Natal Adalah Sebuah Tradisi

Browse By

Natal, sebagai peringatan kelahiran Yesus (Yeshua) masih saja menjadi kontroversi, apakah perlu dirayakan atau tidak. Masing-masing pihak yang pro dan yang kontra memiliki argumentasi masing-masing, untuk meyakinkan pilihannya. Bukan mana yang salah mana yang benar, karena dengan argumentasi yang meyakinkan, masing-masing menjadi benar menurut sudut pandangnya. Jadi, yang perlu dipikirkan adalah jika kita ikut merayakan atau tidak merayakan Natal, adakah argumentasi yang meyakinkan bagi kita sendiri, atau hanya ikut-ikutan merayakan atau ikut-ikutan tidak merayakan?

Tentang kapan pertama kali Natal mulai menjadi acara tahunan bagi umat Kristen, ada beberapa pendapat. Ada yang berpendapat, bahwa Natal dimulai sekitar tahun 336 Masehi, atas prakarsa Kaisar Konstantine, namun ada pendapat lain yang menyebutkan Natal sudah dilakukan oleh orang-orang Kristen sebelumnya. Mana pendapat yang benar? Kita tidak tahu, kecuali (jika mau) kemudian  hanya bisa meyakini salah satunya.

Selain tentang kapan Natal mulai dilakukan orang Kristen, minimal ada dua hal lagi yang kadang diperbincangkan berkaitan dengan kontroversi Natal. Pertama, tentang “Kapan Yeshua lahir?”, dan kedua, “Karena tidak ada perintah di dalam Kitab Suci, perlukan kelahiranNya itu dirayakan,?”. Menanggapi kedua hal ini, masing-masing pihak yang pro dan yang kontra terhadap Natal, bisa membela diri dengan berbagai argumentasi untuk membenarkan pilihannya.

Pihak yang pro-Natal, akan menyatakan, (misalnya) tidak penting kapan Yesus lahir (karena memang tidak ada catatan sejarahnya), yang penting memperingati kelahirannya di dunia ini.  Pihak yang kontra akan menyatakan, “tidak elok merayakan kelahiran, bukan pada tanggal kelahiran itu, coba saja rayakan ulang tahun teman anda, pada tanggal yang salah.”

Kemudian, pihak yang kontra-Natal, akan menyatakan, “karena tidak ada perintah di Kitab Suci, tidak perlu, merayakan Natal, yang perlu adalah (perjamuan) Paskah, karena itu yang diperintahkan oleh Yeshua sendiri, sebelum kematianNya; pihak yang pro akan menyatakan, “Walaupun tidak diperintahkan di Kitab Suci, tetapi Natal adalah hal baik, karena dapat menjadi pewartaan bahwa Kristus pernah hadir di dunia ini.”

Semua argumentasi itu masuk akal.

Argumentasi boleh panjang lebar untuk membenarkan pilihannya merayakan Natal atau tidak merayakan, atau merayakan Natal tetapi bukan di 25 Desember, (ada yang merayakan Natal Yeshua disesuaikan dengan Hari Raya Sukkot (Pondok Daun), beralasan bahwa kemungkinan Yeshua lahir pada Hari Raya Sukkot, karena bayi Yeshua dibungkus “kain lampin” yang konon adalah kain yang digunakan di Hari Raya Sukkot), tetapi bagaimanapun “masuk akal”-nya sebuah argumentasi, tidak mampu membuat kesepakatan; selalu akan ada ketidaksepakatan mengenai Natal. Apalagi dengan kemudian menghadirkan Sinterklas di hari Natal, itu makin menunjukkan bahwa Natal adalah sebuah tradisi.

Kegiatan apapun, yang disebut tradisi, semula dibuat untuk menjadi simbol yang bermakna tertentu. Seiring berjalannya waktu, kebanyakan tradisi akan berkembang mengikuti perubahan jaman, dan sayangnya, kadang maknanya menjadi hilang. Contoh seputar Natal, tradisi Katholik hingga hari ini, merayakan Natal sesudah masa Adven, sehingga perayaan Natal Katholik akan di 25 Desember atau sesudahnya, bukan sebelumnya, karena Advennya harus selesai dulu.  Tetapi Natal Kristen Protestan, banyak yang tak memakai masa Adven, sehingga ada yang sudah merayakan Natal di awal Desember, padahal jika dikaji ke belakang, tradisi Natal itu semula adalah tradisi Katholik, termasuk masa Advennya itu. Sinterklas, tokoh baik hati yang hadir di hari Natal, itu juga cerita dari tradisi Katholik.

Ketika tradisi berkembang “tidak terarah”, bisa jadi sebuah perayaan/peringatan kehilangan makna, dan kemudian menjadi bahan cemoohan, karena orang-orang tidak tahu lagi makna sebuah tradisi ini. Contoh lain, kata Merry Christmas, yang kadang disingkat dengan Merry X-mas, kadang diplesetkan menjadi Merry XXX-mas, untuk sebuah perayaan pesta seks di hari Natal. Orang boleh saja berargumentasi bahwa “X” dalam X-mas itu melambangkan Kristus karena itu adalah simbol dari Chi-Rho, tetapi orang juga boleh berpendapat bahwa menyingkat Christmas menjadi X-mas, itu adalah upaya untuk mengaburkan/menghilangkan “Christ” dari Christmas.

Jika tidak sekedar hanya ikut-ikutan merayakan Natal dengan berbagai tradisinya, termasuk tradisi “pohon cemara”, yang perlu kita lakukan adalah mempelajari lagi tentang tradisi itu, asal-usul dan maknanya bagaimana, mari kita bertanya, “Mengapa begini, mengapa begitu?”. Mengapa Natal di 25 Desember? Mengapa pakai pohon cemara? Mengapa pakai lilin? Mengapa pohon cemara dihias dengan berbagai ornamen?, dan berbagai pertanyaan lain. Jika pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan penjelasan yang baik (dan masuk akal), maka bisa saja orang tidak lagi bisa menghayati makna yang ada dari semua simbol dalam tradisi Natal itu.

Mungkin juga yang perlu dipertanyakan, di saat beberapa simbol berubah sesuai dengan perkembangan jaman, ada beberapa simbol yang lain tetap tidak berubah, misalnya pohon cemara ‘asli’ sudah berubah menjadi pohon cemara plastik, tetapi lilin tidak berubah menjadi lampu listrik, bahkan dalam perayaan Natal, lampu-lampu listrik yang sudah terang benderang, dimatikan untuk kemudian sesaat/beberapa waktu diganti dengan nyala api lilin. Tetapi itulah tradisi Natal, dan kebanyakan orang mengikuti saja apa yang sudah turun-temurun dilakukan orang, walau kadang tak mengerti maknanya, atau mencari-cari makna dari apa yang sudah biasa dilakukan itu, agar punya alasan untuk tetap melakukannya.

Natal, juga bukan tentang penting dan tidak penting, karena penting dan tidak penting itu tergantung dari sudut pandangnya. Bagi para penjual replika pohon cemara, pebisnis pernak-pernik dan dekorasi Natal, dan pebisnis berbagai sarana penunjang perayaan, Natal jelas sangat penting. Selebrasi itu juga perlu untuk menunjukkan eksistensi agama dan gereja Kristen di tengah-tengah masyarakat yang plural. Tetapi bagi banyak orang yang lain, Natal itu tidak penting, karena tidak berpengaruh apapun terhadap keselamatan jiwa, bahkan mungkin juga tidak berpengaruh pada peningkatan iman dan ketaatan kepada Tuhan. Natal hanya menghambur-hamburkan uang yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lain yang mungkin lebih bermakna.

Terlepas dari berbagai persoalan tentang Natal, apakah asal mula Natal itu lanjutan dari perayaan Saturnalia atau tidak, apakah 25 Desember itu di-pas-kan dengan Hari Raya Hanukah (tanggal 25 Kislew) atau tidak, dan kemudian apakah dirayakan dengan meriah atau sederhana, ketika Natal adalah peringatan kelahiran Yeshua yang kemudian menjadi Kristus (Mesias), maka mungkin yang paling penting adalah pertanyaan, “Apakah Kristus sudah lahir di hati dan kehidupan kita sehari-hari?”.

Terlepas dari apakah Yeshua/Kristus itu dianggap sebagai Tuhan, Tuan (Adonai), Nabi, Guru (Rabbi) atau sekedar tokoh sejarah yang pernah ada di dunia ini, “Apakah kisah kehidupan Kristus sudah menjadi teladan bagi kehidupan kita saat ini?” Pertanyaan ini khususnya untuk yang mengaku sebagai orang Kristen atau beragama Kristen, karena Kristen berarti pengikut Kristus, sudahkah benar-benar menjadi pengikut Kristus atau hanya sekedar ikut-ikutan?. Untuk mewujudkan dunia yang makin baik, meneladani Kristus yang juga disebut Raja Damai, nampaknya jauh lebih perlu di dunia yang makin tidak damai ini; meneladani kasih Kristus, nampaknya jauh lebih perlu di dunia yang makin miskin kasih ini.

Selamat Natal bagi yang merayakannya.
Selamat berlibur bagi yang tidak merayakannya.
Selamat Tahun Baru 2012 bagi kita semua.

catatan:
Dalam tulisan ini, nama Yesus ditulis Yeshua, seperti nama aslinya. Perlu diingat bahwa Yeshua (Ibrani/Aram) berubah menjadi Iesous karena transliterasi (bukan translasi) ke abjad Yunani, dan kemudian menjadi Jesus dan Yesus. Ketika huruf Ibrani dapat ditransliterasi langsung ke huruf Latin, maka susunan huruf Ibrani untuk “Yod Shin Waw Ayin” lebih tepat ditulis/dibaca “Yeshua”.  Ini salah satu contoh, ketika kita belajar tentang “asal mula”.

Petrus Wijayanto, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis

4 thoughts on “Natal Adalah Sebuah Tradisi”

  1. Desain says:

    Beberapa hari menjelang natal…

  2. Pingback: Toleransi Sosial Dan Toleransi Aqidah Bagi Seorang Muslim « Blog Tausyiah275
  3. Trackback: Toleransi Sosial Dan Toleransi Aqidah Bagi Seorang Muslim « Blog Tausyiah275
  4. Pingback: Toleransi Sosial Dan Toleransi Aqidah Bagi Seorang Muslim | Share Knowledge
  5. Trackback: Toleransi Sosial Dan Toleransi Aqidah Bagi Seorang Muslim | Share Knowledge
  6. obat keputihan says:

    Benar tidaknya ketepatan kapan Yesus lahir, yg penting Natal sebagai simbol perayaan kelahiran Yesus tetap kita imani sebagai kelahiran Juru Selamat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *