<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Scientiarum</title>
	<atom:link href="http://scientiarum.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://scientiarum.com</link>
	<description>Universitas Kristen Satya Wacana &#124; Salatiga</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Mar 2010 00:12:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Forum Terbuka FBS Sepi</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/03/11/forum-terbuka-fbs-sepi/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/03/11/forum-terbuka-fbs-sepi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 00:08:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Steaven Octavianus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2270</guid>
		<description><![CDATA[Forum Terbuka Fakultas Bahasa dan Sastra (English Department Open Forum) adalah forum yang membahas tentang sistem perkuliahan di FBS, Sistem Informasi Akademik Satya Wacana (Siasat), dan sistem registrasi, baik akademik maupun keuangan. “Sebagai ajang share (berbagi) semua unek-unek dari mahasiswa FBS,” kata Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FBS Victoria Usadya Palupi. Forum ini dihadiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Forum Terbuka Fakultas Bahasa dan Sastra (English Department Open Forum) adalah forum yang membahas tentang sistem perkuliahan di FBS, Sistem Informasi Akademik Satya Wacana (Siasat), dan sistem registrasi, baik akademik maupun keuangan. “Sebagai ajang <em>share</em> (berbagi) semua unek-unek dari mahasiswa FBS,” kata Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FBS Victoria Usadya Palupi. Forum ini dihadiri oleh beberapa dosen dan mahasiswa FBS di ruang F 114, Rabu, 10 Maret 2010, pukul 11.00 hingga 13.00.</p>
<p>Eko Imam Slamet dari Bagian Admisi dan Registrasi (Bara) UKSW mengisi sesi pertama. Dia menjelaskan registrasi ulang mahasiswa pada setiap semester dan Siasat. Penjelasan berkisar di seputar pencetakan Kartu Hasil Studi (KHS), Kartu Studi Tetap, dan tagihan keuangan. Eko mengatakan bahwa mahasiswa dapat mencetak tagihan keuangan di beberapa mesin Anjungan Layanan Akademik Mahasiswa yang memiliki mesin pencetak di Gedung Administrasi Pusat.</p>
<p>Eko juga menyinggung tentang pencetakan KHS dan transkrip nilai, di mana terkadang mahasiswa mengalami kesulitan mencetaknya. Untuk itu, akan diusahakan pengadaan kupon bagi mahasiswa agar lebih mudah mencetak KHS.</p>
<p>Yang paling penting adalah penjelasan tentang Siasat yang baru, serta pembayaran tagihan keuangan semester baru. Siasat FBS pada semester ini dilakukan pada waktu bersamaan untuk seluruh angkatan, sehingga pengguna yang sedang dalam jaringan (<em>online</em>) mencapai ratusan mahasiswa hingga sistem sering mengalami gangguan. Eko menjelaskan bahwa <em>error message</em> (pesan eror) yang kadang muncul saat Siasat bisa diakibatkan karena mahasiswa belum memenuhi kewajiban keuangan atau belum melakukan perwalian.</p>
<p>Siasat yang baru dilengkapi dengan permintaan matakuliah. Hal ini memungkinkan mahasiswa untuk meminta matakuliah bila matakuliah tersebut sudah penuh. Namun, penambahan matakuliah dikembalikan kepada kebijakan fakultas. Penambahan dilakukan pada masa pemantapan (<em>adjustment</em>).</p>
<p>Eko menciptakan suasana sesi yang santai dan kocak, tetapi serius. Hal ini membuat peserta forum memberikan atensi penuh. “Kalau misalnya kami yang salah mengolah data, kalian bisa berhadapan dengan Bara, tetapi kalau kalian ternyata yang salah, maka saya akan aniaya,” guraunya, kala ia membahas status kuliah mahasiswa.</p>
<p>Dekan FBS Hendro Setiawan Husada SPd MA mengisi sesi kedua. Di sesi ini Hendro menjelaskan sistem perkuliahan FBS, yang meliputi Siasat untuk mahasiswa FBS, evaluasi perkuliahan dan prosedur skripsi. Hendro menjelaskan bahwa FBS sekarang memakai sistem dwimester bukan lagi trimester. Dia juga menerangkan bahwa tahun ini, semester pengayaan tidak ada lagi, karena sesuai dengan rapat kerja fakultas yang diadakan terdahulu, semester pengayaan hanya akan berlangsung sampai dua tahun saja.</p>
<p>Hendro menjelaskan bahwa angkatan 2008 dan 2009 akan mengikuti kurikulum baru, karena matakuliah yang diambil masih sedikit, sehingga peralihannya tidak akan terlalu banyak. Sedangkan angkatan 2007 masih tetap mengikuti kurikulum lama, karena matakuliah yang diambil sudah banyak dan kalau dialihkan, akan terlalu banyak.</p>
<p>Pada sesi ini Hendro juga memperkenalkan dosen baru FBS, Cecilia Maria Theresia Fanny Novita Atmadjaja. Dia juga menyinggung proses reakreditasi FBS yang sedang berjalan tahun ini.</p>
<p>Banyak mahasiswa menanyakan isu-isu seputar perkuliahan di FBS, seperti sidang bagi mahasiswa tingkat akhir atau seputar Siasat FBS yang menurut beberapa pihak dinilai kacau, karena tidak semua mahasiswa mendapat matakuliah yang mereka inginkan.</p>
<p>Menurut Victoria, acara ini cukup baik karena selain menjadi ajang tukar pikiran, acara ini juga sebagai ajang untuk menyatakan pendapat. Namun demikian, peserta yang hadir tidak sebanyak yang diharapkan. Pertanyaan yang muncul pun belum mewakili semua pertanyaan mahasiswa FBS.</p>
<p>Yusuf Setyawan, mahasiswa FBS angkatan 2007, berpendapat bahwa bagian yang simpang siur dari isu-isu perkuliahan di FBS sudah jelas dan dia merasa cukup puas dengan jawaban dan penjelasan yang diberikan dalam forum ini. Menurut Yusuf, forum terbuka ini perlu diadakan rutin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/03/11/forum-terbuka-fbs-sepi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Front Germas Turun ke Jalan</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/03/10/front-germas-turun-ke-jalan/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/03/10/front-germas-turun-ke-jalan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 01:30:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidya Annisa Widyastuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2248</guid>
		<description><![CDATA[Front Gerakan Solidaritas Mahasiswa Bersatu (Germas) menggelar aksi menentang sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap hasil Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat tentang Bank Century, menentang korupsi, dan aksi solidaritas untuk Himpunan Mahasiswa Islam cabang Makassar dengan berjalan diiringi orasi dari Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Bundaran Taman Sari, Kantor DPRD Kota Salatiga dan Polres Kota Salatiga, Senin, 8 Maret 2010.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Front Gerakan Solidaritas Mahasiswa Bersatu (Germas) menggelar aksi menentang sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap hasil Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat tentang Bank Century, menentang korupsi, dan aksi solidaritas untuk Himpunan Mahasiswa Islam cabang Makassar dengan berjalan diiringi orasi dari Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Bundaran Taman Sari, Kantor DPRD Kota Salatiga dan Polres Kota Salatiga, Senin, 8 Maret 2010. Baca berita selengkapnya <a href="http://scientiarum.com/2010/03/10/aksi-solidaritas-untuk-hmi-makassar/">di sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/03/10/front-germas-turun-ke-jalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aksi Solidaritas untuk HMI Makassar</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/03/10/aksi-solidaritas-untuk-hmi-makassar/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/03/10/aksi-solidaritas-untuk-hmi-makassar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 18:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Pekuwali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Salatiga & Sekitarnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2264</guid>
		<description><![CDATA[Masa yang menamakan dirinya Front Gerakan Solidaritas Mahasiswa Bersatu (Germas) menggelar aksi damai, dimulai dari Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Bundaran Taman Sari, Kantor DPRD Kota Salatiga hingga Markas Polres Kota Salatiga, Senin, 8 Maret 2010.
&#8220;Kepala Polda Sulawesi Selatan turun&#8221;, &#8220;Usut oknum kepolisian&#8221;, &#8220;Sri Mulyani harus mundur&#8221;, &#8220;Boediono juga mundur&#8221;, demikian tulisan-tulisan yang mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masa yang menamakan dirinya Front Gerakan Solidaritas Mahasiswa Bersatu (Germas) menggelar aksi damai, dimulai dari Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Bundaran Taman Sari, Kantor DPRD Kota Salatiga hingga Markas Polres Kota Salatiga, Senin, 8 Maret 2010.</p>
<p>&#8220;Kepala Polda Sulawesi Selatan turun&#8221;, &#8220;Usut oknum kepolisian&#8221;, &#8220;Sri Mulyani harus mundur&#8221;, &#8220;Boediono juga mundur&#8221;, demikian tulisan-tulisan yang mereka bawa.</p>
<p>Aksi ini menyuarakan pertentangan atas pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menyikapi hasil sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat tentang Bank Century. Mereka menganggap bahwa SBY tidak tegas dalam menyelesaikan persoalan tersebut.</p>
<p>“Sangat tidak jelas dalam hal ini, SBY menghormati dan mengapresiasi proses dan hasil pansus. Akan tetapi tidak jelas apa tindak lanjut dari rekomendasi tersebut,” ucap Reza Ahmadiansyah, koordinator aksi.</p>
<p>Reza menambahkan, di satu sisi DPR mengatakan bahwa <em>bailout</em> adalah salah, tetapi SBY menyatakan bahwa <em>bailout</em> tidak salah. Pernyataan-pernyataan yang disampaikan SBY dalam pidatonya seolah menjadi legitimasi eksekutif dalam menyikapi hasil yang dilakukan oleh DPR.</p>
<p>Massa gabungan antara Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) ini, menyampaikan tuntutan mereka di hadapan anggota DPRD Kota Salatiga. Mereka menuntut kepada Presiden untuk tegas dan tidak tebang pilih dalam program penuntasan korupsi di negeri ini, serta mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi dalam pemberantasan kasus korupsi, terutama penyelesaian kasus Bank Century.</p>
<p>Di Mapolres Kota Salatiga, aksi tersebut merepresentasikan diri sebagai buntut penyerangan markas HMI yang terjadi di Makassar, Sulsel, yang mana pada saat itu HMI setempat sedang mengadakan rapat evaluasi aksi dan persiapan aksi selanjutnya untuk mengawal Pansus Angket DPR tentang Bank Century. Aksi ini merupakan simbol penentangan tindak penyerangan markas HMI di Makassar yang dilakukan oleh oknum kepolisian setempat pada Rabu, 3 Maret 2010, lalu. Saat itu anggota HMI Cabang Makassar secara tiba-tiba diserang oleh 10 orang yang diduga kuat oknum polisi.</p>
<p>“Secara tidak langsung ada upaya-upaya untuk melemahkan gerakan mahasiswa. Memberikan cetak biru bahwa mahasiswa identik dengan kekerasan,” ujar Wahyu Budi Utomo, Ketua Umum HMI Cabang Salatiga.</p>
<p>Aksi yang mendapat pengawalan ketat dari kepolisian ini, disambut oleh Wakil Kapolres Kota Salatiga Komisaris Rugaya Renwarin di gerbang masuk Mapolresta. Di hadapan Rugaya, mereka menuntut kepada Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri untuk meminta maaf kepada kader HMI se-Indonesia atas nama institusi. “Kami juga menuntut kepada Kapolri untuk segera menyelesaikan dengan tuntas persoalan antara HMI dan kepolisian,” tambah Wahyu yang ditemui secara terpisah setelah aksi ini selesai.</p>
<p>Menanggapi tuntutan tersebut, Rugaya mengatakan dia akan menindaklanjuti tuntutan tersebut, dilaporkan kepada atasannya kemudian mencari jalan keluar dalam penyelesaian masalah ini. “Mari kita sama-sama mendukung penyelesaian masalah ini,” kata Rugaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/03/10/aksi-solidaritas-untuk-hmi-makassar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Art of IT</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/03/09/it-of-art/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/03/09/it-of-art/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 16:26:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alvin Leopold Tumewu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2243</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu peserta lomba grafiti yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Informasi UKSW dengan tema art of  IT, Senin, 8 maret 2010 di lapangan basket UKSW. Lomba ini merupakan salah satu rangkaian acara World of IT. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu peserta lomba grafiti yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Informasi UKSW dengan tema Art of  IT, Senin, 8 Maret 2010 di lapangan basket UKSW. Lomba ini merupakan salah satu rangkaian acara World of IT. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/03/09/it-of-art/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sharing Bersama BPMU</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/03/08/sharing-bersama-pimpinan-uksw/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/03/08/sharing-bersama-pimpinan-uksw/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 16:05:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alvin Leopold Tumewu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2238</guid>
		<description><![CDATA[Sharing yang diadakan oleh Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas ini membahas mengenai masalah fasilitas-fasilitas di lingkungan kampus, seperti Sistem Informasi Akademik Satya Wacana (Siasat) dan pembayaran uang kuliah. Acara ini berlangsung pada Jumat, 5 Maret 2010, di Gedung Lembaga Kemahasiswaan Universitas, pukul 16.00. Hadir dalam acara ini adalah perwakilan fakultas dan perwakilan Biro Teknologi dan Sistem Informasi (BTSI).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sharing yang diadakan oleh Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas ini membahas mengenai masalah fasilitas-fasilitas di lingkungan kampus, seperti Sistem Informasi Akademik Satya Wacana (Siasat) dan pembayaran uang kuliah. Acara ini berlangsung pada Jumat, 5 Maret 2010, di Gedung Lembaga Kemahasiswaan Universitas, pukul 16.00. Hadir dalam acara ini adalah perwakilan fakultas dan perwakilan Biro Teknologi dan Sistem Informasi (BTSI).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/03/08/sharing-bersama-pimpinan-uksw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Kreatif Tidak Perlu Dibelenggu</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/03/08/anak-kreatif-tidak-perlu-dibelenggu/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/03/08/anak-kreatif-tidak-perlu-dibelenggu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 01:12:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Pekuwali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2234</guid>
		<description><![CDATA[Masa depan bangsa membutuhkan generasi yang mampu dan berani menghadapi tantangan maupun perubahan. Sistem pendidikan menjadi pondasi untuk menyediakan individu yang siap mental, mampu menyesuaikan diri, dan memecahkan masalah secara kritis dan kreatif.
Sistem pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya mempersiapkan peserta didik untuk berpikir kreatif serta kurang memberikan peluang menjadi lifelong learner.
Raymond Wlodkowski menuliskan bahwa untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2235" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img src="http://scientiarum.com/wp-content/uploads/2010/03/bahruddin.jpg" alt="Bahruddin, penggagas sekaligus pendiri lembaga pendidikan alternatif Qaryah Thayyibah, Salatiga, sedang berbicara dalam seminar nasional “Sistem Pendidikan Belenggu Anak Kreatif” di Balairung Universitas, Kamis, 4 Maret 2010. {Foto oleh Daniel Pekuwali}" title="bahruddin" width="500" height="395" class="size-full wp-image-2235" /><p class="wp-caption-text">Bahruddin, penggagas sekaligus pendiri lembaga pendidikan alternatif Qaryah Thayyibah, Salatiga, sedang berbicara dalam seminar nasional “Sistem Pendidikan Belenggu Anak Kreatif” di Balairung Universitas, Kamis, 4 Maret 2010. {Foto oleh Daniel Pekuwali}</p></div>
<p>Masa depan bangsa membutuhkan generasi yang mampu dan berani menghadapi tantangan maupun perubahan. Sistem pendidikan menjadi pondasi untuk menyediakan individu yang siap mental, mampu menyesuaikan diri, dan memecahkan masalah secara kritis dan kreatif.</p>
<p>Sistem pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya mempersiapkan peserta didik untuk berpikir kreatif serta kurang memberikan peluang menjadi <em>lifelong learner</em>.</p>
<p>Raymond Wlodkowski menuliskan bahwa untuk menjadi negara dengan generasi muda yang sukses membutuhkan “<em>children who posses a strong motivation to learn have a future blessed with discovery, opportunity, and contribution. They have a natural best to do those things that will lead to occupational success in the 21st century and benefit the positive evaluation of society. People who posses motivation to learn may find external barriers of circumstance and prejudice-but they are not their own enemies, and they are the most fit to learn ways to overcome such obstacles. They are the most likely to be capable of creativity and excellence because the best in science, scholarship, or art cannot be coerced from unwilling heart.</em>”</p>
<p>“Oleh karena itu, diperlukan perubahan sistem pendidikan dari parsial menjadi keseluruhan <em>multidisciplinary and holistic aproarch to reality</em> dan peserta didik dapat menjadi seorang pembelajar sejati,” kata Diana Kartika Kusumawati, salah satu pembicara seminar nasional bertema <em>Sistem Pendidikan Belenggu Anak Kreatif</em>, Rabu, 4 Maret 2010.</p>
<p>Seminar yang diselenggarakan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini, meghadirkan tiga pembicara. Selain Diana Kartika Kusumawati, ada pula Hengky Kusworo, Ketua Yayasan Terang Bangsa Semarang, dan Bahruddin, pendiri lembaga pendidikan Qaryah Thayyibah Salatiga.</p>
<p>Acara ini diselenggarakan di Balairung Universitas. Sebagai pembicara pertama, Diana menyampaikan problem-problem yang dihadapi anak usia dini dalam belajar, salah satunya adalah kompetensi guru atau orangtua dalam mengembangkan dan mendukung potensi kreatif anak. Diana menawarkan adanya perubahan sistem pendidikan, karena sistem pendidikan saat ini, sama sekali tidak mendukung anak untuk kreatif.</p>
<p>Lain halnya dengan Hengky. Dia menceritakan awal berdirinya Yayasan Terang Bangsa, bagaimana membantu anak-anak dari kelurga yang tidak mampu. Tak dapat dipungkiri lagi, pendidikan di Indonesia relatif mahal, tetapi jaminan mutunya masih dipertanyakan.</p>
<p>Hengky memotivasi para dosen maupun mahasiswa agar tidak membedakan latar belakang perekonomian murid. Karena sikap membedakan dapat mengekang anak dan berakibat si anak menjadi tidak kreatif.</p>
<p>Pembicara ketiga adalah Bahruddin. Ia hanya menggunakan waktu 15 menit untuk berbicara, sisanya digunakan untuk berdiskusi. “Kalau siswa mengantuk saat pelajaran, beri saja mereka bantal, jangan disuruh cuci muka,” kata Bahruddin. Sontak para peserta seminar kaget. Aneh memang. Namun, itulah metode belajar yang diterapkan pada sekolah alternatif yang dirintis oleh Bahrudin dan teman-temannya.</p>
<p>Pendidikan alternatif yang digagas oleh Bahruddin merupakan konsep yang dikembangkannya berdasar pengalaman dan buku-buku yang dibacanya. Prinsip dasarnya adalah memberi kebebasan pada siswa untuk belajar apa pun yang mereka sukai. Guru merupakan pendamping, tugasnya hanya memberikan ide atau masukan, apakah nanti akan diterima anak atau tidak, semua dikembalikan ke siswa.</p>
<p>“Anak-anak itu ‘liar’, nah seharusnya kita dukung jiwa ‘keliaran’-nya ke arah yang positif. Anak-anak yang ada sekarang merupakan korban dari sistem pendidikan di Indonesia. Biarkan anak itu belajar, kita hanya bisa sebagai pendamping, bukan guru. Makanya guru di tempat saya (Qaryah Thayyibah) tidak perlu harus lulus SMP, yang penting punya kemauan belajar bersama, itu saja,” terang Bahruddin.</p>
<p>Ardi Bangkit Purwoko selaku ketua panitia mengatakan bahwa antusiasme peserta dalam acara ini cukup baik. Ini terlihat dari komentar dari pertanyaan yang mereka ajukan pada setiap sesi.</p>
<p>“Kami mengangkat tema ‘Sistem Pendidikan Belenggu Anak Kreatif’, karena terinspirasi dari Muhammad Yunus pemenang Nobel Perdamaian tahun 2006. Muhammad menang Nobel karena memperjuangkan kaum papa dan miskin,” kata Ardi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/03/08/anak-kreatif-tidak-perlu-dibelenggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seminar Guru BK Jawa Tengah</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/03/06/seminar-guru-bk-jawa-tengah/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/03/06/seminar-guru-bk-jawa-tengah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 10:18:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Pekuwali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2231</guid>
		<description><![CDATA[Biro Promosi dan Hubungan Luar (BPHL) menyelenggarakan seminar guru bimbingan dan konseling se-Jawa Tengah pada Jumat, 5 Maret 2010, bertema "Tuntutan Profesionalisme Guru di Era Globalisasi Serta Peran dan Tantangannya dalam Perencanaan Karier Siswa". Kegiatan ini berlangsung di Balairung Universitas.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Biro Promosi dan Hubungan Luar (BPHL) menyelenggarakan seminar guru bimbingan dan konseling se-Jawa Tengah pada Jumat, 5 Maret 2010, bertema &#8220;Tuntutan Profesionalisme Guru di Era Globalisasi Serta Peran dan Tantangannya dalam Perencanaan Karier Siswa&#8221;. Kegiatan ini berlangsung di Balairung Universitas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/03/06/seminar-guru-bk-jawa-tengah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sistem Pendidikan Belenggu Anak Kreatif</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/03/06/sistem-pendidikan-belenggu-anak-kreatif/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/03/06/sistem-pendidikan-belenggu-anak-kreatif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 10:12:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Pekuwali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2228</guid>
		<description><![CDATA[Bahruddin, penggagas sekaligus pendiri lembaga pendidikan alternatif Qaryah Thayyibah, Salatiga, sedang berbicara dalam seminar nasional "Sistem Pendidikan Belenggu Anak Kreatif" di Balairung Universitas, Kamis, 4 Maret 2010.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahruddin, penggagas sekaligus pendiri lembaga pendidikan alternatif Qaryah Thayyibah, Salatiga, sedang berbicara dalam seminar nasional &#8220;Sistem Pendidikan Belenggu Anak Kreatif&#8221; di Balairung Universitas, Kamis, 4 Maret 2010. Baca berita selengkapnya <a href="http://scientiarum.com/2010/03/08/anak-kreatif-tidak-perlu-dibelenggu/">di sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/03/06/sistem-pendidikan-belenggu-anak-kreatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Midsummer Night’s Dream: Impian FBS Sejak Enam Tahun Lalu</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/02/27/a-midsummer-nights-dream-impian-fbs-sejak-enam-tahun-lalu/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/02/27/a-midsummer-nights-dream-impian-fbs-sejak-enam-tahun-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 11:31:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ninon Melatyugra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2218</guid>
		<description><![CDATA[“Awesome!” teriak seorang penonton berkewarganegaraan Amerika, Laurent Zentz, usai pertunjukan drama berjudul A Midsummer Night’s Dream yang digelar di Balairung Universitas. Drama tersebut berlangsung selama dua hari, yaitu 24 dan 25 Februari 2010 pukul 17.30 tanpa tiket masuk.
Drama berbalut komedi romantis dengan kemunculan peri-peri unik ini bercerita tentang petualangan empat kekasih, sekelompok aktor amatir, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2226" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img src="http://scientiarum.com/wp-content/uploads/2010/02/midsummer.JPG" alt="Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra mementaskan drama berjudul A Midsummer Night&#039;s Dream karya William Shakespeare, Rabu-Kamis, 24-25 Februari 2010 di Balairung Universitas. {Foto oleh Lidya Annisa Widyastuti}" title="midsummer" width="500" height="332" class="size-full wp-image-2226" /><p class="wp-caption-text">Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra mementaskan drama berjudul A Midsummer Night's Dream karya William Shakespeare, Rabu-Kamis, 24-25 Februari 2010 di Balairung Universitas. {Foto oleh Lidya Annisa Widyastuti}</p></div>
<p>“Awesome!” teriak seorang penonton berkewarganegaraan Amerika, Laurent Zentz, usai pertunjukan drama berjudul <em>A Midsummer Night’s Dream</em> yang digelar di Balairung Universitas. Drama tersebut berlangsung selama dua hari, yaitu 24 dan 25 Februari 2010 pukul 17.30 tanpa tiket masuk.</p>
<p>Drama berbalut komedi romantis dengan kemunculan peri-peri unik ini bercerita tentang petualangan empat kekasih, sekelompok aktor amatir, dan interaksi mereka dengan para peri yang tinggal di sebuah hutan dekat Athena. Melalui komedi yang mengaburkan konflik dan penderitaan yang dialami para pencari cinta, drama ini ingin menekankan pesan bahwa cinta sejati tak pernah berjalan mulus: “<em>The course of true love never did run smooth.</em>”</p>
<p>“Sebenernya rencana drama ini sudah ada dari tahun 2004 tapi selalu ada kendala dan baru setelah enam tahun ini bisa bikin drama ini,” ujar sang sutradara, Annita ‘Kwannie’ MFA. Menyoal pemilihan tema, Annita mengatakan bahwa tema drama ini memang berbeda dengan sebelumnya karena ini merupakan pertama kalinya FBS menyuguhkan karya Shakespeare yang murni setelah enam belas kali pertunjukan drama FBS lainnya.</p>
<p>Ina Riyanto SPd MA, supervisor <em>A Midsummer Night&#8217;s Dream</em>, mengatakan bahwa pada awalnya drama seperti ini merupakan tugas akhir dari matakuliah Elective, yaitu membuat suatu produksi bersama-sama. Namun karena apresiasi kegiatan ini semakin besar dan berkembang, maka tidak bisa hanya melibatkan mahasiswa yang mengambil kelas tersebut, melainkan juga turut melibatkan mahasiswa FBS lain melalui audisi yang ketat. “Seperti Indonesian Idol itu lho,” ucap Ina sambil tertawa.</p>
<p>Ina menambahkan, tujuan pertunjukan drama ini adalah sebagai sarana promosi untuk FBS dan sarana untuk memberi kesempatan pada mahasiswa FBS untuk bekerja dalam tim yang besar. Pertunjukan drama ini melibatkan 34 pemain dan 96 kru. “Dengan latihan dan dorongan akan menimbulkan percaya diri pada anak-anak yang terlibat di sini,” ungkapnya. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam pertunjukan drama ini merupakan poin plus pada saat mereka ingin mencari kerja.</p>
<p>Persiapan pertunjukan drama sendiri terbilang cukup lama dan matang dengan menghabiskan waktu lima bulan, disertai karantina khusus selama tiga hari di Tawangmangu agar berlatih lebih efektif jika dibandingkan dengan latihan biasa yang dilaksanakan dua hingga tiga kali seminggu. “Banyak masukan dari director, assistant director, supervisor yang mendukung penjiwaan drama ini,” ujar Yosafat, mahasiswa FBS angkatan 2006 yang berperan sebagai Puck. Saat ditanyai mengenai aksi konyolnya yang kerap kali membuat para penonton tertawa terbahak, ia hanya berkomentar, “Malu, malu banget.”</p>
<p>Drama berakhir sekitar pukul 21.15 dengan teriakan dan tepuk tangan meriah dari para penonton.</p>
<p>Immanuel Permadi, mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan angkatan 2009, menyampaikan kesannya, “Drama ini menarik dan saya kagum sekali. Nggak nyangka mahasiswa bisa seperti ini, bisa menghasilkan drama yang berkelas.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/02/27/a-midsummer-nights-dream-impian-fbs-sejak-enam-tahun-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fakultas Kebebasan</title>
		<link>http://scientiarum.com/2010/02/26/fakultas-kebebasan/</link>
		<comments>http://scientiarum.com/2010/02/26/fakultas-kebebasan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 01:17:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=2214</guid>
		<description><![CDATA[Ada satu lakon klasik yang belum usai dipentaskan di panggung sandiwara pendidikan kita sampai hari ini: dosen yang susah payah mengajar di depan, sementara mahasiswanya tidak memperhatikan; ada yang tertidur, sebagian merumpi, dan sisanya melamun sendiri. Ujung cerita ini biasanya mudah ditebak: sang dosen meledak, dan suasana kelas jadi tak enak. Proses belajar-mengajar (PBM) rusak.
Dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada satu lakon klasik yang belum usai dipentaskan di panggung sandiwara pendidikan kita sampai hari ini: dosen yang susah payah mengajar di depan, sementara mahasiswanya tidak memperhatikan; ada yang tertidur, sebagian merumpi, dan sisanya melamun sendiri. Ujung cerita ini biasanya mudah ditebak: sang dosen meledak, dan suasana kelas jadi tak enak. Proses belajar-mengajar (PBM) rusak.</p>
<p>Dalam satu kesempatan, lakon ini meluas. Ia tidak hanya dipentaskan di kelas, tetapi juga balairung sebuah universitas. Di sana kita saksikan, betapa geram para dosen melihat ratusan mahasiswanya mendengung bak lebah, sementara seorang peneliti tamu sedang memberi ceramah. Di sana tampak, seorang profesor yang beranjak, untuk membungkam dengungan mahasiswa dengan galak. Dengungan mengecil seiring kedatangannya, namun membesar seiring kepergiannya. Akhirnya, sang profesor tak jua kembali duduk di tempatnya semula.</p>
<p>Lakon ini, dan beberapa lakon lainnya lagi, membawa tuduhan-tuduhan sebagai konsekuensi. Mahasiswa dituduh tidak tahu etika karena ribut sendiri, lawan bicara tidak dihargai. Mahasiswa dituduh malas belajar dan tak tahu diri, kuliah mahal-mahal tidak diseriusi. Dan entah apalagi. Tuduhan-tuduhan ini sering dan terakumulasi, hingga akhirnya dinobatkan sebagai kebenaran hari ini: bahwa sebagian besar &#8212; jika tidak semua &#8212; mahasiswa memang malas belajar dan tak tahu diri. Maka esok, dan esok-esoknya lagi, lakon yang sama terulang kembali.</p>
<p>Namun marilah kita sedikit menghibur diri. Kita tahu bahwa kemalasan agak mirip dengan pengangguran, yang bisa direduksi dengan mengubah definisi. Kita akan temukan banyak sekali pengangguran jika definisi “bekerja” yang kita pakai adalah “melakukan kegiatan ekonomi minimal 35 jam dalam seminggu”. Namun jika kita ubah 35 jam ini menjadi hanya sejam dalam seminggu &#8212; seperti pernah dilakukan Badan Pusat Statistik pada 2008 &#8212; maka kita akan dapatkan angka pengangguran yang jelas lebih rendah.</p>
<p>Begitulah pula agaknya dengan kemalasan. Jika kita mendefinisikan “belajar” sebagai “kuliah minimal 16 SKS alias 48 jam seminggu dengan tatap muka kelas, baca buku, observasi lapang, menulis makalah, dan diskusi rutin sebagai instrumennya”, maka jelas kita akan temukan banyak sekali mahasiswa yang “tidak belajar”. Dan tidak belajar artinya malas, bukan?</p>
<p>Tetapi bolehkah kita coba, sekali ini saja, definisikan “belajar” sebagai yang lain? Sebagai “memahami apa saja”. Ikhtiarnya: dengan mengalami dan menalar. Kelas, buku, makalah, dan diskusi tidak haram sebagai instrumen, namun juga tidak perlu diwajibkan. Yang “apa saja” tadi ditentukan sesuai keinginan, dan tidak harus melulu ekonomi, psikologi, teknik, sosiologi, biologi, maupun yang sejenisnya. Bahkan dalam permainan pun kita bisa belajar. Ada teman sepermainan. Kita bisa bermain peran, hingga bermain cinta, dan memetik pelajaran.</p>
<p>Tetapi saya tahu kalau kaum akademisi, seperti misalnya di fakultas saya, <a href="http://feb.uksw.edu">Fakultas Ekonomika dan Bisnis</a> (FEB), mungkin akan mengatakan: “Bukan belajar seperti itu yang kami inginkan. Kami punya model belajar sendiri yang kami wajibkan, karena kami punya profil lulusan yang harus diwujudkan. Kalau Anda tidak cocok, silakan keluar! Toh, kami tidak pernah paksa mahasiswa untuk masuk dan bertahan.”</p>
<p>Argumen ini sepenuhnya benar. FEB dan, lebih umum lagi, UKSW memang punya profil lulusan yang harus diwujudkan. Profil tersebut dicita-citakan karena memang baik dan benar. Dalam usaha mencapai profil tersebut, sebuah model belajar-mengajar yang baku pun diterapkan. Mahasiswa diminta tertib aturan. Inilah yang diinginkan lembaga pendidikan.</p>
<p>Keinginan lembaga pendidikan dan keinginan mahasiswa, pada kenyataannya, hampir tak pernah sejalan. Maka terjadilah gesekan-gesekan. Dosen ingin diperhatikan, mahasiswa tak ingin memperhatikan. Dosen ingin mahasiswa aktif di kelas, mahasiswa tak ingin aktif di kelas. Dosen ingin mahasiswa kerjakan tugas, mahasiswa tak ingin kerjakan tugas. Dosen ingin mahasiswa rajin, ternyata mahasiswa cenderung malas.</p>
<p>“Kalau Anda tidak cocok, silakan keluar!”</p>
<p>Saya mungkin salah &#8212; dan saya memang sering salah. Hemat saya mengatakan, dalam kenyataan, tak ada satupun alasan yang memungkinkan kita untuk sepenuhnya berharap bahwa setiap mahasiswa yang diterima masuk ke sebuah universitas (atau fakultas), akan secara otomatis “kompatibel” dengan keinginan dan aturan universitas tersebut, dan jika tidak cocok silakan keluar. Tidak sesederhana itu. Perkuliahan nyata, yang saya anggap sebagai pasar berkomoditas pengetahuan, tidak sesederhana permainan berjumlah nol (<em>zero-sum game</em>) yang terlukis di buku-buku teks ekonomi. Perkenankan saya menyebut alasan-alasannya sejauh pengetahuan saya yang dangkal.</p>
<p>Pertama, sepengamatan saya yang terbatas tentang Satya Wacana, universitas ini sangat longgar dalam proses seleksi dan rekrutmen mahasiswa baru. Artinya, dari sejak awal, usaha UKSW untuk mencari mahasiswa yang punya keinginan dan kemampuan sesuai dengan harapan lembaganya memang kurang. Hampir seluruh pendaftar diterima. Rasionalisasi resminya, yang dulu cukup bergema, adalah universitas ini mampu “mengubah batu menjadi berlian”. Namun rasionalisasi tidak resmi mengatakan bahwa universitas ini butuh uang. Tentu saja ini tidak salah. Ini adalah hal yang sangat wajar bagi universitas yang tulang punggung pemasukannya dibangun dari uang kuliah, seperti UKSW. Dan karena hal ini pula, saya yakin UKSW tidak akan sampai hati mengatakan pada mahasiswa yang telah terlanjur masuk: “Kalau Anda tidak cocok, silakan keluar!” Saya percaya UKSW masih punya tanggungjawab moral.</p>
<p>Kedua, tidak ada jaminan yang rapat bahwa di sepanjang waktu studi, keinginan mahasiswa akan sejalan dengan keinginan universitas (atau fakultas). Saya mengerti bahwa tidak ada seorangpun yang bisa memuaskan keinginan semua orang, dan sampai yang sekecil-kecilnya, maka mari kita batasi pembahasan keinginan ini menjadi ihwal dua hal: apa yang <em>ingin</em> dipelajari, dan bagaimana ikhtiar yang <em>ingin</em> ditempuh untuk mempelajarinya.</p>
<p>Kita ambil contoh di Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Tidak semua mahasiswa fakultas ini sungguh-sungguh berminat untuk belajar ekonomi dan bisnis. Saya belum tahu persis perbandingan jumlah antara yang berminat dan tidak, namun selama bertanya soal alasan berkuliah di FEB, saya belum pernah menemui jawaban: “Oh, saya kuliah di FEB karena saya mencintai bidang ekonomi dan bisnis. Saya mencintai bidang ini karena saya tahu bahwa ilmu ekonomi punya kemanfaatan praktis dalam jangka pendek maupun panjang.” Sudah tiga tahun ini saya bertanya, dan jawaban-jawaban yang muncul masih juga berkisar di antara “mengikuti kehendak orangtua”, “ikut-ikutan teman atau pacar”, “tidak diterima di jurusan yang semula diminati”, “asal pilih jurusan”, “ingin mudah dapat kerja”, “ingin cepat kaya”, “prestise sosial”, dan sebagainya. Ada pula jawaban yang “idealis” namun, maaf, agak naif: “Saya ingin memajukan perekonomian bangsa.” Maju kemana? Hanya dijawab dengan cengiran. Ternyata mahasiswa ini bahkan tidak sempat berpikir untuk menjawab bahwa maju adalah bergerak ke depan.</p>
<p>Memang, tidak tertutup kemungkinan bahwa jawaban-jawaban tersebut akan berubah menjadi “lebih baik” seiring berjalannya proses perkuliahan. “Lebih baik” di sini berarti bahwa mahasiswa mulai mencintai bidang keilmuannya, karena tahu akan nilai kemanfaatannya dan secara sadar berkomitmen menerapkannya. Namun kalau kita mau berhitung lebih jauh, apakah jumlah mahasiswa yang membaik ini lebih banyak daripada yang memburuk? Seberapa besar kemungkinan untuk membaik ataupun memburuk? Mungkinkah di tengah-tengah waktu studinya, si mahasiswa menemukan minat baru pada bidang lain (misalnya, biologi dan sejarah) dan kehilangan selera sama sekali pada ekonomi? Atau, bagaimana bila, karena satu dan lain hal, minat si mahasiswa beralih sejenak ke bidang teologi, lalu kembali lagi ke ekonomi?</p>
<p>Persoalan tentang bagaimana kita belajar bisa jadi lebih rumit daripada persoalan tentang apa yang ingin kita pelajari, yang baru saja kita urai. Saya tidak yakin Anda masih berminat menyimak paparan saya. Jadi, agar singkat, saya ingin sekadar mengutip sebuah pepatah klasik bahwa “ada banyak jalan menuju Salatiga”. Ada banyak jalan menuju pemahaman, dan mungkin kita bisa saling berbeda dalam cara belajar. Ada yang senang belajar sendirian, ada yang berkelompok. Ada yang butuh bimbingan dosen, ada yang tidak. Ada yang terstruktur dan terjadwal, ada yang acaknya seindah fraktal. Tentu semuanya tidak salah karena setiap cara akan menghasilkan kekhasan ilmu dan ilmuwannya masing-masing. Pertanyaannya, apakah visi-misi dan profil lulusan sebuah universitas mampu (dan mau) mengakomodir kekhasan tersebut? Kalau kita di UKSW punya konsep visioner seperti <em>universitas scientiarum</em> dan <em>universitas magistrorum et scholarium</em>, juga konsep profil lulusan minoritas berdayacipta (<em>creative minority</em>), sejauh manakah konsep-konsep ini mampu mengakomodir karakter-karakter ilmu dan ilmuwan yang ada? Apakah, misalnya, untuk menjadi seorang dengan ciri minoritas berdayacipta, kita harus kuliah minimal 16 SKS alias 48 jam seminggu dengan tatap muka kelas, baca buku, observasi lapang, menulis makalah, dan diskusi rutin sebagai instrumennya?</p>
<p>Realitas penuh dengan kemungkinan yang berubah. Di sinilah sistem pendidikan kita ditantang untuk mengimbangi perubahan &#8212; termasuk perubahan keinginan mahasiswa dalam belajar.</p>
<p>Dalam hemat saya, UKSW perlu menyelaraskan keinginan lembaganya dengan keinginan mahasiswa. Penyelarasan ini sebaiknya dilakukan secara sistematis-partisipatif, dan bukannya insidental-koersif &#8212; seperti gaya sang profesor tadi. UKSW sebagai pionir sistem kredit semester (SKS) di Indonesia memang telah memberi banyak kebebasan belajar, dalam hal merancang jadwal dan pilihan matakuliah. Kami, mahasiswa, sangat berterima kasih atas hal ini. Namun kita juga sebaiknya ingat bahwa SKS dicetuskan pada 1975, dan tahun Masehi sudah mencapai angkanya yang ke-2010 sekarang. Ini berarti ada jarak 35 tahun, dan saya kira sepanjang rentang waktu tersebut ada perubahan konteks jaman yang cukup besar untuk kita perhitungkan ulang hari ini, di sini, dan begini.</p>
<p>Saya tidak hendak mengatakan bahwa SKS adalah sebuah konsep usang yang tak lagi relevan. Sama sekali tidak. Justru harus saya akui bahwa SKS adalah konsep brilian. Kalau tidak brilian, mengapa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu mau menerima dan menerapkannya dalam skala nasional? Saya hanya memandang, dalam rangka penyelarasan keinginan antara universitas dan mahasiswa, kita hanya perlu mengubah sedikit langgam kita ber-SKS yang sudah agak lama melembaga.</p>
<p>Perubahan ini perlu, meski bisa dianggap tidak terlalu penting dan mendesak. Saya mengerti bahwa di UKSW ada ribuan &#8212; bahkan mungkin jutaan &#8212; urusan yang jauh lebih penting dan urgen, ketimbang sekadar merembug dan menyelaraskan kehendak. Namun, jika kita semua berniat sama untuk mengakhiri lakon klasik tentang mahasiswa yang malas dan tak tahu diri, di sinilah kita semestinya bertolak.</p>
<p>Kita semua tahu bahwa manusia digerakkan oleh keinginan. Seringkali, keinginan ini irasional. Kita sebut irasional karena kita tak tahu apa yang mendasari sebuah keinginan. Ia muncul begitu saja. Kita ingin karena kita memang ingin. Seperti halnya banyak orang mengatakan: aku cinta karena aku memang cinta, dan tanpa alasan lain.</p>
<p>Namun terkadang, hingga batas-batas tertentu, kita bisa sadar dan tahu bahwa keinginan ternyata juga dipengaruhi oleh spekulasi nalar dan catatan pengalaman. Kita tahu garam dapat mengatasi hambar, dan sayur baik untuk kesehatan. Lantas kita berpikir untuk mengolah sayur dan garam menjadi masakan yang enak sekaligus menyehatkan. Timbul keinginan mencoba. Setelah dimasak, ternyata enak. Maka lain kali kita menginginkan masakan yang sama.</p>
<p>Kalau kita bisa memahami ini dengan mudah, mengapa tidak mencoba menerapkannya di dunia pendidikan? Salah satu keinginan terbesar manusia adalah keingintahuan. Dan mahasiswa juga manusia, bukan? Kalau kita bisa menemukan satu cara yang baik dan masuk akal dalam mengelola keingintahuan, tentu tak akan susah menggerakkan mahasiswa untuk belajar. Pada tahun 1968, dalam beberapa rapat bersama panitia kurikulum matakuliah dasar dan dewan pengajar Satya Wacana, Notohamidjojo sudah mengatakan, “Kita harus merangsang para mahasiswa melakukan <em>independent studies</em>.”</p>
<p>Saya percaya bahwa amanat Pak Noto ini sudah kita kerjakan. Saya tahu ada beberapa dosen (dan guru) yang sangat berdedikasi dalam memotivasi muridnya menggali pengetahuan. Namun mengapa kita masih temui banyak mahasiswa malas belajar? Apakah ini berarti mereka sama sekali tidak punya keingintahuan?</p>
<p>Mari kita lihat seorang anak kecil yang, dengan polos, mengajukan ribuan pertanyaan. Kita tidak pernah mengajarinya bertanya, namun ia dapat bertanya: “Apa ini? Kenapa begitu? Bagaimana kalau?” Tentu saja, kata-kata “apa”, “kenapa”, dan “bagaimana” kita ajarkan lewat bahasa, namun inisiatif untuk bertanya tetap datang dari si anak, bukan? Rasa ingin tahu adalah sesuatu yang memang lengket (<em>inherent</em>) pada manusia sejak masa kecilnya.</p>
<p>Namun kita tahu, seiring berjalannya waktu, anak-anak yang cukup beruntung secara finansial lazimnya dikirim orangtua mereka untuk belajar di sekolah. Dan di sinilah permulaan masalah.</p>
<p>Di sekolah, anak-anak harus berhadapan dengan sistem yang cenderung memaksakan pengetahuan ketimbang memuas keingintahuan. Seorang anak yang punya minat sangat besar terhadap sejarah politik, misalnya, dipaksa harus membagi perhatian ke subjek-subjek lain yang tidak dia ingini. Ini mengganggu konsentrasi. Sistem ini, maaf, begitu kaku dan intoleran dalam mengatur apa dan bagaimana seharusnya belajar. Ia mengasumsikan bahwa jika tidak diatur sedemikian, para siswa pasti akan bertindak liar &#8212; dalam arti negatif.</p>
<p>Saya tidak hendak menilai apakah sistem ini baik atau buruk, benar atau salah. Saya hanya melihat bahwa penerapan sistem seperti ini memiliki konsekuensi berupa pengingkaran aspirasi keilmuan yang terdapat dalam diri siswa secara alami. Keingintahuan murid tidak terwadahi.</p>
<p>Keinginan adalah energi. Dan dalam fisika kita mengenal sebuah dalil tentang kekekalan energi. Ia tidak diciptakan, juga tidak dimusnahkan. Ia hanya bergerak dari satu bentuk ke bentuk lain. Artinya, keingintahuan murid yang tidak terwadahi tidak akan hilang. Karena sistem yang ada tidak memberi kanal penyaluran, maka keinginan ini, energi ini, luber keluar memburu pelampiasan, apapun bentuknya. Mulai dari kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, tawuran, hingga obat terlarang. Studi intrakurikuler sendiri, pada akhirnya, hanya dianggap sampingan yang tidak menyenangkan.</p>
<p>Karena tidak menyenangkan, ia jadi membosankan. Maka wajar, jika kemudian banyak murid bermalas-malasan. Malas karena aspirasi keilmuannya telah diingkari. Malas karena sistem tidak manusiawi. Maka terjadilah, maaf, pembodohan. Dan bertahun-tahun kemudian, kita mendapati murid-murid ini duduk di bangku perkuliahan.</p>
<p>Di kampus, sistem sudah lebih longgar. Ia memberi kita lebih banyak kebebasan dalam belajar. Mahasiswa diasumsikan sebagai orang dewasa, dan karenanya, anggapan bahwa mahasiswa dapat melaksanakan pembelajaran mandiri pun diterima selaku benar (<em>taken for granted</em>).</p>
<p>Kalau boleh jujur, ada irasionalitas yang agak serius di sini. Bagaimana mungkin seseorang, yang baru saja mentas dari pembodohan selama 12 tahun di sekolah dasar dan menengah, bisa tiba-tiba kita asumsikan sebagai dewasa dan mandiri? Induksi manakah yang sanggup memberi pembenaran untuk hal ini? Maaf, saya tidak melihatnya sama sekali. Oleh sebab itulah, kita dapat dengan mudah menemukan kekecewaan-kekecewaan dalam diri mereka yang berasumsi.</p>
<p>Apakah ini berarti kita harus kembali kencangkan sistem &#8212; sebagai solusi?</p>
<p>Saya kira kembali mengencangkan sistem artinya sama dengan kembali ke sekolah menengah dan dasar, dimana aspirasi keilmuan kita teringkar. Mungkin, pertanyaan esensial yang mestinya kita jawab sekarang adalah: bagaimana caranya memulihkan aspirasi keilmuan setiap mahasiswa, yang sudah sekian lama teringkar dan terhilang?</p>
<p>Di sinilah kita perlu sadari bahwa aspirasi keilmuan adanya hanya di dalam diri kita sendiri. Rasa ingin tahu lengket pada diri setiap manusia, bukan? Ilmu tidak bermula dan berakhir dengan sebuah teks bacaan, atau diskusi, atau sebuah pengamatan lapang. Ilmu menempuh jalannya yang syahid dari sebuah keingintahuan yang satu menuju keingintahuan yang lain. Satu tanya terjawab, tanya yang lain muncul. Manusia menjadi makhluk peragu, sekaligus beriman &#8212; yang tidak selalu kepada Tuhan. Ilmu mengantar manusia kepada segala sesuatu atas dorongan keinginan.</p>
<p>Maka penyelidikan paling awal dari ilmu seyogianya memang bertolak pada tiga hal: apa yang <em>ingin</em> diketahui (ontologi), bagaimana <em>ingin</em> mengetahui (epistemologi), dan apa manfaat yang <em>ingin</em> direngkuh setelah mengetahui (aksiologi). Ketiga hal ini bicara tentang <em>keinginan</em>. Namun di kampus, saya hampir tak pernah mendengar ketiga logi tersebut dipercakapkan mahasiswa secara otentik dalam semangat keilmuan. Hampir semuanya sintetik, berorientasi formal, semata-mata mengejar nilai dan gelar kesarjanaan. Kita hampir tak mengetahui keinginan dan hasrat keilmuan kita sendiri, dan karena itulah aspirasi keilmuan kita mati.</p>
<p><em>Gnothi sauton</em>, kata satu kebijaksanaan kuno Yunani. Artinya, ketahuilah dirimu sendiri. Mengetahui diri sendiri berarti juga mengenali keinginan, keingintahuan, untuk menjawab ketiga logi tadi. Dimanakah bakat kita, dan apakah sebenarnya yang kita minati?</p>
<p>Mungkinkah di sini kita membutuhkan psikologi, atau bantuan seorang konselor? Konseling tidak menemukan diri seseorang, namun dapat membantu seseorang untuk menemukan dirinya sendiri. Menemukan diri. Sepertinya setelah pembodohan 12 tahun, hasrat dan keinginan kita hilang tertimbun berbagai mitos sosial dalam berbagai definisi dan konstruksi. Kita hilang diri. Maka wajar jika banyak mahasiswa tak tahu diri.</p>
<p>Lebih jauh lagi, penemuan diri membutuhkan tidak hanya waktu dan psikologi, tetapi juga sistem yang mewadahi. Saya kenal dengan seorang mahasiswa ekonomi, yang setelah beberapa waktu, mendapati diri lebih berminat pada sejarah dan biologi, juga teknologi informasi. Lantas apa solusi? Pindah jurusan? Tidak sesederhana yang disangka orang. Karena bingung dan sendiri, mahasiswa ini akhirnya memutuskan untuk tetap belajar ekonomi, walau hanya dengan setengah hati.</p>
<p>Saya mengangankan sebuah sistem pendidikan yang mampu menjawab hal ini. Sebuah tempat belajar yang memungkinkan penyaluran segala minat secara fleksibel, sehingga mahasiswanya dapat belajar dengan sebulat hati. Gagasan ini jauh dari sempurna, dan belum akan sempurna sampai Anda pun turut memberi kritik dan visi.</p>
<p>Dahulu kala, Notohamidjojo pernah menulis, “Kita harus merangsang mahasiswa melakukan <em>independent studies</em>. Kita dapat memberikan waktu tertentu bagi studi sendiri itu: membaca kepustakaan, melakukan penelitian, melaksanakan tugas. Independent studies disimpulkan dalam penulisan paper atau karangan. Para pengajar dapat mempergunakan methode ini untuk memperkuat tanggungjawab mahasiswa dan untuk memperoleh keterangan-keterangan yang berharga.”</p>
<p>Maka hari ini saya bermimpi. Akan ada sebuah tempat belajar alternatif di UKSW yang memfasilitasi studi lintas disiplin ilmu (<em>interdisciplinary studies</em>). Mahasiswanya tidak perlu dikuliahi, namun harus diberi akses tak terbatas ke seluruh sumberdaya pengetahuan universitas: mulai dari koleksi perpustakaan, koneksi internet berkecepatan tinggi, basis data pusat-pusat studi, hingga sudut paling terpencil dari otak seorang profesor. Semuanya harus membuka diri terhadap mahasiswa yang berinterogasi. Hasil interogasi ini dapat dilaporkan dalam bentuk makalah, atau esai, yang kemudian diseminarkan dan dipublikasikan. Dalam studi-studi teknik terapan, hasil interogasi ini mungkin saja berbuah penemuan, atau pengembangan, yang kemudian dipatenkan dan dikomersialkan.</p>
<p>SKS tetap kita hormati. Kita memang masih membutuhkannya, namun tidak dalam langgam klasik yang menyatakan bahwa 1 SKS setara dengan 1 jam tatap muka di kelas, 1 jam tugas terstruktur, dan 1 jam belajar mandiri. Berikan saja jatah 3 jam itu kepada mahasiswa untuk diatur sendiri. Kita tentu masih bisa menetapkan jumlah minimal SKS sebagai syarat kelulusan, seperti misalnya 144 SKS untuk sarjana strata satu. Namun subjek-subjek apa yang hendak diisikan ke dalam 144 SKS tersebut sebaiknya diserahkan penuh kepada mahasiswa. Maka, misalnya, seorang mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada bidang fisika dan teologi (atau ekonomi dan antropologi), dapat menentukan porsi konsentrasinya terhadap dua subjek tersebut dengan leluasa. Keleluasaan menimbulkan kenyamanan. Dan hanya dalam keadaan nyamanlah kita bisa optimal belajar.</p>
<p>Pada akhirnya, penggunaan kebebasan ini perlu menyertakan kedewasaan. Dan seseorang yang baru mentas dari pembodohan sistematis selama 12 tahun tidak membutuhkan lebih banyak dari sebuah bimbingan intensif. Artinya, setiap mahasiswa memerlukan satu mentor pribadi. Mungkin kita selama ini mengenalnya dengan istilah “dosen wali studi”, namun nyatanya tidak setiap dosen mampu menjadi wali. Satya Wacana punya jurusan Bimbingan dan Konseling yang, saya tahu, cukup disegani. Mungkinkah diberdayakan untuk tujuan ini?</p>
<p>SATRIA ANANDITA<br />
<em>Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://scientiarum.com/2010/02/26/fakultas-kebebasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
