<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Scientiarum</title>
	<atom:link href="http://scientiarum.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://scientiarum.com</link>
	<description>Wacana Kritis-Analitis-Prinsipil Sivitas Akademika UKSW</description>
	<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 08:49:48 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Senat Mahasiswa Universitas tenteng sembako ke jalan</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/07/23/senat-mahasiswa-universitas-tenteng-sembako-ke-jalan/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/07/23/senat-mahasiswa-universitas-tenteng-sembako-ke-jalan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 08:44:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Satria A. Nonoputra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[Salatiga]]></category>

		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<category><![CDATA[Surabaya]]></category>

		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[<strong>SALATIGA</strong> -- Senin siang, 21 Juli 2008, belasan mahasiswa <a href="http://uksw.edu">Universitas Kristen Satya Wacana</a> yang dikoordinir Senat Mahasiswa Universitas turun ke jalan. Beberapa menenteng kresek-kresek hitam. Yang lain memboyong kardus berisi kresek-kresek hitam. Mereka membagi diri jadi empat kelompok dan menyebar ke jalan Jenderal Sudirman, Diponegoro, Pattimura, dan Turen.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SALATIGA</strong> &#8212; Senin siang, 21 Juli 2008, belasan mahasiswa <a href="http://uksw.edu">Universitas Kristen Satya Wacana</a> yang dikoordinir Senat Mahasiswa Universitas turun ke jalan. Beberapa menenteng kresek-kresek hitam. Yang lain memboyong kardus berisi kresek-kresek hitam. Mereka membagi diri jadi empat kelompok dan menyebar ke jalan Jenderal Sudirman, Diponegoro, Pattimura, dan Turen.</p>
<p>Kresek-kresek hitam yang mereka bawa adalah paket-paket sembako (sembilan bahan pokok &#8212; Red). Masing-masing paket berisi setengah kilo beras, setengah kilo gula pasir, dua bungkus mi instan, dan satu kemasan sabun colek. Total ada 137 paket yang mereka bawa dan bagikan gratis pada para tukang becak, sopir angkot, dan pengemis di empat jalan tersebut.</p>
<p>Dalam rangka apa?</p>
<p>&#8220;Ini dalam rangka ucapan syukur akhir periode SMU (Senat Mahasiswa Universitas &#8212; Red) tahun ini,&#8221; kata Selfina Alimbuto. Selfina adalah Bendahara Umum SMU sekaligus koordinator pembagian sembako.</p>
<p>Ide pembagian sembako muncul saat rapat evaluasi SMU, Kamis, 17 Juli 2008. Para fungsionaris SMU ingin membuat sesuatu yang beda pada akhir masa jabatan mereka, yang usai pada 18 Juli 2008. Semula, mereka ingin adakan ibadah pengucapan syukur. Lalu muncul wacana untuk berbakti sosial ke panti asuhan.</p>
<p>&#8220;Tapi karena di panti asuhan itu sudah sering orang-orang ke sana, jadi kita ganti (dengan) bakti sosial ke jalan,&#8221; terang Selfina.</p>
<p>Di jalan, para mahasiswa mendapat &#8220;sambutan hangat.&#8221; Ketika satu mahasiswa pemboyong kardus menyeberang jalan di depan bundaran Tamansari, para tukang becak dan sopir angkutan kota berlarian ke arahnya dan mengambil kresek-kresek dari dalam kardus. Waktu itu sekitar jam setengah dua siang. Jalan tidak sepi kendaraan.</p>
<p>Untung tak ada kecelakaan.</p>
<p><strong>Kupon sembako</strong><br />
Menjelang Paskah tahun 2006, para pengurus OSIS SMA Kristen Petra 5 Surabaya ingin merayakan Paskah dengan berbakti sosial. Cara yang mereka tempuh sama dengan Senat Mahasiswa Universitas kali ini: bagi-bagi sembako gratis. Mereka membeli bahan-bahan kebutuhan pokok, lalu membaginya dalam paket-paket sembako yang dibungkus kresek hitam.</p>
<p>Tapi mereka tak menenteng paket-paket itu ke jalan.</p>
<p>Mereka mencetak kupon sejumlah dengan paket-paket sembako yang ada. &#8220;Kupon sembako&#8221; istilahnya. Berbekal kupon-kupon inilah mereka turun ke jalan, berbicara dengan orang-orang (tukang becak, penjaga warung, pemulung, pengemis), dan mengundang orang-orang itu datang ke sekolah sambil membawa kupon pada waktu yang sudah ditentukan. Di sekolah, kupon itu ditukar dengan paket sembako.</p>
<p>Para pengurus OSIS tersebut jadi tak perlu bawa beban yang relatif berat ketika turun ke jalan. Mereka juga tak menciptakan &#8220;antusiasme&#8221; masyarakat di tengah ramainya jalanan Surabaya. Sekolah pun jadi lebih &#8220;merakyat&#8221; karena banyak orang datang &#8212; tak hanya untuk ambil sembako, tapi juga <em>jagongan</em> dengan para siswa dan guru.</p>
<p>&#8220;Kita nggak kepikiran sampai situ kemarin,&#8221; kata Rambu Y. A. Sabaora, Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas.</p>
<p>&#8220;Kalo pakai kupon, nanti lebih repot karena harus urus cetaknya segala,&#8221; kata Selfina Alimbuto.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/07/23/senat-mahasiswa-universitas-tenteng-sembako-ke-jalan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Wakil Rektor IV: Hashim Djojohadikusumo &#8220;curhat&#8221; ke UKSW</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/07/20/wakil-rektor-iv-hashim-djojohadikusumo-curhat-ke-uksw/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/07/20/wakil-rektor-iv-hashim-djojohadikusumo-curhat-ke-uksw/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 14:44:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Triyono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[budaya]]></category>

		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[internasional]]></category>

		<category><![CDATA[Kazakhstan]]></category>

		<category><![CDATA[nasional]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Salatiga]]></category>

		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[<strong>SALATIGA</strong> -- Hashim Djojohadikusumo datang ke kampus Universitas Kristen Satya Wacana pada 15 Juli 2008. Kedatangan tersebut disambut rektor dan para wakil rektor, serta mantan rektor, John Andreas Titaley. Menurut Wakil Rektor IV, Agna Sulis Krave, Hashim datang untuk bersilaturahmi karena kebetulan sedang di Salatiga.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SALATIGA</strong> &#8212; Hashim Djojohadikusumo datang ke kampus Universitas Kristen Satya Wacana pada 15 Juli 2008. Kedatangan tersebut disambut rektor dan para wakil rektor, serta mantan rektor, John Andreas Titaley. Menurut Wakil Rektor IV, Agna Sulis Krave, Hashim datang untuk bersilaturahmi karena kebetulan sedang di Salatiga.</p>
<p>Hashim Djojohadikusumo adalah pengusaha nasional. Dia adik Prabowo Subianto, mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, sekaligus anak almarhum Sumitro Djojohadikusumo, ekonom Indonesia yang pernah lima kali menjabat sebagai menteri di masa Orde Lama dan Orde Baru.</p>
<p>Pada Oktober 2006 Hashim pernah mengagetkan dunia bisnis internasional dengan melego Nations Energy, perusahaan minyaknya di Kazakhstan, senilai USD 1,91 miliar &#8212; aset perusahaan itu sendiri nilainya USD 2,3 miliar. Hashim mencuat lagi pada November 2007 karena keterlibatannya sebagai saksi pencurian arca milik Radya Pustaka, satu museum di Solo.</p>
<p>&#8220;Hashim &#8216;curhat&#8217; tentang bangsa Indonesia,&#8221; cerita Agna.</p>
<p>&#8220;Menurut dia itu Indonesia sekarang memiliki disintegrasi yang tinggi. Dia juga menangkap kalau generasi muda tidak terlalu paham identitas bangsanya. Dari membaca maupun hasil <em>polling</em>, dia mengatakan bahwa Pancasila tidak relevan lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia juga bicara tentang kemerosotan ekonomi bangsa. Reformasi yang sudah berjalan kurang lebih sepuluh tahun tidak lebih baik daripada masa Orde Baru.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia bilang, kapan lagi (UKSW) terjun ke politik? Beberapa hari ini (Hashim) melihat pentingnya terjun ke politik. Di Indonesia dibutuhkan pemimpin (yang) tidak hanya cerdas tetapi (juga) tegas.&#8221;</p>
<p>Agna menangkap, yang diharapkan Hashim dari UKSW adalah kerjasama di bidang pangan dan pendidikan. Khusus di bidang pendidikan itu menyangkut penyediaan tenaga-tenaga terampil dan peningkatan kualitas pendidikan.</p>
<p>Lantas, bagaimana respon UKSW sendiri?</p>
<p>&#8220;Intinya, dari adanya tawaran kerjasama kami merespon, bahkan proaktif, selain tidak ada maksud politis,&#8221; jawab Agna.</p>
<p><strong>Peran alumni</strong><br />
Kedatangan Hashim Djojohadikusumo tidak lepas dari peran Nicholay Aprilindo, alumni Fakultas Hukum tahun 1986. Nicho saat ini bekerja sebagai <em>legal advisor</em> perusahaan-perusahaan di lingkungan keluarga Hashim Djojohadikusumo dan Prabowo Subianto.</p>
<p>Saat ditemui Scientiarum di lobi hotel Quality pada 16 Juli 2008, Nicho mengaku sedih melihat UKSW sekarang.</p>
<p>&#8220;Padahal dulu terkenal macan Asia Tenggara. Sekarang, tikus aja gak dihitung. Dan kualitas mundur ke belakang. Yang dikejar kuantitas (mahasiswa),&#8221; tutur Nicho.</p>
<p>Sebagai alumni, Nicho ingin agar UKSW kembali pada visi-misi yang telah dibangun dahulu. Dia ingin UKSW jadi mercusuar pendidikan regional, nasional, bahkan internasional. Tentunya, dengan peningkatan mutu dan sumber daya manusia di lingkungan UKSW sendiri.</p>
<p>&#8220;Sehubungan dengan itu, saya membuka satu peluang (dengan) mengajak konglomerat Hashim Djojohadikusumo, putra begawan ekonomi Profesor Sumitro Djojohadikusumo, agar beliau dapat membantu memberikan kontribusi dan bantuan dana untuk perbaikan kualitas pendidikan dan kualitas SDM (sumber daya manusia &#8212; Red) di UKSW,&#8221; terangnya.</p>
<p>Peluang yang dimaksud Nicho adalah peluang pengembangan fakultas-fakultas yang diharapkan bisa mencetak para ahli dalam bidang-bidang yang menciptakan lapangan pekerjaan. Ada pula peluang studi lanjut bagi para dosen UKSW yang hendak menempuh jenjang S2 dan S3.</p>
<p>&#8220;Nah, peluang-peluang inilah yang seharusnya bisa ditangkap pihak YPTKSW (Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana &#8212; Red) maupun pihak rektorat UKSW. Dan, perlu diketahui, peluang ini bukan peluang <em>profit oriented</em>, tapi murni pengembangan pendidikan,&#8221; tegas Nicho.</p>
<p>Menurut Nicho, Hashim &#8212; lewat Yayasan Keluarga Hashim Djojohadikusomo &#8212; hingga kini telah memberi bantuan kepada Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Kristen Duta Wacana, dan satu SMA di Ungaran.</p>
<p>Ada dua alasan yang diutarakan Nicho mengenai kedatangannya dengan Hashim ke UKSW: (1) Nicho melihat UKSW sudah kehilangan jati diri dengan mengejar kuantitas; (2) perpecahan-perpecahan yang terjadi dalam tubuh UKSW sendiri membuat kualitas pendidikan UKSW terpuruk.</p>
<p>&#8220;Ini harus segera dibenahi dengan cara bergandengan tangan lagi, bersatu dan bekerjasama untuk membangun UKSW ke depan yang lebih solid. Dihargai dan disegani oleh berbagai kalangan intelektual.&#8221;</p>
<p>&#8220;Namun, yang terpenting daripada itu (adalah) bagaimana UKSW dapat menciptakan seorang intelektual yang <em>creative minority</em>.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan satu lagi saya tekankan, bagi pejabat-pejabat di lingkungan UKSW hendaknya jangan melihat perbedaan pendapat sebagai separatisme yang menyebabkan perpecahan dan kehancuran. Tetapi perbedaan pendapat sebagai suatu khazanah argumentasi intelektual yang dapat memacu kepada kemandirian dan kemajuan UKSW sendiri.&#8221;</p>
<p><small>Kontributor: <a href="http://scientiarum.com/author/satria/">SATRIA A. NONOPUTRA</a></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/07/20/wakil-rektor-iv-hashim-djojohadikusumo-curhat-ke-uksw/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Laboratorium skripsi FTEK akan menyesuaikan jam kerja</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/07/18/laboratorium-skripsi-ftek-akan-menyesuaikan-jam-kerja/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/07/18/laboratorium-skripsi-ftek-akan-menyesuaikan-jam-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 14:04:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ferdinand U. R. Anaboeni</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[<strong>SALATIGA</strong> -- Awal Juni 2008, pemberitahuan mengenai pembatasan waktu penggunaan ruang laboratorium skripsi Fakultas Teknik Elektro dan Komputer atau FTEK terlontar lewat mulut Sentot Suhartanto. Suhartanto adalah laboran FTEK. Pemberitahuan itu disampaikan pada para mahasiswa di laboratorium skripsi. Salah satu mahasiswa yang berada di sana saat itu adalah Haryo Adi Rumantyo ("Antyo" panggilannya -- Red), mahasiswa FTEK angkatan 2002 yang tengah menyusun skripsi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SALATIGA</strong> &#8212; Awal Juni 2008, pemberitahuan mengenai pembatasan waktu penggunaan ruang laboratorium skripsi Fakultas Teknik Elektro dan Komputer atau FTEK terlontar lewat mulut Sentot Suhartanto. Suhartanto adalah laboran FTEK. Pemberitahuan itu disampaikan pada para mahasiswa di laboratorium skripsi. Salah satu mahasiswa yang berada di sana saat itu adalah Haryo Adi Rumantyo (&#8221;Antyo&#8221; panggilannya &#8212; Red), mahasiswa FTEK angkatan 2002 yang tengah menyusun skripsi.</p>
<p>Menurut Antyo, Suhartanto berkata bahwa untuk sore itu (10 Juni 2008), batas penggunaan laboratorium skripsi hanya sampai akhir jam kerja atau pukul 16.00. Setelah jam itu, semua mahasiswa tidak boleh menggunakan laboratorium skripsi.</p>
<p>Bagi mahasiswa, aturan itu jelas tidak berpihak pada mahasiswa dan sangat memberatkan. Indra Adhi Kurniawan, mahasiswa FTEK angkatan 2002, menyampaikan beberapa alasan seperti: (1) saat siang hari, suhu ruang laboratorium sangat panas hingga menggangu konsentrasi mahasiswa; (2) suara bising di dalam dan luar ruang cukup menggangu; (3) peralatan yang tersedia dirasa kurang, sehingga, untuk menyiasati hal tersebut, mahasiswa bersepakat untuk bergantian menggunakannya; (4) saat ini sering mati lampu di siang hari; (5) penggunaan laboratorium skripsi di atas pukul 16.00 selama ini tidak pernah menimbulkan masalah.</p>
<p>Beberapa hari setelah pengumuman itu, Antyo dan temannya, Tommy Adriadi, mencoba bertanya langsung pada dekan FTEK, Handoko. Pertanyaan yang mereka sampaikan, mengapa harus sampai seketat itu aturannya? Menurut Handoko, sebenarnya ini bukanlah aturan baru di FTEK. Oleh karena itu, perlu ada kedisiplinan dalam penerapan aturan yang telah ada.</p>
<p>Handoko juga melihat, penggunaan laboratorium skripsi pada siang hari tidak dimanfaatkan para mahasiswa dengan maksimal. Ketika beberapa kali inspeksi mendadak ke laboratorium skripsi pada siang hari, ruang terlihat sepi dengan beberapa mahasiswa saja di dalamnya. Handoko juga menginginkan agar saat-saat pagi hingga sore dimanfaatkan mahasiswa untuk saling mengakrabkan diri dengan berdiskusi.</p>
<p>Bagi Antyo, hal itu dapat dibenarkan bila mereka adalah anak sekolahan. Namun tidak bagi mahasiswa FTEK, karena ada banyak hal yang masih harus mereka kerjakan seperti pembuatan maket yang sering tidak dapat dilakukan di dalam laboratorium. Maka wajar bila laboratorium terlihat sepi saat siang hari.</p>
<p>Aturan itu juga dianggap Antyo tidak adil karena penggunaan ruang laboratorium robotika diperbolehkan selama 24 jam. Ketika hal ini mereka tanyakan pada Handoko, jawabannya karena para mahasiswa yang menggunakan laboratorium robotika ada di bawah bimbingan, dan pembimbing bertanggungjawab atas penggunaan laboratorium tersebut. Sebuah jawaban yang tak memuaskan, bagi Antyo.</p>
<p>Handoko juga mempermasalahkan penggunaan peralatan laboratorium skripsi untuk tugas rancang atau TR. Para mahasiswa yang mengerjakan TR sering menggunakan peralatan laboratorium skripsi pada malam hari, karena punya hubungan pertemanan dengan mahasiswa yang mengerjakan skripsi.</p>
<p>Handoko mengatakan bahwa kebijakannya berlandaskan asas keadilan. Hanya mahasiswa yang punya teman di laboratorium skripsi saja yang bisa menggunakan peralatan di sana. Bagaimana dengan mahasiswa lain yang tidak punya hubungan pertemanan? Tentu hal itu tidak adil bagi mereka. Lagipula, untuk pengerjaan TR, mahasiswa sudah diberi waktu tersendiri di laboratorium praktikum.</p>
<p>&#8220;Lab skripsi khusus untuk mengerjakan skripsi,&#8221; kata Handoko.</p>
<p><strong>Keselamatan kerja itu penting</strong><br />
Bagi Handoko, yang sejak 2007 menjabat dekan FTEK, aturan yang membatasi penggunaan laboratorium skripsi hingga jam kerja usai telah ada sejak dulu. Namun pengetatan aturan ini baru akan dilakukan pada tahun akademik 2008/2009.</p>
<p>Ketua Program Studi Teknik Elektro, F. Dalu, mengatakan, dulu mahasiswa boleh mengerjakan skripsi sampai larut malam karena mereka betul-betul ingin melanjutkan skripsi yang tertunda di pagi dan siang hari. Namun yang terjadi sekarang tidak seperti itu lagi, menurutnya. Lebih banyak mahasiswa yang menggunakan waktu di malam hari untuk mengerjakan skripsi, sedangkan saat jam kerja tidak mereka kerjakan.</p>
<p>Handoko mengatakan, ia sangat memikirkan keselamatan kerja para mahasiswanya. Ketakutan akan terjadinya kecelakaan kerja memang ada. Apalagi tidak ada laboran yang menjaga dan mengawasi saat malam hari.</p>
<p>Menanggapi beragamnya alasan, seperti ada mahasiswa yang nyambi bekerja siang hari hingga tak dapat mengerjakan skripsi saat jam kerja, Handoko menyatakan bahwa penerapan aturan ini sifatnya fleksibel. Ia berkata tetap akan memberikan toleransi pada mereka yang ingin menggunakan laboratorium skripsi di luar jam kerja selama mereka punya alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.</p>
<p>&#8220;Para pembimbing juga perlu melihat sejauh mana perkembangan skripsi mahasiswa bimbingannya. Dan hal itu hanya dapat dilakukan pada jam kerja saja, karena mereka tidak mungkin melakukannya di malam hari,&#8221; terang Dalu.</p>
<p>Handoko, Suhartanto, dan Dalu menjelaskan bahwa secara kuantitas, fasilitas laboratorium skripsi memang masih kurang. Saat ini di laboratorium tersebut baru tersedia 30-an meja kerja dengan peralatan macam osiloskop, multimeter, dan sebagainya. Karenanya, mereka berharap para mahasiswa yang telah mendapat fasilitas tersebut dapat memakainya sebaik mungkin. Ada banyak mahasiswa FTEK lain yang masih menunggu memakai fasilitas tersebut. Mereka juga mengatakan bahwa mereka sedang berusaha memperbaiki fasilitas laboratorium skripsi dari segi kuantitas dan kualitas.</p>
<p>Di FTEK, para mahasiswa yang dapat memakai fasilitas laboratorium skripsi harus melalui beberapa tahap. Mereka harus registrasi dan membuat proposal skripsi. Bila sudah melewati kolokium, mahasiswa akan mendapat surat tugas untuk mengerjakan skripsi dan mendapat kartu ijin kerja laboratorium.</p>
<p><strong>Harapan besar</strong><br />
Handoko berkata, sosialisasi aturan ini masih belum ada. Namun ia berjanji akan segera menyosialisasikan aturan ini secara resmi dalam waktu dekat.</p>
<p>Bagus Ferry Permana, mahasiswa FTEK angkatan 2001 yang juga wartawan Scientiarum, berpendapat bahwa aturan harusnya disesuaikan dengan kebutuhan. Pemimpin harus melihat kondisi di bawah dulu (kebutuhan mahasiswa &#8212; Red), baru membuat kebijakan. Ini karena kebijakan dibuat untuk mahasiswa, bukan untuk pembuat kebijakan.</p>
<p>&#8220;Peraturan harusnya <em>bottom-up</em> dan bukannya <em>top-down</em>,&#8221; kata Ferry.</p>
<p>Ferry juga menyayangkan sikap fakultas yang tidak mau berdialog lewat forum terbuka.</p>
<p>Handoko menuturkan, sebenarnya ada yang harus mahasiswa pahami tanpa forum terbuka. Mereka punya senat mahasiswa fakultas dan badan perwakilan mahasiwa fakultas sebagai wakil yang dapat menyalurkan aspirasi sebelum forum terbuka diadakan.</p>
<p>&#8220;Kami akan bahagia sekali bila laboratorium skripsi dibuka selama 24 jam, asalkan selalu terisi penuh,&#8221; kata Handoko.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/07/18/laboratorium-skripsi-ftek-akan-menyesuaikan-jam-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa UKSW di PON XVII</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/07/18/mahasiswa-uksw-di-pon-xvii/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/07/18/mahasiswa-uksw-di-pon-xvii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 10:21:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saam F. Marpaung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Foto]]></category>

		<category><![CDATA[nasional]]></category>

		<category><![CDATA[olahraga]]></category>

		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Puspa Aprilia, Puspita Triana Gustin, dan Retno Safitri tiba di kampus Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, usai berlaga di Pekan Olahraga Nasional XVII, Kalimantan Timur. Puspita berhasil mendapatkan satu medali emas dan satu perunggu. Sedangkan Retno dan Puspa masing-masing memenangkan satu perunggu. Ketiganya berlaga pada cabang olahraga karate.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://scientiarum.com/img/glry/kontingen-jateng-pon-kaltim.jpg" alt="Kontingen Jawa Tengah di PON XVII" /></p>
<p>Puspa Aprilia, Puspita Triana Gustin, dan Retno Safitri tiba di kampus Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, usai berlaga di Pekan Olahraga Nasional XVII, Kalimantan Timur. Puspita berhasil mendapatkan satu medali emas dan satu perunggu. Sedangkan Retno dan Puspa masing-masing memenangkan satu perunggu. Ketiganya berlaga pada cabang olahraga karate.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/07/18/mahasiswa-uksw-di-pon-xvii/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Angger pimpin Senat Mahasiswa FTEK berikutnya</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/07/16/angger-pimpin-senat-mahasiswa-ftek-berikutnya/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/07/16/angger-pimpin-senat-mahasiswa-ftek-berikutnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 11:13:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aqirana A. Tarupay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[<strong>SALATIGA</strong> -- Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Teknik Elektro dan Komputer (FTEK) baru saja menggelar pemilihan langsung ketua umum Senat Mahasiswa FTEK periode 2008/2009. Calonnya dua: Agustinus Angger Muryanto, mahasiswa FTEK angkatan 2005, dan Lukas Nur Anggraita Sumardi, mahasiswa FTEK angkatan 2006. Dalam pemilihan tersebut, Angger mengungguli Lukas (yang memperoleh 124 suara -- Red) dengan perolehan 126 suara.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SALATIGA</strong> &#8212; Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Teknik Elektro dan Komputer (FTEK) baru saja menggelar pemilihan langsung ketua umum Senat Mahasiswa FTEK periode 2008/2009. Calonnya dua: Agustinus Angger Muryanto, mahasiswa FTEK angkatan 2005, dan Lukas Nur Anggraita Sumardi, mahasiswa FTEK angkatan 2006. Dalam pemilihan tersebut, Angger mengungguli Lukas (yang memperoleh 124 suara &#8212; Red) dengan perolehan 126 suara.</p>
<p>Saat saya temui di studio XT FM, Angger memaparkan visi, misi, dan harapannya bagi Senat Mahasiswa FTEK.</p>
<p>Keputusan Angger mencalonkan diri sebagai ketua umum Senat Mahasiswa FTEK berawal dari &#8220;<em>power sharing</em>&#8221; yang diadakan angkatan 2005. Dari sana, beberapa mahasiswa usul agar Angger ikut mencalonkan diri sebagai ketua umum.</p>
<p>Mulanya Angger sedikit ragu. Dia kemudian minta waktu tiga hari pada teman-temannya untuk berpikir.</p>
<p>&#8220;Waktu itu, saking bingungnya, aku sampe ke Kerep (tempat ziarah umat Katolik di Ambarawa &#8212; Red) segala lho,&#8221; kenang Angger.</p>
<p>Angger melihat ada dualisme jabatan dalam Senat Mahasiswa FTEK. Artinya, seorang fungsionaris Senat Mahasiswa FTEK pada aras pemimpin juga menjabat di unit kegiatan mahasiswa, sehingga kurang bisa menentukan prioritas (misal: koordinator bidang Senat Mahasiswa FTEK menjabat kru XT FM). Angger melihat hal ini dan ingin mengubahnya. Hal ini juga yang jadi dasar pemikirannya untuk maju mencalonkan diri sebagai ketua Senat Mahasiswa FTEK. Menurutnya, dualisme jabatan bisa tetap berjalan, asal yang menjalankan tidak menjabat koordinator bidang Senat Mahasiswa FTEK.</p>
<p>Selain dualisme jabatan, Angger juga melihat bahwa unit kegiatan mahasiswa di FTEK masih kurang berkembang keluar.</p>
<p>&#8220;Kalo di dalam FTEK, memang sudah baik, dan sudah berkembang. Tetapi untuk keluarnya, saya rasa masih kurang. Saya pengen, UKM Elektro itu bisa lebih punya nama,&#8221; kata Angger.</p>
<p>&#8220;Apakah saat ini masih kurang punya nama?&#8221; tanya saya.</p>
<p>&#8220;Maksud saya di sini adalah dalam hal bersosialisasi, karena mungkin Elektro masih terlalu mengeksklusifkan diri,&#8221; jelas Angger.</p>
<p>Angger berpendapat, salah satu faktor penyebab eksklusivitas Elektro adalah karena banyak mahasiswanya sendiri beranggapan bahwa jika bisa masuk Elektro itu berarti pintar.</p>
<p>&#8220;Kalau sudah merasa diri pintar atau menganggap bahwa Elektro itu isinya orang-orang pintar, maka akan kurang bersosialisasi, sehingga berkesan eksklusif.&#8221; Angger memberi rasionalisasi pendapatnya.</p>
<p>Dengan menjadi ketua umum Senat Mahasiswa FTEK, Angger berharap bisa menjalankan visinya: mengembangkan mahasiswa Elektro yang kreatif, dinamis, sehat, dan inovatif. Menurutnya, secara profesional (keilmuan), mahasiswa Elektro sudah bisa memenuhi visi tersebut.</p>
<p>&#8220;Namun secara sosial (humanis) saya rasa masih belum.&#8221;</p>
<p>Salah satu misi yang akan diupayakan Angger adalah menjalin hubungan yang lebih baik di antara mahasiswa Elektro. Ini dia rasa perlu karena selama ini, di dalam satu angkatan saja, masih terpecah-pecah.</p>
<p>&#8220;Kalau di dalam satu angkatan bisa kompak, pasti hubungan dengan angkatan lain bisa jadi lebih baik. Dengan begitu, proses sosialisasi bisa semakin mudah berjalan,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Angger bersama sepuluh fungsionaris lainnya berharap, Senat Mahasiswa FTEK periode 2008/2009 bisa lebih baik dari periode sebelumnya.</p>
<p>&#8220;Bukan berarti yang periode lalu itu ndak baik, tapi kami ingin berusaha untuk memberikan yang lebih baik lagi,&#8221; jelas Angger.</p>
<p>Selamat memimpin Senat Mahasiswa FTEK! Tuhan memberkati pelayanan kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/07/16/angger-pimpin-senat-mahasiswa-ftek-berikutnya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Persiapan Desain Komunikasi Visual FTI</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/07/16/persiapan-desain-komunikasi-visual-fti/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/07/16/persiapan-desain-komunikasi-visual-fti/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 08:35:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aqirana A. Tarupay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[seni]]></category>

		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[<strong>SALATIGA</strong> -- Mulai tahun akademik 2008/2009 akan ada satu program studi baru di Fakultas Teknologi Informasi, yakni Desain Komunikasi Visual, satu bidang studi yang sedang jadi tren. Sedangkan dua program studi yang telah ada sebelumnya, yakni Sistem Informasi dan Teknik Informatika, tetap jalan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SALATIGA</strong> &#8212; Mulai tahun akademik 2008/2009 akan ada satu program studi baru di Fakultas Teknologi Informasi, yakni Desain Komunikasi Visual, satu bidang studi yang sedang jadi tren. Sedangkan dua program studi yang telah ada sebelumnya, yakni Sistem Informasi dan Teknik Informatika, tetap jalan.</p>
<p>Menurut Ketua Program Studi DKV, <a href="http://jasprelao.wordpress.com">Jasson Prestiliano</a>, DKV dibuka karena melihat minat masyarakat yang besar terhadap dunia desain.</p>
<p>&#8220;Saat ini, seorang programer juga harus memiliki kualitas dan selera <em>art</em> yang bagus. Misalnya saja sebuah <em>website</em>. Jika programer web tersebut tidak memiliki selera <em>art</em> yang bagus, maka orang tidak akan tertarik untuk melihat <em>website</em>-nya.&#8221;</p>
<p>Jasson juga menjelaskan, ide membuka program studi ini sebenarnya sudah dipikirkan sejak lama. Tapi ide itu harus lebih dimatangkan.</p>
<p>&#8220;Kami juga harus memikirkan tentang kelengkapan-kelengkapan lainnya. Jadi, kalau fasilitas sudah oke, dosen sudah oke, baru kita berani buka. Bukan masalah kenapa tidak buka dari dulu. Lha kalo kita asal buka, kan kasihan nanti mahasiswanya terlantar,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Mei 2008, Departemen Pendidikan Nasional telah menurunkan surat keputusan bernomor 1642/D/T/2008 untuk pembukaan DKV. Pada butir I bagian C, dijelaskan bahwa kepada Universitas Kristen Satya Wacana telah diberikan ijin penyelenggaraan program-program studi:</p>
<ol>
<li>Ilmu Hukum jenjang Program Pascasarjana (S2),</li>
<li>Desain Komunikasi Visual jenjang Program Sarjana (S1).</li>
</ol>
<p>Saat ini promosi program studi DKV sudah dilakukan sampai ke Solo, Semarang, Yogyakarta, dan beberapa wilayah timur Indonesia seperti Halmahera, Soe, dan Papua. Promosi <em>online</em> lewat situs-situs komunitas juga dilakukan.</p>
<p>Selain telah melakukan promosi, FTI juga telah mengadakan hubungan kerjasama dengan program studi serupa dari ISI Yogyakarta, dan Universitas Kristen Petra, Surabaya.</p>
<p>&#8220;Kerjasama yang diadakan (adalah) dalam bentuk pertukaran dosen, karena FTI pasti membutuhkan tenaga-tenaga yang ahli dalam bidang ini. Selain itu, bisa juga nati kita adakan <em>gallery art</em> bersama. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga untuk teman-teman FTI yang lain, yang bukan dari DKV untuk bisa ikut.&#8221;</p>
<p>Jumlah pengampu matakuliah DKV saat ini sudah ada sembilan orang. Sedangkan untuk matakuliah pemrograman, tetap akan menggunakan dosen-dosen FTI yang lain.</p>
<p>Soal fasilitas, Jasson mengatakan bahwa FTI akan membuka laboratorium baru yang bertempat di sebelah <a href="http://www.swbtc.net">Satya Wacana Business Technology Center</a> (saat ini masih dipakai sebagai ruang gamelan &#8212; Red). Ruang gamelan itu akan dijadikan laboratorium gambar bagi mahasiswa DKV. Rencananya, akan disediakan 40 meja, yang mulai difungsikan pada September 2008. Selain pengadaan laboratorium gambar, akan ditambahkan pula 44 unit komputer baru untuk laboratorium internet.</p>
<p>&#8220;Untuk Lab Hijau, itu juga nanti akan kami gunakan. Kalo pas tidak SIASAT, kan bisa digunakan untuk kuliah,&#8221; jelas Jasson.</p>
<p>&#8220;Kalo untuk fasilitas, kita sebenarnya tidak bisa dibilang kurang. Yang kurang itu hanya ruangan. Kalau untuk lab RX, PC-nya akan kita tambah, hanya ruangannya yang belum. Kadang mahasiswanya (juga) yang kurang tertib. Mereka sudah diberi batas waktu dua jam untuk menggunakan internet, tapi waktu yang diberikan untuk mencari data atau tugas malah dipakai untuk <a href="http://friendster.com">Friendster</a>, <em>chatting</em>, atau malah <em>game online</em> Ragnarok yang langsung lewat web. Nggak bisa gantian sama temennya, salahnya sendiri. Kalau mencari data, dua jam atau bahkan satu setengah jam saja itu sudah lelah. Tapi kalau main game, otomatis gak bisa berhenti sampai waktu atau <em>account</em>-nya habis. Jadi, nggak <em>full</em> semuanya salah fakultas,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Saat ini FTI sudah memiliki dua program studi dengan enam konsentrasi dan jumlah mahasiswa kurang lebih 2000 orang. Jasson mengatakan, untuk tahun akademik 2008/2009, ada 500 orang calon mahasiswa yang memilih FTI sebagai pilihan pertama, dan sekitar 200 di antaranya sudah mendaftar ulang.</p>
<p>&#8220;Sedangkan untuk program studi DKV, jumlahnya sudah mencapai 30 orang dan akan terus bertambah.&#8221; Jasson optimis sekali.</p>
<p>Bagaimana pendapat mahasiswa FTI sendiri?</p>
<p>&#8220;Bagi saya, kalau mau buka progdi (program studi &#8212; Red) baru ya silahkan, tapi fasilitas untuk mahasiswa harus bisa dipenuhi, terutama masalah tenaga pengajar. Itu kuotanya harus bisa disesuaikan dengan jumlah mahasiswanya nanti,&#8221; kata Rendy, mahasiswa Sistem Informasi Akuntansi angkatan 2005.</p>
<p>DKV FTI UKSW akan menyediakan tiga pilihan konsentrasi, yaitu Desain Grafis, Game Development, dan Creative Multimedia.</p>
<p>Berminat?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/07/16/persiapan-desain-komunikasi-visual-fti/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lulus tanpa ujian lisan di FBS</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/07/15/lulus-tanpa-ujian-lisan-di-fbs/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/07/15/lulus-tanpa-ujian-lisan-di-fbs/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 02:55:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jessica Permatasari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[<strong>SALATIGA</strong> -- Sistem skripsi Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) beda dengan fakultas-fakultas lain di Universitas Kristen Satya Wacana. Tak ada ujian lisan sebagai syarat kelulusan. Sebagai gantinya, skripsi mahasiswa FBS akan dibaca dan diperiksa tiga dosen.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SALATIGA</strong> &#8212; Sistem skripsi Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) beda dengan fakultas-fakultas lain di Universitas Kristen Satya Wacana. Tak ada ujian lisan sebagai syarat kelulusan. Sebagai gantinya, skripsi mahasiswa FBS akan dibaca dan diperiksa tiga dosen.</p>
<p>Pertama, skripsi akan dibaca dosen pembimbing. Pemilihan dosen ini harus menyesuaikan antara topik skripsi dan keahlian dosen yang dipilih. Proses bimbingan sendiri terbagi dalam tiga tahap: <em>proposal writing</em>, <em>report writing</em>, dan <em>thesis</em>. Masing-masing diselesaikan dalam satu semester.</p>
<p>Selanjutnya, skripsi akan dibaca <em>second reader</em>. Awalnya mahasiswa bebas menentukan <em>second reader</em> skripsi mereka dengan syarat harus sesuai antara topik skripsi dan kemampuan dosen pilihan. Namun, pada kenyataannya, banyak mahasiswa tidak memilih <em>second reader</em> berdasarkan kemampuan, melainkan hubungan antara mahasiswa dan dosen atau kemurahan hati dosen. Karenanya, Hendro Setiawan Husada, dekan FBS, memberi ketetapan. Mulai 11 Juni 2008, <em>second reader</em> ditentukan dekan sesuai penguasaan masing-masing dosen terhadap topik skripsi mahasiswa.</p>
<p>Format skripsi dan referensi akan diteliti Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Victoria Usadya Palupi, untuk terakhir kali sebelum nilai keluar. Format skripsi di FBS tidak dalam <em>hard copy</em> (kertas fisik &#8212; Red), melainkan <em>soft copy</em> (buku elektronik &#8212; Red). Format ini lebih praktis dan murah karena mahasiswa tidak perlu mencetak skripsi berkali-kali. Di samping itu, skripsi bentuk elektronik akan lebih sulit ditulis ulang mahasiswa lain karena tidak tersedia di perpustakaan.</p>
<p>Tidak adanya ujian lisan juga merupakan kepraktisan dalam pembuatan skripsi di FBS. Alasannya, tidak perlu menyediakan waktu khusus untuk ujian. Jumlah mahasiswa FBS yang lulus tiap periodenya dirasa terlalu banyak untuk diuji satu persatu.</p>
<p>Pelanggaran hak cipta atau plagiarisme adalah masalah utama dalam pembuatan skripsi. Begitu juga di FBS. Tidak adanya ujian lisan bukan berarti menambah kesempatan melakukan plagiarisme. Melalui tiga dosen (pembimbing, <em>second reader</em>, dan ketua program studi), pemeriksaan skripsi makin diperketat. Sejauh ini telah ditemukan satu mahasiswa yang melakukan plagiarisme dan diwajibkan mengulang dengan topik yang sama. Untuk selanjutnya, akan diberlakukan sanksi yang lebih berat dari sekadar penulisan ulang skripsi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/07/15/lulus-tanpa-ujian-lisan-di-fbs/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Anarkisme</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/07/15/anarkisme/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/07/15/anarkisme/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 19:15:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bagus F. Permana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hiburan]]></category>

		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Bila anda masih menyamakan anarkisme dengan aksi-aksi brutal Front Pembela Islam atau kelakuan brutal suporter sepakbola di Indonesia, buku ini sangat pantas anda baca. Kata "anarkisme" memang terlanjur lekat dengan semua aksi-aksi brutal.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila anda masih menyamakan anarkisme dengan aksi-aksi brutal Front Pembela Islam atau kelakuan brutal suporter sepakbola di Indonesia, buku ini sangat pantas anda baca. Kata &#8220;anarkisme&#8221; memang terlanjur lekat dengan semua aksi-aksi brutal. Mulai dari presiden, pembawa berita di televisi, sampai penjual gado-gado berada dalam satu pemahaman kata. Sedikitnya literatur anarkisme &#8212; dalam bahasa Indonesia khususnya &#8212; menyebabkan banyaknya kesalahan dalam mengartikan kata tersebut. Buku ini adalah satu dari sedikit literatur berbahasa Indonesia mengenai anarkisme.</p>
<p>Dalam buku ini, Sean M. Sheehan menuturkan kembali sedikit sejarah gerakan anarkis. Pertalian erat anarkisme dengan sosialisme juga dipisahkan dengan sangat dalam oleh perdebatan klasik antara Karl Marx dengan Mikhail Bakunin dalam Sidang Internasionale I di Den Haag, Belanda, pada 1872.</p>
<p>Anarkisme global yang dibahas dalam buku ini juga menjelaskan proses lahirnya neoanarkisme pasca-Seattle 1999. Lalu pemaparan mengenai kekuasaan negara, dimana anarkisme berarti ketiadaan pemimpin. Etimologi kata itu menandai hal yang khas dari anarkisme, yakni penolakan terhadap kebutuhan akan otoritas tersentral dalam negara, satu-satunya bentuk yang kita kenal saat ini.</p>
<p>Dengan gaya tulisan yang lugas dan hasil terjemahan yang mudah dibaca, buku ini lebih dari cukup untuk mengetahui sejarah panjang anarkisme dan juga perjalanannya hingga sekarang. Agar tahu bahwa anarkisme bukanlah kekacauan tak berdasar, melainkan sebuah hasrat perlawanan untuk kehidupan yang lebih baik. Dalam buku ini juga dijelaskan benang merah anarkisme dengan gaya hidup budaya populer seperti film dan musik. Juga keterkaitan anarkisme dengan seni rupa dan sastra. Lalu keterkaitannya dengan aliran filsafat dan sistem kepercayaan, juga psikologi dan seks. Juga penjelasan perbedaan kebebasan anarkisme dengan neoliberalisme.</p>
<p>Yang juga menarik dari buku ini adalah banyaknya slogan-slogan hasil grafiti maupun selebaran kaum anarkis dari setiap jaman, yang bisa membuat kita berpikir ulang mengenai hasrat dan gairah hidup. Bahwa hidup bukan sekadar lahir, sekolah, banting tulang cari uang, menikah, punya anak, lalu mati.</p>
<p>Anggaplah hasratmu sebagai kenyataan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/07/15/anarkisme/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Impian Ustadz Sakur</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/07/14/impian-ustadz-sakur/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/07/14/impian-ustadz-sakur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 15:23:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yodie Hardiyan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<category><![CDATA[agama]]></category>

		<category><![CDATA[Lombok]]></category>

		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<category><![CDATA[Salatiga]]></category>

		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Mendengar, melihat, mengetahui sosok ustadz, tak jauh arus bayangan bermuara akan manusia yang berdakwah lisan di masjid, mengisi pengajian, atau terlibat di “lembaga keagaamaan.” Kalau ustadz-cum-jurnalis? Jarang ada.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendengar, melihat, mengetahui sosok ustadz, tak jauh arus bayangan bermuara akan manusia yang berdakwah lisan di masjid, mengisi pengajian, atau terlibat di “lembaga keagaamaan.” Kalau ustadz-cum-jurnalis? Jarang ada.</p>
<p>Muhammad Sakur Mukhtar salah satunya. Laki-laki kelahiran 31 Desember 1967 di Montong Lisung, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), ini menjadi jurnalis bagi harian <a href="http://www.lombokpost.co.id">Lombok Post</a>, majalah Pendidikan Peduli Masyarakat, Hidayatullah, Bestari, Hikmah, Variasari, Firdaus, tabloid Jum’at, buletin Aswaja, Gema, majalah dinding Sukma, dan beberapa media lokal maupun nasional lainnya.</p>
<p>Bagi Sakur, menulis termasuk caranya berdakwah.</p>
<p>Di rumah mungilnya, ia memiliki taman bacaan masyarakat (TBM) Alfala Good, kebun buku bersemainya ilmu yang dapat dipetik masyarakat. Gratisan!</p>
<p align="center">***</p>
<p>Lahir dari pasangan H. Mukhtar (almarhum) dan Siti Jamilah, Sakur kecil mengenyam pendidikan formal Islami di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Montong Lisung, NTB, pada 1974. Ia kemudian lanjut ke Madrasah Tsanawiyah (MTs) Praya. Di sini, ia mulai jatuh hati pada dunia tulis-menulis. Awalnya, puisi.</p>
<p>Di tempat tinggalnya dahulu, sastra memang membumi. Melekat harmonis. Ia hidup di lingkungan yang cinta menulis.</p>
<p>“Untuk mengungkapkan rasa, pikiran, cinta itu melalui tulisan,” ujarnya pada saya, suatu siang Juni yang cerah, di rumahnya di daerah Kutowinangun, Tingkir, Salatiga.</p>
<p>Wawancara kami disemarakkan riuh anak-anak kecil kampung sekitar. Mereka bermain bebas di dalam rumah Sakur.</p>
<p>Di bangku MTs, puisi bikinan Sakur menembus media milik PT Kantor Pos, Sahabat Pena. Ia dapat honor Rp 17 ribu. Saat itu inflasi tak segila 1966, 1998, atau setidaknya pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 2008. Jadi cukup besar nilainya. Torehan emas pertama dalam sejarah hidup seorang Sakur.</p>
<p>“Bisa traktir untuk satu kelas temen gitu,” katanya.</p>
<p>Puisi yang tak terlupakan di hatinya hingga kini. Judulnya “<em>Hati</em>.”</p>
<blockquote><p>Dan hati ini &#8230;<br />
Kuserahkan padamu kini<br />
Yang tinggal sebesar hati<br />
Bawalah pergi<br />
Jadikan mimpi</p>
<p>Hati yang telah lama membisu<br />
Mengembang dalam pikiranku<br />
Kini teriris kembali mencetak rindu<br />
Tentang dirimu<br />
Oh kasihku &#8230;</p></blockquote>
<p>Puisi adalah manifestasi bentuk perasaan dekatnya dengan Tuhan. Kedekatan yang mengantarkannya tak pernah ketinggalan ibadah, bahkan memperbanyaknya. Puasa Senin-Kamis adalah hal biasa. Tabungan akhirat.</p>
<p>Puisi juga refleksi cinta Sakur terhadap sesama manusia. Terlebih semasa sekolah, ada pemisahan tempat tinggal dan belajar antara laki-laki dan perempuan. Keduanya tak diperkenankan berkomunikasi verbal dan tatap muka. Kebetulan, ia tinggal di pondok pesantren. Komunikasi, ya lewat tulisan.</p>
<p>“Cinta monyet istilahnya? Apa istilahnya? Pokoke tertarik,” candanya, mengenang masa puber.</p>
<p>Ia mengaku tergolong siswa “biasa” perihal akademik. Keikutsertaan pada beragam kegiatan, ketaatan, dan kemanutan terhadap ustadz atau ustadzah ikut meroketkan namanya, walau hanya di lingkup kelas. Ia “bintang kelas.” Mungkin banyak kaum Hawa yang tertarik dengannya, atau malah sebaliknya, sehingga ia begitu puitis.</p>
<p>Ia lanjut di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Praya pada 1983. Kegemaran menulisnya tidak luntur. Dakwah lisan juga mulai ia jalani dari satu masjid ke masjid lain, hingga ke daerah terpencil. Tak pernah terpikirkan oleh Sakur sebelumnya.</p>
<p>“Di pondok (pesantren) memang dituntut untuk bisa menjadi pionir di masyarakat,” ujar ustadz yang pernah mengisi mimbar agama Islam di beberapa stasiun radio lokal Salatiga.</p>
<p>Ia dakwah tak hanya di masjid. Tempat rekreasi seperti pantai dan hotel pun pernah. Sekarang, dakwah adalah rutinitasnya sehari-hari.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Sakur kemudian melanjutkan studi ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Mataram, NTB, pada 1987. Darah “mahasiswa sibuk” mengalir di tubuhnya. Tak tanggung-tanggung, ia terdaftar di dua organisasi ekstrauniversiter sekaligus!</p>
<p>Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ia ikuti bersamaan.</p>
<p>Kedua organisasi ini tersohor di dunia aktivisme mahasiswa Indonesia. Momen terhangat, demonstrasi berjamaah antikenaikan harga BBM pada pertengahan 2008. Keduanya tak henti berteriak mempertanyakan kemana perginya nurani pemimpin bangsa. Muhammad Jusuf Kalla, Wakil Presiden Republik Indonesia, adalah alumnus HMI.</p>
<p>Keikutsertaan Sakur pada dua organisasi sekaligus mendapat sorotan dari “orang dalam” organisasi. Terlebih ia memangku posisi yang cukup penting, seksi dakwah di HMI dan sekretaris di PMII. Tapi Sakur punya argumen.</p>
<p>“Landasannya kan sama-sama Islam, jangan dipersoalkan,” kata Sakur.</p>
<p>Menurutnya, yang harus dipersoalkan adalah ketika amanat organisasi tidak diselesaikan dengan benar. Bukan perkara lambang, jaket, atau bendera yang menjadi masalah. Waduh &#8230;</p>
<p>Sakur tetap dapat layangan teguran perihal komitmen organisasi.</p>
<p>“Tidak bisa ditunjukkan dengan omongan,” kata lulusan Magister Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama, Solo, ini.</p>
<p>Menurutnya, komitmen tak bisa dinilai dari mulut manis seseorang. Harus disertai tindakan, praksis nyata. Dari situlah bisa dinilai. Klise, tapi begitulah adanya.</p>
<p>Sakur merasa tugas-tugas yang diembannya dari kedua organisasi itu terselesaikan baik. Bahkan, ia selalu berada pada garis terdepan di setiap aktivitas organisasi. Aktivitas bukan melulu demonstrasi. Bisa seminar ataupun perkemahan. Sampai-sampai ia dijuluki “HAMKA Muda” oleh kawan-kawan seperjuangannya karena caranya mengungkapkan pendapat.</p>
<p>HAMKA adalah akronim nama <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Haji_Abdul_Malik_Karim_Amrullah">Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah</a> (1908-1981), seorang ulama, penulis, dan aktivis politik yang jago pidato.</p>
<p>Kematangan diri ini yang mengantarkannya jadi jurnalis di harian Lombok Post. Ia bergabung setelah tamat kuliah pada 1991. Pekerjaan yang berhubungan erat dengan hobinya sejak MTs: menulis.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Akhir Desember 1993 digelar razia kendaraan bermotor serentak se-Indonesia. Sasarannya kelengkapan surat-surat kendaraan dan surat ijin mengemudi (SIM). Razia ini mengacu UULLAJ Nomor 14 Tahun 1992.</p>
<p>Kasak-kusuk mengenai SIM, dikenal mahal biaya dan ribet proses pembuatan. Ada mekanisme birokratis, tapi dibuat meliuk-liuk. Mau licin kayak belut? Siapkan uang lebih, dijamin lancar. Petugas pembuat SIM girang, konsumen senang, walau agak meradang, tapi suasana jadi tenang.</p>
<p>Punya SIM, lolos razia. Tak terkecuali “mobil kepunyaan Bos,” entah ada SIM atau tidak, setali tiga uang.</p>
<p>Yang tak punya? Tajamnya pisau bedah operasi razia lalu lintas dipastikan menghadang. Siapa kena? Rakyat kecil macam sopir angkutan umum yang tak ada biaya untuk membeli SIM. Jangankan SIM, untuk beli makan saja sudah ngos-ngosan.</p>
<p>Sakur menangkap fenomena ini. Ditulisnya dalam bentuk opini. Judulnya, ”<em>Razia Diperketat Harga SIM Meroket, Fun Bike Melejit Lalu Lintas Macet</em>.” Sekalian mengritik kemacetan lalu lintas dan hobi <em>fun bike</em> yang menggila di masyarakat NTB dari segi teologis. Opini ini diturunkan berseri, 17 dan 18 Desember 1993.</p>
<p>Saat itu adalah era kedigdayaan otoritarianisme Soeharto. Meminjam istilah Antonio Gramsci, hegemoni, kuasa mantan jenderal itu mencengkram semua lini kehidupan Indonesia. Tak segan, represi dilakukan untuk membungkam resistensi terhadapnya. Alasannya, “menjaga ketertiban negara.” Sedikit yang berani melawan.</p>
<p>Yang berani? Bersiaplah dipilihkan hukuman: diancam, ditangkap, dihilangkan, dipenjara, disiksa, dibuang, atau dibunuh. Benar atau salah, kebenaran tunggal tetaplah di tangan negara.</p>
<p>Sakur menggunakan penanya untuk mengritisi negara. Aparat negara disindir dalam opininya, bahkan digurui.</p>
<p>Apa yang terjadi? Bisa ditebak. Jadilah Sakur target penangkapan!</p>
<p>“Dicari serse (reserse kepolisian &#8212; Red) itu mas,” ujar Jumirah, istri Sakur.</p>
<p>Kala itu Sakur dan Jumirah baru saja menikah. Jumirah sedang mengandung buah cinta pertama mereka. Laily namanya.</p>
<p>Tiga kali reserse datang ke tempat tinggal pengantin baru ini. Mencari Sakur. Diciduklah si penulis opini.</p>
<p>Untungnya, Sakur tidak bernasib buruk seperti korektor Orde Baru lainnya. Di kantor polisi, ia hanya diinterogasi, diceramahi, diajak “bekerjasama” alias jangan menulis yang “mengganggu ketertiban.”</p>
<p>Seketika, saya teringat Wiji Thukul, penyair sekaligus aktivis Partai Rakyat Demokratik. Nasibnya buruk. Perlawanan radikal via sajak-sajak mengantarkannya ke penghilangan. Dianggap subversif. Tak seorangpun sanggup memastikan nasib peraih Yap Thiam Hien Award tahun 2002 itu sekarang: hidup atau mati?</p>
<p>Kasus belum selesai. Sakur diminta membuat “permohonan maaf.” Harus dimuat satu halaman koran penuh. Bila tidak, meja hijau menanti.</p>
<p>Namun Sakur ada di belakang pihak redaktur. Redaktur tak ingin memuat permohonan maaf pesanan aparat. Daripada rugi halaman, redaktur mencari cara. Dipersiapkanlah data-data untuk memperkuat tulisan bermasalah itu.</p>
<p>Usaha berhasil. Kasus itu menguap. Sepi dan dianggap selesai. Beruntung.</p>
<p>“Kalau bukan wartawan, dipukulin itu. Hehehe,” ujar Jumirah.</p>
<p>Beberapa bulan berikutnya, pada 1994, majalah Editor, Detik, dan Tempo dibredel. Hegemoni Soeharto menjinakkan para korektor. Mulut pers diplester. Mendung memayungi pilar demokrasi keempat Indonesia.</p>
<p>Setelah kasusnya dengan aparat, nama Sakur jadi lebih dikenal di kalangan orang-orang media NTB. Karyanya bertebaran di banyak media, terlebih setelah ia keluar dari Lombok Post. Tulisannya kemudian condong pada kajian Islam. Hingga hari ini.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Alfala Good. Nama yang lucu, pikir saya. Zaman sekarang orang kasih nama sesuatu kok aneh-aneh ya? Kalau ”Good” adalah kebaikan, lhah ”Alfala” apa maknanya?</p>
<p>Sakur adalah bapak tiga anak. Semua anaknya berkulit putih. Tingkahnya lincah. Orang Jawa bilang, pethakilan. Alfiana (5 tahun), Fathan (10 tahun) dan Laily (12 Tahun). Tebak, apa hubungan nama Alfala dengan nama ketiga anaknya?</p>
<p>TBM Alfala Good berdiri pada 2000, berbarengan dengan kepindahan Sakur dari Lombok ke Salatiga. TBM ini kelanjutan dari Perpustakaan Pilihan Terima Kasih, Lombok. Pun didirikan oleh Sakur. Kini perpustakaan itu belum tamat dan masih dikelola sanak keluarganya.</p>
<p>Sudah puluhan tahun Sakur hobi baca. Juga beli buku. Sama halnya dengan istrinya.</p>
<p>Buku-buku dikumpulkan sedikit demi sedikit. Perlahan tapi pasti, menyemarakkan sebuah kebun buku. Bila pasangan suami istri ini ada “rezeki,” sebagian disisihkan untuk beli buku. Hasilnya, sekarang bisa dipetik masyarakat secara gratis. Mahasiswa juga banyak yang berkunjung, seperti dari Keluarga Mahasiswa Islam Satya Wacana.</p>
<p>Bagi Sakur, ada tiga tujuan pendirian TBM ini. Pertama, memromosikan hobi gemar membaca dan menulis.</p>
<p>“Ada yang pintar baca, tapi gak bisa nulis. Ada yang gak bisa kedua-duanya,” jelas Sakur.</p>
<p>Menurutnya, seorang yang ingin hebat dalam menulis, haruslah gemar membaca buku. Bisik-bisik, karena koleksi bukunya seabrek, Sakur berniat mendirikan <em>homeschooling</em>.</p>
<p>Tujuan kedua, memberikan pemahaman bahwa ilmu tidak serta-merta hanya dapat digenggam di lembaga pendidikan formal. Bisa dimana saja, termasuk TBM ini.</p>
<p>Ketiga, memperluas wawasan pendidikan dan keagamaan masyarakat.</p>
<p>Walaupun Sakur adalah seorang Muslim, bukan berarti ketersediaan buku hanya mengenai Islam, Islam, dan Islam.</p>
<p>“Kalau pengen cari Alkitab, saya siapkan. Kalau mau cari buku Hindu, saya siapkan,” paparnya.</p>
<p>Anggota Majelis Paguyuban Kerukunan Umat Beragama Salatiga ini bukan tipe Muslim yang menutup diri terhadap kepercayaan non-Muslim.</p>
<p>Suatu kali, ia berbincang dengan seorang pegawai Departemen Pendidikan Nasional yang beragama Katolik.</p>
<p>“Bu, jenengan punya kitab berapa?” tanya Sakur.</p>
<p>“Cuma satu,” jawab pegawai itu.</p>
<p>“Oh, berarti ibu itu kurang. Harus lebih banyak,” tambah Sakur.</p>
<p>“Lho kenapa?” tanya pegawai itu.</p>
<p>“Seharusnya ibu di rumah juga punya Al-Quran. Biar tau agama orang lain seperti apa,” ucap Sakur.</p>
<p>Sakur kemudian memberikan satu buah Alkitab kepada pegawai tadi untuk keperluan pendidikan.</p>
<p>Menurutnya, dalam mencari ilmu tak boleh memagari diri. Tidak setuju bila “yang Islam baca buku Islam, yang Kristen baca buku Kristen.” Bisa-bisa, fanatisme akan terpupuk subur.</p>
<p>Bicara fanatisme, Sakur melihat ada dua sebab. Pertama, umat terlalu mengultuskan tokoh agama masing-masing. Apa yang tokoh agamanya katakan, diterima mentah-mentah. Kalau dibodohi, asal ikut saja. Nyungsep deh!</p>
<p>Sebab kedua, umat tidak paham betul terhadap agama yang dianutnya. Bila paham, niscaya akan terhindar dari fanatisme berlebihan.</p>
<p>Ia kemudian menjelaskan stigmatisasi negatif yang menyerang Islam. Islam acapkali diidentikkan dengan radikalisme, apalagi pascatragedi World Trade Center, 11 September 2001. Seketika, Islam seolah-olah adalah agama ”penjahat.” Muslim yang bercelana congklang (panjang tiga perempat kaki), berjanggut lebat, atau Muslimah bercadar, langsung dikira teroris.</p>
<p>“Itu tidak benar,” ucapnya.</p>
<p>“Semua agama itu mengajarkan kebajikan. Kebajikan yang dilandasi norma agamanya masing-masing,” ujar bapak yang juga berprofesi sebagai guru sekolah ini.</p>
<p>Kebajikan yang kerap disalahartikan umat yang fanatik.</p>
<p>Oleh karena itu, walau jumlahnya terbatas, Alfala menyediakan buku lintas agama untuk dibaca. Dan belakangan ini, Sakur juga menyimpan sebuah impian: punya karyawan tetap.</p>
<p>Tidak sesederhana itu. Rencananya, karyawan itu akan berkeliling dengan sepeda motor, membawa banyak buku, dan menawarkannya agar dibaca. Tentunya gratis. Sistem jemput bola.</p>
<p>Target konsumen awal adalah pedagang di pasar tradisional.</p>
<p>Kenapa?</p>
<p>Di pasar, terdapat pedagang yang dagangannya laris dan tidak laris. Yang tidak laris, banyak bengong, tidak berkegiatan apapun kecuali menawarkan paksa barang dagangan atau bergosip. Apalagi saat lihat larisnya dagangan orang lain. Uhhh &#8230;!</p>
<p>Untuk meminimalisir iri dan dengki, akan diberikan bahan bacaan.</p>
<p>“Bagaimana menjadi pedagang yang baik dan jujur” dan “pengusaha yang sukses” adalah contoh tema buku yang akan dipinjamkan Alfala.</p>
<p>Ada makna lain dari Alfala. Sakur bilang, Alfala asalnya dari bahasa Arab (<em>aalaafun</em>). Artinya seribu.</p>
<p>Alfala Good, seribu kebaikan?</p>
<p>YODIE HARDIYAN<br />
<em>Jurnalis Lepas<br />
Mahasiswa Fakultas Ekonomi UKSW</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/07/14/impian-ustadz-sakur/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>IESP tambah satu doktor</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/07/01/iesp-tambah-satu-doktor/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2008/07/01/iesp-tambah-satu-doktor/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 05:24:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari Syanto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[UKSW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[<strong>SEMARANG</strong> -- Ruang sidang utama gedung pascasarjana <a href="http://undip.ac.id">Universitas Diponegoro</a> menjadi saksi ujian terbuka Gatot Sasongko, dosen Program Studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi UKSW, dalam rangka promosi doktor bidang ilmu ekonomi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG</strong> &#8212; Ruang sidang utama gedung pascasarjana <a href="http://undip.ac.id">Universitas Diponegoro</a> menjadi saksi ujian terbuka Gatot Sasongko, dosen Program Studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi UKSW, dalam rangka promosi doktor bidang ilmu ekonomi.</p>
<p>Dalam ujian tersebut Gatot berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul &#8220;<em>Faktor Penentu Alokasi Waktu Anak Usia Sekolah Bersekolah dan Bekerja, Apakah Trade-off (Studi Empiris pada Industri Kayu di Kecamatan Nogosari dan Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali Propinsi Jawa Tengah)</em>.&#8221; Salah satu penguji Gatot adalah Daniel Daud Kameo, salah satu guru besar FE UKSW.</p>
<p>Gatot melakukan penelitian pada 353 rumah tangga dimana 80 rumah tangga di antaranya memiliki anak yang bekerja. Ia mengatakan, pekerja anak di industri kayu pada dua kecamatan itu tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Di tempat itu, anak-anak bekerja sambil belajar mendapatkan ilmu. Dari hasil penelitiannya ditemukan bahwa tidak ada <em>trade-off</em> antara bersekolah dan bekerja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2008/07/01/iesp-tambah-satu-doktor/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
