Kurcaci Jangan Investigasi

Browse By

Kamis, 13 Februari 2008, siang, saya datang ke GAP UKSW untuk mengambil kunci kantor Scientiarum (SA) dari bagian keamanan. Di sana saya bertemu Saam Fredy Marpaung, staf humas BPHL.

“Bagaimana pelatihannya?” tanya Saam.

”Ini baru aja selesai, Bang,” jawab saya.

Sejak Senin, 10 Maret 2008, Scientiarum bekerjasama dengan Imbas, lembaga pers mahasiswa Fakultas Teknik UKSW, mengadakan pelatihan jurnalistik. Instrukturnya Andreas Harsono, jurnalis dari Pantau, Jakarta.

Andreas adalah alumnus Fakultas Teknik UKSW. Ketika masih mahasiswa, ia pernah menulis untuk majalah Imbas. Ia juga pernah mendapat Nieman Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard. Kini, selain bekerja untuk Pantau, ia juga bekerja untuk harian The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur).

Hari terakhir diisi dengan diskusi mengenai materi-materi yang telah diberikan. Sembilan elemen jurnalisme, riset, wawancara, deskripsi, monolog, piramida terbalik, feature, dan analisis. Diskusi berakhir pukul 10.30.

Sebelum pulang, Andreas menekankan bahwa investigasi tidak dianjurkan untuk wartawan kurcaci (pemula). Penekanan ini diberikan ketika Andreas menunjukkan bagaimana A Lobbying Bonanza, berita investigasi yang ditulisnya, diverifikasi oleh sebuah media di Amerika Serikat.

“Oke. Saya harus jalan sekarang, karena pesawat saya (berangkat) pukul 13.30. Saya juga masih harus beli oleh-oleh untuk Norman,” pamit Andreas. Norman adalah nama anak semata wayangnya.

CATATAN
Berita ini mengalami beberapa kali penyuntingan, bahkan setelah publikasi dilakukan. Ini karena ada komentar kritik dari Wawan H. Suyatmiko (menggunakan inisial “whs”) mengenai subjektivitas.

Satria A. Nonoputra
Editor

37 thoughts on “Kurcaci Jangan Investigasi”

  1. Pingback: Orangmuda.com »  Pelatihan Jurnalisme Tak Berspanduk
  2. Trackback: Orangmuda.com »  Pelatihan Jurnalisme Tak Berspanduk
  3. STR says:

    Pelatihannya mantab.

  4. whs says:

    @ SA : Selamat dan sukses atas pelatihan yang baru aja dijalani…Semoga ilmu-ilmu yang didapat bisa diterapkan untuk memajukan keberlangsungan Scientiarum sebagai media pers mahasiswa UKSW (khususnya) dan bagi seluruh civitas akademika UKSW pada umumnya…
    @ Str : Yang mantab itu Pelatihannya, Pelatihnya, atau Materi/Ilmu yang didapat dari pelatihan tersebut….Dapat jaringan ni yeee…AH ni…yeeee…heheheeeheeee….Awas kena AH minded lho…heheheeeeee…just kidding…
    @ Editor berita : tulisan diatas apakah sudah benar masuk dalam rubrik “Berita Kampus” atau lebih tepat masuk ke “Opini” ??…coba dicermati ulang…Kalo masuk ke rubrik “Opini”, tulisan diatas “fine” bisa diterima..but..kalo masuk ke rubrik “Berita Kampus”, koq rasanya kesan subyektifitas reporternya terlalu menonjol…mohon ditinjau lagi…
    Untuk masukan aja,gimana kalo acara pelatihan selama empat hari tersebut bisa diulas lebih dalam sebagai sebuah “feature”..bukan sekedar opini..
    Suwun…

  5. Geritz says:

    Geritz=Kurcaci

  6. Saam Fredy says:

    hmm, sayang saya tidak bisa ikutan pelatihan itu. Mungkin ada dari teman-teman yang bisa bantu saya, apa perbedaan antara feature dengan Jurnalisme Sastra? Kalau saya pikir sih mirip, thx.

  7. Andreas Harsono says:

    Dengan hormat,

    Soal beda feature dan “jurnalisme sastrawi,” saya kira pertama harus diluruskan dulu terminologinya. Feature adalah suatu struktur karangan. Jurnalisme sastrawi adalah suatu gerakan pada 1970an di Amrik guna memberdayakan jurnalisme dengan naskah-naskah bertutur.

    Mungkin perbandingan yang tepat adalah antara “feature” dan “narasi.” Ini setara membandingkan “feature” dan “piramida terbalik” karena ketiganya merupakan struktur karangan. “Narrative reporting” –sering salah kaprah disebut “jurnalisme sastrawi”– lebih bisa dibandingkan dengan “investigative reporting” –sering salah kaprah disebut “jurnalisme investigativ.” Bedakan kata dasar “reporting” dan “jurnalisme.”

    Menurut Robert Vare dari Nieman Foundation on Journalism, “feature” lebih merupakan potret, satu jepretan. Sedang “narasi” lebih merupakan video. Perbedaan dua struktur ini terutama pada unsur tempo. Narasi menggunakan tempo buat memainkan emosi, karakter dan sebagainya. Feature kurang memperhatikan tempo. Narasi cenderung lebih panjang dari feature walau feature juga bisa berpanjang bentuk.

    Saya kira itu penjelasan singkatnya. Akan lebih bagus bila bisa dibahas contoh-contoh. Terima kasih.

  8. Saam Fredy says:

    Terima kasih atas informasi yang Pak Adreas sampaikan. Mohon komentar jikalau sempat, meilhat berita di http://www.uksw.edu, dan dapat melayangkannya ke fredy_saam@yahoo.com.

    Salam,

  9. Opha says:

    Dari judul paparan di atas, sebenarnya makna dari kurcaci itu apa? saya tertarik dengan kata-kata itu. Tidak coba untuk mendramatisir, tetapi apakah itu makna simbolik untuk menegaskan suatu karakter, sikap, kepribadian atau bahkan yang lainnya?. Saya yakin tidak untuk menegaskan fisik tubuh. he..he..he..

  10. Geritz says:

    *Opha :
    Pemakaian kata Kurcaci pada tulisan ini, sama sekali tidak bermaksud menunjukkan kualitas fisik. Jurnalis “Kurcaci” maksudnya Jurnalis Pemula yang belum menguasai metodologi investigative reporting.

    Seperti saya lah…
    hehe…
    Salam
    Geritz

  11. cdc says:

    buat andreas>>> Mas sejak kapan kurcaci (kecuali gerits) dianjurkan tidak menulis feature?? Setahu saya sejak jaman batu imbas memakai feature buat tulisannya. Saya rasa kalo memakai jurnalisme investigasi yang ideal memang sangat susah, kalo feature sih cuma jenis penulisan. Sedangkan menurut saya jurnalisme sastrawi merupakan gaya bahasa. Mohon kalo salah dikoreksi!
    buat gerits>>>>C_D capek deh….

  12. Sebleng says:

    Ketoe indept report deh dok.

  13. cdc says:

    blenk…sayang kita juga pake feature dan indept report diIMBAS say..
    coba baca IMBAS jamanku+apul+meq.

  14. cdc says:

    BOS KO ADA TRACK BACK DARI ORANG MUDA.COM,NI IKLAN PA GIMANA??????WAH WEB SA DAK JELAS NIH!!!!!!!!!!!!!!

  15. STR says:

    @ cdc: Bos, trackback itu gunanya untuk notifikasi bahwa posting ini juga dibahas di tempat lain. Dan notifikasi itu berjalan secara otomatis karena Orangmuda.com dan Scientiarum.com pake engine yang sama, yaitu WordPress. Kalo di dunia bloging, itu sama fungsinya dengan referensi, jadi bukan iklan.

    Jelas?

  16. meQ says:

    @ CdC : Coba kalo nulis posting dibaca-baca dulu tulisan yang lain..”kurcaci dilarang investigasi” BUKAN DILARANG NULIS FEATURE. Bahkan sangat dianjurkan nulis feature sesering mungkin untuk latihan. begitu bos. kok kamu jadi reaksioner banget kayak anak kecil to…

    @ ALL: Dan masalah investigasi itu kenapa dilarang? karena ada kecendurungan kesalahan dalam pengertian kosakata investigasi seperti kasak-kusuk investigasi, cek&ricek investigasi, insert investigasi, dll…itu kesalahan pemahaman investigasi. Dan saya rasa sudah dibahas dalam tulisan kecel dan satria.

    trims

    meQ

  17. Geritz says:

    @ cdc:
    1. Sepertinya CdC kurang cermat membaca tulisan ini maupun comment sebelumnya.
    Bondan “Maknyus” Winarno (wisata kuliner) melakukan investigasi mengenai Bre-X. Saat itu ia belajar tentang teknik pertambangan, untuk mendukung investigasinya. Belum lagi metodologi-nya sangat kompleks.

    2. Jurnalisme Sastrawi.. Lihat comment Mas Andreas tanggal 17 Maret 2008.

    3. mengenai C_D cape deh… Mungkin jawaban saya “Sama-sama. Thanks”

  18. Editor says:

    @ whs: Makasih buat masukannya. Tidak hanya sepakat, kami pun sudah melakukannya. Satria Anandita sudah menuliskan straight news dengan judul “Meningkatkan Mutu Jurnalisme.”

    Mengenai tulisan Geritz, kami telah melakukan editing ulang. Silakan dicermati lagi apakah unsur subyektivitasnya masih terlalu menonjol. Seandainya masih, beritahu kami dimana subyektivitas itu. Yang jelas, bagi kami kata “saya” bukanlah hal yang tabu dalam penulisan berita.

    Lebih baik menggunakan kata “saya” sebagai bentuk transparansi kinerja wartawan, daripada menyembunyikan identitas di balik nama institusi. Bagaimanapun juga wartawan masih memiliki bias.

  19. Pasti says:

    hati2 IMBASminded…hahahaha

  20. whs says:

    Mungkin yang perlu di perdalam lagi oleh “para kurcaci”,yang mau belajar (mungkin termasuk aku) adalah membedakan antara (sekedar) menulis dan melaporkan dan juga mempublikasikan sebuah tulisan–yach walaopun masih sama-sama belajar,tetapi etika dalam menulis dan melaporkan serta mempublikasikan tulisan-kan tetap ada rel-nya (etika)–jadi daripada kebablasan membicarakan tentang genre-genre dalam jurnalisme (spt:Sastrawi,advokasi,investigasi,jurnalisme damai dll),mending belajar dan pahami dulu aja tentang teknik-teknik sederhana dalam peliputan dan tata cara penulisan hasil peliputan sebuah berita/laporan kejadian..tentunya secara obyektif dan proporsional..kalau perlu ditambahi fakta dokumentasi dan data yang jelas..supaya lebih jelas membedakan mana “berita” dan mana “opini”.Gimana ???

    @ cdc : jangan terlalu emosional gitu ah…slow down,,kawan…

  21. Editor says:

    @ whs: Tulisan di atas adalah seratus persen fakta. Tidak ada opini pribadi penulis yang masuk di sana. Di bagian mana anda masih merasa bahwa tulisan di atas tidak obyektif?

  22. whs says:

    @ Editor : “Yang jelas, bagi kami kata “saya” bukanlah hal yang tabu dalam penulisan berita.Lebih baik menggunakan kata “saya” sebagai bentuk transparansi kinerja wartawan,daripada menyembunyikan identitas di balik nama institusi. Bagaimanapun juga wartawan masih memiliki bias.”
    Komen anda ini sudah menyiratkan suatu bentuk subjektifitas atau tafsir pribadi anda..karena aku ga yakin ini merupakan suara lembaga/institusi yang mempunyai visi-misi Kritis,analitis,prinsipil..

    Aku tidak menabukan kata “saya” dalam penulisan tetapi menabukan kata “saya” dalam penulisan berita,karena makna berita akan tercampur aduk dengan opini pribadi.Lah disinilah unsur subjektifitas menjadi kental.
    Bentuk transparansi kinerja wartawan bukan diwujudkan melalui bentuk kata orang pertama,spt : aku,saya,daku,diriku..Jika penilaian tentang transparansi hanya dijawab dengan cara para wartawannya semua menggunakan kata “aku”,”saya”,dsb, Maka sangat tidak PRINSIPIL dan terlalu sempit pandangan wartawan tersebut.
    Guna menunjukkan transparansi kinerja wartawan adalah dengan membuat berita yang memuat tentang problematika yang scr momentum bisa dijadikan alat untuk membuat diskursus dan kontra diskursus(spt:menyeruakkan fakta yang terjadi),yach bisa dikatakan media KRITIS,,tentunya dengan memenuhi unsur objektifitas dan proporsionalitas secara ANALITIS pada liputan yang akan diturunkan..
    Bahasa ke-saya-an bisa mencirikan adanya muatan khusus (kepentingan) tersembunyi dari penulis berita atau institusi tempat penulis bernaung..
    Dan ini juga bukan bermakna bersembunyi dibalik institusi..tetapi memang selayaknya institusi menjadi wadah untuk berkreasi..toh dalam setiap penulisan berita, secara teknis,diakhir berita nama wartawan sebagai peliput juga dicantumkan kan..Nah,kesan ke”saya”an ini juga akan menjawab kegelisahan anda mengenai wartawan juga masih memiliki bias dalam makna ke-objektifitas-an nya..Jadi ke-bias-an wartawan bisa tercover dengan “kejelasan” institusi..Aku yakin SA masih mempunyai “kejelasan” secara institusi..walaopun mungkin berbeda maksud tentang pandangan “wartawan memiliki bias” menurut anda..
    Sekian dulu,,terima kasih..

    NB: Gak ada salahnya membuka-buka kembali SA periode sebelumnya,,bukan bermaksud untuk mengajari,tetapi sebagai bahan pertimbangan tentang makna obyektifitas dan proporsional serta tentunya sebagai identitas dan warna dari SCientiarum..Viva Scientiarum !!

  23. Geritz says:

    @whs : Aq setuju. Justru SA, Imbas, E-time, dll. adalah tempat latihan.. Saya menulis berita ini sebagai sudut pandang orang pertama. Contoh : misalnya saya melihat langsung proses kemacetan. Menggunakan kata Saya diperbolehkan.

    Bimo Nugroho, yang menulis “Santiago dalam Blocknote”, menggunakan kata saya dalam tulisan tersebut. saya lampirkan salah satu alinea dalam tulisan tersebut.

    “PADA 14 Maret 2001, pesawat American Airlines yang saya tumpangi mendarat terlambat di bandar udara Santiago. Pagi sudah lewat dari jam sembilan waktu setempat. Sementara di Sheraton Hotel pada saat yang sama, sesi pertama pasti telah mulai. Sebelum beranjak, blocknote catatan untuk International Roundtable on Journalism saya masukkan ke tas lipat yang mudah dijinjing.”

    Saat ini saya masih dalam tahap belajar, kalau kurang puas atas tulisan saya maaf. tapi saya akan terus meng-upgrade diri saya.
    Oh..ya.. thanks bgt atas perhatiannya.

    @All : Kritik, Ledekan, masukan, dll. Akan saya terima dengan baik dan saya suka itu..

    @editor : Thanks..! Udah memberi tambahan penjelasan pada berita ini..

    Nitez,
    Geritz

  24. whs says:

    @ Geritz :Sebelumnya aku minta maaf,,bukannya aku bermaksud “ngeyel”..Begini
    ceritanya,kebetulan aku juga sudah membaca tulisan Bimo Nugroho dan juga Linda Christanty,yang juga menggunakan bahasa “saya”..Namun perlu kita cermati lagi apakah tulisan tersebut termasuk dalam model “artikel”,”berita”,”catatan pribadi” atau “opini”..Nah mari kita pelajari bersama tentang kedua tulisan tersebut..
    Oh..ya sekaligus aku cuplik-kan sedikit dari elemen ke-4 dari 9 Elemen Journalistik..”Tapi wartawan yang menulis opini tetap tak diharapkan menulis tentang sesuatu dan IKUT JADI PEMAIN. Ini membuat si wartawan lebih sulit untuk melihat dengan perspektif yang berbeda. Lebih sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari pihak lain. Lebih sulit lagi menyakinkan masyarakat bahwa si wartawan meletakkan kepentingan mereka lebih dulu ketimbang kepentingan kelompok di mana si wartawan ikut bermain.”..
    Cuplikan diatas bukan berarti “sebuah kebenaran mutlak” tetapi kiranya bisa menjadi bahan renungan bagi kita bersama….
    Suwun…

  25. Editor says:

    @ whs: Dengan hormat,

    Dari tadi kami minta anda menyebutkan bagian mana dari tulisan Geritz di atas yang bukan fakta, tapi itu tidak anda lakukan.

    Bagian mana dari tulisan di atas yang merupakan opini pribadi?

    Ketika ada seorang wartawan memberitakan, “Saya melihat truk hitam itu menabrak seorang wanita,” apakah itu hanya opini pribadi, bukan fakta, dan tidak obyektif?

    Bagaimana dengan wartawan lain, yang memberitakan, “Sopir truk itu secara tidak sengaja menabrak seorang wanita?”

    Mana yang lebih obyektif?

    Subyektivitas tidak serta merta dapat dianulir dengan menggunakan sudut pandang pihak ketiga (penulis, Reuters, CNN, Scientiarum). Demikian pula sebaliknya, sudut pandang pihak pertama tidak begitu saja membuat sebuah berita menjadi subyektif, opiniah, dan tidak benar, karena selama masih ada fakta atau data, maka berita tersebut tetap benar.

    Kalau anda perhatikan, ada banyak media internasional hari ini yang memakai kata saya.

    Ben McGrath dari The New Yorker, dalam beritanya yang berjudul “Nails Never Fails,” menggunakan sudut pandang orang pertama: “The first time I met Lenny Dykstra, the former Mets and Phillies star, he nearly stood me up for lunch at the St. Regis Hotel, in New York. Dykstra is a luxury-hotel junkie—a self-proclaimed “robes-and-room-service kind of guy.” When I finally reached him, forty minutes after our scheduled appointment, he wondered what time it was, and said that he’d be down as soon as he could put on a suit.”

    The New York Times (harian terbaik Amerika Serikat versi Columbia Journalism Review) menurunkan berita yang berjudul “Can’t Grasp Credit Crisis? Join the Club.” Berita itu ditulis oleh David Leonhardt dengan sudut pandang orang pertama: “I emerged thinking that all the uncertainty has created a panic that is partly unfounded. That said, the crisis isn’t close to ending, either. Ben Bernanke, the Federal Reserve chairman, won’t be able to wave a magic wand and make everything better, no matter how many more times he cuts rates. As Mr. Bernanke himself has suggested, the only thing that will end the crisis is the end of the housing bust.”

    Alfian Hamzah, jurnalis Pantau (yang disebut “majalah terbaik di Indonesia” oleh Liem Sioe Liong, aktivis HAM dari Tapol London) juga menggunakan sudut pandang orang pertama ketika menulis berita berjudul “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan.”

    Ketiga organisasi media ini dipuji karena menyampaikan sebuah berita dengan enak (memakai sudut pandang orang pertama) dan apa yang mereka sampaikan bukan kebohongan, melainkan fakta. Ini sama halnya dengan berita yang ditulis Geritz Febrianto di atas, dimana yang ia paparkan adalah murni fakta, dan bukan opini atau penafsiran pribadinya sendiri.

  26. Editor says:

    @ whs: Apakah menggunakan kata “saya” itu membuat wartawan IKUT JADI PEMAIN? Kalau iya, bagaimana prosesnya?

    Apa yang kami pelajari kemarin tentang elemen keempat dari Sembilan Elemen Jurnalisme bukanlah soal menggunakan kata “saya” atau tidak, menggunakan sudut pandang pertama atau ketiga, tapi lebih kepada pemasukan pendapat si wartawan ke dalam tulisan yang dia buat.

    Selama tidak ada pendapat atau analisis wartawan yang masuk ke dalam sebuah tulisan, maka itu jadi berita. Sedangkan apabila ada analisis atau pendapat yang masuk, maka tulisan itu menjadi sebuah analisis/opini. Dan ini bukan masalah sudut pandang. Itu sudah kami pelajari dalam pelatihan kemarin.

  27. whs says:

    @ Editor : Kamu koq reaksioner banget tho??..Apakah aku pernah mempertanyakan tentang faktualitas tulisan Sdr.Geritz F??Aku tidak pernah menanyakan faktualitas-nya akan tetapi obyektifitas-nya.Jadi jika anda menyuruh aku mencari sisi nonfaktual-nya,ya aku jadi bingung,wong aku ga pernah membahas faktualitasnya.Sekarang malah aku balik bertanya, komen dari aku yang mana yang menanyakan tentang faktualitas tulisan Sdr.Geritz F??Tolong di beri tahu biar nanti akan aku terangkan dan jelaskan.
    Tentang “Ikut jadi pemain”, Simak : ““Pak, kalau mau belajar investigasi bagaimana?” tanya saya. Andreas tersenyum. “Harus mulai menulis feature. Nah, ini (investigasi — Red) tidak dianjurkan untuk Febri sekarang.””..
    Siapa Febri ?? Bukankah penulis berita ini??Apakah ini tidak termasuk dalam pernyataan anda :”pemasukan pendapat si wartawan ke dalam tulisan yang dia buat”.

    Dua contoh yang anda kemukakan sangat berbeda sekali..
    Bagaimana jika contohnya seperti ini:
    Wartawan 1 : “Saya melihat truk hitam itu menabrak seorang wanita,”
    Wartawan lain, memberitakan, “Sopir truk warna hitam itu menabrak seorang wanita?”
    Mana yang lebih obyektif??
    Aku mengakui The New Yorker,The New York Times dan apa yang ditulis dalam buku “Jurnalisme Sastrawi–Pantau” memang sangat bagus dalam menyajikan berita,namun jika memang ini yang akan dijadikan kiblat oleh kawan2 di redaksi Scientiarum,mohon kawan2 tetap konsisten dengan pilihan ini.
    Dan saya menjadi salut karena kemajuan yang sangat pesat yang diraih oleh redaksi Scientiarum hingga saat ini.

    Tapi satu hal yang perlu diingat bahwa:The New Yorker tetap The New Yorker,,The New York Times tetap The New York Times,,Pantau tetap Pantau,,dan tentunya Scientiarum bukan The New Yorker atau The New York Times atau juga Pantau..Scientiarum tetap Scientiarum, Bung…Jika Scientiarum berubah menjadi salah satunya maka tentunya bukan Scientiarum lagi.
    “Seekor anak Rajawali yang dirawat oleh induk ayam tetaplah seekor anak rajawali dan tidak akan pernah menjadi seekor anak ayam.Dan kelak anak rajawali akan menjadi rajawali yang dewasa.Tapi tetap Rajawali”…

    @ Geritz : “Deo et Patria”

    @ All : komen2 aku diatas bukanlah sebuah bentuk rivalitas antara aku pribadi dengan Editor SA,namun mohon ditangkap sebagai sebuah bentuk diskusi pendewasaan yang lazim dalam dunia jurnalistik (baik “kurcaci” maupun “raksasa”).Dan bukan untuk menemukan “siapa yang benar” dan “siapa yang salah”,namun lebih ke arah pertukaran knowledge.

    @ Redaksi Scientiarum 08/09 : Aku mengganggap kalian adalah saudara2-ku,adik2-ku,kawan2-ku.Karena bagaimanapun juga aku pernah dibesarkan di “rumah” ini.
    Kritik,baik membangun maupun menjatuhkan,adalah upaya pendewasaan dan bukanlah tentang siapa menang dan siapa kalah.Jadikan kritik membangun sebagai masukan dan kritik menjatuhkan sebagai introspeksi,bukan legitimasi ofensifitas..

    Viva Scientiarum : Kritis-Analitis-Prinsipil..!!!
    Suwun…

  28. Editor says:

    @ whs: Di atas anda mengatakan, “Bahasa ke-saya-an bisa mencirikan adanya muatan khusus (kepentingan) tersembunyi dari penulis berita atau institusi tempat penulis bernaung..” Dari sini, karena kita sedang berdiskusi dalam konteks pembahasan berita Sdr. Geritz di atas, maka saya menyimpulkan bahwa anda menangkap ada “kepentingan tersembunyi” itu pada berita ini. Dan “kepentingan tersembunyi” itu mestinya bisa dibuktikan dengan adanya opini/pendapat Geritz yang masuk ke dalam berita ini. Opini/pendapat pribadi itulah yang bukan fakta. Singkatnya, saya menafsirkan anda melihat ada hal-hal yang nonfaktual terangkut ke dalam berita ini, sehingga saya meminta anda menunjukkannya.

    Kritik anda soal wartawan sebagai pemain sudah saya terima dan pahami. Bagian yang memuat penunjukkan pribadi Geritz sebagai peserta itu sudah saya hapus dari berita ini.

    Memang, media-media tersebut tetap akan jadi diri mereka masing-masing. The New York Times pun tidak akan jadi The New Yorker hanya karena gaya penulisannya yang serupa. Begitu pula dengan Scientiarum, yang tetap jadi Scientiarum, yang cuma “pembantu” visi-misi UKSW. Scientiarum tetap akan terus berubah, tapi tidak akan meninggalkan cirinya yang kritis-analitis-prinsipil itu.

    Terima kasih.

  29. cdc says:

    meq>>>>ya mungkin aku salah baca(kalau mungkin),ya kalo isi dari blog kan bisa diubah sewaktu-waktu.sebab pada saat tu yang baca da 3 orang,ya mungkin 3 orang yang baca bareng juga salah baca(mungkin!!!!)ya menurutku yang tulisan posting edisi 20 maret jam 11.27.31 waktu salatiga sudah benar.jurnalis pemula disarankan tidak melakukan investigasi seperti pada alinia berikut” Sebelum pulang, Andreas menekankan bahwa investigasi tidak dianjurkan untuk wartawan kurcaci (pemula). Penekanan ini diberikan ketika Andreas menunjukkan bagaimana A Lobbying Bonanza, berita investigasi yang ditulisnya, diverifikasi oleh sebuah media di Amerika Serikat.”dan dianjurkan menulis feature ( tidak tertulis di artikel diatas.ya menurutku ini salah satu keuntungan media Blog.
    ibert>>>>tanks atas saran cerdasnya.muah…
    satria>>>>walaupun aku bukan GO-BLOG,tapi setahuku kalo track back tidak akan muncul dengan sendirinya kalo admin blog tidak mensetting hal ini(walaupun isi berita/tulisan sama/menggunakan search engine yang sama).tapi kalo admin orang muda.com dan scientiarum.com sama ya mungkin akan muncul.tapi tanks banget dah buat aku pengin belajar blog.
    NB:buat me-q mungkin kita suatu saat bisa nggosip bareng di rindang.
    tanks for ALL
    salam

    eko ( CDC )

  30. Ferdi says:

    @whs: Selamat siang mas whs yang ganteng komplit :-), kalau boleh berpendapat, boleh gak ya? iya apa iya ? Peningkatan mutu jurnalistik dengan menggunakan teknik-teknik baru sudah selayaknya jangan dipertanyakan lagi donk, kalau nggak, percuma saja kami berlatih penulisan jurnalistik kemarin. Lagi pula masak kita mau sj diam ditempat padahal sekarang sdh zamannya Globalisasi. Bisa-bisa dikatain orang Ketinggalan zaman lg. Toch harapannya, hal itu akan membuat scientiarum semakain baik dan berkualitas kan? Saya rasa mas whs juga paham dan mengerti akan hal itu 🙂 Bapak wisudawan, minta rokoknya dulu lah :-).

    Lebih baik mengalami kemajuan daripada stagnan atau kemunduran.
    Jangan sampai yang terakhir dah.

    viva JUVENTUS..Hancurkan Inter Milan ha.ha.ha.ha.ha.ha.ha.ha.ha

  31. STR says:

    @ cdc: Muncul tidak secara otomatis itu tergantung dari setting Discussion di bagian Options admin. Di Orangmuda.com itu di-setting langsung muncul, tapi di Scientiarum.com itu di-setting termoderasi. Kalau memang link yang diberikan oleh trackback itu relevan dengan isi posting, kenapa tidak?

    Sebagai tambahan, silakan anda tanya-tanya ke bloger-bloger lain perihal trackback ini. Apakah trackback dengan isi relevan seperti yang diterima Scientiarum.com dari Orangmuda.com ini termasuk iklan spam ataukah sebatas referensi yang masih pada batasan etika bloging.

    Terima kasih.

  32. meQ says:

    to : cdc

    gpp pak dok..masalah miss komunikasi aja..mungkin punyamu diposting sebelum diedit..nah punyaku setelah diedit..

    to : whs

    daripada energimu abis buat nulis komen disini..mending bikin puisi aja lagi.. 🙂

  33. ade says:

    sipp buat terus berlatih…karena dengan berlatih kita akan semakin terampil..dan menurut fatwa dari mas bambang triyono “kita harus hidup dengan keterampilan dan bukan pendidikan”….lalu buat apa kita ada di lembaga pendidikan ini?hehheeee,,,,
    terus berlatih dan terus menjadi manusia pembelajar!!!

  34. Saam Fredy says:

    jadi kepikiran untuk menyodorkan satu aliran baru “Jurnalisme Aku”.

  35. whs lagi says:

    @ Editor : Perkenankan aku untuk memohon supaya nama aku sebagai komentator cum pengkritik […dari Wawan Suyatmiko (menggunakan inisial “whs”)….] tidak dicantumkan pada page berita,karena aku bukan siapa-siapa koq dan aku tidak sedang mencari popularitas.Harap maklum.
    Mengenai tafsiran anda tentang “…Bahasa ke-saya-an bisa mencirikan adanya muatan khusus (kepentingan) tersembunyi dari penulis berita atau institusi tempat penulis bernaung…”,mohon dibaca dan dipahami secara utuh sebagai kesatuan makna/tulisan komen aku diatas dan dibawahnya.Artinya aku tidak sedang “menuduh” person atau institusi,namun sebagai penguatan makna tulisan komen aku diatas dan dibawahnya.Oleh sebab itu di komen berikutnya aku cuplikkan elemen ke-4,yang juga berfungsi sebagai penguatan makna dan argumentasi komen aku..Jadi,sekali lagi,bukan untuk “menuduh”!!..Mohon dimengerti..

    @ Ferdi : Ga usah dipaksa,Fer..Kamu bebas berpendapat koq..Aku cukup paham dan mengerti dengan komenmu ke aku..oleh sebab itu,dikomen aku tertanggal 20 Maret 2008-1:20 sudah sangat jelas dukunganku terhadap redaksi SA yang aktif saat ini..
    Rokok-ku abiz,Fer,mau rokok yang lain??

    @ meQ : Hehe..tumben lu ngomentarin aku,nDrong..biasanye nyela mulu..Tenang kawan,energi-ku akan selalu ada saat pujian&celaan terus menerpa aku..

    Suwun kagem sedoyo kemawon…

  36. STR says:

    @ cdc: Apakah yang kamu maksud dengan larangan menulis feature itu adalah dialog sebagai berikut?

    Saya ikut bertanya. “Pak kalau mau belajar memulai investigasi bagaimana?”

    Dia tersenyum. “Harus dimulai menulis feature, nah ini tidak dianjurkan untuk febri sekarang”.

    (Dialog ini aku ambil dari versi asli tulisan Geritz yang diposting di blog pribadi Geritz)

    Dialog ini memang sedikit ambigu, terutama yang jawaban Andreas untuk Febri. Tapi mestinya, kalau dibaca secara menyeluruh dengan bagian-bagian awal berita di atas, kata “ini” yang dimaksud oleh Andreas bukanlah “feature,” melainkan “investigasi.”

    Trims.

  37. GERITZ says:

    @ All :

    Terimakasih, atas semua komentar diatas. Ini sangat membantu saya untuk menjadi lebih baik. Ini akan Saya jadikan bahan refleksi.

    Salam,
    Geritz

  38. Pingback: satria.anandita.net - Pelatihan Jurnalisme Tak Berspanduk
  39. Trackback: satria.anandita.net - Pelatihan Jurnalisme Tak Berspanduk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *