Mahasiswa UKSW Bungkam Soal Pembangunan SPBE

Browse By

Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, belum menyokong warga memprotes pembangunan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) oleh PT Capital Realm Indonesia (CRI) di Dusun Pamot, Kelurahan Noborejo, Kecamatan Argumulyo, Kota Salatiga, Jawa Tengah.

Menurut Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) Lussua, belum bersikapnya BPMU sebagai lembaga karena beberapa kendala seperti masa peralihan periode, masalah Pembekalan Lembaga Kemahasiswaan Raya, permasalahan dengan Pembantu III Rektor dan pemilihan Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas.

“Itu sangat menyita waktu,” kata Lussua, ketika diwawancara pada Jumat, 30 Juli 2010.

Menurut Lussua, atas inisiatifnya, dalam waktu dekat Komisi Eksternal BPMU akan menghimpun informasi mengenai persoalan SPBE PT CRI. Tambahnya, agenda yang akan dijalankan adalah diskusi dengan mahasiswa intra-universitas, maupun organisasi serta mahasiswa ekstra-universitas.

”Intinya ya yang perlu ditekankan adalah bagaimana mahasiswa di Salatiga bergerak bersama,” ujar Lussua.

Menurut pegiat Forum Kerukunan Masyarakat Pamot (Fokermapa) Muh Nas’at, belum ada elemen kemahasiswaan yang terlibat dalam penolakan SPBE PT CRI.

Alasan SPBE PT CRI ditolak oleh Fokermapa, seperti tertulis dalam surat yang ditujukan kepada Wali Kota Salatiga dan ditembuskan kepada sejumlah pejabat pemerintahan, antara lain karena SPBE dibangun di tengah pemukiman, dekat dengan sarana pendidikan serta bengkel las.

Fokermapa menggelar aksi protes pertamanya di depan SPBE PT CRI pada 19 Juli 2010. Yang kedua di depan SPBE PT CRI dan di halaman kantor Wali Kota Salatiga pada 5 Agustus 2010.

Menurut mantan Ketua Umum BPMU Yesaya Sandang, BPMU harus memiliki kepekaan tertentu terhadap isu-isu yang ada di sekitar masyarakat.

“Seperti yang kita ketahui juga, mahasiswa merupakan bagian dari gerakan-gerakan sosial yang seringkali justru menjadi motor utamanya,” ujar Yesaya. Karenanya, sebetulnya BPMU memiliki peran penting terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan.

Lembaga kemahasiswaan luput terlibat bukan hanya dalam persoalan SPBE PT CRI. Menurut Yesaya, patut disayangkan jika kepekaan lembaga kemahasiswaan semakin pudar. Yang perlu dilakukan BPMU, tutur Yesaya, adalah memperkuat analisis sosial melalui Komisi Eksternal.

13 thoughts on “Mahasiswa UKSW Bungkam Soal Pembangunan SPBE”

  1. yoga says:

    sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Yesaya, memang seharusnya civitas UKSW tidak hanya peduli dengan lingkungan kampus saja tapi juga harus peduli terhadap luar kampus juga, karena UKSW berada di lingkungan masayarakat yang sepertinya membutuhkan bantuan dalam bentuk pemikiran ataupun tenaga. Bravo UKSW.

  2. Febri says:

    Memang LK UKSW harus peka dengan isu-isu masyarakat.. tapi untuk itu sebaiknya didukung pula oleh kampus, alasan saya adalah, karena tugas pengabdian masyarakat juga adalah tanggung jawab Kampus .. Sampai berita ini disajikan, apakah ada dosen yg terlibat..? selain itu mengapa dosen..? karena dosen secara tidak langsung menjadi teladan bagi mahasiswa..

    kalau dosennya cuek, kemungkinan besar mahasiswa cuek
    kalau dosennya aktifis masyarakat, maka mahasiswa bisa terasah kepekaannya.

    Selain itu LK UKSW sendiri sekarang harus siaga internal kampus terhadap kebijakan2 rektorat…

    memang serba salah.

  3. Tian says:

    untuk paragraf terakhir dari tulisan diatas saya setuju. cobalah aktif mengadakan diskusi dengan beberapa elemen masyarakat seperti LSM,Pemda,Tokoh Masyarakat. trus hasil diskusinya disosialisasikan dgn mahasiswa.
    @ febri, klo mahasiswa bukam mengapa tidak coba jalur independent tapi memiliki dampak yg melebihi popularitas universitas misalnya dengan menulis di koran atau jurnal lokal atau regional.
    nah soal dosen yg kepekaan sosialnya dinilai sedang pasif, coba maen ke trokajaya & percik, dosen saya dulunya kerja disitu ^,^

  4. Febri says:

    @Tian: salam kenal..

    saya setuju dengan pendapatmu.. dan bukan berarti saya tidak setuju dengan pernyataan dalam berita ini. saya setuju..

    Saya kembali pada pernyataan saya.. bahwa dosen adalah teladan mahasiswa, termasuk kalau dosennya jarang nulis (dari 400an dosen UKSW, berapa sih yg tulisannya pernah masuk koran lokal Suara merdeka? atau Koran nasional? klo proyek yg banyak duitnya cepat.. hehehe..). klo dosen jarang nulis atau tidak memotivasi untuk menulis ya bagaimana mahasiswa mau menulis..

    Jadi bagi saya dosen punya dampak besar dalam membangun ke kritisan di UKSW.. Sebagai contoh lagi, misalnya dosen mengeluarkan pernyataan :
    “Aksi demonstrasi bukan cara-cara Kristiani”, maka mahasiswa tidak akan demo, apalagi seandainya yg bilang itu dosen cum rohaniawan

    Mengenai menulis Jurnal atau di koran. saya setuju bro.. Namun tulisan itu sifatnya langitan. Nah, karena langitan maka perlu di daratkan.. Bagi UKSW hal ini kompleks karena nulis dan (mungkin membaca) advokasi di Salatiga jarang.

    Bro, mengenai percik dan trukajaya, saya sudah tahu.. sebenarnya mirip dengan UKSW. Kecuali satu atau dua orang yang ada disitu. Khusus Percik agak mendingan, karena beberapa kali mengakomodasi masyarakat Salatiga. Tapi yg namanya dosen UKSW sekali pun dia di Percik, saya tidak melihat aktifitas mereka sebagai advokator..

    Salam
    Febri
    Litbang Scientiarum

  5. mahasiswa sampah says:

    ayo ikut demo!!!!

  6. Febri says:

    @mahasiswa sampah: demo protes tidak kristiani bro (JK)

  7. ZX-14 lady says:

    Some people see things that are and ask, Why? Some people dream of things that never were and ask, Why not? Some people have to go to work and don’t have time for all that..

  8. tian says:

    @ febri, salam kenal ^,^
    hmm itulah fenomena lembaga pendidikan saat ini, terjadi pergeseran bahkan gesernya dah kejahuan. saya mencatat diantaranya seperti ini mohon jgn tersinggung ya kan skrg era demokrasi boleh dong opini =,=”

    (mahasiswa) saya datang saya bayar saya belajar saya dapat gelar saya pergi
    (dosen) saya datang saya mengajar saya digaji saya pergi
    (mahasiswa) saya datang, saya happy ,lulus tidak, saya tidak perduli. apa lagi masalah disekitar saya .bodo amat hukakaka
    (dosen) mahasiswa saya saja saya tidak pedulikan. mo jadi apa ke bodo amat, apalagi masalah sosial kaya gituan cuii ^,^
    (mungkin cerita umum neh, tapi teman saya pernah curhat soal pembimbing yg bukannya nge bantu pas sidang “ujian skripsi” malah ikut”an nyalahin anak bimbingannya + nggk mau disalahin. es we te )

    well, masalah advokasi saya nggk mau mempersalahkan dosen seh. saya pikir salatiga ini butuh LSM independent yang bergerak dibidang LBH 1-3 gitu, nah mahasiswa atau dosen dalam hal ini hanya menjembatani masyarakat (koban) dengan pihak LBH.
    NB: proses penjebatanan tidak perlu dijelaskan y.

    Tapi dari kesemua itu kembali lagi ke hati masing-masing seh.
    olehnya saran saya LK saat ini alangkah baiknya menanamkan sifat keperdulian sosial bagi mahasiswanya dlm setiap kegiaatan baik aras fakultas maupun universitas. inget loh keteladanan bkn hanya datang dari dosen dan petingginya. LK juga termasuk kelompok triaspolitka diaras universitas

    hmmm sekian khotbah saya. bukakaka semoga amen.

  9. Petrus Wijayanto says:

    Adakah liputan dari SCIENTIARUM mengenai kasus SPBE itu secara lengkap, maksud saya bukan kasus DEMO-nya, tapi informasi seputar kasus itu, sejak awal hingga sekarang, (maksudnya INFORMASI tanpa OPINI dulu…)
    saya hanya dengar, katanya begini.. katanya begitu…..,
    berdasarkan informasi yang REAL dikaitkan dengan acuan kriteria-kriteria tertentu itu mungkin baru dapat diambil sikap tertentu.

  10. si sampah says:

    DEMO waeee…
    Demo yuuukkkkk……

  11. Tete says:

    SPBE = STasiun Pengisian Bom Elpiji….

    Klo emang mau didirikan tolong dikaji ulang…

  12. tian says:

    @tete, huhaha
    stasiunnya nggk masalah tapi bom nya itu mengerikan…2 ato 3 hari yg lalu pas nonton breaking news disalah satu statiun tv, ayah ma anak yg sedang nonton tv jd korban.
    ceritanya kira kira mirip ini deh
    “Purwokerto, Kepolisian Sektor Purwokerto Selatan menyelidiki kasus ledakan yang diduga akibat adanya kebocoran dari selang tabung elpiji ukuran 12 kilogram di Perumahan Puri Hijau, Purwokerto, Jawa Tengah, Kamis (30/9) pagi. Kepala Polsek Purwokerto Selatan, Ajun Komisaris Polisi Isfa Indarto di lokasi kejadian mengatakan pihaknya masih menyelidiki penyebab peristiwa yang terjadi sekitar pukul 08.10 WIB tersebut. Dugaan sementara, peristiwa ini akibat adanya kebocoran gas dari selang tabung elpiji ukuran 12 kilogram yang terakumulasi di dalam rumah karena kondisi tabung masih utuh.”
    dikutip dari http://www.pro3rri.com

  13. Pingback: Konflik Noborejo (SPBE): Pendekatan Kultural « S L A M E T H A R Y O N O : Share for A Better Life
  14. Trackback: Konflik Noborejo (SPBE): Pendekatan Kultural « S L A M E T H A R Y O N O : Share for A Better Life

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *