Persatuan Sais Dokar Tetap Eksis

Browse By

Sukardi dan Juman
SCIENTIARUM/BAMBANG TRIYONO
Juman dan Sukardi bergambar di depan Sekretariat PSD, Salatiga.

Organisasi ini berawal dari keresahaan para sais dokar, kala keberadaannya terusik kebijakan Pemerintah Kota Salatiga. Beberapa orang yang peduli pun omong punya omong agar dokar diorganisir. Tak heran, dengan segala kisah dan likunya, para sais dokar berhasil membuat organisasi yang diberi nama Persatuan Sais Dokar (PSD).

Menurut Sukardi, ketika ditemui di Terminal Dokar Pereng Asri (depan RSUD Salatiga), Senin, 7 April 2008, PSD resmi terbentuk pada 1990. Itu pun harus melalui lobi ke berbagai instansi terkait, seperti Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ), Polres, sampai legislatif (Komisi Bidang Perhubungan). “Pak Kardi” adalah salah satu pendiri PSD.

“Kala itu perjuangan kami tidak terlepas dari adanya dukungan pihak lain, yang menamakan dirinya ‘Kelompok 15.’”

Kelompok 15, menurut Sukardi, adalah kumpulan intelektual muda kampus Satya Wacana, seperti Andreas Harsono (saat ini menjadi jurnalis di Pantau — Red) beserta kawan-kawannya. Mereka memperjuangkan agar dokar tetap eksis di Kota Hatti Beriman (Salatiga).

“Usai terbentuknya PSD, kemudian kami mengusulkan agar dibuatkan terminal dokar,” lanjut Sukardi.

Supaya para anggota dewan paham betul bahwa PSD memiliki misi, yang salah satunya adalah melestarikan alat transportasi tradisional, mereka sampai meluangkan waktu untuk mempelajari Peraturan Daerah Tahun 1957 tentang Terminal Dokar. Dengan cara tersebut, mereka berharap agar legislatif segera merealisasikan pembuatan terminal dokar. Setelah ada pemahaman bersama antara PSD dengan pemerintah kota, baru pada 1996 terminal dokar berdiri dan mulai beroperasi.

“Saat diresmikan, kami mengundang pejabat dan semua datang. Cukup kami sediakan makanan alakadarnya, seperti nasi jagung dan kacang. Buahnya pun hanya rambutan dan langsep. Maklum, karena kami petani,” kenangnya.

Dalam rangka memperkuat organisasi, mereka mengirimkan kliping soal transportasi kepada Menteri Perhubungan dan Dirjen Perhubungan. Dan itu membuat PSD Salatiga dikenal banyak kalangan, karena dianggap memberikan kontribusi dalam pembuatan undang-undang di bidang transportasi nasional.

Lebih lanjut, Sukardi menceritakan kalau PSD berkembang lebih cepat dibandingkan organisasi lain saat itu. Sebagai contoh, mengenai fasilitas, mereka menunjukkan kepada pemerintah bahwa mereka dapat membuat kantor kesekretariatan, meski reot. Sukardi menyinggung, kepedulian Satya Wacana terhadap persoalan masyarakat sangat tinggi waktu itu.

“Itu pada eranya Willi Toisuta (Rektor UKSW ketiga — Red). Waktu itu kami sering diundang dalam forum-forum tertentu,” kenang Sukardi.

Menurut Sukardi, kepedulian UKSW terhadap persoalan masyarakat mulai terkikis pasca-Willi. Sukardi juga menambahkan bahwa figur-figur seperti Arief Budiman (mantan dosen Program Pascasarjana UKSW — Red) lah yang pemikirannya dibutuhkan untuk membangun Salatiga saat ini.

“Dulu itu lho, waktu kemelut 94, saya sampai diminta menghadap Kodim. Saya dianggap SAB (Sahabat Arief Budiman),” tukasnya.

Juman, yang saat ini mengetuai PSD, mengeluh bahwa anggotanya tidak bisa meluangkan waktu untuk mengurus organisasi, meski masih ada beberapa yang menaati karena ada rasa tanggungjawab. Sebagai ketua, Juma menyadari bahwa para anggotanya kurang memiliki kesadaran berorganisasi.

“Sebelum narik, mereka bertahan untuk mencari tarikan. Tapi kalau menurut saya, anggota yang berpikir dewasa harus menyadari,” kata Juman.

Struktur organisasi PSD saat ini meliputi Ketua Umum (Juman), Sekretaris (Sukardi), Ketua I Bidang Ketertiban dan Perlengkapan Dokar (Kuad), Ketua II Bidang Keanggotaan (Suwarno), dan Ketua III Bidang Pendidikan dan Lingkungan (Suratman).

Sedikitnya ada 125 dokar yang masih terdaftar di PSD. Apabila dibandingkan dengan yang dulu, jumlah ini jauh lebih sedikit.

PSD saat ini memiliki empat cabang, yang meliputi Kecamatan Sidomukti, Argomulyo, Tingkir, dan Tuntang. Setiap cabang memiliki pengurus sendiri, dan pengurus pusat memberi otonomi penuh bagi tiap cabang. Artinya, mereka dapat berbuat apa saja, seperti arisan dan menabung. Pertemuan pengurus, baik dari cabang maupun pusat, dilakukan setiap triwulan sekali.

Inilah potret organisasi dokar di Salatiga, yang telah mengalami pasang surut.

Haruskah mereka terkikis oleh jaman?

7 thoughts on “Persatuan Sais Dokar Tetap Eksis”

  1. Saam Fredy says:

    Salut buat artikel diatas.

  2. STR says:

    Hehe …. Salut kenapa, Saam?

  3. Saam Fredy says:

    Dalam tulisan Bambang, banyak hal dari sisi humanis yang saya bisa lihat dan rasakan. Tulisan-tulisan seperti ini, sangat cocok untuk menggugah emosi. Terus terang, saya selalu berusaha membuat tulisan semacam itu.

    Salam,

  4. Andreas Harsono says:

    Untuk Triyono,

    Saya menikmati bacaan ini. Ia mengingatkan pada masa ketika saya masih mahasiswa serta membantu Pak Achmadi, Mas Sukar, Mas Warno, Pak Juman dan sebagainya, mendirikan organisasi dokar. Dulu saya tidur dan mandi di terminal dokar. Bikin kursus bahasa Inggris. Bikin koperasi dan sebagainya. Tak terasa sudah berjalan hampir 20 tahun riwayat Persatuan Said Dokar. Saya ikut senang organisasi ini masih jalan. Memang ala kadarnya. Tapi kini makin penting untuk generasi mahasiswa sekarang untuk berpikir pengembangan kota Salatiga, yang tak sekedar mengikuti arus besar “pembangunan” di Indopahit ini. Pengembangan secara alternatif inilah yang bisa membantu organisasinya Mas Sukar.

  5. Triyono says:

    buat bung Andreas,

    terima kasih atas atensinya.

  6. boedy says:

    Ok. Good. Saya salut ada yang masih ada nguri-nguri trans. tradisional. Aku baru mau yusun aneka jenis dokar di Jateng. Lain waktu aku mau kunjung ke psd salatiga.

  7. lidia says:

    saya mau beli 10 buah andong untuk pengadaan wisata pulau samosir, saya bisa dapat informasinya di mana ya pak? mohon bantuannya. terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *