Selain Hancur dan Diinjak Orang

Browse By

Pertengahan tahun 2006, saya mulai menikmati kemolekan kota Salatiga sebagai akibat tak langsung yang menyenangkan dari berkuliah di Universitas Kristen Satya Wacana. Pada waktu itu, Komando Distrik Militer 0714 masih bermarkas di sebuah bangunan tua di Jalan Diponegoro 40, yang kini sedang diributkan pembongkarannya.

Bila dibandingkan dengan tetangga-tetangganya, bangunan tua Makodim 0714 waktu itu tak ada istimewanya. Yang istimewa dan mencuri perhatian saya adalah sebuah puri kecil di Jalan Diponegoro 15, yang diduduki Bank Central Asia untuk kantor cabangnya.

Tiga tahun berselang, Kodim 0714 pindah markas ke seberang jalan, sementara bangunan tua yang mereka tinggalkan ibarat sepah yang dibuang. Pagar-pagar seng kemudian berdiri menutup bekas makodim itu dengan cap PT NV Yogyakarta. Dari burung-burung gereja yang terbang-hinggap di sepanjang Jalan Diponegoro, tersiar kabar bahwa bangunan itu akan dibongkar dan diganti pusat perbelanjaan.

Kini kabar itu tinggal selangkah dari kenyataan. Bangunan eks-makodim itu sudah dibongkar. Pagar sengnya sudah siap dengan sebuah nama: The SL3.

Bagi orang-orang di luar Forum Peduli Benda Cagar Budaya (Forped BCB) Salatiga, kejadian ini mungkin tiada atau kecil sekali artinya. Bukannya mengecil-ngecilkan sesuatu yang memang sudah kecil, saya hanya mengutarakan sudut pandang yang tak bisa saya hindari sekarang.

Kondisi terkini BCB eks-Kodim 0714. Foto ini diambil dari sela di bawah seng penutup. | Foto: Bernadus Trimurio Rajagukguk

Kondisi terkini BCB eks-Kodim 0714. Foto ini diambil dari sela di bawah seng penutup. | Foto: Bernadus Trimurio Rajagukguk

Saya tahu bangunan eks-makodim itu sudah seabad lebih usianya. Sebelum jadi markas tentara, ia adalah hotel bernama Blommestein. Terus kenapa? Saya tak mendapat gugahan rasa yang berarti dari fakta-fakta itu, saat bangunan sepuh tersebut kini hendak digusur.

Beda kalau, misalnya, yang hendak digusur adalah puri kecil tempat BCA sekarang. Gelora untuk melancarkan perlawanan seperti teman-teman di Forped mungkin akan menggelegak di dada. Karena, seperti yang sudah saya katakan di awal, puri kecil itu telah mencuri hati saya.

Sayangnya, hati yang telah dicuri itu pun cukup rendah untuk mengakui bahwa ia tak dapat dijadikan tumpuan pertimbangan satu-satunya. Di sini, sudut pandang saya tadi menemui tantangannya.

Pikiran saya mengatakan, perjuangan tidaklah sama dengan yang diperjuangkan. Kalau yang diperjuangkan adalah hal-hal bernilai kecil (seperti bangunan eks-makodim itu) maka nilai perjuangannya sendiri (seperti aksi Forped BCB Salatiga) belum tentu sama kecil. Justru kadang, hal-hal kecil perlu diperjuangkan secara besar, sebelum nantinya memberi dampak berarti. Kalau tak percaya, coba rintislah satu usaha kecil. Niscaya perjuanganmu tak sekecil yang kau kira.

Karena itu, meski nilai bangunan eks-Makodim 0714 adalah kecil di mata saya, saya tak mungkin menutup kemungkinan bahwa bangunan itu dapat menjadi simbol dari sebuah perjuangan besar yang baru saja dimulai (empat tahun yang lalu). Bukannya membesar-besarkan sesuatu yang memang sudah besar, saya hanya mengutarakan sudut pandang kedua yang sekarang juga tak bisa saya elakkan.

Kalau BP3 (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) Jawa Tengah sudah menetapkan bangunan eks-Makodim 0714 sebagai BCB kelas satu dan tak boleh dibongkar, ya jangan dibongkar. Kalau BP3 sudah mengatakan bangunan itu sekarang harus dikembalikan ke bentuk awal, ya kembalikan.

Sebab, kalau akhirnya bangunan itu tetap dibongkar dan tak dikembalikan, apa gunanya kita punya BP3? Apa gunanya kita punya Undang-Undang Cagar Budaya? Apa gunanya kita punya polisi dan hukum pidana? Bukankah tiada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang?

Kalau sampai semua itu tiada berguna dan hanya diinjak orang, bagaimana nasib cagar budaya kita di masa depan? Bagaimana nasib BCB lain di Salatiga yang jumlahnya ada ratusan? Bagaimana nasib puri kecil saya yang sementara BCA pinjam?

Mungkin tiada lagi, selain hancur dan diinjak orang.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

Satria Anandita, alumni Scientiarum. Ia kini tengah menggeluti dunia bisnis warung kopi di Sidoarjo, namanya Warkop Premium. Suka menggambar dengan kata-kata di Twitter @SATRIANAND.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *