak amal dan nuansa panggung kegiatan amal 'Christmas Carol For Christ'. (Foto oleh Lidya Annisa W)" title="Christmas Carol For Christ" width="500" height="333" class="size-full wp-image-1866" /><p class="wp-caption-text">Kotak amal dan nuansa panggung kegiatan amal 'Christmas Carol For Christ'.<br />
(Foto oleh Lidya Annisa W)</p></div>
<p>Beberapa cara amal yang difasilitasi ED Voice adalah sumbangan dana, sembako, makanan, pakaian, serta kirim salam dengan harga Rp500,00. <em>Souvenir</em> pohon Natal mungil menjadi apresiasi terhadap donatur yang menyumbang dengan nilai lebih dari Rp10.000,00. Rencananya, hasil sumbangan kegiatan amal tersebut akan diberikan pada panti jompo Salib Putih.</p>
<p>Kegiatan amal tersebut menyuguhkan pertunjukan musik seperti kolaborasi FBS dengan Fakultas Teologi, Fakultas Seni Pertunjukan, Strinx Ansamble, Soul, dan pertunjukan musik lain.</p>
<p>Salah seorang panitia ED Voice, Debora Tiurlan Tambunan mengatakan, “Kegiatan amal ini mewakili talenta suara kami untuk membantu orang kecil”.</p>
<p>“Panas banget,” jawab Liberty Aryo, mahasiswa angkatan 2005 Fakultas FBS yang turut mendukung kegiatan tersebut dengan berpakaian ala Santa Claus di bawah terik matahari. “Tapi seneng aja bisa bantuin temen di sini. Toh, ini juga buat Tuhan,” tambahnya dengan senyum lebar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2009/12/10/christmas-carol-for-christ/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
