Kamis (21/2) siang, di depan kampus UKSW terdapat pemandangan yang tidak biasa. Sekelompok anak muda berkumpul membagi-bagikan makanan dan selebaran. Kelompok tersebut adalah kolektif Food Not Bombs (FNB) dari Salatiga, atau yang lebih dikenal secara lokal dengan nama kolektif “Pangan untuk Semua (PUS).” Semangat yang mereka bawa sama dengan kolektif FNB seluruh dunia, yaitu kebersamaan, kesetaraan, solidaritas, nonprofit oriented, dan tanpa pemimpin.

Kolektif ini mulai terbentuk pertama kali setelah aksi kenaikan tarif PDAM Kota Salatiga, akhir 2006 kemarin. Sebelumnya, beberapa orang dari mereka pernah membuat kegiatan sendiri-sendiri, sampai akhirnya bergabung karena masing-masing kolektif mereka kekurangan anggota. Sejak itulah mereka mengganti nama menjadi kolektif PUS.

Alasan mengapa pangan dijadikan media perlawanan adalah karena, menurut mereka, pangan adalah hak semua orang, dan tidak bisa dimonopoli oleh segelintir orang saja. Itulah yang selalu menjadi slogan mereka. Dan menurut mereka lagi, kegiatan ini bukanlah aksi sosial dari si kaya buat si miskin, tapi ini adalah bentuk solidaritas dan semangat berbagi kepada sesama.

Tema kegiatan PUS kali ini mengangkat isu mengenai kebijakan pemerintah tentang harga kedelai yang melonjak. Sedangkan menu yang disajikan adalah sate tempe bacam dan sayur plecing. Semua ini disiapkan mulai Rabu (20/2) malam, mulai dari berbelanja, membuat pincuk, dan membacam tempe, lalu dilanjutkan dengan memasak nasi, merebus sayuran, membuat sambal, dan membakar tempe pada keesokan paginya (kemarin pagi — Red).

Acara tabling (istilah yang dipakai untuk kegiatan saat menggelar makanan di lokasi — Red) dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dan selesai sekitar pukul 16.30. Untuk dana, mereka mengandalkan iuran dari masing-masing anggota, yang tidak ditentukan jumlah nominalnya alias sukarela. Terkadang, juga ada bantuan dari beberapa teman yang lain, baik dalam bentuk uang ataupun bumbu dapur seperti bawang, cabai, garam, dan lain-lain.

Isu-isu yang mereka bawa selalu berganti mengikuti perkembangan isu-isu sosial. Kolektif ini juga pernah mengusung isu seputar air, nuklir, puasa, dan masih banyak lagi. Menurut mereka, kegiatan PUS berlangsung rutin tiap bulannya. Tetapi kadang ada berbagai kendala, sehingga kegiatan ini berlangsung dua bulan sekali. Kendati demikian, sebisa mungkin kegiatan ini berlangsung rutin, sebagai bentuk protes akan banyaknya situasi sosial yang kacau balau.

Hingga saat ini, PUS Salatiga beranggotakan sekitar 10-15 orang, dan selalu membuka pintu bagi siapa saja yang sepakat dengan semangat mereka. Mereka juga akan mendukung jika ada yang ingin membentuk kolektif sendiri. Makin banyak kolektif, makin bagus menurut mereka, karena jika ada 30 kolektif PUS di Salatiga, dan mereka setiap hari bergantian melakukan tabling, maka itu berarti ada makan gratis setiap harinya dalam satu bulan.

Gambar Pangan Untuk Semua: Perlawanan Lewat Pangan

Suasana tabling PUS di depan kampus UKSW. {Foto oleh Bambang Triyono}

Gambar Pangan Untuk Semua: Perlawanan Lewat Pangan

Menu tabling yang disuguhkan PUS kepada masyarakat Salatiga. {Foto oleh Bambang Triyono}



Istilah pencarian:
  • gambar suasana kampus (1)
  • kemiri satya wacana (1)