Budaya Populer Sebagai Komunikasi

Browse By

Judul: Budaya Populer Sebagai Kumunikasi: Dinamika Popscape dan Mediascape di Indonesia Kontemporer
Penulis: Idy Subandi Ibrahim
Penerbit: Jalasutra

Idi Subandy Ibrahim adalah seorang peneliti media dan budaya. Ia juga adalah salah satu dosen luar biasa untuk penulisan kreatif pada Program Studi Manajemen Komunikasi Universitas Islam Bandung. Sejauh ini, selain menjadi penulis aktif (sekaligus editor dan kontributor) untuk kajian budaya dan komunikasi di Indonesia, Idi telah menerjemahkan (dan menyunting) beberapa buku bertema budaya dan komunikasi (serta beberapa disertasi dan esai) dari beberapa ahli tentang Indonesia, yang mengkaji kebudayaan Indonesia.

Menurut Dr. Ariel Heryanto, “Idi Subandy Ibrahim merupakan salah seorang pemikir Indonesia yang paling rajin menekuni kajian budaya di Indonesia dalam beberapa dekade belakangan.” Ketika membaca buku Idi Subandy Ibrahim yang berjudul Budaya Populer Sebagai Komunikasi: Dinamika Popscape dan Mediascape di Indonesia Kontemporer, jelas sekali terlihat hasil riset, kajian, analisis, dan sekaligus perenungan Idi mengenai budaya media dan budaya pop di Indonesia kontemporer. Dengan meletakkan fokus kajiannya mengenai bahasa, televisi, sinema, sastra dan musik populer, Idi menggambarkan secara gamblang perubahan budaya masyarakat di Indonesia.

Tulisan ini tidak akan menggambarkan secara keseluruhan dari isi buku Idi Subandy Ibrahim yang berjudul Budaya Populer Sebagai Komunikasi: Dinamika Popscape dan Mediascape di Indonesia Kontemporer, akan tetapi sedikit uraian ini akan mencoba mengajak kita untuk membaca dan berdiskusi tentang apa yang dimaksudkan oleh Idi mengenai perubahan masyarakat Indonesia kontemporer.

Mediascape dan popscape di Indonesia
Dua pandangan tersebut dilatarbelakagi oleh bergulirnya Era Reformasi (pasca Orde Baru, pemerintahan Presiden Soeharto) yang mengedepankan kebebasan pers serta mengubah lanskap media (mediascape) Indonesia yang berkembang dengan pesat. Perkembangan media yang pesat menjadi sorotan utama karena ia juga yang telah mengubah lanskap budaya populer (popscape) masyarakat Indonesia kontemporer. Menurut pandangan Idi, media dan budaya populer adalah semacam lanskap budaya yang dipraktikkan, disebarkan, dipasarkan, dan dimediakan dalam kehidupan sehari–hari di tengah masyarakat Indonesia kontemporer. Contoh-contohnya dapat diresapi sendiri lewat iklan, sinetron, infotainmen (gosip), film, dan berbagai program-program televisi saat ini. Dari semua produk media inilah terbentuk budaya sehari-hari masyarakat Indonesia kontemporer.

Idi juga menjelaskan bahwa untuk memaknai popscape yang dihasilkan oleh mediascape dalam konteks masyarakat Indonesia kontemporer, tidak perlu membandingkan budaya populer dalam dikotomi “budaya adiluhung” (high culture) dan “budaya rendah” (low culture). Akan tetapi lebih dari itu, memaknai media dan budaya sebagai lanskap berarti perlu secara kritis melihat bahwa pesan-pesan dan teks-teks media dan budaya pop yang sama akan berdampak dan diresepsi (diresapi) secara berbeda oleh masyarakat (khalayak) yang berbeda. Artinya, pengaruh media dan budaya populer sangat bergantung pada konteks produksi dan resepsi serta konteks sosial-budaya khalayak (tanpa mengesampingkan konteks distribusi dan konsumsi khalayak terhadap media dan budaya populer). Di sinilah negosiasi makna menjadi kekuatan simbolik dalam ritual komunikasi sehari-hari, dimana masing-masing kekuatan (ekonomi, politik, dan ideologi) saling bersaing untuk menguasai medan makna berdasarkan kekuatan simbolik yang mereka miliki dalam perbendaharaan budaya sehari-hari.

