Pangan untuk semua, perlawanan lewat pangan
Telah dilihat 119 kali sejak 22 February 2008SALATIGA — Kamis (21/2) siang, di depan kampus UKSW terdapat pemandangan yang tidak biasa. Sekelompok anak muda berkumpul membagi-bagikan makanan dan selebaran. Kelompok tersebut adalah kolektif Food Not Bombs (FNB) dari Salatiga, atau yang lebih dikenal secara lokal dengan nama kolektif “Pangan untuk Semua (PUS).” Semangat yang mereka bawa sama dengan kolektif FNB seluruh dunia, yaitu kebersamaan, kesetaraan, solidaritas, nonprofit oriented, dan tanpa pemimpin.
Kolektif ini mulai terbentuk pertama kali setelah aksi kenaikan tarif PDAM Kota Salatiga, akhir 2006 kemarin. Sebelumnya, beberapa orang dari mereka pernah membuat kegiatan sendiri-sendiri, sampai akhirnya bergabung karena masing-masing kolektif mereka kekurangan anggota. Sejak itulah mereka mengganti nama menjadi kolektif PUS.
Alasan mengapa pangan dijadikan media perlawanan adalah karena, menurut mereka, pangan adalah hak semua orang, dan tidak bisa dimonopoli oleh segelintir orang saja. Itulah yang selalu menjadi slogan mereka. Dan menurut mereka lagi, kegiatan ini bukanlah aksi sosial dari si kaya buat si miskin, tapi ini adalah bentuk solidaritas dan semangat berbagi kepada sesama.
Tema kegiatan PUS kali ini mengangkat isu mengenai kebijakan pemerintah tentang harga kedelai yang melonjak. Sedangkan menu yang disajikan adalah sate tempe bacam dan sayur plecing. Semua ini disiapkan mulai Rabu (20/2) malam, mulai dari berbelanja, membuat pincuk, dan membacam tempe, lalu dilanjutkan dengan memasak nasi, merebus sayuran, membuat sambal, dan membakar tempe pada keesokan paginya (kemarin pagi — Red).
Acara tabling (istilah yang dipakai untuk kegiatan saat menggelar makanan di lokasi — Red) dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dan selesai sekitar pukul 16.30. Untuk dana, mereka mengandalkan iuran dari masing-masing anggota, yang tidak ditentukan jumlah nominalnya alias sukarela. Terkadang, juga ada bantuan dari beberapa teman yang lain, baik dalam bentuk uang ataupun bumbu dapur seperti bawang, cabai, garam, dan lain-lain.
Isu-isu yang mereka bawa selalu berganti mengikuti perkembangan isu-isu sosial. Kolektif ini juga pernah mengusung isu seputar air, nuklir, puasa, dan masih banyak lagi. Menurut mereka, kegiatan PUS berlangsung rutin tiap bulannya. Tetapi kadang ada berbagai kendala, sehingga kegiatan ini berlangsung dua bulan sekali. Kendati demikian, sebisa mungkin kegiatan ini berlangsung rutin, sebagai bentuk protes akan banyaknya situasi sosial yang kacau balau.
Hingga saat ini, PUS Salatiga beranggotakan sekitar 10-15 orang, dan selalu membuka pintu bagi siapa saja yang sepakat dengan semangat mereka. Mereka juga akan mendukung jika ada yang ingin membentuk kolektif sendiri. Makin banyak kolektif, makin bagus menurut mereka, karena jika ada 30 kolektif PUS di Salatiga, dan mereka setiap hari bergantian melakukan tabling, maka itu berarti ada makan gratis setiap harinya dalam satu bulan.

SCIENTIARUM/BAMBANG TRIYONO
Suasana tabling PUS di depan kampus UKSW, Kamis (21/2).

SCIENTIARUM/BAMBANG TRIYONO
Menu tabling yang disuguhkan PUS kepada masyarakat Salatiga, Kamis (21/2).


Komentar ke-1
22 February 2008 23:24
Menggunakan
Salut lah buat PUS … Sate tempe baceme wenak! Plecinge yo manteb!
Tapi ngomong-ngomong, gimana caranya tanpa pemimpin? Full kesadaran diri gitu kah?
Komentar ke-2
23 February 2008 10:13
Menggunakan
Food Not Bombs, jadi ingat 2005, Pak De Didot ngajak aku untuk ikutan.
Komentar ke-3
23 February 2008 23:11
Menggunakan
Wah iki mesti kerjaane meQ.Acarane dewe,diliput dewe.”Sambil menyelam minum air” niiii yeeeee.Dapet liputan,dapet juga kampanye.Heheheheehheee.
Btw,Salut buat PUS-Salatiga.
@ meQ : Ternyata lo masih peduli ma kenaikan harga kedele yang “menjerat leher” pedagang Tahu-tempe ya..Gw bangga ma lo,meQ.Sekali lagi : gw bangga ma lo, pren.:-p.
NB:Ajakin tu OBed,dia kan yang punya grup kolektif FNB-Salatiga.
Komentar ke-4
7 March 2008 9:33
Menggunakan
jangan biarkan perut kita kelaparan….
logika tanpa logistik?
apakah mungkin….
Komentar ke-5
9 March 2008 1:50
Menggunakan
kalau motret pakai raw bakal lebih hidup
pemotretan tempe akan lebih bagus bila siap saji dengan background
yang kontras, nonjol tu tempe
jadi laper boo…
salam buat pus
dipesisir juga lagi ada kampanye bagi2 surf board
kapan ke bali ama temen2
entar belajar surfing gratis di pantai kuta
nambah wawasan gus
Komentar ke-6
11 March 2008 19:01
Menggunakan
[...] begitu lama, mas STR nongkrong pula. Semakin intens diskusinya, terlebih mas STR memberi link ini dan mas goop memberi link ini. Berharap para rekan bloger mau ikut berbagi space memasang banner [...]
Komentar ke-7
20 March 2008 20:07
Menggunakan
wah kangen aq dengan generasi pertama FNB(ga tahu yang mana?)didot,cicik,sam…..
aq pernah ikut sekali di kemiri trus main2 ma anak2 di roncali..
keren bos,di terusin ya…tak suport dari jauh…
Komentar ke-8
28 March 2008 17:38
Menggunakan
hehehe asik FNB ….
wah masih inget dulu jaman luntang luntung masih sepi yang ikutan sekarang lanjutin terus…. kalo ada waktu gabung lagi…
kita kalahkan culasnya dunia dengan kasih melalui makanan…
kita sm2 makan2 dan beol, jangan suka saling menjajah yeh….
salam pembebasan..
Komentar ke-9
8 May 2008 1:09
Menggunakan
hihihi.. dah sering denger PUS dah sering denger FNB.. ternyata kegiatannya mengagumkan…
meQ… kalo mau gelar-gelar tabling lage, bilang2 yah.. tak bantu sebisaku..
Good job guys… S.A.L.U.T.!!!!!!