Drama Aladdin, Seribu Satu Pujian

19 Maret 2016, menjelang sore yang keemasan tak diguyur hujan, sepadan dengan orang-orang yang menggenggam karcis, saya berdiri mengantri di lahan parkir gereja Bethany Salatiga. Barangkali kalau bukan karena drama musikal Aladdin ada di sini, antrian tidak akan mengular seperti ini. Renovasi BU yang belum kunjung rampung, memungkinkan drama Fakultas Bahasa dan Sastra 2016 ini dihelat perdana di luar UKSW. Setiap tahunnya, FBS menggelar drama dalam dua hari berturut-turut. Hari kedua ini, berjubelan penonton di luar mulai lengang seusai satu persatu bergantian memasuki gedung utama. Dari anak-anak, remaja, mahasiswa hingga warga asing turut tidak sabar…

Hantu Lembayung Senja

Seorang lelaki duduk terpaku menatap sepinya kampus dilihatnya jam menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh semua hal yang direncanakannya telah pupus semua hal yang direncanakannya dengan peluh Kembali, ia melihat foto puan yang dipegangnya Foto terkutuk yang selalu membuyarkan lamunannya Puan dengan wajah syahdu yang membuatnya terpana Puan yang membuatnya tak mampu bersenandung dalam suka Senja membuatnya beranjak menuju peraduan masih dia mengumpat atas apa yang terjadi tapi di sudut matanya, ia tak mampu menghapus wajah sang puan bahkan seakan dia melihat wajah puan dimanapun matanya pergi Dia menemukan sosok…

Perintah Dor Sang Jenderal!

“Dor!”, harusnya seperti itulah akhir cerpen pertama dalam Penembak Misterius oleh Seno Gumira Ajidarma. Pembaca dibuat jengkel karena cerpen tersebut dibuat tanggung. Pembaca dipaksa untuk menerka-nerka dan membayangkan apa yang akan terjadi. Cerpen pertama tersebut berjudul Keroncong Pembunuhan, menceritakan mengenai seorang penembak jitu bayaran yang diminta untuk menembak mati seseorang. Sang penembak menyangka bahwa targetnya kali ini tidak pantas untuk ditembak. Akhirnya, ia mengarahkan laras senapannya ke seorang wanita yang menyuruhnya. “Apa-apaan ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang itu?”…

Pencarian Hati oleh Tunarungu

Aku seorang tunarungu yang sedang berjuang mencari hatiku. Hatiku belum habis pahitnya sedikit pun. Aku pun mencari hati baru berkali-kali, Bila wanita tidak menerima hatiku. Jangan putus asa, terus mengejar seorang wanita. Ayo bangun hatimu, hatiku. Tetap bahagia, walaupun berbeda-beda tetap mencintai, tidak peduli seorang biasa atau istimewa. Wanita itu, bagiku untuk bersama selama-lamanya. Agar hari esoknya jadi bahagia bersama-sama. Vincentius Wijaya Adiguna, mahasiswa Fakultas Teknologi dan Informasi, angkatan 2014. Wartawan Scientiarum.

Papua, Surga Kecil Jatuh ke Bumi

“Tanah Papua tanah yang kaya. Surga kecil jatuh ke bumi. Seluas tanah sebanyak batu adalah harta harapan.” Sepenggal lagu yang dinyanyikan oleh Edo Kondologit dengan judul “Aku Papua”. Lagu merdu dan sarat makna, yang paling sering dinyanyikan oleh anak-anakku. Ya, anak-anak hebat yang sudah menemani hari-hariku selama hampir 10 bulan ini. Anak-anak super yang dari merekalah aku belajar banyak hal. Cinta kasih, ketulusan, pantang menyerah, semangat belajar hingga rela berkorban, dari si Cilik Kambar (Kampung Baru) SD Inpres Kampung Baru, Kokas, Fakfak, Papua Barat. “Selamat ya, Lid, kamu dapat di Papua,”…