Idi meletakkan dasar pemikirannya tentang media dan budaya populer sebagai lanskap, berangkat dari pemikiran Stuart Hall yang menyatakan bahwa budaya populer merupakan medan pergulatan yang mencakup muncul dan bertahannya hegemoni. Sehingga dampaknya, menurut Idi, dalam konteks produksi sampai pada konsumsi teks-teks budaya media dan budaya populer sehari-hari, kita terus mengonstruksi dan menegosiasi makna di tengah medan pertarungan ideologi dan hegemoni yang di satu sisi mengomersialkan, di sisi lain ingin mendemokratisasikan praktik-praktik budaya yang kita jalani dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang membuat sebuah perubahan besar perkembangan budaya populer di Indonesia.

Perubahan sosial dan kultural di Indonesia yang menjadi sorotan awal Idi adalah mengenai pemanfaatan waktu senggang, waktu santai, atau waktu luang masyarakat Indonesia saat ini. Idi melihat bahwa ketika industrialisasi mulai menyeruak dalam kehidupan modern dan mesin serta robot menggantikan aktivitas fisik manusia, saat itulah tenaga manusia tidak dibutuhkan lagi dalam proses produksi. Selain berakibat pada jumlah pengangguran yang bertambah, waktu di luar jam kerja juga semakin bertambah panjang. Nah, pada titik inilah perpanjangan waktu luang tersebut banyak diisi dengan aktivitas baru yang entah itu bersifat produktif, konsumtif, atau bahkan kontraproduktif.

Namun perpanjangan waktu luang tersebut telah dimanfaatkan oleh industri hiburan untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Masyarakat kini telah diserbu oleh berbagai pernak-pernik kebudayaan pop–tidak hanya di kota, tetapi juga di kampung-kampung, dan dusun-dusun terpencil. Invasi industri hiburan semakin dikukuhkan lewat media massa yang menembus batas, bahkan ruang keluarga dan televisi adalah agennya. Boleh dikatakan bahwa globalisasi yang merambah dunia media telah menghancurkan batas-batas geografis masyarakat Indonesia kontemporer.

Dari pemujaan tubuh sampai generasi “V”
Secara sederhana dan gamblang, Idi menjelaskan berbagai studi kasus dalam kaitannya dengan perkembangan budaya populer di Indonesia, dan mungkin hanya beberapa saja yang dijelaskan di sini, sesuai dengan pemandangan saya terhadap buku Idi Subandy Ibrahim.

Studi kasus pertama yaitu bagaimana imaji perempuan bahkan laki-laki yang dilukiskan oleh media sebagai “cewek kece” dan “cowok macho” disesuaikan dengan keinginan industri kecantikan, modeling kosmetika, dan lain-lain. “Cewek kece” di sini diidentifikasikan dengan cantik, berkulit halus, putih, dan langsing, atau yang bertampang komersil (seperti yang dilukiskan di iklan kosmetik, sinetron, ataupun film), serta selalu mengenakan busana religi sebagai ungkapan takwa. Sedangkan “cowok macho” diidentifikasikan tidak saja tampan dan kekar-berotot, juga ditambah lagi suka sembahyang.

Kedua, fenomena pemujaan gaya hidup merupakan masalah yang lebih serius, karena terletak dalam manipulasi kebutuhan-kebutuhan yang tidak disadari. Idi menjelaskan tentang pandangan dari sejumlah pakar yang menyebutkan bahwa budaya populer yang bersifat konsumtif tersebut sebenarnya tidak ditentukan oleh pihak luar atau oleh pihak produsen (source), yaitu para industrialis kapitalis, tetapi ditentukan oleh dirinya sendiri (khalayak penikmat). Namun demikian, media massalah yang mampu menjangkau pelosok tanah air, yang menyebabkan para konsumen (khalayak) tersebut menjadi terdesak untuk didominasi oleh produk material dan non-material budaya populer.

Ketiga, semakin jelaslah masyarakat Indonesia kontemporer sangat mengedepankan pencitraan. Lewat gaya hidup, gaya berpenampilan, sampai dengan gaya berbahasa (dalam bertutur lisan), merupakan produk menarik yang menjadi komoditas utama dari pencitraan produk-produk media populer Indonesia. Hal ini sampai berakar pada komunikasi politik masyarakat dalam ruang publik. Mengakarnya pencitraan dalam proyek media populer, tidak terlepas dari kerjasama antara penguasa kebijakan dan para pengusaha media yang berporos pada kapitalisme media populer.

Keempat, menyimak pemberitaan budaya kekerasan dalam siaran-siaran berita nasional itu sama saja dengan melanggengkan teater kekerasan dan budaya kekerasan dalam benak pemikiran masyarakat Indonesia. Budaya kekerasan itu disebarkan oleh media yang seringkali lepas konteks. Inilah yang menurut Idi, bahwa media populer di Indonesia telah mengarahkan kecenderungan sosialisasi budaya kekerasan sehingga menjadi saluran pendidikan kekerasan bagi masyarakatnya. Visualisasi aksi dan korban kekerasan yang berlebihan dengan maksud efek dramatis atas peristiwa, jelas bisa berakibat secara psikologis dan sosial, tidak hanya bagi korban dan saudaranya, tetapi juga bagi penontonnya, terutama di kalangan anak-anak.

Kelima, dalam konteks kekinian, ruang televisi menjadi menarik daripada ruang baca. Inilah kajian Idi Subandy Ibrahim yang menurut saya paling menarik (karena sangat menyentuh perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk saya). Memang tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia tumbuh melalui “tradisi lisan”. Namun lebih daripada itu, televisi memegang peranan penting menjadi “tradisi lisan kedua” yang telah masuk dalam ruang-ruang keluarga. Tak heran kalau masyarakat Indonesia masih menjadi pendukung utama budaya lisan dan budaya visual. Inilah kebangkitan dari sebuah generasi baru: gerenasi visual, generasi “V”.

Dari semua fenomena yang coba dijelaskan di atas, tentu yang menjadi pusat perhatian di sini adalah media populer yang memainkan peranannya untuk melanggengkan tatanan budaya populer yang berpengaruh negatif. Hegemoni ideologi yang dimainkan tentu tidak bisa secara kritis dilihat oleh masyarakat awam. Namun dari beberapa studi kasus tersebut, Idi Subandy Ibrahim hanya ingin menjelaskan bahwa masyarakat perlu lebih kritis lagi untuk mengonsumsi media dan budaya populer, karena proses penyadaran untuk lebih kritis terhadap media harus dimulai oleh khalayak penikmat (masyarakat) yang meresepsikan makna simbolik yang terkandung di dalamnya.

Penutup
Usaha untuk mempengaruhi atau mengontrol media massa nampaknya sudah sulit dilakukan oleh negara. Munculnya kebebasan media massa yang terjadi pasca Orde Baru nampaknya sudah tidak dapat dikembalikan ke kondisi adanya kontrol media yang ketat. Celakanya, adanya kondisi yang bebas bagi media massa seringkali secara sengaja atau tidak sengaja menjadi kebablasan.

Lantas bagaimana memberikan solusi terhadap persoalan di atas. Menurut saya, bagaimanakah kita menciptakan media populer tapi mendidik masyarakat banyak? Sepertinya ini sudah dilakukan. Namun lebih daripada itu, proses penyadaran perlu dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu, baru setelah itu menyadarkan orang banyak.

Fredy Umbu Bewa Guty, mahasiswa Program Studi Sosiologi

4 thoughts on “Budaya Populer Sebagai Komunikasi”

  1. Lussua says:

    salah satu media yang menjadi tempat pencitraan dan ekspresi diri secara visual adalah facebook…..jaringan sosial tersebut menjadi wadah yang sangat efektif mempengaruh perilaku dan budaya di dalam masyarakat tidak hanya pada kalangan anak muda, tetapi dari berbagai kalangan masyarakat, berdasarkan usia, sosial ekonomi, politik, bahkan hampir dari seluruh kalangan yang bergerak dalam berbagai aspek dalam masyarakat……

  2. Pingback: Budaya Populer Sebagai Komunikasi « Fredy Guty
  3. Trackback: Budaya Populer Sebagai Komunikasi « Fredy Guty
  4. jessica says:

    maaf mengganggu sebelumnya,,
    saya jessica sedang menjalani skripsi mengenai Komunikasi Antarpribadi antara Pengguna Media Internet Facebook pada Mahasiswa PR 2008 Universitas Mercu Buana (kualitataif)…
    menurut pak idy teori konsep2 apa yang dapat saya gunakan untuk skripsi saya ..

    mohon bantuan dan sarannya pak terimakasih
    sukses terus untuk bpk Idy
    salam Jessica

  5. Zaki says:

    Mantap mas 🙂

    Tolong berkunjung ke laman ini yah mas, mudah2an bisa berbincang…

    http://zakiiaydia.com/index.php/beranda/2-kebudayaan/62-ovj-dalam-kajian-budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *