Meningkatkan Mutu Jurnalisme

Anggota Scientiarum dan Imbas foto bersama Andreas Harsono di Kampoeng Percik. {Foto oleh  Frans Kurniawan}

Anggota Scientiarum dan Imbas foto bersama Andreas Harsono di Kampoeng Percik.
{Foto oleh Frans Kurniawan}

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya, The Elements of Journalism, mengatakan bahwa semakin baik mutu jurnalisme, makin tinggi pula mutu masyarakat.

“Itu karena informasi yang diterima masyarakat lebih baik,” terang Andreas Harsono.

Andreas adalah seorang jurnalis yang berkedudukan di Jakarta. Ia bekerja untuk harian The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur), dan Pantau (Jakarta). Ia pernah menerima Nieman Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard, penghargaan jurnalisme bergengsi di Amerika Serikat — oleh para jurnalis sering disebut sebagai penghargaan tertinggi kedua setelah The Pulitzer Prizes. Uniknya, Andreas dulu “hanya” belajar jurnalisme pada majalah Imbas, sebuah penerbitan mahasiswa Fakultas Teknik UKSW. Hanya saja, agamanya memang jurnalisme.

Scientiarum beruntung dapat menggali ilmu secara langsung dari Andreas. Bersama dengan Imbas, mereka mengundang Andreas sebagai instruktur pelatihan jurnalisme di Kampoeng Percik, Salatiga, tanggal 10-13 Maret 2008. Pelatihan, yang terdiri dari enam sesi (masing-masing sesi dua jam), ini dinamai “Pelatihan Jurnalisme Scientiarum-Imbas.”

Sesi pertama diisi dengan diskusi mengenai prinsip-prinsip dasar jurnalisme. Beberapa hari sebelum pelatihan dimulai, Andreas telah meminta para peserta untuk memahami resensi berjudul “Sembilan Elemen Jurnalisme.” Resensi ini ditulis oleh Andreas sendiri berdasarkan buku The Elements of Journalism.

“Kovach dan Rosenstiel menempatkan elemen jurnalisme yang pertama adalah kebenaran, yang ironisnya, paling membingungkan,” kata Andreas dalam resensinya.

Kebenaran adalah sesuatu yang relatif. Bisa bias karena latar belakang setiap individu yang berbeda. Jadi kebenaran menurut siapa?

Yang dimaksudkan adalah kebenaran fungsional. Kebenaran fungsional dipakai orang untuk menjalankan kehidupan. Peradilan diselenggarakan atas kebenaran fungsional (bukti dan saksi). Orang membeli sayur di pasar juga berdasarkan kebenaran fungsional (harga). Jurnalisme senantiasa mencari kebenaran fungsional, bukan filosofis.

“Dan kebenaran ini dibentuk lapis demi lapis,” lanjut Andreas.

Oleh karena itu, kebenaran fungsional senantiasa dapat direvisi. Keputusan peradilan dapat ditinjau kembali. Harga dapat berubah. Pelajaran sekolah pun bisa salah.

Dengan elemen pertama ini Andreas kemudian mengecam apa yang dikenal dengan advertorial — berasal dari kata advertensi (iklan) dan editorial. Menurutnya, iklan dan editorial tidak boleh dicampuraduk. Isi editorial adalah kebenaran, sedangkan iklan adalah propaganda. Masakan editorial boleh ditunggangi propaganda? “Jangan percaya propaganda,” kata Andreas.

Andreas menjelaskan bahwa “pagar api” (firewall) sangat penting. Firewall adalah sebuah garis yang memisahkan iklan dari editorial, sehingga pembaca dapat membedakan keduanya dengan jelas. Terusannya, pembaca akan bisa menentukan sikap yang benar terhadap informasi yang diterimanya.

“Di Majapahit ini, pagar api itu ‘dikoyak’ habis-habisan dengan advertorial,” tegas Andreas. Majapahit adalah sebutannya buat Indonesia. Kadang, ia juga menyebutnya “Indopahit,” yang berarti “Indonesia keturunan Majapahit” atau “Indonesia yang pahit.”

Setelah mengikat kebenaran, lantas kepada siapa media massa harus membaktikan dirinya? Kepada perusahaan kah? Kepada masyarakat kah? Atau kepada pembacanya?

Bisnis media adalah bisnis yang unik. Ia terdiri dari sebuah segitiga yang menghubungkan pemasang iklan (advertiser), pembaca, pemirsa, atau pendengar (audience), dan masyarakat (citizens).

Para audiens bukan pelanggan (customer). Orang tidak perlu membayar untuk menonton televisi, mendengar radio, dan mengakses informasi yang ada di internet. Bisnis suratkabar pun hanya meminta para pembacanya untuk mengganti sebagian kecil dari ongkos produksi. “Intinya, ada subsidi buat pembaca,” kata Andreas.

Kepercayaan publik ini lalu “dipinjamkan” oleh media kepada para pemasang iklan. Dalam hal ini, tentu pemasang iklan adalah pelanggan, tapi pelanggan yang bukan raja. Hubungan dengan pemasang iklan jangan sampai menomorduakan dan merusak hubungan unik dengan para audiens dan masyarakat.

Untuk menghindari pemberitaan gosip muncul elemen ketiga, yakni disiplin verifikasi. Dengan verifikasi, gosip dapat disaring, ingatan yang keliru dapat dikoreksi, dan manipulasi dapat dianulir. Verifikasi juga yang membedakan jurnalisme dengan propaganda, fiksi, hiburan, dan seni, karena jurnalisme tidak bisa dicampur dengan hal-hal tersebut. Setitik pun tidak.

Verifikasi ini kemudian terkait erat dengan obyektivitas. Jurnalisme yang obyektif tidak menjadikan obyektivitas sebagai tujuan, tapi metode. Obyektivitas hanya akan jadi ilusi bila dijadikan tujuan. Kebenaran justru bisa kabur di tengah pemberitaan yang berimbang.

***

Elemen keempat adalah independensi. Jurnalisme berdiri secara otonom. Seorang wartawan tidak mencari teman, juga tidak mencari musuh. Setiap orang yang mereka liput, baik itu keluarga, teman, musuh, maupun pimpinan sekalipun, harus diperlakukan sama, tanpa ada pembedaan. Ini prinsip.

Diskusi sesi pertama hanya mentok pada elemen keempat. Waktu tidak cukup untuk mencapai elemen kesembilan. Peserta dipersilakan untuk mempelajari sendiri kelima elemen yang tersisa.

Esoknya, sesi kedua diisi dengan materi soal riset dan wawancara. Bacaannya, Ten Tips for Better Interview dan The Arts of Interview. Keduanya ditulis oleh Eric Nalder, wartawan spesialis wawancara. Intinya sederhana: lakukan persiapan! Persiapan bisa dilakukan dengan membaca literatur-literatur yang relevan, mengenal profil narasumber berdasarkan dokumen-dokumen, dan lain-lain. Wartawan abad milenium bisa berterima kasih kepada internet, karena menyediakan miliaran dokumen tentang berbagai isu dan pribadi.

Catatan hasil wawancara sebaiknya dicermati ulang, segera setelah wawancara selesai. “Mumpung ingatan masih segar,” kata Andreas.

Pada sesi ini Andreas meminta dua pasang sukarelawan dari peserta untuk simulasi wawancara. Dari simulasi tersebut muncul diskusi soal pertanyaan tertutup, bahasa tubuh, dan posisi duduk. Ketiganya punya pengaruh terhadap psikis narasumber.

“Mungkin, kalau boleh tahu, apa motivasi Ibu berkuliah di Satya Wacana?” tanya Febri, salah seorang peserta, kepada Nunes, pasangan simulasinya.

Kata-kata “mungkin,” “kalau boleh tahu,” “bisa,” “tolong,” akan membentuk celah dalam pertanyaan. Dan celah ini dapat digunakan narasumber untuk mementahkan pertanyaan bila ia keberatan menjawab. Mungkin? Tidak mungkin. Kalau boleh tahu? Tidak boleh. Bisa? Tidak bisa. Tolong? Tidak mau. Dan sebagainya. Ini contoh pertanyaan tertutup.

Sebuah pertanyaan harus dapat membuka ruang bagi percakapan. “SMA anda dimana? Kenapa sekarang bisa kuliah di Satya Wacana?” Kalimat yang demikian lebih efektif untuk membuka mulut narasumber. Coba bandingkan dengan kalimat tanya Febri sebelumnya.

Bahasa tubuh juga penting. Jangan menatap mata narasumber terus menerus. Itu bisa dianggap tidak sopan, karena mengintimidasi psikis. Sebaliknya, tatapan mata pada saat yang tepat dapat dipakai untuk melihat apakah narasumber sedang berbohong atau tidak. Begitu jawaban yang didapat kurang meyakinkan, segera tatap mata narasumber dan katakan, “Anda tidak sedang berbohong kan?”

Apa bedanya mewawancara narasumber dari balik meja, telepon, atau duduk berhadap-hadapan langsung? Andreas menunjukkan bahwa posisi wartawan dan narasumber dapat membuat perbedaan pada wawancara. Dalam posisi yang berjarak, mungkin dipisahkan dengan meja atau telepon, narasumber dapat merasakan beban psikis yang lebih kecil daripada berhadap-hadapan langsung dengan wartawan.

Di sesi ketiga Andreas mengajar bagaimana membuat tulisan yang seksi. Seksi ini analogi saja. Ibarat atlet, sebuah tulisan harus rendah lemak (kata-kata klise tak berguna) dan bertenaga (ada deskripsi dan percakapan). Deskripsi dan percakapan ini diibaratkan Andreas sebagai “motor penggerak” sebuah tulisan.

“Orang suka yang namanya deskripsi. Orang suka monolog. Orang suka dialog,” papar Andreas.

Menurut Andreas, tanpa deskripsi dan percakapan, sebuah tulisan akan terlihat kaku dan membosankan. Orang akan capai membacanya. Wartawan perlu membuka seluruh panca indera agar bisa menulis deskripsi dengan baik.

Buat deskripsi dan monolog, Andreas memberikan contoh bacaan dari dua tulisannya, Ritual L.E. Manuhua dan Republik Indonesia Kilometer Nol.

Pada kesempatan ini pula Andreas mengenalkan apa yang disebutnya “ritme tulisan.” Ia menyarankan agar jumlah baris setiap paragraf hendaknya divariasi. Jangan monoton. Ibarat orang berjalan, akan menjadi asyik jika panjang setiap langkah tidak sama. Ada langkah panjang (jumlah baris banyak), ada juga langkah pendek (jumlah baris sedikit, bahkan bisa cuma satu).

Hari kedua ditutup dengan pemberian pekerjaan rumah. Para peserta diminta membuat deskripsi dari sebuah percakapan yang menarik bagi mereka. Panjangnya sekitar 500 kata, dan harus fakta.

***

Ketika memeriksa pekerjaan rumah sebelum sesi keempat, Andreas mempertanyakan penggunaan tanda baca, seperti jumlah titik, tanda tanya, dan tanda seru yang dipakai para peserta. Katanya, titik tiga, empat, dan satu punya arti berbeda satu sama lain. Titik tiga berarti mengatakan sesuatu yang belum selesai ditulis. Titik empat mengatakan sesuatu yang mengambang, tapi sudah selesai ditulis. Sedangkan titik satu menyatakan perhentian sebuah kalimat dengan biasa.

Andreas memuji masuknya dialek-dialek daerah, seperti bahasa Jawa dan Ambon, pada pekerjaan rumah peserta. Ini dikatakan Andreas sebagai salah satu keunggulan Scientiarum dan Imbas. “Kalian punya ruang redaksi yang relatif lebih beragam (latar belakang budayanya), daripada (pers mahasiswa) di kampus lain,” katanya.

Kelar dengan pekerjaan rumah, sesi keempat dimulai. Di sini muncul struktur piramida terbalik dan feature.

Andreas bercerita, “Kalau berita tentang kecelakaan, dulu itu ada berita gini, ‘Pada tanggal sekian, ada rombongan dari Salatiga ke Semarang. Mereka menyusuri jalan … bla bla bla panjang lebar … Akhirnya, rombongan ini mengalami kecelakaan di jalan.’ Jadi, setelah baca lama-lama, pembaca baru tahu kalo rombongannya kecelakaan.” Andreas dan peserta terkekeh.

Oleh karena itu, dibuat struktur piramida terbalik. Hal-hal yang terpenting ditaruh di awal tulisan, sedangkan yang kurang penting ditempatkan di akhir. Dengan struktur ini, pembaca dapat mengetahui inti tulisan tanpa harus membaca sampai akhir.

Piramida terbalik cocok untuk menulis straight news. 5W dan 1H ditempatkan di awal tulisan, setelah itu diikuti fakta-fakta pendukung.

Kalau feature beda lagi. Hal-hal yang menarik ditempatkan di awal dan akhir, sedangkan yang kurang menarik ditempatkan di tengah.

Feature cocok buat nulis opini,” terang Andreas.

Opini yang ditulis menggunakan feature dapat menempatkan sudut pandangnya (harus fresh) di awal tulisan, dan kesimpulannya di akhir. Sedangkan data-data dan logika analisis ditempatkan di tengah.

Penjelasan mengenai piramida terbalik dan opini ini lalu disambung dengan diskusi tentang analisis dan analisis berita di sesi berikutnya. Sebagai awalan, peserta diminta membaca The “Kemusuk Thug” Is Finally Dead, analisis yang ditulis Andreas Harsono untuk Inter Press Service.

Andreas tidak menyarankan wartawan pemula menulis analisis berita, mencampur analisis dan berita. “Jika ingin menulis analisis atau opini, di kolom saja,” katanya. Menurut Andreas, wartawan pemula sebaiknya berlatih dulu melakukan verifikasi secara disiplin.

Sama dengan hari sebelumnya, sesi kelima diakhiri dengan pemberian pekerjaan rumah. Kali ini para peserta diminta membuat pengamatan tentang sebuah fakta, lalu dianalisis. Andreas minta agar kata “saya” digunakan dengan relevan.

***

“Saya ingin mengatakan sesuatu kepada kalian. Dan ini mungkin akan membuat kalian syok. Boleh?” tanya Andreas, mengawali hari terakhir.

Para peserta setuju.

“Setelah membaca tulisan kalian kemarin, saya tidak melihat satu pun di antara kalian yang memiliki bakat menulis,” terang Andreas.

“Nggak apa-apa. Justru kalo gini kami jadi tahu kalo kami harus berlatih keras. Daripada nanti kami cuma merasa bisa dan nggak berlatih keras …. Malah kalah sama yang lain,” jawab saya, ketika dimintai pendapat oleh Andreas.

Andreas pun menyarankan agar para peserta memiliki blog pribadi. Menurutnya, menulis di blog bisa jadi kesempatan baik buat berlatih, asalkan tetap dilakukan dengan metode-metode jurnalisme yang benar. Jadi bukan sekadar curhat.

Tidak ada materi khusus untuk sesi keenam. Yang ada hanya pembahasan pekerjaan rumah dan penekanan kembali materi-materi serta pesan-pesan yang telah disampaikan sejak awal pelatihan. Setelah itu Andreas pamit.

Ia pulang ke Jakarta.

12 komentar pada Meningkatkan Mutu Jurnalisme

  1. Saam Fredy 17 Maret 2008 pukul 7:54

    Melihat pemaparan sat, kelihatannya SA butuh ikut pelatihan teater monolog untuk lebih mendalami deskripsi. Di kampus ada, namanya teater monolog “teras”, yang latihan setiap Kamis, pukul 17.00, di GAP.
    Terus terang saja, saya juga terbantu dalam penulisan berita untuk http://www.uksw.edu, dengan ikut serta dalam kelompok teater monolog beberapa tahun silam, sehingga bisa sedikit ber”berita”-monolog.

    Salam,

    Saam Fredy
    ex-anggota teater “Bara” UKSW, ex-anggota teater “Rakit” Fisipol, ex-anggota teater “Kronis” SMU UKSW, dan ex-teater monolog “lini” SMU UKSW. Pernah membantu (asisten instruktur) tim teater monoloh UKSW dalam persiapan mereka ke PEKSIMIDA, tahun 2006.

  2. Opha 17 Maret 2008 pukul 18:10

    Iya…sependapat dengan fredy. Penulisan berita diatas menurut saya agak aneh, terutama saat mendeskripsikan situasi yang tengah berlangsung. Tapi terlepas dari itu semoga teman2 SA tambah semakin kritis-analistis. Objektif dalam segala hal.

  3. Sebleng 19 Maret 2008 pukul 1:33

    Makasih lho udah nulisin notulensi pelatihan jurnalisme kemaren.

  4. cdc 19 Maret 2008 pukul 1:34

    hehehe……….

  5. whs 19 Maret 2008 pukul 20:16

    Oouuww….ini notulensi tho..aku kirain berita kampus…
    yach berarti ditunggu LPJ-nya sekalian diposting…
    biar tambah komplet dan….
    Mak Nyus….

  6. STR 19 Maret 2008 pukul 20:43

    @ Sebleng: Notulensi gundhulmu! Opo ono sing gelem dadi notulen wingi hah?

  7. Geritz 19 Maret 2008 pukul 22:14

    @sebleng : Kamu kok ngga pernah kelihatan?

    Nitez,
    Geritz

  8. Sebleng(si gundul) 21 Maret 2008 pukul 14:35

    “Notulensi gundhulmu!”

    “Baru liat…. pemred kaya gini”

  9. meQ 24 Maret 2008 pukul 20:27

    @ opa : yoi..kayaknya emang SA harus terus mengasah gaya menulis deskripsi..soalnya kebiasaan menulis berita dari dulu kan gak kayak gini.

    @ blenk : udahlah blenk gak usah bahsa yang gak penting disini..Kalo cuma pemred ngomong gundulmu itu banyak..aq juga sering ngomong gitu pas jadi pimred, kodok juga dulu kalo anak2 imbas pas lagi pada iseng (pura2 telat} kan juga suka ngomong yang enggak-enggak..hahahaha..

    lagiaN kamu hobinya kok provokasi mulu sih…liat si whs udah ter-provokasi tuh (terprovokasi kok sama nabi YME ala FTJE)..hahahahahhaa…tapi gpplah blenk…aq juga hobi kok..hahahahha..asal gak jadi yang terprovokasi aja…hahahahha…

  10. obed pemberontak 26 Maret 2008 pukul 12:16

    wah rame yah…. \m/

  11. Pingback: Orangmuda.com »  Ceramah Berlabel Pelatihan

  12. Pingback: satria.anandita.net - Ceramah Berlabel Pelatihan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Masukkan alamat surel anda untuk berlangganan situs web ini. Cek kotak masuk atau spam surel anda untuk mengonfirmasi langganan.

Bergabung dengan 11 pelanggan lain

Rekrutmen Wartawan

cara membuat link pada gambar